Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersatu
"Alanna" Teriak Kevin "Sayang!"
Kevin mengelilingi rumah, bahkan ia masuk kedalam kamar dan membuka lemari. Ia melihat jika lemari itu masih penuh oleh pakaian Alanna
"Kamu dimana sayang?"
Kevin keluar dari kamar, menuju ruang tamu, bertepatan dengan Alanna yang baru saja masuk
"Sayang!" Kevin bergegas memeluk kekasihnya. Alanna diam saja, tangannya memang masih memegang dua kantong belanjaan
"Kamu dari mana aja? Aku nyariin kamu? Aku khawatir!"
"Aku habis belanja, bahan makanan udah pada habis!" Wanita cantik itu melangkah menuju dapur dan Kevin mengekori
"Sayang!" Alanna berbalik, meninggalkan pekerjaannya yang menata makanan didalam kulkas
"Ada apa?"
"Kamu marah?"
"Enggak!" Jawaban itu tak lantas membuat Kevin lega
"Kamu diam aja!"
"Kamu mau aku bicara apa?" Tanya Alanna, ia kesal dan ia tidak ingin bicara
"Aku mau jelasin soal Audi, kamu salah paham, tadi itu dia.."
"Aku mau mandi dulu, liat! Aku masih pake seragam!" Memang benar, seragam office girl masih melekat ditubuhnya
"Tapi aku"
"Kita akan bicara nanti! Aku mandi dulu terus masak, oke!" Alanna tersenyum, ia tidak ingin mendengar apapun tentang wanita bernama Audi itu
Kevin menghela napasnya berat, jelas sekali jika kekasihnya itu marah. Diamnya Alanna semakin membuatnya merasa bersalah
Setelah lima belas menit, Alanna selesai dengan ritual mandinya. Kevin masih duduk di kursi meja makan
"Kamu mau makan apa? Aku masakin yaa!"
"Sayang!"
"Aku laper, kita makan dulu!" Alanna hendak mengambil beberapa bahan untuk menyiapkan makan malam bagi mereka
"Aku mau bicara dan kamu harus mendengar!"
"kamu mau bicara apa?" Alanna menatap lekat pria dihadapannya, yang ditatap malah terlihat takut
"Sayang, Audi itu mantan aku, kita sama sekali udah nggak ada hubungan, aku nggak tau kenapa dia dateng kekantor, sungguh"
Alanna mendengarkan penjelasan kekasihnya itu, sebenarnya ia tidak marah pada Kevin, hanya saja sebagai seorang wanita dirinya memiliki sedikit rasa cemburu
"Oke!"
Apa-apaan jawaban itu, penjelasan yang begitu panjang hanya dibalas dengan oke. Kevin benar-benar tidak mengerti
"Oke?"
"Terus kamu mau aku mengatakan apa? Selamat?" Alanna hendak berbalik, kembali melanjutkan kegiatan memasaknya
Kevin yang kesal, menarik tangan kekasihnya lalu mendudukkan Alanna di meja dapur membuat wanita cantik itu berteriak
"Kamu mau apa?" Tanya Alanna kesal
"Aku minta maaf"
Alanna tak percaya ini, minta maaf apa harus dengan seperti ini "Aku udah maafin, sekarang turunin aku!"
"Kamu masih marah"
"Aku nggak marah, Kevin" Alanna menegaskan namun itu tak membuat pria tampan itu lega sedikitpun
"Aku mencintai kamu Alanna, hanya kamu"
Tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih, Kevin menempelkan dua belah bibir itu. Alanna hanyut hingga tanpa sadar telah mengalungkan tangannya pada leher sang kekasih
Alanna mendongak, memberi kebebasan untuk Kevin menyusuri area jenjang miliknya
Kevin dapat berlama-lama disana, ia suka aroma vanilla dari sabun yang kekasihnya pakai
Kevin mengangkat tubuh sang kekasih, Alanna melingkarkan kakinya di pinggang pria yang tidak ingin melepasnya
Kevin berjalan dengan Alanna yang menempel pada tubuhnya, tanpa melepas tautan bibir keduanya ia melangkah menuju kamar yang letaknya sudah sangat ia hapal
Sesampainya disana, tubuh ramping itu ia terbaring di atas tempat tidur, Kevin menarik diri dan itu membuat wanita dibawah Kungkungan nya merasa kehilangan
Dengan cepat ia membuka pakaian atasnya, bahkan jas mahal serta kemeja dari merek ternama sudah teronggok di atas lantai kamar
"Apa boleh?"
Alanna diam, ia tidak tahu harus menjawab apa, dirinya jelas menikmati namun untuk mengatakan 'iya' mengapa sesulit ini
"Sayang? Apa boleh?"
Kevin masih menunggu keputusan sang kekasih, ia tak ingin egois dengan mengambil paksa sesuatu yang telah dijaga
Anggukan kecil Alanna berikan, namun itu cukup untuk membuat Kevin tersenyum. Pria tampan itu memulai aksinya dengan tangan yang bergerak melepas satu persatu kancing piyama yang kekasihnya kenakan
Cakaran pada lengan Kevin rasakan, cairan bening mulai keluar dari ujung mata Alanna. Kevin tersenyum, menjadi satu-satunya pria yang memiliki wanita cantik ini sepenuhnya
"Terima kasih" satu kecupan lembut ia bubuhkan di kening kekasihnya lalu melanjutkan aksinya
Alanna lelah, matanya terpejam. Sementara Kevin baru saja selesai membersihkan diri "Kamu nggak mau bersih-bersih dulu?"
"Aku capek" keluh Alanna lalu menaikan selimut hingga batas leher membuat Kevin terkekeh
"Kamu harus bersih-bersih! Biar istirahat nya nyaman!" Kevin mendekat, mengecup kening wanitanya dengan lembut sambil membisikkan kata cinta "Aku bantuin kekamar mandi?"
"Aku laper"
"Ya udah, kamu bersih-bersih! Biar aku pesen makan malam untuk kita" Alanna mengangguk, Kevin menurunkan selimut yang menutupi tubuh kekasihnya lalu menggendong wanita itu hingga kekamar mandi
Kekasihnya ini benar, air hangat benar-benar membantu. Alanna merasa tubuhnya lebih baik, perih pada bagian tertentu juga terasa nyaman dengan air hangat
Sementara itu Kevin tersenyum, memandangi sprei putih yang terdapat noda merah
Ia melepas sprei tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Alanna masih dikamar mandi dan ia juga telah memesan makanan
"Sayang" Merasa Alanna terlalu lama didalam sana, Kevin mengetuk pintu kamar mandi
Sahutan terdengar, menandakan jika kekasihnya itu masih disana "Makanannya udah dateng, ayo! Tadi katanya laper"
Tak lama terdengar pintu kamar mandi yang terbuka, menampilkan Alanna dalam balutan bathrobe berwarna putih
"Cantik banget sih" Kevin memeluk pinggang ramping kekasihnya namun Alanna dengan cepat menahan wajah tampan itu dengan telapak tangannya
"Aku laper, jangan macem-macem!" Alanna memperingati dan hal itu terlihat menggemaskan
Alanna melangkah menuju lemari, mengeluarkan piyama miliknya dan hendak mengenakannya
"Kamu keluar dulu! Aku mau pake baju!" Usirnya
"Aku bisa disini, takutnya kamu butuh bantuan"
"Jangan aneh-aneh! Udah sana!" Kesal juga memiliki kekasih seperti Kevin ini
Pasrah, pria tampan itu keluar dari kamar itu sementara Alanna mulai mengenakan pakaiannya
Kevin tersenyum saat sang kekasih berjalan mendekat, hal yang semakin membuatnya ingin tertawa adalah cara wanita itu berjalan
"Ini semua karena kamu!" Kesalnya
Kevin tertawa "Iya maaf, ayo duduk sini! Kita makan"
Alanna duduk, keduanya menikmati menu makan malam yang dipesan dari restoran ternama
"Gara-gara kamu kita harus makan makanan dari luar. Kalau tadi aku masak kita bisa hemat"
Kevin hanya tersenyum mendengar celotehan wanitanya itu "Kevin"
"Hmm"
"Kamu akan tanggung jawab kan?" Pertanyaan itu membuat pria yang tengah sibuk menikmati makanannya itu menatap wanita dihadapannya
Ia genggam tangan kekasihnya itu "Aku hanya akan menikah dengan kamu"
"Gimana kalau keluarga kamu nggak mau menerima aku?" Alanna benar-benar merasa tidak pantas, ia takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga kekasihnya
"Kita akan menghadapi semuanya bersama, kita saling mencintai dan itu cukup"