NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Masa Lalu

Pagi itu, kediaman Sinclair terasa lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela ruang makan menyinari meja sarapan yang penuh dengan kehangatan. William tampak sangat bersemangat; baginya, kehadiran Nathaniel yang kini lebih sering mampir bukan lagi sekadar urusan profesional. Melihat Nathaniel duduk di sana, menyesap kopi hitamnya sambil sesekali mengoreksi jadwal Alessia, membuat William merasa seolah memiliki anak laki-laki yang bisa ia andalkan.

"Nathan, sering-seringlah sarapan di sini. Meja ini terasa sepi kalau hanya ada aku dan Rosetta," ujar William tulus sebelum mereka berangkat.

Nathaniel hanya mengangguk sopan, meski di balik sikap kaku itu, ada rasa haru yang ia simpan rapat. Namun, begitu mesin mobil menyala, mode "pelindung" Nathaniel kembali aktif.

Sesampainya di kantor, Nathaniel turun lebih dulu. Dengan gerakan yang presisi dan penuh hormat, ia membukakan pintu mobil untuk Alessia. Gestur yang sudah ia lakukan ribuan kali, namun kali ini terasa ada beban berbeda di pundaknya.

Mereka melangkah bersama menuju ruang rapat utama. Namun, begitu pintu kaca besar itu terbuka, sosok Noah sudah berdiri di sana. Ia tidak duduk menunggu seperti tamu pada umumnya; ia berdiri di dekat jendela, tampak sangat percaya diri dengan setelan jas navy yang pas di tubuhnya.

"Hai! Good morning Al!" sapa Noah dengan ramah dan hangat. Senyumnya begitu lepas, kontras dengan atmosfer dingin yang biasanya dibawa Nathaniel.

"Hi Noah! Morning. Nice to meet you again here as a kolega," jawab Alessia ceria. Ia melangkah maju dengan profesionalisme yang baru ia pelajari, namun tetap tidak bisa menyembunyikan binar senangnya bertemu teman lama.

Nathaniel berdiri tepat satu langkah di belakang Alessia. Matanya menatap tajam ke arah Noah, bukan sebagai musuh, tapi sebagai pesaing yang sangat tangguh dalam segala aspek.

"Tuan Noah, terima kasih sudah datang tepat waktu," suara Nathaniel memecah suasana akrab itu dengan nada baritonnya yang datar. "Mari kita mulai pembahasannya. Waktu Ms. Sinclair sangat terbatas hari ini."

Noah terkekeh pelan, ia melirik Nathaniel dengan tatapan yang seolah mengerti apa yang sedang terjadi di balik topeng dingin sang mentor. "Santai sedikit, Kak Nathan. Bisnis mobil tidak akan lari ke mana-mana dalam lima menit."

Noah kemudian beralih kembali pada Alessia, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. "Oh ya, Al. Ini ada oleh-oleh kecil dari pameran di Jeju kemarin yang lupa aku berikan. Hanya gantungan kunci kristal berbentuk mobil klasik, kurasa cocok untuk tas kantormu yang baru."

Alessia menerima kotak itu dengan mata berbinar. "Wah, lucu banget! Makasih ya, Noah."

Nathaniel mengepalkan tangannya yang tersembunyi di balik punggung. Baginya, gantungan kunci itu bukan sekadar benda, melainkan tanda wilayah. Ia berdeham keras, menarik kursi untuk Alessia dengan gerakan yang sedikit lebih tegas dari biasanya.

"Silakan duduk, Nona Sinclair. Kita punya draf kontrak showroom yang harus segera dibedah," ucap Nathaniel, suaranya kini terdengar lebih dingin dari es di Kutub Utara.

Nathaniel memperhatikan interaksi itu dengan seksama. Ia mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Alessia, merasa sedikit bangga karena gadis itu mulai bisa menegosiasikan batasan biaya konstruksi dengan sangat tegas, sebuah poin yang sempat mereka diskusikan semalam di meja makan.

"Hm... showroom yang ingin kamu buat ini punya desain tersendiri. Berarti segala biaya pembangunan akan ditanggung pihakmu bukan?" tanya Alessia memastikan, matanya menatap dokumen teknis di hadapannya dengan serius.

Noah menyandarkan punggungnya, tersenyum kagum melihat sisi profesional Alessia yang baru ia lihat. "Iya tentu saja, Al. Aku tidak akan mengubah struktur dasarnya, mungkin hanya akan menambah beberapa aksen khusus untuk menunjukkan kelas brand-ku saja. Semua biaya renovasi interior dan instalasi teknologi keamanan kendaraan ada di bawah anggaran Maverick."

Alessia mengangguk puas, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang tenang. "Aku rasa dengan adanya showroommu di sini bisa menambah daya tarik pengunjung mallku. Ini win-win solution bagi kita berdua."

Nathaniel berdeham, memecah suasana akrab yang mulai terbentuk kembali di antara kedua teman lama itu. Ia memajukan tubuhnya, meletakkan pulpen peraknya tepat di atas draf kontrak.

"Mengenai 'aksen' yang Anda maksud, Tuan Noah," suara Nathaniel terdengar berat dan sangat objektif. "Sinclair memiliki standar estetika yang sangat ketat. Setiap perubahan visual, sekecil apa pun, harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Ms. Alessia sebagai penanggung jawab utama lifestyle mall."

Noah menoleh ke arah Nathaniel, senyumnya tidak luntur namun ada tatapan menantang di matanya. "Tentu, Kak Nathan. Aku tidak keberatan sering-sering bertemu Al untuk meminta persetujuannya. Malah, aku sangat menantikannya."

Alessia tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan yang merayap di antara dua pria itu. "Tenang saja, Nathan. Noah tahu selera Sinclair. Dia tidak akan menaruh dekorasi yang norak di mall kita."

"Ini bukan soal selera, Nona Sinclair. Ini soal kepatuhan terhadap kontrak," balas Nathaniel kaku. Ia beralih menatap Noah kembali. "Saya akan menambahkan klausul mengenai durasi renovasi. Kami tidak ingin area sayap barat ditutup terlalu lama karena akan mengganggu alur pengunjung."

Noah mengangguk mantap. "Setuju. Aku ingin ini selesai secepat mungkin agar aku bisa segera mengundang Al untuk peresmiannya... dan mungkin, tes jalan mobil terbaru kita setelahnya?"

Alessia tampak antusias. "Wah, boleh juga! Aku sudah lama tidak menyetir mobil sport."

Nathaniel menutup buku catatannya dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. "Rapat selesai untuk poin ini. Saya akan merevisi drafnya dan mengirimkannya ke tim hukum Maverick sore ini."

Nathaniel berdiri, merapikan tumpukan kertas di depannya dengan gerakan yang sangat mekanis. Suasana hangat di antara dua teman lama itu terasa seperti duri yang terus menusuk kulitnya. Ia harus melakukan sesuatu untuk menegaskan kembali batasan profesional di ruangan ini.

"Ms. Alessia, Anda harus menandatangani kontrak perpanjangan vendor kosmetik yang kemarin tertunda. Silakan ke ruangan saya setelah ini, akan saya siapkan drafnya," kata Nathaniel, suaranya datar namun penuh penekanan, berusaha menarik perhatian Alessia kembali ke urusan Sinclair.

Namun, Noah seolah tidak terpengaruh oleh interupsi dingin itu. Ia justru menopang dagu, menatap Alessia dengan binar jenaka.

"Hm... Al... makan siang nanti mau lunch bareng gak? Kebetulan ada teman kita, si Lucas, baru buka restoran khas Spanyol di dekat sini. Katanya paella-nya luar biasa," ajak Noah dengan nada santai yang sangat akrab.

Mata Alessia berbinar mendengar nama teman lama mereka. "Lucas? Wah, dia akhirnya buka restoran sendiri? Hm... oke boleh!" terima Alessia tanpa ragu.

Ia kemudian menoleh ke arah Nathaniel yang masih berdiri mematung seperti patung marmer di ujung meja. "Kak, nanti siang aku mau makan di luar saja ya? Tidak usah pesankan menu kantin atau reservasi di hotel seperti biasa," izin Alessia dengan nada manis yang biasanya selalu berhasil meluluhkan Nathaniel.

Nathaniel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, namun ia segera menyembunyikan ekspresinya dengan menunduk merapikan pulpen peraknya ke dalam saku jas.

"Silakan," jawab Nathaniel singkat.

Apa lagi yang bisa ia jawab? Ia tidak punya hak legal atau personal untuk melarang putri mahkota Sinclair makan siang dengan teman masa kecilnya yang juga merupakan mitra bisnis potensial. Namun, di dalam hatinya, ada rasa sesak yang tak kasat mata.

"Bagus! Aku jemput jam satu ya, Al?" ucap Noah penuh kemenangan sambil berdiri. Ia memberikan anggukan sopan pada Nathaniel yang dibalas dengan tatapan sedingin es.

Setelah Noah melangkah keluar ruangan dengan siulan kecil, keheningan yang menyesakkan melanda ruang rapat. Alessia mulai merapikan tasnya, tampak sangat bersemangat.

"Nathan, kenapa mukamu ditekuk begitu? Ini kan juga bagian dari menjaga hubungan baik dengan mitra bisnis," goda Alessia sambil berjalan menuju pintu.

Nathaniel tidak menoleh. Ia hanya menatap draf kontrak yang kini terasa sangat membosankan di tangannya. "Hubungan baik tidak memerlukan waktu pribadi atau reuni masa lalu, Nona Sinclair. Pastikan Anda kembali tepat pukul tiga. Kita punya janji temu dengan dewan komisaris."

Alessia hanya tertawa kecil, menganggap omelan itu sebagai bentuk protektif biasa dari kakaknya. Ia tidak menyadari bahwa bagi Nathaniel, dua jam makan siang Alessia dengan Noah terasa seperti selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!