NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Satu setengah jam kemudian, rombongan tiba di gerbang utama Keluarga Wijaya.

Sepanjang perjalanan, semuanya berjalan tenang dan lancar—sangat mengecewakan bagi orang-orang yang berharap akan terjadi drama.

Tetua Nata Wijaya telah berdiri di depan gerbang untuk menyambut para tamu.

Sayangnya, jumlah orang yang datang khusus untuk Arka dapat dihitung dengan jari.

Sebagian besar tamu hadir karena nama besar Tetua Nata Wijaya dan hubungan dengan Keluarga Pradana.

Dengan reputasi Tetua Nata Wijaya serta pengaruh Keluarga Pradana, jumlah tamu yang hadir sangat banyak.

Di luar gerbang kediaman Keluarga Wijaya, kerumunan orang yang datang menonton hampir tak terhitung jumlahnya.

Jalanan begitu padat hingga setetes air pun sulit melewatinya.

Semua orang datang demi menyaksikan pernikahan wanita tercantik di Kota Tirta Awan.

Kereta pengantin Ratna perlahan berhenti di tengah hiruk-pikuk itu.

Salah satu sudut tirai terbuka.

Pelayan setianya, Ningsih, berkata lembut,

“Nona, kita sudah tiba.”

Sesaat kemudian sebuah tangan putih halus terulur.

Ningsih membantu Ratna turun dengan hati-hati.

Begitu Ratna menginjak tanah—

Keramaian yang sebelumnya bising tiba-tiba menjadi sunyi.

Yang terdengar hanyalah tarikan napas panjang dari segala arah.

Hari sudah mendekati tengah hari.

Cahaya matahari memantul lembut pada mahkota phoenix di kepalanya.

Jubah merahnya berkibar tertiup angin, memantulkan kilau cahaya yang membuat orang hampir tak mampu menatap terlalu lama.

Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi mahkota phoenix empat lapis.

Lapisan teratas dihiasi tusuk rambut emas yang halus.

Bagian bawahnya dipenuhi ukiran phoenix emas yang rumit.

Mahkota satin merah keemasan itu menjuntai menjadi rumbai mutiara yang bergoyang lembut.

Meskipun wajahnya tidak sepenuhnya terlihat—mata dan bibirnya hanya tampak samar di balik tirai—kecantikannya tetap terasa sempurna tanpa cela.

Suara napas tertahan terdengar di mana-mana.

Banyak orang menatap lurus ke depan, seakan lupa bagaimana cara berkedip.

Inilah pesona Ratna Pradana.

Bahkan tanpa memperlihatkan wajahnya, hanya dari aura dan sikapnya saja, ia sudah tampak seperti peri yang melangkah keluar dari lukisan.

Kecantikannya begitu agung hingga tak seorang pun mampu mengalihkan pandangan.

Ningsih kemudian melilitkan selendang sutra merah ke tangan Ratna.

Ujung lainnya diikatkan ke tangan Arka.

Arka turun dari kudanya, tersenyum tipis, lalu memimpin Ratna melangkah maju.

Mereka melewati tungku api.

Kemudian melangkah melewati ambang pintu Keluarga Wijaya dan memasuki aula utama.

Begitu mereka masuk, kegaduhan di luar masih belum mereda.

Wajah Arka tetap tenang.

Namun di dalam hatinya, ia berharap upacara ini segera selesai.

Aula ini merupakan aula utama Keluarga Wijaya yang digunakan untuk pertemuan penting.

Hanya pemimpin keluarga dan para tetua yang berhak menggunakannya untuk pernikahan.

Namun demi upacara hari ini, aula tersebut telah mengalami perubahan besar.

Pilar-pilar dihiasi batu topas kuning.

Dinding-dindingnya dilukis dengan mutiara langka.

Karpet merah panjang membentang lurus di tengah aula hingga mencapai tangga emas pendek di depan.

Cahaya keemasan lembut memenuhi ruangan, membuat dekorasi yang sudah indah tampak semakin memukau.

Biaya besar ini jelas bukan hanya ditanggung Keluarga Wijaya.

Sebagian besar berasal dari Keluarga Pradana.

Heru Pradana tidak ragu mengeluarkan harta demi pernikahan putri kesayangannya.

Di kursi tertinggi aula duduk Tetua Nata Wijaya dan Heru Pradana.

Keduanya tersenyum saat melihat Arka dan Ratna berjalan masuk.

Di kedua sisi karpet merah terdapat tiga baris kursi kayu cendana merah.

Semua kursi itu telah terisi.

Pemimpin Keluarga Wijaya, Jati Wijaya, juga hadir bersama para tetua lainnya.

Saat Arka berjalan masuk dengan senyum di wajahnya, ekspresi mereka tampak tenang di permukaan.

Namun jauh di dalam hati—

Mereka menyeringai penuh penghinaan.

Keluarga Wijaya telah mempraktikkan seni tenaga dalam selama banyak generasi.

Kelahiran Arka—dengan urat tenaga dalam yang rusak—adalah aib besar bagi keluarga.

Jika ia bukan cucu Tetua Nata Wijaya, ia pasti sudah lama diusir.

Dan jika bukan karena ia akan menikahi putri terkenal dari Keluarga Pradana, mereka bahkan tidak akan repot-repot menghadiri upacara ini.

Bagi mereka, mendengar nama Arka hanya mengingatkan satu kata:

Sampah.

Di Benua Arcapura, seseorang tanpa kekuatan tidak layak memperoleh martabat.

Itulah hukum pahit yang diyakini banyak orang.

Bahkan terhadap sesama anggota keluarga sendiri.

Generasi muda Keluarga Wijaya juga memandang pemandangan ini dengan ekspresi yang tak jauh berbeda.

Pandangan mereka tertuju pada Ratna Pradana dengan penuh kekaguman.

Namun saat mata mereka beralih pada Arka—

Tatapan mereka hampir menyemburkan api iri.

Para murid Keluarga Wijaya selalu memandang rendah pemuda cacat ini.

Tak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa ia akan menikahi harta paling berharga di Kota Tirta Awan.

Melihat pasangan pengantin itu berdiri bersama terasa seperti menelan lalat mati.

Penanggung jawab upacara adalah kepala logistik keluarga, Dimas Wijaya.

Dengan suara lantang, ia memulai upacara pernikahan.

Pembawa acara memperkenalkan kedua mempelai dan para tamu terhormat yang hadir.

Wajah Arka tetap tenang.

Namun pikirannya dipenuhi gelombang pertanyaan.

Ia bahkan tidak lagi memperhatikan kata-kata sang pembawa acara.

Satu hal terus berputar di kepalanya.

Apa sebenarnya kekuatan aneh yang ia rasakan saat tangannya bersentuhan dengan Ratna tadi?

Apakah itu semacam tenaga dalam?

Namun ia belum pernah mendengar adanya kekuatan seperti itu di Kota Tirta Awan.

Ratna mencapai tingkat kesepuluh Alam Dasar di usia enam belas tahun memang luar biasa.

Tetapi itu masih tingkat kesepuluh dari Alam Dasar.

Bagaimana mungkin ia bisa melepaskan aura dingin yang begitu kuat tanpa suara—

Bahkan sampai melumpuhkan lengannya?

Ataukah…

Ratna sebenarnya telah melampaui tingkat kesepuluh Alam Dasar?

Suara pembawa acara tiba-tiba meninggi.

“Pertama! Bersujud kepada langit dan bumi!”

Arka membungkuk ke arah pintu.

Sambil melakukannya, ia melirik Ratna dari sudut matanya.

“Kedua! Bersujud kepada para tetua!”

Keduanya berbalik dan membungkuk kepada Tetua Nata Wijaya dan Heru Pradana.

Tetua Nata Wijaya tersenyum penuh kebanggaan.

Heru Pradana juga tampak puas.

“Suami dan istri! Saling memberi hormat!”

Arka dan Ratna berbalik menghadap satu sama lain.

Gerakan mereka begitu serempak.

Pemandangan itu membuat gigi para pemuda Keluarga Wijaya terkatup erat.

Dalam benak mereka, Ratna seharusnya dipaksa menikah dengan pria cacat ini.

Namun sampai saat ini—

Tak ada sedikit pun tanda perlawanan darinya.

Keduanya membungkuk.

Dan saat itu Arka melihatnya.

Sepasang mata dingin mengintip dari balik tirai manik-manik.

Mata yang sedingin es.

Tanpa emosi sedikit pun.

Biasanya momen ini akan disambut tepuk tangan meriah.

Namun kali ini—

Hanya segelintir orang yang bertepuk tangan.

Suasana terasa canggung.

Tetua Pertama, Jaya Wijaya, tersenyum samar.

“Memang Tetua Nata patut diberi selamat.”

“Aku mewakili para tetua menyampaikan ucapan selamat.”

Nada bicaranya terdengar sopan.

Namun siapa pun bisa merasakan ejekan yang tersembunyi di dalamnya.

Tetua Kedua Bima Wijaya tertawa kecil.

“Tetua Nata benar-benar beruntung mendapatkan cucu menantu berbakat seperti ini.”

“Adapun bagi Keluarga Pradana yang memperoleh menantu seperti ini…”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh ironi.

“Yah… masih bisa diterima.”

“Selamat.”

Suasana aula langsung menjadi dingin.

Siapa pun yang tidak bodoh dapat menangkap jelas makna di balik kata “selamat” yang mereka ucapkan.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!