NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Ketika Cermin Mulai Berbicara

...— ✦ —...

Mimpi itu datang lagi pada Selasa malam.

Ruangan yang sama. Dinding putih, lantai marmer dingin, cermin besar berbingkai emas di tengahnya. Tapi kali ini ada yang berbeda — cahaya di ruangan itu lebih terang, dan wajah yang menatap balik dari cermin terlihat lebih jelas.

Wajah Kirana Seo. Rambut pendek yang berantakan. Lingkar mata. Garis senyum yang terbentuk dari kebiasaan tertawa pada hal-hal kecil.

Tapi kali ini, pantulan itu bergerak lebih dulu.

"Sudah lama," kata pantulan itu.

Kirana — yang berdiri di sisi luar cermin, yang menghuni tubuh Gwyneth bahkan dalam mimpinya sendiri — menatap dirinya sendiri dengan perasaan yang tidak bisa ia uraikan. "Baru empat hari," katanya.

"Empat hari terasa lama kalau kamu tidak tahu apakah akan ada hari kelima." Pantulan itu memiringkan kepala sedikit — gerakan yang akrab, yang Kirana kenali sebagai gerakan yang ia buat sendiri ketika sedang berpikir keras tentang sesuatu. "Kamu baik-baik saja di sana?"

"Ya."

"Bukan jawaban Gwyneth. Jawaban kamu."

Kirana diam sebentar. "Ya," ulangnya, lebih pelan. "Aku baik-baik saja."

Pantulan itu mengangguk — bukan anggukan yang lega, lebih seperti anggukan seseorang yang menerima informasi dan sedang memutuskan apa yang akan dilakukan dengannya. "Amethysta?"

"Baik. Lebih dari baik."

"Xavier?"

"Juga."

Keheningan. Di dalam mimpi, keheningan terasa berbeda dari keheningan di dunia nyata — lebih penuh, lebih padat, seperti udara yang mengandung sesuatu yang belum diucapkan.

"Kamu takut aku akan kembali," kata pantulan itu akhirnya. Bukan pertanyaan.

Kirana tidak langsung menjawab. Karena jawabannya lebih kompleks dari ya atau tidak, dan ia sudah cukup lama menjadi penulis untuk tahu bahwa jawaban yang disederhanakan seringkali lebih tidak jujur dari diam.

"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan tentang itu," kata Kirana akhirnya. "Itu jawaban yang paling jujur yang bisa aku berikan."

Pantulan itu menatapnya lama. Lalu, dengan nada yang berubah — lebih pelan, lebih dalam, dengan lapisan yang tidak ada di kalimat-kalimat sebelumnya — berkata, "Aku juga tidak tahu."

Dan mimpi itu selesai.

...✦  ✦  ✦...

Kirana terbangun pukul empat pagi dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya tapi bukan dari ketakutan.

Ia berbaring menatap langit-langit dan membiarkan kata-kata terakhir mimpi itu tinggal di udara kamar yang gelap. *Aku juga tidak tahu.* Bukan suara yang mengancam. Bukan suara yang menuntut. Suara seseorang — Gwyneth, atau versi Gwyneth yang ada di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau dengan logika biasa — yang sama tidak pastinya dengan Kirana tentang bagaimana ini semua akan berakhir.

Itu, anehnya, sedikit melegakan.

Ia tidak tidur lagi setelah itu. Ia berbaring sampai langit di luar jendela mulai berubah warna — hitam pekat menjadi biru tua menjadi abu-abu menjadi oranye tipis di ujung cakrawala — dan mendengarkan rumah bangun perlahan. Suara pipa air. Suara burung pertama yang mulai bersuara. Suara langkah Seren di bawah yang sudah mulai menyiapkan dapur.

Pukul enam, ia turun.

...✦  ✦  ✦...

Seren menatapnya ketika ia masuk dapur — tatapan singkat yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan keterkejutannya. Kirana jarang turun sepagi ini.

"Nyonya," sapanya.

"Seren." Kirana mengambil cangkir dari rak. "Sudah lama kamu bekerja di sini?"

Pertanyaan yang keluar tanpa direncanakan sepenuhnya. Seren tampak sedikit tidak siap dengan itu — pertanyaan personal dari majikan yang selama ini tidak pernah menanyakan hal personal.

"Enam tahun, Nyonya," jawabnya akhirnya.

"Sejak Amethysta berapa tahun?"

"Sejak beliau berumur satu tahun."

Kirana menuangkan air panas ke dalam cangkirnya. Enam tahun. Seren ada di sini selama enam tahun, menyaksikan enam tahun kehidupan keluarga ini dari jarak dekat, menjadi saksi dari semua yang terjadi dan tidak terjadi di antara dinding-dinding rumah ini.

"Kamu pernah mempertimbangkan untuk pergi?" tanya Kirana. "Mencari pekerjaan lain?"

Keheningan yang lebih panjang kali ini. Seren menatap talenan di depannya sebentar sebelum menjawab, "Pernah. Beberapa kali."

"Tapi tidak pergi."

"Tidak." Seren mengangkat matanya. "Karena Amethysta."

Dua kata yang cukup. Yang tidak perlu penjelasan tambahan karena semuanya sudah ada di sana — seorang wanita muda yang bertahan di tempat yang tidak selalu mudah karena ada seorang anak yang membutuhkan seseorang untuk tetap ada.

Kirana meneguk tehnya. "Terima kasih," katanya pelan. "Untuk enam tahun itu."

Seren menatapnya — dengan ekspresi yang melewati beberapa lapisan sebelum akhirnya menetap di sesuatu yang mendekati tulus. "Terima kasih, Nyonya. Untuk dua bulan terakhir ini."

...✦  ✦  ✦...

Amethysta turun pukul tujuh dengan rambut dikepang satu — bukan dua seperti biasanya — dan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum sarapan.

"Mama," katanya, mendudukkan diri di kursi bar, "aku mau tanya sesuatu."

"Tanya."

"Kalau seseorang berubah," Amethysta mulai, dengan nada yang menunjukkan ini sudah dipikirkan sebelumnya, "apakah orang-orang yang mengenalnya sebelum berubah masih mengenalnya? Atau mereka mengenal orang yang berbeda?"

Kirana berhenti mengaduk telurnya. Menatap gadis kecil itu.

Tujuh tahun. Dan pertanyaan seperti ini yang keluar di pagi hari sebelum sarapan.

"Dari mana pertanyaan itu muncul?" tanya Kirana, pelan.

Amethysta mengangkat bahu sedikit. "Kemarin Naira bilang aku berbeda dari waktu pertama kali dia mau berteman denganku. Aku jadi berpikir — kalau aku berbeda, apakah dia berteman dengan aku yang sekarang atau aku yang dulu? Dan aku yang mana yang lebih nyata?"

Kirana meletakkan spatulanya. Duduk di kursi seberang Amethysta, di level yang sama.

"Menurutmu yang mana?" tanyanya balik.

Amethysta berpikir sungguhan — dengan kernyitan kecil di dahinya yang muncul ketika ia sedang memproses sesuatu yang tidak punya jawaban mudah. "Aku rasa keduanya nyata. Tapi yang sekarang lebih... lebih aku. Lebih seperti apa yang ada di dalam tapi sebelumnya tidak bisa keluar."

"Maka Naira berteman dengan kamu yang sekarang," kata Kirana. "Dan kamu yang sekarang adalah kamu yang sebenarnya. Yang dulu bukan versi yang salah — hanya versi yang belum punya cukup ruang untuk menjadi penuh."

Amethysta mempertimbangkan ini selama beberapa detik. Kernyitannya sedikit mengendur. "Seperti bunga yang belum mekar?"

Kirana melirik pot lavender kecil di ambang jendela dapur yang Amethysta bawa turun tadi — tunas-tunas yang masih menutup, yang sedang belajar menjadi bunga. "Persis seperti itu."

Amethysta mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menemukan jawaban yang memuaskan, lalu meminta telurnya dua.

...✦  ✦  ✦...

Sore itu, mimpi Selasa malam masih ada di kepala Kirana ketika ia duduk di ruang kerja dengan pintu tertutup dan selembar kertas di depannya.

Ia mulai menulis. Bukan jurnal — sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih terstruktur, lebih disengaja.

Hal-hal yang perlu Gwyneth tahu, kalau ia kembali:

Kirana menatap kalimat pembuka itu sebentar, lalu melanjutkan.

Amethysta menyukai lavender dan bintang dan berdebat tentang hal-hal ilmiah. Ia punya teman bernama Naira yang ribut dan antusias dan tepat untuk melengkapinya. Ia mulai mengangkat tangan di kelas. Ia masih hati-hati dengan kepercayaan — berikan perlahan, jangan paksa — tapi ia sudah mulai membuka pintunya.

Xavier pulang lebih awal sekarang. Ia menyiapkan sarapan kadang-kadang. Ia belajar hadir bukan hanya ada. Beri dia ruang untuk terus belajar itu.

Seren bertahan enam tahun karena Amethysta. Perlakukan ia seperti manusia yang sudah melakukan sesuatu yang penting, bukan alat rumah tangga.

Ibu Zhang menelepon setiap Minggu. Ia lebih baik dari yang terlihat. Bicara padanya.

Vivienne tahu lebih banyak dari yang ia katakan dan peduli lebih dari yang ia tunjukkan. Pertahankan pertemanan itu.

Kirana berhenti. Menatap daftar itu.

Ini bukan sesuatu yang ia rencanakan untuk dibuat hari ini. Tapi jari-jarinya sudah bergerak sebelum kepalanya memutuskan, seperti bagian darinya yang tahu bahwa ini perlu ada, yang tahu bahwa menyiapkan sesuatu untuk kemungkinan yang tidak mau ia hadapi adalah justru cara untuk menghadapinya.

Ia melanjutkan.

Amethysta menggambar Orion ketika disuruh menggambar sesuatu yang membuatnya merasa aman. Ia menulis "Mama yang bilang" di pojok kanan bawah gambarnya. Jaga itu. Jangan biarkan itu menjadi kenangan yang menyakitkan.

Rantai sudah mulai diputus. Kamu yang harus meneruskan memutusnya. Kamu bisa — kamu tidak pernah punya contoh yang benar tentang bagaimana caranya, tapi sekarang sudah ada fondasi. Gunakan itu.

Dan terakhir: ibumu meninggalkan surat. Ada di laci kanan meja kerja ini, amplop putih dengan tulisan tangannya. Baca itu. Menangis kalau perlu. Lalu pilih untuk maju.

Kirana meletakkan penanya.

Melipat kertas itu dengan hati-hati. Memasukkannya ke dalam amplop baru, menulis satu kata di depannya — *Gwyneth* — dan menyimpannya di laci kiri meja, di bawah buku catatan yang sudah mulai penuh.

...✦  ✦  ✦...

Malam itu Xavier menemukan Kirana di teras lagi, dan kali ini ia tidak membawa kopi. Ia hanya duduk di sebelahnya dan menatap taman yang gelap bersama.

"Kamu menulis tadi," katanya. Bukan pertanyaan — ia pasti melihat lampu ruang kerja menyala sore tadi.

"Ya."

"Novel?"

Kirana berpikir sebentar. "Semacam itu."

Xavier mengangguk pelan, tidak bertanya lebih lanjut. Mereka duduk dalam keheningan yang sudah terasa seperti milik bersama — bukan kosong, bukan canggung, hanya dua orang yang nyaman berada di tempat yang sama tanpa harus mengisinya dengan kata-kata.

"Xavier," kata Kirana akhirnya.

"Hm."

"Kalau suatu hari sesuatu berubah — kalau aku berbeda dari yang sekarang, dengan cara yang tidak bisa kamu jelaskan — aku minta kamu untuk tidak langsung mencari penjelasannya. Cukup lihat apakah yang ada di depanmu masih layak dipercaya atau tidak. Itu saja yang penting."

Keheningan panjang.

"Permintaan yang aneh," kata Xavier akhirnya.

"Aku tahu."

"Tapi aku dengar." Ia menggerakkan tangannya — perlahan, tanpa terburu-buru — dan meletakkannya di atas tangan Kirana yang bertumpu di lengan kursi. Tidak menggenggam. Hanya meletakkan. "Dan jawabannya ya."

Kirana menatap langit. Di atasnya, jauh melewati cahaya kota yang memakan sebagian besar bintang, ada bintang-bintang yang tetap ada. Yang tidak pergi ke mana-mana. Yang sudah ada sebelum cahaya kota itu ada dan akan tetap ada setelahnya.

Sabuk Orion terlihat malam ini — tiga bintang yang berbaris rapi, samar tapi jelas bagi yang tahu cara mencarinya.

Pelindung,* pikir Kirana. *Amethysta yang bilang.

Dan untuk malam ini, dengan tangan Xavier yang meletakkan dirinya di atas tangannya dan bintang-bintang di atas yang tidak pergi ke mana-mana, itu sudah cukup. Lebih dari cukup.

Apapun yang akan datang besok, atau minggu depan, atau pada malam ketika mimpi itu akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mimpi — untuk sekarang, ia di sini.

Sepenuhnya di sini.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!