Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kemerdekaan Mutlak
Dua keranjang anyaman bambu berukuran besar teronggok di tengah ruang tamu.
Tangan Sukma bergerak kilat menjejalkan gulungan kain dan kardus kardus makanan ke dalamnya. Napasnya teratur.
Kemerdekaan mutlak dari ibu mertuanya membawa energi baru yang meluap ke seluruh pembuluh darahnya.
Sigit meremas sepotong kemeja kotak kotak pudar miliknya. Ia berdiri canggung di ambang pintu kamar, kakinya menggesek lantai plesteran.
"Bu." Sigit menyodorkan kemeja itu.
"Baju baruku kan sudah banyak. Yang ini boleh buat Budi? Anaknya Pakde Tono."
Sukma menghentikan aktivitasnya. Matanya memindai kemeja bersih tanpa noda itu.
"Boleh. Cari yang masih layak pakai. Kalau sudah bolong bolong, jadikan lap meja saja."
Mata Sigit berbinar tajam. Ia melesat masuk kamar. Membongkar lemarinya dengan semangat meledak ledak.
Tangannya diam diam menyembunyikan tiga butir permen karamel susu di dalam saku kemeja itu untuk diberikan pada sepupunya nanti.
"Sigit! Gito!" Sukma menepuk debu di tangannya.
"Sana lari ke rumah Kades Darman. Pinjam sepeda kumbang. Bilang Ibu yang suruh. Uang sewanya nanti Ibu bayar!"
Dua bocah laki laki itu berlari menembus pintu depan tanpa menoleh lagi.
Di sudut ruang tengah, Syaiful duduk anteng di kursi kayu pendek. Remah remah biskuit marie berhamburan mengotori dada kausnya. Mulut balita itu sibuk mengunyah.
Sukma melirik Sinta yang sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin retak.
"Sinta, dandan yang rapi." Sukma memasukkan botol minum plastik ke dalam tas selempangnya.
"Nanti siang Ibu mau ke kabupaten sebentar. Titip adik adikmu di rumah Mbah Purnomo."
Sinta menoleh, sisir plastiknya terhenti di udara. "Ibu mau ke mana?"
Sukma berjongkok. Menatap lurus manik mata bening putrinya.
"Ibu ada kerjaan dari Dokter Ratih. Rahasia. Bapakmu di perbatasan gajinya nggak seberapa. Kita nggak bisa cuma nunggu wesel Bapak. Ibu harus cari uang sendiri."
Sinta mengangguk kuat kuat. Mengunci mulutnya rapat rapat.
"Iful denger loh, Bu!" Balita itu menyeletuk nyaring dari pojokan dengan mulut penuh biskuit.
Sukma menepuk jidatnya sendiri. Lupa ada telinga kecil yang ikut menyimak.
"Syaiful pura pura nggak denger. Tutup telinganya sekarang."
Syaiful tertawa cekikikan sambil menutup kedua telinganya dengan tangan mungil yang penuh remah biskuit.
Sepeda kumbang jengki itu luar biasa berat.
Dua keranjang terikat kencang di sisi kiri dan kanan roda belakang. Sigit membonceng Gito di sadel belakang besi. Sinta memeluk Syaiful erat di atas palang besi depan.
Sukma mengayuh pedal. Otot kakinya menegang keras. Roda sepeda bergoyang liar melindas jalanan tanah berbatu dan kubangan lumpur kering.
"Pegangan yang kuat!" Sukma membelokkan setang menghindari lubang galian sumur.
Empat bocah itu menahan napas. Jantung mereka nyaris melompat setiap ban sepeda terperosok akar pohon bambu.
Sejam kemudian, sepeda itu mengerem mendadak di halaman gubuk berdinding bilik bambu reyot.
Suara batuk kering bersahutan dari dalam bilik. Sangat parah. Hampir seperti membelah dada.
Sukma membanting standar sepeda. Kakinya melangkah lebar menerobos pintu depan yang tak dikunci.
"Bapak? Ibu?"
Marni terlonjak dari arah dapur kotor yang penuh jelaga. Gayung batok kelapa di tangannya jatuh berdebum ke lantai tanah.
"Ya ampun! Sukma? Kok kamu ke sini, Nduk? Anakmu kok ikut semua?" Marni tergopoh gopoh menghampiri.
Matanya memindai penampilan putrinya dan keempat cucunya yang bersih, wangi, dan memakai baju baru. Tubuh mereka tak lagi kurus kering seperti gelandangan pasar.
"Bapak sakit, Bu?" Sukma mengintip ke celah kamar sempit.
Pak Purnomo terbaring lemah di atas dipan bambu tipis. Dadanya naik turun menahan batuk.
"Masuk angin biasa." Marni mengusap tangannya yang basah ke kain jarik pudarnya.
"Kamu itu nekat banget ke sini. Kalau ketahuan Lasmi gimana? Kamu mau disiksa dipukuli lagi?"
"Bu." Sukma menarik tangan Marni menuju teras depan.
"Bawa masuk keranjang di sepeda itu. Tutup pintunya."
Marni mengerutkan dahi. Tangannya gemetar menarik penutup kain dari atas keranjang bambu itu.
Tenggorokan wanita tua itu tercekat. Matanya membelalak tak percaya.
Gula pasir putih bersih, susu kaleng, biskuit khong guan kaleng merah, potongan daging sapi segar, sepeti kecil telur ayam, dan berpotong potong kain baju berbau pabrik. Tumpukan kemewahan itu seakan menghina gubuk reyot mereka.
"Sukma... kamu nyolong di mana?!" Marni nyaris pingsan, memegang dadanya panik.
"Sembarangan!" Sukma menata barang barang itu di atas lincak bambu.
"Ini uangku sendiri. Aku sudah sah pisah dari Bu Lasmi. Duit wesel Mas Trisno sama jatah lumbung masuk ke tanganku semua. Ibu sama Bapak makan ini semua. Awas kalau dikasihkan tetangga."
Air mata Marni tumpah. Tangannya gemetar mengusap kain baju baru itu.
Seumur hidupnya melarat, baru kali ini anak perempuannya membawa berkah, bukan tangisan penderitaan.
"Tulung jaga no bocah bocah. Aku ada urusan sebentar nang RSUD Kabupaten sekarang." Sukma melompat kembali ke atas sepedanya tanpa menunggu balasan ibunya yang masih menangis terisak.
Lorong rumah sakit siang itu sepi. Bau karbol menyengat hidung.
Wawan berdiri tegang di depan ruang periksa Dokter Ratih. Pemuda berseragam hansip pudar itu terus memilin ujung topinya. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Ketukan langkah kaki bersendal jepit karet mendekat. Wawan mendongak.
Matanya membelalak lebar. Darahnya berdesir kencang menghantam tulang rusuk.
Sukma berjalan menyusuri lorong keramik. Rambutnya dikuncir kuda rapi menampilkan lehernya yang jenjang. Pakaian kasual bersih membalut tubuhnya. Aura ketegasannya membius pandangan Wawan seketika.
Tenggorokan pemuda itu bergerak naik turun menahan gugup. Calon istrinya mendadak terasa sangat membosankan dibandingkan istri komandan calon mertuanya ini.
"Bu... Bu Sukma?" Wawan menyapa kikuk. Telinganya memerah menahan malu.
Sukma menatap datar. "Uangnya dibawa?"
Bu Parmi langsung menerobos dari balik tubuh Wawan. Senyum palsunya merekah lebar memamerkan deretan gigi kuningnya. Tangan gemuknya memegang amplop tebal.
"Bawa, Bu Sukma! Ini lho!" Bu Parmi menyodorkan amplop cokelat itu.
"Dua ratus lima puluh ribu pas. Nggak kurang sepeser pun."
Sukma menarik amplop itu. Tangannya cekatan menghitung lembaran uang seratus ribuan dan lima puluhan. Pas.
Dokter Ratih menatap transaksi itu dari ambang pintu dengan wajah kaku tak terbaca.
"Bu Sukma, ini ada sedikit oleh oleh dari kami." Bu Parmi menyodorkan keranjang anyaman berisi telur ayam dan sayuran kering.
"Anggap saja tanda persaudaraan. Wawan kan nanti jadi bawahannya Mas Trisno. Siapa tahu besok besok pangkat Wawan bisa diangkat."
Sukma tertawa pelan. Tawanya tajam menyayat telinga.
"Tanda persaudaraan atau uang pelicin?" Sukma menepis keranjang itu pelan hingga telur di dalamnya bergemeretak.
"Simpan telurnya buat pesta nikahan anakmu. Aku nggak nerima sogokan. Urusan jual beli tape compo kita sudah lunas."
Sukma maju selangkah, menatap Bu Parmi mengancam.
"Kalau kamu berani meras Dokter Ratih lagi, amplop ini tak kembalikan, tapi posisinya Wawan langsung diganti orang lain besok paginya."
Bu Parmi memucat pasi. Tubuhnya bergetar ngeri. Wawan menunduk dalam dalam, menahan rasa malu yang menghancurkan harga dirinya.
"Paham, Bu." Wawan menatap lantai keramik.
"Mak, ayo pulang."
Wawan menarik tangan ibunya menjauh, tapi matanya sempat mencuri pandang ke arah Sukma untuk terakhir kalinya.
Perasaannya campur aduk antara kagum dan takut.
Dokter Ratih menatap Sukma penuh arti. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
"Makasih," bisik Dokter Ratih tulus.
"Keluargaku emang parasit. Aku baru sadar gara gara kamu berani ngelawan mereka."
"Sama sama. Fokus rawat pasien saja, Dok. Nggak usah ngurusi orang yang nggak tahu diuntung." Sukma melambaikan tangan, melangkah pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Sinar matahari terasa memanggang kulit wajah.
Sukma menuntun sepedanya menjauh dari keramaian rumah sakit. Ia membelok ke sebuah gang sempit yang buntu. Tembok bata tinggi menutupi area itu dari pandangan jalan raya.
Aman.
Sukma memejamkan mata. Kesadarannya langsung tersedot berpindah ke dalam ruang spasialnya.
Sebuah meja makan kayu jati dari peradaban masa depan menyambutnya.
Di atas piring porselen tersaji bistik sapi setengah matang yang masih mengepulkan asap. Segelas es jeruk nipis segar menemaninya.
Pisau dan garpu berdenting memotong daging empuk itu. Sukma mengunyah rakus. Sari daging sapi lumer memanjakan lidahnya.
Ia menikmati kemewahan gila yang tak mungkin ia tunjukkan di dunia nyata tahun 1990 ini. Seporsi makanan mahal ludes dalam sepuluh menit.
Tenaganya kembali terisi penuh. Otot kakinya tak lagi pegal.
Kembali ke dunia nyata, ia melompat ke atas sadel. Mengayuh sepeda kumbang itu dengan kecepatan penuh membelah jalanan aspal kabupaten menuju desanya.
Tepat pukul setengah tiga sore, Sukma memarkir sepedanya di pekarangan gubuk Pak Purnomo.
Suasana rumah mendadak sangat ramai.
Tono, kakak sulungnya, berdiri di ambang pintu dengan senyum terkejut. Minah, istri Tono, memegang sapu lidi yang tak lagi menyapu lantai.
Di sudut teras, Tejo memangku Budi, sementara Yayuk duduk malu malu merapikan jarik batiknya.
Minto, adik bungsunya yang berumur lima belas tahun, berlari menyambut Sukma dan langsung mengambil alih sepedanya.
"Mbak Sukma sudah pulang!" Minto bersorak riang.
Semua mata tertuju padanya. Lengkap. Seluruh anggota keluarga besar Purnomo berkumpul sore itu meninggalkan ladang dan sawah.
"Loh, Mas Tono, Mas Tejo. Tumben sore sore sudah kumpul semua?" Sukma melangkah naik ke teras kayu, mengusap peluh di dahinya.
Tono tertawa renyah, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ibu yang panggil semua pulang dari sawah lebih awal, Nduk. Katanya kamu bawa harta karun banyak banget. Benar gitu?"