NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Genggaman tangan itu tidak mengendur sedikit pun, bahkan ketika derit kayu tangga kapal yang bersentuhan dengan dermaga Solandis mengeluarkan suara gesekan yang memekakkan telinga. Arlo Valerius merasakan getaran itu merambat dari telapak kakinya, naik ke sendi lututnya, hingga berhenti di dadanya. Ia tidak segera melangkah. Ia hanya berdiri di sana, menatap papan-papan kayu dermaga yang menghitam karena air laut, sementara para pelaut Solandis di sekelilingnya mulai sibuk melempar tali tambang sebesar lengan pria dewasa.

Arlo menarik napas panjang. Udara di sini tidak memiliki aroma melati atau dupa kemenyan yang menyesakkan. Udara ini berbau amis ikan, oli mesin kapal yang panas, dan aroma roti gandum yang baru dipanggang dari kedai di ujung dermaga. Ia menoleh ke samping, menatap Kalea yang masih memegangi tangannya dengan sangat erat. Gadis itu tidak menatapnya; Kalea justru menatap ke arah kerumunan kuli angkut dan pedagang yang berlalu-lalang di bawah sana dengan sorot mata waspada.

"Jangan hanya berdiri di sana, Arlo. Kau menghalangi jalan orang yang membawa peti," bisik Kalea pelan, suaranya hampir tertelan oleh suara peluit kapal yang baru saja masuk.

Arlo tersentak. Ia melihat dua orang pelaut bertubuh besar sedang memikul peti kayu raksasa menuju arah mereka. Arlo segera menarik Kalea sedikit ke pinggir, memberikan ruang yang sempit di atas tangga kapal. Salah satu pelaut itu menyenggol bahu Arlo dengan cukup keras, membuat tubuh Arlo sedikit goyah. Tidak ada kata maaf. Tidak ada bungkukan badan. Pelaut itu hanya mendengus, terus berjalan seolah-olah Arlo hanyalah tiang kayu yang kebetulan berada di jalur jalannya.

Rasa kaget sempat melintas di wajah Arlo, namun ia segera menelan ludah. Ia baru saja diingatkan dengan cara yang sangat fisik; di tempat ini, ia bukan lagi Putra Mahkota yang jalannya harus dibersihkan oleh pengawal. Ia hanyalah seorang pria dengan kemeja katun lusuh yang mengganggu pekerjaan orang lain.

"Selamat datang di dunia tanpa bungkukan, Pangeran," gumam Kalea, ia melepaskan tangan Arlo perlahan untuk merapikan jaket pelautnya yang kedodoran.

Arlo mengembuskan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar. Ia melangkah turun dari tangga kapal. Saat sol sepatu kain kusamnya menyentuh kayu dermaga Solandis, ia merasakan sensasi yang aneh. Tanah ini terasa... stabil. Bukan stabil dalam artian tidak bergerak, tapi stabil karena ia tahu setiap langkah yang ia ambil sekarang adalah miliknya sendiri. Ia tidak lagi berjalan di atas garis yang sudah digambar oleh ayahnya.

Mereka bergerak menuju bagian belakang kapal, tempat Pak Elara sedang diturunkan dengan bantuan dua pelaut Solandis yang baik hati. Ayah Kalea itu duduk di atas kursi kayu sederhana yang diikatkan pada tali katrol. Wajahnya masih pucat, namun ia tampak berusaha keras untuk tetap terjaga.

Arlo segera mendekat saat kursi itu menyentuh lantai dermaga. Ia meraih pegangan kursi, membantu menyeimbangkan posisi Pak Elara agar tidak terguling.

"Pelan-pelan, Pak," ucap Arlo rendah.

Pak Elara mendongak, menatap Arlo melalui sela-sela rambutnya yang memutih. "Udara di sini... rasanya jauh lebih ringan, Arlo."

"Karena tidak ada debu kapur Aethelgard di sini, Pak," jawab Arlo sambil memberikan isyarat pada Kalea untuk memegang sisi kursi yang lain.

Mereka mulai berjalan menyusuri dermaga kayu yang panjang itu. Di kiri dan kanan mereka, aktivitas pelabuhan Solandis terasa sangat brutal dan jujur. Ada sekelompok nelayan yang sedang bertengkar soal harga ikan tongkol, ada anak-anak kecil yang berlarian menawarkan jasa semir sepatu, dan ada aroma rempah-rempah yang entah datang dari kapal mana yang sedang dibongkar muatannya.

Arlo memperhatikan setiap inci lingkungannya. Solandis sangat berbeda dengan Aethelgard yang statis. Di sini, segalanya tampak bergerak. Bangunan-bangunan di tepi pantai terbuat dari bata merah yang sudah mulai berlumut, jendela-jendelanya besar dan terbuka lebar, memperlihatkan kehidupan di dalamnya tanpa malu-malu. Tidak ada tirai sutra yang menutupi kemiskinan atau kekayaan.

Saat mereka mencapai ujung dermaga, seorang petugas pelabuhan dengan seragam hijau kusam menghadang jalan mereka. Pria itu memegang papan tulis kayu dan sebatang arang kecil. Ia menatap Arlo, lalu menatap Kalea, dan terakhir menatap Pak Elara yang duduk di kursi.

"Nama dan asal?" tanya petugas itu tanpa mengangkat kepalanya dari papan tulis.

Arlo terdiam sejenak. Lidahnya secara otomatis hendak mengucapkan 'Arlo Valerius dari Aethelgard', namun ia segera menggigit bibir bawahnya. Nama itu adalah racun di sini. Nama itu adalah pengait yang bisa menariknya kembali ke penjara emasnya.

"Arlo," jawabnya singkat. "Hanya Arlo. Kami dari pesisir utara."

Petugas itu mendongak, menyipitkan mata menatap Arlo. Ia memperhatikan garis wajah Arlo yang tegas, cara berdiri Arlo yang masih sedikit terlalu tegak untuk ukuran rakyat jelata, dan kemeja katunnya yang meskipun kotor namun jahitannya terlihat berkualitas. "Hanya Arlo, ya? Kau terlihat seperti orang yang biasanya memerintah orang lain untuk mencatat namanya, bukan menyebutkannya sendiri."

Arlo merasakan tenggorokannya mengering. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasakan kapalan di telapak tangannya menekan kulit. "Saya hanya seorang pria yang sedang mencari pekerjaan, Tuan. Itu saja."

Petugas itu mendengus, lalu menuliskan sesuatu di papan tulisnya. "Yah, di Solandis kami tidak peduli kau berasal dari lubang mana. Asal kau punya dua tangan yang bisa bekerja dan tidak membuat onar, kau boleh masuk. Bayar biaya tambat perahu dan pendaftaran warga sementara. Lima koin perunggu."

Kalea segera merogoh kantong bajunya, mengeluarkan beberapa koin perunggu yang ia simpan di dalam kain kusam. Ia menyerahkannya pada petugas itu.

Arlo memperhatikan koin-koin itu berpindah tangan. Itu adalah koin-koin hasil jerih payah Kalea. Rasa malu menyelinap di ulu hatinya. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah tahu berapa harga untuk sekadar masuk ke sebuah kota. Ia tidak pernah tahu bahwa keberadaannya memiliki label harga yang harus dibayar dengan keringat orang lain.

"Ayo," ajak Kalea, ia menarik kursi ayahnya lagi.

Mereka berjalan meninggalkan gerbang pelabuhan menuju jalanan kota yang lebih padat. Arlo merasa seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Ia terus bersenggolan dengan orang-orang yang berjalan terburu-buru. Suara teriakan para pedagang membuatnya sedikit pusing.

"Kau harus belajar berjalan lebih rapat, Arlo," Kalea mengingatkan tanpa menoleh. "Jangan berjalan di tengah seolah-olah jalan ini milik ayahmu. Di sini, ruang adalah kemewahan."

"Aku sedang mencoba, Kalea," gumam Arlo. Ia merapatkan jubah katunnya yang tipis, mencoba menyatu dengan kerumunan.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang tampak cukup tua. Di depannya terdapat papan kayu bertuliskan 'Penginapan Teluk Biru'. Aroma sup kubis yang kuat mengalir dari jendela bawahnya. Kalea tampak ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk, membiarkan Arlo membantu ayahnya menaiki anak tangga kayu yang berderit di teras.

Di dalam, suasananya hangat namun pengap. Seorang wanita paruh baya dengan tubuh subur sedang mengelap meja kayu panjang dengan kain yang tampak tidak lebih bersih dari mejanya. Ia menatap rombongan Arlo dengan pandangan menilai.

"Kami butuh satu kamar. Untuk dua orang dewasa dan satu orang tua yang sedang sakit," ucap Kalea lugas.

Wanita itu berhenti mengelap meja. Ia meletakkan kainnya dan berjalan mendekati mereka. Ia menatap Pak Elara, lalu menatap Arlo. "Sakit apa? Aku tidak ingin ada wabah di penginapanku."

"Hanya kelelahan dan masalah paru-paru karena debu. Dia tidak menular," Kalea meyakinkan dengan suara yang stabil.

Wanita itu mengangguk pelan. "Dua koin perak per malam. Sudah termasuk sarapan bubur gandum dan air hangat."

Dua koin perak. Arlo tahu itu jumlah yang cukup besar bagi seorang tukang cat seperti Kalea. Ia melihat Kalea kembali merogoh tasnya, menghitung sisa koinnya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Wajah Kalea tampak menegang saat melihat sisa uangnya yang semakin menipis.

"Aku punya ini," Arlo tiba-tiba bersuara.

Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan koin perunggu pemberian Kalea tempo hari. Ia juga mengeluarkan sebuah kancing perak yang sempat ia copot dari jubah upacaranya sebelum ia membuangnya di menara—satu-satunya benda berharga yang ia simpan sebagai cadangan darurat.

Arlo menyerahkan kancing perak itu pada wanita pengelola penginapan. "Ini perak murni. Cukup untuk membayar tiga malam, kan?"

Wanita itu mengambil kancing tersebut, menggigitnya sedikit, lalu menimbangnya di telapak tangan. Matanya berkilat puas. "Ini lebih dari cukup untuk empat malam. Kalian bisa ambil kamar di lantai atas, yang paling ujung agar tidak terganggu suara bising dari kedai."

Kalea menatap Arlo dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kesal karena Arlo diam-diam menyimpan benda dari masa lalunya, namun ada juga rasa lega yang tidak bisa ia sembunyikan. "Kau bilang kau sudah membuang semuanya."

"Aku hanya menyimpan satu menit dari masa laluku untuk memastikan kita punya tempat untuk tidur malam ini, Kalea," jawab Arlo pelan.

Mereka membawa Pak Elara ke kamar di lantai atas. Kamarnya sangat kecil. Hanya ada dua dipan kayu dengan kasur jerami yang keras, sebuah lemari kecil yang pintunya miring, dan satu jendela yang menghadap ke arah gang sempit di belakang penginapan. Arlo membantu ayahnya berbaring di dipan yang paling dekat dengan jendela.

Pak Elara segera terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal yang keras. Perjalanan laut tadi benar-benar menguras energinya.

Kalea berdiri di depan jendela, menatap ke luar. Sinar matahari sore yang temaram masuk ke dalam ruangan, menyinari partikel debu yang menari-nari di udara. Arlo berdiri di sampingnya, membiarkan bahu mereka bersinggungan. Kesunyian di kamar itu terasa sangat kontras dengan keributan di luar sana.

"Kita benar-benar sudah sampai," bisik Kalea.

"Ya. Kita sudah di sini," Arlo menatap tangan Kalea yang masih memegang pinggiran jendela kayu yang kasar. "Apa yang kau pikirkan?"

Kalea menarik napas panjang, lalu ia menoleh ke arah Arlo. Ada kelelahan yang nyata di matanya, namun juga ada keteguhan yang belum pernah Arlo lihat sebelumnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar empat malam ini tidak menjadi empat malam terakhir kita punya atap di atas kepala."

Kalea melangkah mendekati Arlo, jemarinya yang kasar menyentuh kerah kemeja katun Arlo yang kusut. "Besok pagi kita harus mulai mencari kerja. Benar-benar kerja, Arlo. Bukan hanya membantu pelaut menarik tali karena kau merasa kasihan."

Arlo mengangguk pasti. Ia meraih tangan Kalea, menggenggamnya dengan mantap. "Aku tahu. Aku akan ke pelabuhan bawah besok pagi. Thomas bilang mereka butuh orang untuk memindahkan kayu di galangan kapal. Aku punya tenaga."

"Tenaga saja tidak cukup di sini, Arlo. Kau harus punya ketangguhan," Kalea menatap mata biru Arlo dengan tajam. "Di sini tidak ada Jenderal Marcus yang akan melindungimu jika kau salah melakukan sesuatu. Kau harus belajar menerima makian, belajar menerima perintah dari orang yang mungkin lebih bodoh darimu, dan belajar untuk tidak pernah menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya."

"Aku sudah belajar cara menggosok lantai dengan cairan kimia yang membakar kulit, Kalea. Aku rasa aku bisa menangani itu," Arlo menarik Kalea ke dalam pelukannya.

Kalea tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di dada Arlo, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang. Arlo bisa merasakan tubuh Kalea yang sedikit bergetar karena kelelahan emosional yang luar biasa. Ia mengusap rambut Kalea yang masih berbau garam laut, sebuah gerakan yang sangat pelan dan penuh perasaan.

"Kenapa kau memilih kancing perak itu?" tanya Kalea tiba-tiba di dalam pelukannya.

"Karena itu adalah kancing paling dekat dengan jantungku saat aku berdiri di altar," Arlo berbisik. "Aku menyimpannya agar aku ingat bahwa aku pernah berani melepaskan segalanya demi satu menit kejujuran bersamamu."

Kalea melepaskan pelukannya, mendongak menatap Arlo. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum yang murni, tanpa ada lapisan sinisme lagi. "Kau benar-benar pangeran yang bodoh, Arlo. Kancing itu tidak akan bisa memberimu tahtamu kembali."

"Aku tidak ingin tahtaku kembali, Kalea. Aku ingin tangan yang kotor ini bisa membangun sesuatu yang nyata untukmu."

Mereka berdiri di sana selama beberapa saat, membiarkan cahaya matahari sore yang kemerahan menyelimuti mereka. Di bawah sana, suara riuh rendah Solandis masih terdengar, namun di kamar kecil ini, waktu seolah-olah sedang mengambil napas sejenak sebelum memulai langkah yang lebih berat besok pagi.

Arlo berjalan menuju dipannya sendiri. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur jerami yang kasar. Rasanya menusuk-nusuk kulit kemejanya, namun ia tidak peduli. Ia menatap langit-langit kayu yang dipenuhi bekas bocor.

Ia memejamkan mata, namun ia tidak segera tidur. Ia mendengarkan suara napas ayahnya yang teratur, suara Kalea yang sedang merapikan tas kainnya, dan suara kota di luar sana. Ia menyadari satu hal; di Aethelgard, ia selalu tahu apa yang akan terjadi besok—pesta, rapat, atau upacara membosankan. Di sini, ia tidak punya ide sama sekali tentang apa yang akan terjadi besok pagi.

Dan ketidaktahuan itu ternyata adalah perasaan paling merdeka yang pernah ia miliki.

Malam mulai turun menyelimuti Solandis. Cahaya lampu minyak dari kedai di bawah mulai menyelinap dari celah lantai kayu. Arlo meraba saku celananya, mencari koin perunggu pemberian Kalea yang kini menjadi harta paling berharganya. Ia menggenggam koin itu erat-erat.

"Selamat malam, Kalea," gumam Arlo lirih.

"Selamat malam, Arlo," jawab Kalea dari dipan seberang. "Jangan lupa, jam lima pagi kita berangkat."

Arlo tersenyum dalam kegelapan. Ia menutup matanya dengan damai. Retakan itu kini telah membawanya ke sebuah tanah di mana setiap langkahnya tidak lagi ditentukan oleh emas, melainkan oleh kemampuannya untuk bertahan hidup. Dan bagi seorang Arlo Valerius, itu adalah kemenangan yang jauh lebih agung daripada mahkota mana pun di dunia.

Ia tertidur dengan mimpi yang tidak lagi berisi singgasana, melainkan mimpi tentang debu kapur, aroma kayu jati, dan masa depan yang ia pahat sendiri dengan tangannya yang penuh luka. Solandis menyambutnya bukan dengan bungkukan hormat, melainkan dengan tantangan hidup yang nyata. Dan Arlo sudah siap untuk menjawabnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!