Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Mahkota
Kerajaan Risvela.
Sebuah kerajaan besar yang berdiri kokoh di antara banyak negeri. Dipimpin oleh raja yang dihormati: Raja Ryvons Risver. Seorang raja yang tegas, bijak, dan sangat menjaga kehormatan kerajaan.
Namun, di balik kejayaan itu, terdapat dua pewaris yang sangat berbeda.
Putra pertama—Seyron Acrivers.
Dan putra kedua—Reyd Aclica.
Sejak kecil, semua orang sudah mengetahui siapa yang akan menjadi penerus takhta. Putra sulung yang selalu terlihat sempurna di mata rakyat. Sopan. Tenang. Selalu menunjukkan sikap seorang calon raja.
Berbeda dengan Reyd.
Reyd dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Sering mengabaikan aturan kerajaan. Tidak terlalu peduli pada pandangan orang lain.
Bagi Raja Ryvons, pilihan itu sudah jelas. Seyron adalah pewaris takhta. Sedangkan Reyd… hanya dianggap sebagai putra yang perlu “diperbaiki.”
Itulah sebabnya Reyd dikirim ke Akademi Magica.
Bukan hanya untuk belajar sihir, namun untuk merenungi dirinya sendiri. Belajar bagaimana menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Belajar bagaimana bersikap pada orang lain.
Namun, tak ada yang menyangka. Perjalanan itu justru mengubah segalanya.
Kini, Reyd telah kembali ke Kerajaan Risvela. Namun ia bukan lagi Reyd yang dulu.
Ia berdiri di balkon istana.
Angin berhembus pelan di sekitarnya. Jubahnya bergerak mengikuti arah angin.
Di sampingnya berdiri seseorang yang menjadi alasan perubahan itu.
Roselein Tescarossa.
Atau yang ia panggil: Lein.
Lein menatap ke arah taman istana yang luas.
“Kerajaan ini sangat besar.”
Reyd tersenyum tipis.
“Mungkin juga penuh masalah.”
Lein menoleh.
Reyd melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Ayahku memilih Seyron sebagai pewaris.”
Ia tidak terdengar marah. Namun jelas, ia tidak setuju.
Lein memperhatikan ekspresinya.
“Namun kamu tidak setuju.”
Reyd mengangguk.
“Seyron memang terlihat sempurna.”
Ia menatap jauh ke depan.
“Namun itu hanya di depan ayah.”
Angin berhembus lebih kencang.
Reyd melanjutkan.
“Tanpa pengawasan… dia berubah.”
Tatapannya menjadi tajam.
“Dingin. Dan kejam.”
Lein terdiam. Ia bisa merasakan keseriusan dalam suara Reyd.
Reyd mengepalkan tangannya sedikit.
“Aku tidak bisa membiarkan seseorang seperti dia menjadi raja.”
Lein menatapnya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
Reyd terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan tenang.
“Aku akan mengambil alih takhta itu.”
Lein sedikit terkejut.
“Itu bukan hal yang mudah.”
Reyd tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Ia melanjutkan.
“Mungkin hampir tidak mungkin.”
Ia menatap langit.
“Namun selama masih ada harapan…”
Reyd kembali menatap ke depan. Tatapannya penuh tekad.
“Jalan itu pasti ada.”
Angin berputar di sekeliling balkon, seolah merespon tekadnya.
Aula utama Istana Risvela dipenuhi cahaya dari jendela-jendela tinggi. Pilar-pilar besar berdiri kokoh, dihiasi ukiran lambang kerajaan.
Di ujung aula, Raja Ryvons Risver duduk di singgasananya. Tatapannya tajam seperti biasa.
Hari itu, seorang putra yang lama tidak ia lihat akhirnya kembali.
Pintu aula terbuka perlahan. Reyd melangkah masuk. Langkahnya tenang. Berbeda dari dulu yang cenderung ceroboh dan acuh.
Di sampingnya… berjalan seorang gadis berambut silver.
Beberapa bangsawan mulai berbisik pelan.
“Itu Pangeran kedua?”
“Dia terlihat berbeda.”
Raja Ryvons memperhatikan dari atas singgasana.
Reyd berhenti beberapa langkah di depan singgasana. Ia membungkuk dengan sopan.
“Saya kembali, Ayah.”
Suasana aula sedikit hening.
Raja Ryvons mengangkat alisnya tipis.
Sikap itu… tidak seperti Reyd yang ia kenal dulu.
“Sudah lama tidak bertemu,” jawabnya singkat.
Reyd kemudian melanjutkan.
“Saya ingin mengenalkan seseorang.”
Ia menoleh ke samping. Lein maju satu langkah dengan sedikit gugup.
“Namanya Roselein Tescarossa,” Reyd berkata dengan tenang. “Dia adalah kekasih saya.”
Beberapa bangsawan langsung terkejut. Bisikan kembali terdengar.
“Seorang gadis biasa?”
“Pangeran membawa kekasih ke istana?”
Raja Ryvons menatap Lein. Tatapannya tajam, namun tidak menunjukkan penolakan.
Lein membungkuk sopan.
“Saya merasa terhormat bisa berada di sini, Yang Mulia.”
Jawabannya tenang.
Raja Ryvons memperhatikan keduanya beberapa saat.
Dalam pikirannya, ia sempat mengira Reyd akan kembali tanpa perubahan. Tetap keras kepala. Tetap sulit diatur.
Namun yang ia lihat sekarang… berbeda.
Reyd berdiri dengan tenang. Cara bicaranya teratur. Sikapnya jauh lebih dewasa.
Raja Ryvons akhirnya berkata pelan.
“Kau berubah juga akhirnya.”
Reyd tidak membantah.
“Banyak hal yang saya pelajari.”
Jawabnya singkat.
Di sisi lain aula, seseorang berdiri dengan tenang.
Seyron Acrivers.
Tatapannya tertuju pada Reyd. Ia tidak menyangka adiknya yang dulu dianggap tidak layak kini berdiri dengan wibawa yang berbeda.
“Kecubung jenis apa yang dimakannya?”
Gumamnya pelan.
Para bangsawan juga mulai menyadari hal yang sama. Reyd bukan lagi pangeran yang dulu mereka anggap remeh. Ia terlihat lebih tenang. Lebih terarah. Entah kenapa… lebih berbahaya.
Raja Ryvons menyandarkan tubuhnya di singgasana.
“Jika kau benar-benar berubah…”
Ia berkata pelan.
“Maka buktikan itu.”
Reyd menatapnya dengan tenang.
“Baiklah.”
Jawabnya singkat.
Di dalam aula megah itu, sebuah pertemuan sederhana berubah menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?