NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.hanya perjanjian

Di tempat yang berbeda, malam juga baru saja menyelimuti rumah besar milik keluarga Yoga.

Mobil hitam itu berhenti di halaman. Lampu taman menyala terang, memperlihatkan bangunan megah yang kontras dengan tempat tinggal Arabella.

Yoga turun dari mobil, menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu terbuka—

“Yoga!”

Suara itu langsung menyambutnya.

Di ruang tengah, ibunya sudah duduk santai, ayahnya membaca koran, dan adik perempuannya, Kania, sedang memainkan ponsel.

Ibunya langsung berdiri.

“Kamu baru pulang? Dari mana saja?”

Yoga melepas jasnya dengan santai.

“Dari rumah Bela. Aku mengantarnya pulang.”

Kalimat itu keluar begitu saja… jujur, tanpa ragu.

Beberapa detik hening.

Lalu—

“Wihh…” Kania langsung menoleh cepat dengan senyum lebar. “Dari rumah Bela, katanya~”

Ayahnya menurunkan koran sedikit, menatap Yoga dengan tatapan penuh arti.

Ibunya justru tersenyum lebar.

“Sudah sampai antar ke rumah segala?”

Yoga menghela napas pelan.

“Iya, Bu. Sudah malam.”

Kania tertawa kecil.

“Alasan klasik orang bucin.”

Yoga langsung melirik tajam.

“Diam.”

Ibunya malah semakin semangat.

“Bagus dong. Ibu senang kamu perhatian.”

Ayahnya ikut menimpali dengan nada santai,

“Jarang-jarang kamu seperti ini.”

Yoga mengusap wajahnya pelan.

“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Kania langsung berdiri, berjalan mendekat.

“Oh ya? Terus kenapa kamu senyum-senyum dari tadi?”

Yoga berhenti sejenak.

“Iya?” tanya ibunya, memperhatikan.

Yoga baru sadar… sudut bibirnya memang sedikit terangkat.

Ia langsung mengalihkan pandangan.

“Tidak ada apa-apa.”

Ibunya tertawa kecil.

“Ibu sudah tahu.”

Yoga menghela napas.

“Tahu apa?”

Ibunya menatapnya dengan penuh arti.

“Kamu mulai suka sama dia, kan?”

Yoga terdiam.

Kania langsung bersorak kecil.

“Fix bucin!”

Ayahnya tersenyum tipis, menikmati situasi.

Sementara ibunya terlihat benar-benar senang.

“Ibu tidak sabar loh… kalau dia jadi menantu ibu.”

Yoga langsung menoleh cepat.

“Bu…”

Nada suaranya setengah protes.

Ibunya hanya tertawa ringan.

“Kenapa? Ibu suka sama dia. Sederhana, sopan, dan kelihatannya tulus.”

Yoga menatap ibunya beberapa detik.

Lalu mengalihkan pandangan.

“Jangan terlalu berharap.”

Jawabannya singkat.

Namun ibunya justru semakin yakin.

“Berarti ada harapan.”

Yoga menggeleng kecil, lalu berjalan menjauh.

“Terserah Ibu saja.”

Kania masih sempat menggoda dari belakang.

“Jangan lama-lama ya, Kak. Nanti direbut orang!”

Yoga tidak menjawab.

Ia langsung menuju tangga.

“Saya ke kamar dulu.”

Tanpa menunggu respon, ia naik ke lantai atas.

 

Kamar itu sunyi.

Yoga menutup pintu, lalu berjalan masuk dan duduk di tepi tempat tidurnya.

Ia menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya hari itu… ia benar-benar sendirian.

Pikirannya langsung kembali ke satu orang.

Arabella.

Tanpa sadar, ia tersenyum kecil.

“Aneh…”

gumamnya pelan.

Bayangan pertama kali ia bertemu Arabella muncul begitu saja.

Cara gadis itu marah… cara menatapnya tajam… bahkan saat menolak tawarannya.

Semuanya terasa… hidup.

Dan lucu, kalau diingat.

Yoga menggeleng kecil sambil tersenyum.

“Kenapa jadi seperti ini…”

Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar.

Senyumnya perlahan memudar… digantikan ekspresi lebih serius.

Perasaannya mulai terasa berbeda.

Tidak lagi sekadar formalitas.

Tidak lagi sekadar peran.

Setiap kali ia berada dekat Arabella—

ada sesuatu yang berubah.

Ada rasa… nyaman.

Dan itu yang membuatnya mulai berpikir.

“Ini masih perjanjian… kan?”

Ia menatap kosong ke depan.

Namun pertanyaan itu justru membuat hatinya tidak tenang.

Karena jawabannya…

tidak lagi sesederhana itu.

Yoga menutup matanya sebentar.

Lalu berbisik pelan—

“Kalau ini bukan cuma perjanjian…”

Ia membuka mata lagi.

Tatapannya lebih dalam.

“…apa aku siap?”

Hening.

Pertanyaan lain muncul.

Apakah hubungan ini akan tetap berhenti di atas perjanjian…

atau justru berubah menjadi sesuatu yang nyata—

hubungan yang tidak dibuat-buat,

yang tidak terikat kontrak,

yang tidak punya batas waktu.

Hubungan yang… benar-benar ia inginkan.

Yoga menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak yakin pada keputusannya sendiri.

Dan itu…

lebih menakutkan dari apa pun.

"bagaimana kalau aku benar benar jatuh cinta terhadap gadis itu?"

Jujur saja gelisah yang di rasakan yoga saat ini begitu memenuhi pikirannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 suasana kamar kecil itu hanya diterangi lampu temaram yang menggantung redup di sudut ruangan.

Arabella duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Lututnya ia peluk erat, sementara air matanya jatuh tanpa henti.

Sunyi.

Hanya suara napasnya yang sesekali bergetar.

Pikirannya kembali pada percakapan dengan ibunya.

Setiap kata… terasa berulang di kepalanya.

“Ibu tidak ingin kamu mengalami hal yang sama.”

“Kita tidak sebanding.”

“Jangan jatuh terlalu dalam…”

Arabella menutup wajahnya.

Dadanya terasa sesak.

Ia tidak hanya sedih karena kata-kata itu—

tapi juga karena sesuatu yang selama ini ia pendam.

Perlahan, kenangan lama muncul.

Tentang sosok yang tidak pernah benar-benar ia kenal.

Ayahnya.

Sejak kecil… Arabella tidak pernah melihat wajahnya.

Tidak pernah mendengar suaranya.

Bahkan tidak pernah tahu seperti apa rasanya dipeluk oleh seorang ayah.

Ia mengingat saat dirinya masih kecil.

“Bu… ayah Bela mana?”

Suara kecil itu dulu terdengar polos.

Namun ibunya hanya diam.

Atau mengalihkan pembicaraan.

Tidak pernah ada jawaban.

Arabella menggigit bibirnya, air matanya kembali jatuh.

Baru sekarang… ia benar-benar mengerti.

Ayahnya pergi—

bahkan sebelum ia lahir.

Meninggalkan ibunya saat masih mengandung.

Sementara dua adiknya…

mereka punya ayah yang berbeda.

Ayah mereka sempat ada.

Sempat hadir.

Sampai akhirnya… pergi juga, tapi dengan cara yang berbeda.

Meninggal.

Arabella tertawa kecil di tengah tangisnya.

Pahit.

“Lucu ya…”

Ia berbisik pelan.

“Semuanya… tetap berakhir sama.”

Tidak ada sosok ayah yang benar-benar tinggal.

Tangannya mengepal pelan.

Ia kembali mengingat kata-kata ibunya.

Tentang cinta.

Tentang perbedaan.

Tentang luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Arabella mengangkat wajahnya, menatap kosong ke depan.

Matanya merah.

“Kalau aku terus seperti ini…”

Ia menarik napas dalam.

“…aku akan jadi seperti Ibu.”

Kalimat itu terasa berat.

Tapi jujur.

Ia memejamkan mata.

Bayangan Yoga muncul begitu saja.

Cara pria itu memandangnya.

Cara berbicara yang tenang.

Cara memaksanya masuk ke mobil.

Dan… cara ia berdiri di hadapan ibunya tadi.

Arabella menggigit bibirnya lebih keras.

Perasaannya… mulai berubah.

Dan itu yang membuatnya takut.

“Aku tidak boleh…”

Air matanya jatuh lagi.

“Aku tidak boleh jatuh terlalu dalam.”

Ia menggeleng pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

“Ini cuma perjanjian.”

Ia mengulanginya lagi.

“Cuma perjanjian…”

Namun hatinya tidak sepenuhnya setuju.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Arabella menghapus air matanya dengan kasar.

Lalu menarik napas panjang.

Kali ini… lebih tegas.

“Aku harus berhenti.”

Ia menatap lurus ke depan.

Keputusan itu mulai terbentuk.

“Sebelum semuanya semakin jauh.”

Suaranya pelan… tapi pasti.

“Aku harus mengakhiri ini.”

Ia menutup matanya.

Meski hatinya terasa berat—

ia tahu ini satu-satunya cara.

Karena jika tidak—

yang hancur nanti bukan hanya perjanjian itu.

Tapi juga… dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!