Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Stadion Huanglong mulai sepi.
Lampu-lampu besar menyala, malam sudah tiba beberapa saat yang lalu, menyorot lapangan hijau yang kini kosong. Bekas-bekas selebrasi masih terlihat, kertas-kertas kecil berserakan di tribun, beberapa spanduk masih berkibar meski tak ada lagi yang memegang. Aroma asap suporter perlahan digantikan oleh angin malam yang membawa kesejukan dari utara.
Xiao Han duduk di kursinya, tidak bergerak. Di sampingnya, satu per satu penonton meninggalkan tribun. Ada yang masih bernyanyi kecil, ada yang hanya diam sambil melipat syal kebanggaan mereka.
Empat puluh menit telah berlalu sejak peluit panjang mengakhiri pertandingan. Empat puluh menit sejak 40 ribu orang melompat bersamaan. Empat puluh menit sejak Xiao Han menulis kata-kata terakhir di buku catatannya. Aku harus belajar lagi.
“Kak Han.”
Wei Ying berdiri di depannya, wajah bocah itu masih sembab. Matanya merah, tapi senyumnya lebar, terlalu lebar untuk anak yang baru saja menangis di bahu Shen Yuexi.
“Kau masih di sini?” Xiao Han mengerjap, seolah baru sadar bahwa ia bukan satu-satunya yang tersisa di tribun ini.
“Kak Ye Chen sudah turun ke bawah tadi. Katanya mau cari pemain Guangzhou, mau minta sali—minta salip—salam, maaf, salam jersey.” Wei Ying mengernyit, berusaha mengingat kata yang tepat.
“Salam jersey?” Xiao Han tersenyum kecil. “Kau mau bilang saling bertukar jersey?”
“Iya, itu!” Wei Ying mengangguk cepat. “Tapi aku milih di sini dulu. Aku mau, aku mau bilang sesuatu ke Kak Han.”
Xiao Han menatap bocah itu. Ada sesuatu di matanya, bukan sekadar kekaguman seperti di halte bus tadi. Ada kegelisahan yang mencoba disembunyikan di balik senyum lebarnya.
“Duduk dulu,” kata Xiao Han, menepuk kursi di sampingnya.
Wei Ying duduk. Kaki-kakinya yang pendek menggantung, bergerak-gerak gelisah. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam. Di lapangan bawah, petugas kebersihan mulai muncul dengan sapu dan kantong plastik. Suara sapu menyapu kertas-kertas terdengar samar dari kejauhan.
“Kak Han,” Wei Ying memulai, suaranya lebih pelan dari biasanya. “Aku ... aku takut.”
Xiao Han menoleh. “Takut apa?”
“Takut aku nggak bisa.” Wei Ying menggenggam ujung jersey Zhejiang-nya, jari-jarinya memutih. “Aku lihat Lu Gacheng tadi. Dia hebat. Dia baru 18 tahun, tapi sudah main di level profesional. Sementara aku ... aku bahkan belum pernah main di turnamen apa pun. Aku cuma anak kecil yang suka bola di lingkungan yang nggak ada yang suka bola.”
Xiao Han tidak langsung menjawab. Ia mengamati wajah Wei Ying, wajah yang terlalu serius untuk anak seusianya. Wajah yang mengingatkannya pada sesuatu. Pada seseorang.
Pada dirinya sendiri, sepuluh tahun lalu.
“Kau tahu,” kata Xiao Han akhirnya. “Saat seusiamu, aku juga takut, aku juga masih merasa begitu hingga sekarang.”
Wei Ying mendongak.
“Ayaku meninggal saat aku masih kecil. Sepak bola adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa dia masih ada. Tapi setiap kali aku melihat anak-anak lain yang sudah ikut akademi, yang sudah punya pelatih pribadi, yang sudah disebut berbakat di mana-mana ... aku merasakan takut itu.”
Suara Xiao Han datar, seperti penyiar berita yang sedang menceritakan cuaca, bukan luka lama yang masih menganga.
“Takut apa, Kak?”
“Takut aku tidak cukup berbakat. Takut semua yang ayahku tanamkan akan sia-sia. Takut suatu hari nanti aku sadar bahwa aku hanya anak biasa yang kebetulan suka bola, bukan pemain yang istimewa.”
Wei Ying diam. Tangannya berhenti menggenggam ujung jersey.
“Tapi aku tetap bermain,” lanjut Xiao Han. “Setiap hari. Sampai kakiku patah. Sampai dokter bilang aku tidak bisa bermain lagi.”
“Apakah itu ... sepadan?”
Xiao Han tersenyum. Bukan senyum kecut yang biasa ia kenakan saat membahas cedera. Senyum yang tulus, yang membuat garis di wajahnya tampak lebih lembut.
“Kau lihat pertandingan tadi?”
Wei Ying mengangguk.
“Kau lihat bagaimana Lu Gacheng bermain?”
Anggukan lagi.
“Dia bisa berada di level itu karena dia tidak berhenti saat takut. Dia tidak berhenti saat kalah. Dia tidak berhenti saat orang-orang bilang dia masih muda, masih belum cukup dewasa, masih belum siap.” Xiao Han menatap lapangan kosong di bawah. “Dan kau, Wei Ying, kau punya sesuatu yang bahkan Lu Gacheng tidak punya.”
“Apa?”
“Kau punya waktu.”
Wei Ying mengerjap.
“Lu Gacheng mulai serius di usiamu. Mungkin lebih tua. Tapi kau ... kau sudah di sini, di stadion ini, menonton, bertanya, ingin belajar. Kau sudah memulai lebih awal dari kebanyakan orang. Dan itu adalah keuntungan yang tidak bisa diremehkan.”
Xiao Han merogoh saku jaketnya. Tangannya menyentuh buku catatan, berhenti sebentar, lalu mengeluarkan sesuatu yang lain. Sebuah pulpen. Pulpen yang sama yang ia gunakan untuk menulis analisis di babak pertama, yang tangannya gemetar saat mencatat gol-gol Guangzhou.
“Ini,” kata Xiao Han, menyerahkan pulpen itu. “Aku tidak punya banyak hal untuk diberikan. Tapi pulpen ini ... pulpen ini mencatat kekalahanku hari ini. Mungkin kau bisa menggunakannya untuk mencatat kemenanganmu nanti.”
Wei Ying menerima pulpen itu dengan kedua tangan, seolah benda itu terbuat dari kaca yang akan pecah jika ia salah memegang. Matanya berbinar, tapi tidak ada air mata. Hanya tekad yang mulai mengeras.
“Kak Han,” katanya, suaranya bergetar sedikit. “Aku akan serius. Aku akan masuk tim sepak bola di Hangzhou Xuejun. Aku akan latihan setiap hari. Aku akan menjadi pemain yang ... yang layak menerima pulpen ini.”
Xiao Han mengacak rambut bocah itu, kasar, seperti kakak yang tidak pandai menunjukkan kasih sayang. “Itu hanya pulpen, tapi jadikan sebuah simbol ya. Jangan cuma jadi pemain yang layak. Jadi pemain yang membuat orang lain ingin menulis tentangmu.”
Mereka turun dari tribun bersama. Shen Yuexi sudah menunggu di pintu keluar, berdiri di bawah lampu stadion yang menyorot rambut pirangnya menjadi seperti sutra. Ia tersenyum melihat mereka berdua, Xiao Han dengan langkah pincang, Wei Ying dengan pulpen yang masih digenggam erat di tangan.
“Kak Yue! Kak Yue! Lihat!” Wei Ying berlari kecil, menunjukkan pulpen itu seperti piala. “Kak Han kasih aku!”
Shen Yuexi menatap Xiao Han, lalu kembali ke Wei Ying. “Itu hadiah yang bagus. Kau harus jaga baik-baik.” Dia tahu, pulpen dengan tutup berbentuk bola sepak itu, pemberian almarhum ayah Xiao Han.
“Aku akan jaga! Aku akan simpan di tempat paling aman!” Wei Ying memasukkan pulpen itu ke saku celananya, menepuk-nepuknya beberapa kali untuk memastikan tidak jatuh.