Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Ghaffar
"Lu yakin, besok mau sekolah Ghaff?" tanya Damar
"Emang kamu teh beneran udah enakan? Kamu beneran..." Akbar tak berani meneruskan kata-katanya, takut menyinggung perasaan Ghaffar
"Gue udah ga papa Bar, Dam. Hati gue udah baik-baik aja, semoga bakal kek gini terus." ucap Ghaffar
"Kayanya gue udah banyak ketinggalan pelajaran Bar, nilai gue gimana?" lanjut Ghaffar, membuat Akbar dan Damar menatap malas padanya
"Lu mah Ghaff, mau ketinggalan seminggu ma sebulan juga. Ga akan ada masalah, materi udah lu kuasain semuanya. Ibarat kata nih ya, lu kagak masuk setaon. Terus lo timbang ikut ujian doang, dijamin lulus Ghaff." ucap Damar
"Sialnya lagi Dam, nilai dia paling tinggi di tingkat provinsi. Padahal gak pernah masuk kelas, gimana ga bikin cewek klepek-klepek coba." sambung Akbar, Ghaffar memutar malas bola matanya
"Canda kalian berlebihan, ada tugas ga Bar?" Ghaffar mengalihkan pembicaraan
"Ada, buku-bukunya udah aku taruh di kamar kamu." jawab Akbar, mengejutkan Ghaffar
"Bar, kamar gue si..
"Tenang aja, ibu yang beresin. Aku udah larang teh Naura ma yang lain, buat masuk ke kamar. Jangankan buat masuk kamar, aku juga larang mereka naik ke atas." potong Akbar, Ghaffar menghembuskan nafas lega.
Memang ga ada apa-apa, tak ada harta berharga juga. Semua harta benda, ia simpan di beberapa bank. Harta yang ada di kamarnya, hanyalah foto keluarganya dan foto orang tuanya. Bahkan di dinding kamarnya, banyak lukisan ayah Zayyan dan ibu Yasmin, yang Ghaffar buat. Ada juga, album foto tentang Ghaffar. Sejak ia masih dalam kandungan sang ibu, sampai ia dilahirkan dan di gendong ayahnya pertama kali. Juga... foto-foto pertumbuhan dia, sampai di usianya 8 tahun.
Hanya saja, ia tidak suka ada orang lain masuk. Selain orang-orang yang sudah dekat dengannya, ia akan tau bila ada yang masuk. Karena jejak mereka, takkan hilang.
"Syukurlah" ucap Ghaffar, nanti ia akan menemui ibunya Akbar. Untuk berterima kasih secara langsung, ibu keduanya setelah ibu Yasmin. Akbar dan ibunya, adalah keluarganya.
ceklek
"Kalian sudah siap? Kita pulang sekarang" tanya bang Abraham, ia sudah menyelesaikan administrasinya.
"Sudah bang, maaf jadi merepotkan abang." jawab Ghaffar
"Ga lah Ghaff, kebetulan abang ada perlu sama kak Arimbi. Kak Arimbi titip pesan, maaf ga bisa antar kamu pulang. Ada mayat yang harus ia identifikasi, karena tak ada kartu pengenal." ucap bang Abraham
"Ga papa ko bang, kak Arimbi pasti sibuk banget. Apalagi pekerjaannya sebagai spesialis forensik, jadi pasti banyak yang membutuhkan keahliannya." balas Ghaffar
"Oh ya Ghaff, ada yang ingin abang bicarakan sama kamu." ucap bang Abraham, Akbar mengerti. Ia mengajak Damar untuk membawa barang Ghaffar, yang tak seberapa itu keluar.
"Ada apa bang?" tanya Ghaffar, bang Abraham duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan Ghaffar, lalu menepuk pelan dengan tangan satunya.
"Maaf kalo abang sempat tanya masa lalu kamu, Akbar memang ga jelasin secara rinci. Dia hanya mengatakan insiden, yang terjadi di Bandung pada tahun 2017." Ghaffar menatap bang Abraham serius, lalu memegang dadanya dengan tangan lain. Tak ada lagi rasa sesak, seperti dulu. Bila ada yang membicarakan tragedi, yang terjadi di masa lalunya.
'Terima kasih ayah... ibu..." ucapnya dalam hati, seraya memejamkan kedua matanya
"Lalu?" tanya Ghaffar
"Insiden itu, merupakan kasus pertama abang setelah bergabung di kepolisian. Dan yang harus kamu tau, pelakunya sudah kami tangkap, dan akan di eksekusi hukuman mati. Lima hari lagi, dia...
"Adik tiri ibu" potong Ghaffar
"Kamu tau?" Ghaffar mengangguk, lalu ia menghembuskan nafas pelan
"Ghaffar tau dari awal, hanya saja.... Ghaffar tak mengatakannya pada polisi, saat Ghaffar dimintai keterangan saat itu. Niat Ghaffar adalah... ingin membalas dendam, dengan tangan Ghaffar sendiri." jawab Ghaffar, ia melihat ke kedua telapak tangannya.
"Tapi... seiring berjalannya waktu, bertemu dengan orang-orang hebat. Bisa meredam rasa marah ini, meski tak sepenuhnya hilang. Sampai Ghaffar... tidak ingin mengingatnya kembali. Semalam, Ghaffar bertemu ayah dan ibu. Mereka tak ingin Ghaffar membalaskan dendam mereka, karena tak ingin hati Ghaffar menjadi penuh keburukan. Apa abang berkata benar? Bila pelaku sudah di tangkap?" bang Abraham mengangguk, ia tersenyum. Tangannya terangkat, mengusap pelan kepala Ghaffar.
"Orang tua mu benar, karena dendam bukanlah solusinya. Karena dendam, kamu bisa terperosok lebih jauh ke lubang hitam. Akan banyak korban selanjutnya, tak menutup kemungkinan. Bila kamu membalas dendam, orang-orang terdekat tante tirimu. Akan kembali menargetkan orang-orang terdekatmu, dan hal itu akan terus terulang. Biarkan hukum yang membalasnya, apa yang abang bilang memang benar. Bila pelaku sudah di tangkap, lima hari lagi akan segera di eksekusi. Apa kamu mau bertemu dengannya?" Ghaffar menggelengkan kepalanya
"Tidak bang, Ghaffar cukup menunggu dia di eksekusi. Kalo Ghaffar menemuinya, ada kemungkinan anak-anaknya sering ke kantor polisi. Dan itu akan memicu kesalahpahaman baru, biarkan mereka melihat orang yang mereka cintai MATI tanpa ada pembelaan." jawab Ghaffar
"Baiklah, nanti abang akan kabari kamu. Saat eksekusi di langsungkan, perlu vidionya?" Ghaffar menoleh
"Bolehkah?" tanya Ghaffar
"Tentu, akan abang bawakan untukmu. Agar kamu yakin, bila pelaku yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuamu. Memang dialah orangnya..." Ghaffar mengangguk antusias, bahkan tanpa sadar ia tersenyum.
"Hei boy, ternyata kamu bisa tersenyum." ucap bang Abraham, membuat Ghaffar kembali ke mode awal.
"Ck, sepertinya abang melakukan kesalahan karena menegur mu." ucapnya terkekeh
"Kita pulang?" Ghaffar mengangguk lagi, mereka pun berjalan keluar kamar perawatan Ghaffar.
.
.
"Akhirnya kamu pulang sayang" ucap tante Hesti, membuat Ghaffar menghentikan langkahnya
"Om.. tante... bang Devan, kalian di sini?" tanya Ghaffar
"Tentu saja, kami ingin menyambut kepulanganmu." jawab tante Santi, ibunya Diki. Devan dan om Bagus, mengusap sayang kepala Ghaffar.
DEG
"Maaf kan kami, karena masalah anak-anak kami. Kamu harus masuk rumah sakit, terima kasih nak Ghaffar." sambung tante Grace, om Matius menepuk pelan pundak Ghaffar.
Demi apa, hati Ghaffar saat ini terasa begitu penuh. Ia tak menyangka, bila momen seperti ini. Akan ia rasakan, di sambut dengan penuh harap. Padahal, mereka semua belum lama bertemu dengannya. Dan itu pun, karena sebuah kasus yang menimpa anak-anaknya. Ghaffar menunduk, menyembunyikan perasaan harunya.
"Terima kasih" ucapnya pelan
"Sudah sudah... ayo kita makan, kata ibu Asih. Kamu suka sama kentang sambel goreng ati, tante udah buatin loh." ucap tante Hesti, ia tau bila Ghaffar sedang menyembunyikan perasaannya.
"Bua asih juga bilang, kalo kamu suka cupcake. Tante udah buatin rasa red velvet, kamu suka kan?" ucap tante Grace, tak mau kalah
"Hei.. tante juga masakin Ghaffar rendang loh, itu juga favorit kamu kan." rupanya tante Santi tak ingin ketinggalan, mereka berjalan ke arah belakang Kafe.
"Lihat bu, putramu banyak yang menyayanginya. Jadi ibu, berhenti khawatir mengenai Ghaffar." ucap Akbar, pada sang ibu
"Alhamdulillah, syukurlah... syukurlah... semoga mulai sekarang, hari-harinya akan selalu bahagia." jawab bu Asih
"Ibu tenang saja, ibu tidak lihat. Para ibu lebih menyayanginya, di banding kami putra-putranya." ucap bang Abraham, di setujui bang Devan. Bu Asih pun tertawa, lalu ia mengajak semuanya untuk bergabung.
"Kamu juga anak ibu, jangan pasang wajah sedih. Ayo.." ucap bu Asih, seraya mengajak Damar.
"Terima kasih bu, sayang banget sama ibu." Damar memeluk bu Asih
"Heh heh!!! Cukup Ghaffar yang ambil ibuku, kamu jangan ikut-ikutan." ucap Akbar, namun Damar semakin mengeratkan pelukannya. Ia membawa bu Asih berlari, membuat Akbar semakin cemburu. Bang Abraham dan bang Devan, tertawa melihat kekonyolan mereka.
Hari ini.... adalah hari, yang begitu membahagiakan untuk semuanya. Terutama, untuk Ghaffar.
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘