“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Kunjungan masalalu
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Resa melepas diri dari gendongan Areksa. Kakinya menyentuh lantai, dan tubuh kecilnya berlari ke arah Ardila. “Ma… Ma… ikut…!” suara merengek terdengar, dan ia langsung menempel ke Ardila, memeluk pinggangnya dengan erat.
Ardila terkejut, menunduk dan membelai rambut Resa. “Resa… kamu turun sendiri?”
Resa mengangguk, menempel di dada Ardila. “Mama… ikut, ya…!”
Areksa menatap anak itu dengan mata membelalak. Suaranya bergetar saat ia spontan memanggil ibunya, Bu Veni, yang berdiri tidak jauh. “Mama…!”
Bu Veni melangkah mendekat dengan tenang, wajahnya lembut tapi penuh waspada. “Biarkan saja, Ardila… biarkan Resa memilih.” Ia menoleh ke Areksa, lalu tersenyum tipis. “Bukankah kalian dulu pacaran?”
Areksa menegakkan tubuhnya, matanya memerah sedikit. Tanpa ragu ia menjawab pelan, nyaris serak: “Dulu… aku ditolak.”
Ardila menunduk, bibirnya sedikit mengerucut. Ia tahu masa lalu mereka tidak sederhana, tapi tidak menyangka Areksa akan membicarakannya di depan semua orang.
Bu Veni menepuk bahu Ardila dengan lembut. “Tidak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan lagi. Yang penting Resa aman dan mau pulang dulu. Ayo ikut ke rumah, Ardila. Dia butuh waktu denganmu.”
Ardila menatap Bu Veni dengan canggung, cepat-cepat mencari alasan. “Ah…tante, aku… aku bawa mobil tante, aku pulang sendiri aja…”
Bu Veni tersenyum lembut, menatap Areksa sebentar sebelum kembali ke Ardila. “Biar saja bodyguard yang bawa , Ardila. Jangan pikirkan mobilmu. Yang penting kamu ikut dan Resa senang.”
Ardila menelan ludah, merasa sedikit canggung tapi tidak bisa menolak permintaan itu. “Baik… tan, ” ujarnya pelan.
Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di mobil. Ardila duduk di belakang bersama Resa, sementara bodyguard menyetir mobil Ardila . Areksa menyetir di kursi pengemudi utama, wajahnya serius dan diam, matanya sesekali menatap Ardila melalui kaca spion.
Di sisi penumpang depan, Bu Veni tersenyum lembut. “Ardila… kamu sudah punya kekasih sekarang?”
Ardila menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Aku sudah menikah… di jodohkan dengan orangtua ku .”
Kata-kata itu terdengar ringan bagi Ardila, tapi di sisi Areksa, yang sedang menyetir, dadanya terasa sesak. Napasnya tertahan sesaat. Ardila… orang yang ia cintai sejak dulu… sekarang sudah menikah dengan orang lain.
Areksa menunduk, kedua tangan di setir mengepal, hatinya tersakiti tapi ia tetap menyetir. Setiap kata Ardila terasa menusuk lubuk hatinya, tapi ia tahu tidak bisa menahan apa yang sudah terjadi. Masa lalu mereka tidak bisa diubah.
Resa menatap Ardila, tersenyum, dan menepuk tangan kecilnya di dada Ardila. “Mama… jangan pelgi … ya…”
Ardila menunduk, membelai rambut Resa. “Iya, sayang… tante di sini. Tidak akan kemana-mana.”
Areksa menyetir dengan wajah serius, matanya tetap menatap jalan, tapi hatinya penuh gejolak. Ia ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ia hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri.
Bu Veni menoleh ke Ardila dari sisi penumpang. “Resa senang sekali bisa bersama Aunty Ardila sekarang. Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja.”
Ardila tersenyum tipis, menatap anak kecil itu. “Iya, Bu… dia aman.”
Resa kembali merengek kecil, memeluk Ardila. “Mama… lesa cayang mama …”
Areksa, yang duduk di depan, menelan napas panjang. Hatinya tersayat. Ia tahu, walau ia tidak bisa menolak Ardila dan Resa sekarang, setiap detik di mobil itu menjadi pengingat tentang perasaannya yang belum selesai. Ardila… orang yang ia cintai dari dulu… kini bukan miliknya lagi.
Dan pagi itu, di dalam mobil, ketegangan antara Ardila dan Areksa terasa nyata. Namun Resa tetap tersenyum bahagia di sisi Ardila, polos dan tak mengerti semua gejolak orang dewasa di sekitarnya.
---