Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Pagi itu, atmosfer di ruang makan utama Mansion Dominic terasa lebih berat daripada biasanya. Nenek Hera telah kembali dari ziarahnya, dan kehadirannya langsung memulihkan "tata tertib" yang sempat mengendur selama ia pergi. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar yang diizinkan di ruangan yang luas dan dingin itu.
Lyodra duduk dengan posisi punggung tegak, mengikuti aturan "postur ibu hamil" yang pernah diajarkan instruktur kiriman neneknya. Di hadapannya, porsi sarapan telah diatur dengan presisi: jus kale, telur putih tanpa garam, dan roti gandum tipis.
Archello melirik istrinya. Ia bisa melihat raut wajah Lyodra yang sedikit layu, sisa-sisa perdebatan mereka semalam masih membekas di kantung matanya yang tipis. Dengan gerakan berani, Archello menggeser piring sosis dan bacon miliknya ke arah Lyodra—makanan yang dilarang keras oleh Hera karena dianggap terlalu berminyak.
"Makan ini, Sayang. Jangan dengarkan Nenek," bisik Archello dengan suara yang cukup lantang hingga bisa didengar oleh semua orang di meja.
Nenek Hera menghentikan gerakan makannya. Matanya yang tajam menatap Archello melalui kacamata emasnya. Namun, sebelum sang nenek sempat bersuara, Beatrice lebih dulu memotong dengan nada bicara yang tinggi dan penuh teguran.
"Archello! Jaga bicaramu! Jangan mengajari istrimu berlaku tidak sopan pada nenekmu di depan meja makan ini," ucap Beatrice, wajahnya tampak tegang. "Mengabaikan aturan kesehatan yang sudah disusun Nenek adalah sebuah penghinaan terhadap otoritas keluarga ini."
Archello meletakkan garpunya dengan suara dentingan yang sengaja dikeraskan. Ia menoleh ke arah ibunya, menatap Beatrice dengan pandangan yang membuat ibunya itu tersentak.
"Mom," Archello memulai, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Istriku kunikahi agar dia bahagia, dan aku ikut bahagia di sampingnya. Namun, jika kalian merestui hubungan kami hanya untuk mengatur setiap suapan, setiap langkah, dan setiap napasnya... buat apa kami tetap tinggal di sini?"
Deg.
Kalimat itu seperti petir yang menyambar di tengah ruang makan. Beatrice terbelalak, wajahnya memerah karena merasa otoritasnya sebagai ibu mulai dipertanyakan di depan menantunya.
"Kau sudah berubah sejak menikah dengannya, Archello!" Beatrice menuding dengan suara gemetar. "Dulu kau adalah anak yang mengerti martabat Dominic. Sekarang, kau lebih memilih membangkang demi membela wanita yang bahkan tidak tahu cara menghormati tradisi kita!"
"Aku tidak berubah, Mom. Aku hanya baru menyadari bahwa hidup dalam aturan mati ini bukan cara untuk bernapas," balas Archello dingin.
Suasana semakin mencekam. Nenek Hera tampak siap meledak, tangannya yang keriput mencengkeram serbet dengan kuat. Namun, sebelum badai itu pecah, suara berat Alexander Dominic memecah keheningan dari ujung meja.
"Beatrice..." panggil Alexander. Suaranya tidak keras, namun mengandung kekuatan yang langsung membungkam istrinya.
"Kenapa kau mencampuri rumah tangga anakmu sendiri?" tanya Alexander, matanya menatap tajam ke arah Beatrice.
"Tapi Alexander, aku hanya ingin Archello kembali ke jalannya yang benar! Dia menghina Ibu!" Beatrice membela diri, menunjuk ke arah Nenek Hera.
"Cukup!" bentak Alexander. Ia meletakkan koran paginya dan menatap istrinya dengan pandangan kecewa. "Apa kau tidak bisa melihat anakmu bahagia? Apa matamu sudah tertutup oleh gengsi keluarga sampai kau tidak sadar bahwa Archello baru benar-benar hidup setelah Lyodra kembali?"
Beatrice terdiam, bibirnya bergetar namun tidak berani mengeluarkan suara lagi.
"Ibu macam apa kau ini?" Alexander melanjutkan, suaranya kini terdengar penuh kesedihan sekaligus kemarahan. "Tugas seorang ibu adalah memastikan anaknya merasa damai, bukan menambah beban di punggungnya dengan aturan-aturan kuno yang tidak masuk akal. Biarkan mereka sarapan dengan tenang."
Alexander kemudian beralih menatap Lyodra yang tampak sangat cemas, tangannya yang gemetar masih memegang sendok. "Makanlah, Lyodra. Di rumah ini, selama aku masih berdiri, tidak ada yang boleh membuatmu merasa takut untuk sekadar makan apa yang kau inginkan."
Archello menggenggam tangan Lyodra di bawah meja, memberikan kekuatan melalui sentuhan hangatnya. Ia menoleh ke arah ayahnya dan mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. Alexander adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang membuat Archello masih bersedia bertahan di mansion itu.
Nenek Hera mendengus kasar, lalu bangkit dari kursinya tanpa menyelesaikan makannya. "Lakukan sesuka kalian. Tapi jika anak itu lahir dengan kekurangan hanya karena ibunya tidak disiplin, jangan pernah datang meminta maaf padaku."
Setelah Hera dan Beatrice yang tampak kesal meninggalkan ruang makan, suasana mendadak menjadi lega. Alexander menghela napas panjang dan tersenyum tipis pada menantunya.
"Jangan ambil hati, Lyodra. Mereka hanya butuh waktu untuk sadar bahwa dunia sudah berubah," ucap Alexander tenang sebelum ia juga pamit untuk pergi ke kantor.
Kini hanya tersisa Archello dan Lyodra. Archello menarik piring berisi sosis tadi lebih dekat ke arah istrinya. "Ayo, makanlah. Aku akan menjagamu dari mereka. Tidak ada yang boleh membuatmu sedih lagi hari ini."
Lyodra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Ello. Dan terima kasih sudah membelaku di depan Mommy"
Archello mengecup punggung tangan Lyodra. "Aku akan selalu melakukannya, Ay. Karena kebahagiaanmu adalah harga mati bagiku."
Namun, di dalam hatinya, Archello tahu bahwa pembelaan ayahnya barusan akan memicu perpecahan yang lebih besar antara Alexander dan Beatrice. Dan ia harus bersiap, karena di balik dinding mansion yang sunyi ini, rencana-rencana baru sedang disusun untuk memisahkan mereka.