Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dokter datang untuk memeriksa kondisi Shena. Ia memeriksa detak jantung Shena, bertanya nama Shena, dan pemeriksaan lain pada umumnya. Shena bertanya. "Apa kondisiku parah, dokter?"
"Perutmu ada memar yang cukup besar. Itu akan sakit dalam beberapa hari. Kepalamu terbesit benda tajam. Mungkin pecahan kaca. Lukanya cukup dalam, tapi sudah di jahit dan tidak berbahaya lagi". Jawab dokter menjelaskan.
"Kapan aku boleh pulang, dok?" Tanya Shena.
"Sekarang sudah malam, besok siang bisa urus kepulangan". Jawab dokter itu lagi.
"Beristirahatlah malam ini. Jangan begadang, mengerti!!" Perintah dokter itu. Dokter itu laki-laki. Tertulis dokter Hans Matthew di dada kanannya. Ia sangat ramah.
Dokter itu pamit pergi. Kini tinggal Shena dan Andrew. Shena mencari ponselnya. Andrew yang melihat Shena grasak grusuk bertanya. "Cari apa?"
"Ponsel ku" jawab Shena.
Andrew membuka laci meja dan mengeluarkan ponsel Shena. Ia memberikannya kepada Shena. "Ini".
Shena tersenyum. Ia mengambil ponsel itu. "Terimakasih ".
Ia menelpon Ello untuk memberi tahu kalau ia di rumah sakit. Bukan kah Ello akan khawatir dan langsung menemui nya. Memikirkan itu Shena jadi bersemangat. Andrew sampai menatapnya aneh karena senyum-senyum sendiri.
Tak lama, telpon Ello di angkat. "Halo, El. El aku di rumah sakit. Bisakah kau datang ke sini dan temani aku. Aku sendirian". Ucapnya manja.
Andrew bahkan terkikik geli melihat tingkah manja Shena. Itu lucu dan manis. Ekspresinya bisa berubah dalam sekejap.
"Ello agi di kamar mandi. Dia sedang mandi. Ini aku, Dian". Jawab orang di telpon itu.
Ekspresi manja Shena langsung berubah datar dalam sekejap. Ello sedang mandi dan dia bersama Dian malam-malam begini? Wajah Shena jadi dingin. Hatinya marah dan cemburu. Andrew bahkan sampai merinding melihat wajah Shena tiba-tiba jadi dingin. "Kenapa kau bisa bersama Ello?" Tanya Shena dingin.
Suara Dian yang semula ketus jadi lembut. "Perutku sedang sakit. Ello bantu merawat ku. Shena maafkan aku, aku akan suruh Ello pulang sekarang".
Cengkraman tangan Shena di ponselnya mengerat. Kenapa Ello harus merawat perempuan itu kalau dia sakit. Bukankah itu keterlaluan walau mereka hanya berteman.
"Shena, jangan keterlaluan. Dian sedang sakit. Tidak ada yang bisa merawatnya. Bisakah kau sedikit berempati". Itu suara Ello. Suaranya sangat dingin. Ello sepertinya masih marah.
"Aku tidak bilang apa-apa". Jawab Shena singkat dan langsung menutup panggilan.
Ello merasa tidak enak di hatinya mendengar jawaban singkat Shena. Ia merasa bersalah. Namun mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia membiarkan Dian kesakitan. Ia hanya datang untuk membelikan obat tadinya, namun Dian belum makan. Karena pencernaan Dian buruk, Ello berinisiatif untuk membelikan bubur untuk Dian tapi tak sengaja bubur itu terjatuh dan mengenai seluruh pakaiannya. Ello hanya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi bau bubur itu sangat pekat karena itu bubur herbal, jadi dia memutuskan mandi.
"El, kamu pulang aja. Nanti Shena tambah marah" ujar Dian lembut.
Ello sedikit tersenyum dan berkata. "Jangan khawatir, besok aku akan jelaskan pada Shena. Dia sebenarnya sangat baik dan cukup pengertian".
.
.
.
Di rumah sakit. Andrew bertanya pelan. "Kau tidak apa-apa?".
Ekspresi dingin Shena mulai hilang digantikan ekspresi lesu. Ia menoleh sebentar kepada Andrew dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa ".
"Bisakah kau antarkan surat izin ku ke sekolah besok? Aku murid pindahan. Baru dua hari masuk. Belum punya teman jadi tidak ada yang bisa di mintai tolong". Pinta Shena.
Andrew mengangguk. "Baiklah. Jangan pikirkan apapun lagi dan tidurlah". Andrew membaringkan tubuh Shena dan menyelimutinya sampai dada. Ia lalu tidur di sofa sebelah ranjang.
.
.
.
Keesokan paginya. Tak seperti hari biasanya. Arsen sangat bersemangat sekali pergi ke sekolah hari ini. Ia akan bertemu dengan Shena dan menindasnya seharian. Itu akan menyenangkan.
Ketika ia tiba di gerbang sekolah, mobilnya berhenti. Arsen turun. Ia melihat kiri kanan depan belakang namun batang hidung Shena tidak kelihatan. Mungkin Shena belum datang, pikirnya.
"Pergilah kau, aku turun di sini" ia menyuruh sopirnya untuk pergi.
"Baik, tuan muda" jawab sopir itu.
Arsen berdiri di gerbang menunggu kedatangan Shena. Cukup lama dia menunggu. Semua orang yang lewat melirik ke arahnya. Sekitar setengah jam ia menunggu, Shena juga belum muncul. Kesabarannya habis. Wajahnya sampai merah karena kesal. Apa dia berani menipu ku? Pikir Arsen. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, mencari nama babu milikku dan menelponnya.
"Halo..." Ucap Shena.
"Kau dimana, hah???" Ucap Arsen kesal.
Shena berpura-pura menyesal dan meminta maaf. "Ohhh, yang mulia. Maafkan aku. Aku sungguh menyesal tidak dapat melayani mu dengan baik di hari pertama. Aku tidak masuk sekolah hari ini".
Ini menjengkelkan. "Kenapa kau tidak mengabari???".
"Astaga.... Apa kau menunggu ku di pintu gerbang selama setengah jam?" Ucap Shena pura-pura terkejut dan shock.
Arsen seperti tersambar petir kala ia tertangkap basah. Ia sedikit gelagapan dan berdalih. "Hah.... Mana mungkin aku menunggu babu rendahan seperti dirimu".
Shena tertawa rendah. "Ouhh... Syukurlah. Aku sangat khawatir kalau kau menunggu ku". Dia berpura-pura. Arsen tahu itu.
"Kenapa kau tidak masuk sekolah?" Tanya Arsen, masih dengan nada kesal.
"Kepalaku terbelah jadi dua bagian. Ahhh... Ini sangat sakit" nadanya dibuat sangat menyedihkan dan dramatis.
Arsen tak percaya meremehkan. Shena pasti berbohong. "Hah, kau sedang menipu ku??? Awas saja kalau besok tak datang lagi. Aku akan buat perhitungan pada pacarmu itu". Arsen kesal dan mematikan ponselnya sepihak. "Dasar perempuan menyebalkan". Makinya pada ponsel itu. Ia menendang udara saking kesalnya.
Sementara Shena jangan di tanya. Ia tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa Arsen sangat kesal padanya. Andrew merasa lucu dan ikut tertawa meski tak sekeras Shena.
Shena berhenti tertawa dan menoleh pada Andrew. "Kenapa kau ikut tertawa?".
"Kau sangat lucu, my Hero". Sahut Andrew.
.
.
.
Jam pelajaran akan segera di mulai. Ello melihat kursi Shena kosong. "Apa dia marah karena perkataan ku semalam jadi dia tidak datang?" Batin Ello. Ia cukup khawatir. Ia hendak menelpon Shena namun guru telah masuk. Jadi dia hanya mengirim pesan saja.
"Shena, kenapa tidak masuk sekolah hari ini".
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏