"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Rina Mulai Bikin Jurnal
...GAMON...
...Bab 32: Rina Mulai Bikin Jurnal...
...POV Rina...
---
Minggu – 04.45 WIB
Rumah Baru – Kamar Tidur
Rina bangun dengan jantung berdebar.
Bukan karena alarm. Bukan karena mimpi. Tapi karena dia nggak tahu kenapa, tiba-tiba matanya kebuka. Gelap. Sepi. Suara kipas angin berputar pelan. Di samping, Bima masih tidur. Napasnya teratur. Dada naik turun pelan. Tangannya di atas selimut—jari-jari terbuka, kayak lagi nyari sesuatu.
Rina tatap tangan itu. Tangan yang semalem nggak berani megang dia. Tangan yang pas tidur malah nyari sesuatu yang nggak ada.
Nyari apa, Bim? Aku di sini.
Tapi dia nggak ngomong. Dia cuma liat. Sampai matanya perih.
Rina bangun pelan. Kaki nyeker di lantai keramik. Dingin. Banget. Sampai dia bergidik. Tapi dia nggak balik ambil sandal. Dia jalan ke pintu kamar, buka pelan. Nggak mau bunyi.
Di ruang tamu, gelap. Gorden masih tertutup rapat. Cuma ada sedikit cahaya dari celah—tipis, kelabu, belum ada warna. Kardus-kardus masih numpuk di pojok. Bau cat masih menyengat. Dia lewat, jalan ke dapur.
Dapur kecil. Meja kayu—satu-satunya yang udah rapi. Di atas meja, gelas kosong dari semalem. Dia ambil, isi air putih. Duduk.
Air dingin masuk tenggorokan. Dia hirup pelan. Matanya ke jendela dapur. Dari situ, dia bisa liat halaman belakang. Masih gelap. Pohon-pohon tetangga cuma keliatan siluet.
Ponsel di tangan. Jam 04.52.
Dia buka galeri. Foto-foto Bali. Udah berapa kali dia buka? Puluhan? Ratusan? Dia nggak hitung. Tiap kali bangun tengah malem, tiap kali nggak bisa tidur, tangannya otomatis buka galeri. Nyari foto itu. Foto mereka berdua.
Foto di Uluwatu. Mereka berdiri di tebing, laut biru di belakang. Bima pegang pinggang dia. Dia senyum lebar. Bima juga senyum lebar.
Dia perbesar foto. Mata Bima.
Itu senyum beneran? Atau cuma buat foto?
Dia perbesar lagi. Sampai nggak jelas. Tapi dia tetep liat. Kayak nyari sesuatu. Sesuatu yang mungkin nggak ada.
Foto berikutnya. Di pantai. Rambutnya berantakan kena angin. Bima di samping, liat ke laut. Matanya kosong.
Di sini. Di sini dia pergi. Pas kita lagi foto, pas aku lagi senyum, pas laut lagi biru-birunya—dia pergi ke tempat yang aku nggak tahu.
Rina tutup galeri. Letakin ponsel di meja. Bunyi klak keras di dapur sunyi.
Dia tatap ponsel itu. Layar gelap. Di layar, dia liat bayangan sendiri. Muka pucat, rambut berantakan, mata sembab.
Ini aku?
Istri baru. Rumah baru. Tapi kok mukanya kayak orang habis kalah perang?
Dia tarik napas. Dalam. Sampai dada penuh. Tahan. Lalu lepas pelan-pelan.
---
06.15 WIB
Ruang Tamu – Mulai Terang
Matahari mulai masuk lewat celah gorden. Garis-garis tipis cahaya oranye jatuh di lantai keramik. Debu-debu kecil menari-nari di udara.
Rina masih di dapur. Kopi udah mateng. Wangi robusta memenuhi ruangan. Dia tuang ke cangkir—cangkir putih polos, beli dua pas. Satu buat dia, satu buat Bima.
Suara pintu kamar dibuka. Langkah kaki. Bima keluar, rambut acak-acakan, kaos oblong, mata masih sayu.
"Rin?" Suaranya serak.
"Di dapur."
Bima jalan ke dapur. Duduk di meja. Liat kopi udah tersedia. Dia ambil, hirup.
"Lo dari tadi udah bangun?"
"Iya."
"Jam berapa?"
"Lumayan awal."
Bima tatap dia. Mata masih setengah merem.
"Lo nggak bisa tidur?"
Rina geleng. "Bisa. Cuma kebangun."
Bima diem sebentar. Lalu tanya, "Mimpi buruk?"
Rina liat dia. Matanya—masih sayu, tapi ada rasa khawatir. Rasa khawatir yang beneran. Atau setidaknya, kelihatan beneran.
"Nggak. Cuma kebanyakan mikirin rumah."
Bima senyum tipis. "Udah rapi ini."
"Belum. Masih banyak kardus."
"Nanti kita beresin bareng."
Rina balas senyum. Tapi di dalam, dia ngerasa senyum itu berat. Kayak otot wajahnya kaku.
---
08.30 WIB
Ruang Tamu – Mulai Beresin
Bima buka kardus satu per satu. Buku-buku dia keluarin. Ada novel, ada buku kuliah, ada buku pengembangan diri. Rina di samping, nyusun di rak.
"Bim, ini buku catatan lo?"
Rina pegang buku sampul cokelat. Udah agak lecek di pinggir. Kertasnya udah mulai menguning. Buku yang kemarin.
Bima liat. Matanya berubah. Kayak liat sesuatu yang berat.
"Iya."
"Simpan di mana?"
Bima diem sebentar. Lalu bilang, "Di kamar. Di lemari."
Rina pegang buku itu. Rasanya berat. Bukan berat fisik. Tapi berat kenangan. Berat luka. Berat semua yang udah dia baca di dalamnya.
"Di bawah baju," tambah Bima. Kayak ngejelasin.
Rina angguk. Jalan ke kamar. Buka lemari. Rak paling bawah. Dia dorong baju-baju Bima—kaos oblong, kemeja, jaket—dan taruh buku itu di dasar lemari. Tutup rapat.
Tangannya di atas lemari. Diam sebentar.
Kenapa aku masih takut?
Dia udah janji. Dia udah simpan. Kenapa aku masih nggak percaya?
Karena luka itu masih baru. Karena baru seminggu lalu dia liat foto Keana di ponsel Bima. Baru seminggu lalu dia tahu, selama ini dia berbagi hati Bima dengan bayangan orang lain.
Dia tarik napas. Balik ke ruang tamu.
"Udah."
Bima liat dia. Matanya—kayak mau nanya sesuatu. Tapi dia cuma angguk.
"Lanjut."
---
12.30 WIB
Rumah – Mulai Rapi
Selesai makan siang—Rina masak mie goreng sederhana, lauk telur dadar—rumah mulai keliatan. Ruang tamu udah ada sofa kecil warna abu-abu. Meja TV. Rak buku. Dapur udah rapi. Kamar udah tertata.
Rina duduk di sofa. Capek. Badan pegel. Tapi ada kepuasan kecil.
"Bim, rumah kita udah jadi."
Bima duduk di samping. Jatohnya agak berat. Badannya lemes.
"Iya. Akhirnya."
Mereka diem. Di sofa baru. Di rumah baru. Suara kulkas berdengung dari dapur. Burung gereja berkicau di luar.
Rina nyender di pundak Bima. Bima biarin. Tangan Bima—diam di pangkuan.
Rina liat tangan itu. Tangan yang semalem nyari sesuatu di atas selimut. Tangan yang sekarang diam. Nggak gerak. Nggak berusaha nyari dia.
Kenapa aku nunggu dia nyari aku? Kenapa aku nggak ambil aja tangannya?
Tapi dia nggak gerak. Dan Bima juga nggak.
---
14.00 WIB
Kamar Tidur – Rina Sendiri
Bima di ruang tamu. Bilang mau nyalain TV bentar. Rina di kamar. Di meja kecil dekat jendela.
Meja itu baru. Beli online, dateng kemarin. Kayu putih, simpel. Di atasnya, masih kosong.
Rina buka laci meja. Di dalam, ada buku kosong. Sampul biru muda. Beli di minimarket dekat rumah, pas beli kopi. Waktu itu dia liat buku itu, langsung ambil. Nggak mikir panjang.
Pena di tangan. Pulpen hitam, murah, beli satu paket sama buku.
Dia buka halaman pertama.
Halaman putih. Kosong. Wangi kertas baru masih sedikit menyengat.
Jari gemetar.
Kenapa aku nulis? Buat apa?
Biar nggak dipendam. Biar keluar. Biar nggak meledak.
Dia mulai.
---
4 Maret 2025
Hari pertama di rumah baru.
Aku pikir rumah baru bisa bikin aku lupa. Tapi ternyata nggak. Aku masih inget. Inget foto itu. Inget chat itu. Inget Bima bilang "gue belum bisa lupain dia".
Dia bilang dia akan usaha. Dan aku percaya. Aku percaya karena aku nggak punya pilihan lain. Kalau aku nggak percaya, aku harus pergi. Dan aku nggak siap pergi.
Tapi kenapa di dalam hati masih ada yang tanya?
"Benarkah dia akan berusaha? Atau dia cuma bilang biar aku diem?"
Aku marah? Nggak tahu. Aku sedih? Iya. Aku takut? Iya. Takut banget.
Takut kalau suatu hari Bima sadar, dia salah milih. Takut kalau dia tetep sama aku cuma karena kasihan. Takut kalau aku cuma jadi pengganti. Pelarian. Tempat singgah.
Tadi pagi, pas kita beresin buku, dia suruh aku simpen buku catatan lamanya di lemari. Di bawah baju. Aku lakuin. Tapi tangan aku gemetar. Kenapa? Karena aku tahu isi buku itu. Isinya tentang dia. Tentang Keana. Tentang semua yang dia rasain untuk dia.
Dan aku sadar: selama ini aku nggak pernah punya Bima sepenuhnya. Aku cuma punya sisa. Sisa dari cinta yang gagal. Sisa dari hati yang hancur.
Apakah aku rela?
Nggak. Tapi aku sayang dia. Sayang banget. Sampai aku rela nahan sakit ini. Sampai aku rela pura-pura kuat. Sampai aku rela nggak nangis di depan dia.
Tapi kenapa sayang harus semahal ini?
Bim, kalau suatu hari kamu baca ini... aku nggak tahu harus bilang apa. Mungkin aku udah pergi. Atau mungkin aku masih di sini, nunggu kamu pulang.
Tapi pulang ke mana? Ke aku? Atau ke dia?
Aku nggak tahu.
Yang aku tahu, aku capek. Capek nunggu. Capek berharap. Capek jadi orang yang selalu ngerti.
Tapi aku juga nggak bisa pergi. Karena pas aku liat muka Bima pas tidur, aku inget kenapa aku sayang dia. Dia lembut. Dia baik. Dia pernah jadi tempat aku pulang.
Dulu.
Sekarang? Aku nggak tahu lagi.
---
Rina berhenti. Air mata jatuh. Ngebasahi kertas. Bulat-bulat, bikin tinta luntur di beberapa huruf.
Dia hapus cepet. Tapi terlalu banyak. Kertas jadi bergelombang.
Dia tutup buku. Disimpan di laci. Di bawah buku catatan kecil.
Pintu kamar terbuka. Bima masuk.
"Rin, lo di sini?"
Rina cepet-cepet tutup laci.
"Iya. Lagi... nyari-nyari."
Bima liat dia. Matanya sembab. Muka pucat.
"Lo nangis?"
Rina geleng. Cepet.
"Nggak. Debu."
Bima liat sekeliling kamar. Jendela terbuka lebar. Debu? Mungkin.
"Ya udah. Nanti aku pel."
Rina berdiri. Jalan ke pintu. Lewatin Bima. Nggak liat matanya. Takut ketahuan.
"Aku masak dulu. Lo laper?"
"Lumayan."
Rina jalan ke dapur. Di belakang, Bima liat punggungnya. Kecil. Kurus. Ada yang aneh. Tapi dia nggak nanya.
---
Bersambung ke Bab 33: Bima Baca Jurnal Rina
---
...📝 Preview Bab 33:...
Beberapa hari kemudian, Bima nyari dokumen penting di meja kamar. Dia buka laci. Di sana, ada buku biru muda.
Dia buka. Niatnya cuma liat-liat. Tapi pas baca baris pertama, dia nggak bisa berhenti.
Dan di situ, dia sadar: selama ini dia nggak pernah benar-benar liat Rina. Yang dia liat cuma cermin—cermin yang memantulkan rasa sakitnya sendiri.
Bab 33: Bima Baca Jurnal Rina—segera!
---