NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Bukan Lagi Sekadar Kuli

"Iya, Bos. Sudah kelar kemarin malam," jawab Siman dengan senyum tipis. Hatinya bersyukur Rido tak banyak bicara soal nilai fantastis yang ia dapatkan. Ia tahu ini berkat Rido. Rido memberinya koneksi, kesempatan.

"Salut saya, Man," Pak Jitomo menepuk bahu Siman, sebuah isyarat penghargaan yang Siman syukuri. "Padahal kan dulunya kamu orang yang gampang panik ya? Ngangkat ban motor aja bisa keringetan tiga hari tiga malam."

Siman tertawa. "Bisa aja, Bos. Ini juga lagi mau lanjut yang baru sama Intan."

"Waduh, berarti kerjaanku banyak saingan, ya," canda Pak Jitomo. Ia lalu menghela napas. "Oh iya, itu kemarin sore, Pak Hartoko ke sini, cari kamu. Kayaknya ada urusan penting. Coba nanti kamu mampir ke sana ya. Bilang saja disuruh saya."

"Oh, Pak Hartoko?" Siman mengerutkan dahi. Kenapa tiba-tiba Pak Hartoko mencarinya? Rasa penasaran menjalari. Akik di jarinya terasa hangat lagi, berdenyut pelan, seperti sebuah isyarat untuk mengikuti apa pun yang terjadi.

Sore harinya, setelah merampungkan tugas-tugas di bengkel dan mengikuti sebagian kecil dari pelajaran kursusnya, Siman melangkah menuju usaha fotokopi Pak Hartoko. Pelanggannya cukup banyak, ruangan itu dipenuhi tumpukan kertas dan bau toner printer. Dinding-dinding dihiasi berbagai contoh poster dan kartu nama yang terlihat biasa saja. Pemandangan itu memicu sebuah ide liar di benaknya: "Aku bisa membuat yang lebih baik dari ini."

Siman mendapati Pak Hartoko sedang memeriksa mesin fotokopi, wajahnya sedikit cemas. Di meja kerja, tumpukan dokumen menggunung. Pekerja-pekerjanya tampak sibuk.

"Permisi, Pak Hartoko?" Siman menyapa pelan.

Pak Hartoko menoleh, senyum lebar segera menghiasi wajahnya. "Nah, ini dia! Siman! Udah saya cari-cari. Tumben sore ini baru kemari. Baru sibuk ya, kayaknya? "

"Maaf, Pak. Tadi masih di bengkel. Pak Jitomo bilang Bapak mencari saya," ujar Siman sambil sedikit membantu menggeser beberapa tumpukan kertas yang menghalangi jalan.

"Iya, Man. Untung kamu datang," Pak Hartoko menghela napas, tampaknya merasa lega. "Ini... saya ada masalah sedikit. Desainer yang biasa saya pakai buat poster event bazar akhir tahun kantor kelurahan itu mendadak sakit. Tanggung bulan ini, butuhnya cepat. Kamu kan sudah mahir desain, Siman? Ini bukan hanya acara sederhana seperti logo-logo kemarin ya, Siman. Ini lebih besar."

Jantung Siman berdegup kencang. Akiknya berdenyut kuat, mengirimkan gelombang semangat yang ia kenal. Ini dia lagi. Sebuah kesempatan. Apalagi akiknya kini terlihat agak memantulkan sebuah cahaya.

"Memang saya disuruh bantu apa, Pak?" Siman bertanya, berusaha menyembunyikan antusiasmenya. Rasa senang membludak di dadanya. Apakah ia harus menerima ini dengan jujur bahwa akiknya memberikan dia inspirasi atau keberuntungan?

"Begini, saya kan dengar kamu habis bikin poster acara besar sama Bang Bimo," Pak Hartoko menyipitkan mata, raut wajahnya bercampur kagum dan takjub. "Luar biasa sekali! Dalam semalam bisa buat sebagus itu. Bahkan Bang Bimo kasih testimoni yang bagus di Instagram dia. Sudah berani terima proyek itu berarti kan kamu sudah jadi profesional."

Wajah Siman memerah. Dia tidak tahu kabar tentang testimoni Bang Bimo di Instagram. Berarti Bang Bimo sudah menceritakannya ke publik. Sebuah keberanian yang cukup bagus, dan apresiasi yang sungguh Siman dambakan. Pujian dari orang yang berani mempercayakan pekerjaannya padanya.

"Pak Harun juga bilang, Siman ini seperti magnet proyek. Jadi kalau ada kamu, orang-orang pada tertarik kerja sama," sambung Pak Hartoko, membuat Siman makin tersipu.

"Nggak begitu, Pak," Siman mencoba merendah. "Itu cuma kebetulan saja. Saya cuma beruntung aja punya kenalan Pak Rido yang berani ajak saya ke sana." Akiknya berdenyut lagi, sedikit lebih kuat, seperti tidak terima dirinya merendahkan kemampuannya sendiri.

"Ah, sudahlah, Siman. Tidak usah merendah terus." Pak Hartoko melambaikan tangannya. "Begini. Saya sebenarnya ingin minta bantuan kamu. Mungkin kamu bisa bikin poster untuk bazar ini? Dengan gaya kamu yang inovatif itu? Punya saya ini kan biasa saja. Tapi karena mendadak, saya juga sungkan meminta kamu, Man."

"Boleh, Pak! Pasti saya bantu!" Siman menjawab cepat, senyum lebarnya terpancar tulus. "Pokoknya saya bantu sampai selesai."

"Bagus!" Pak Hartoko menepuk bahu Siman. "Nah, ada satu lagi nih yang mau saya bicarakan." Raut wajah Pak Hartoko kini terlihat lebih serius, membuat Siman sedikit tegang. "Ini tentang kamu. Saya lihat kamu punya potensi besar. Kamu nggak bisa cuma terus-terusan jadi 'pegawai' di bengkel atau 'part-timer' di sini. Kamu itu pantas punya sendiri, Man."

"Punya... punya sendiri, Pak?" Siman tergagap. Maksudnya... membuka bengkel? Atau usaha fotokopi tandingan?

Pak Hartoko mengangguk, sorot matanya menembus Siman. "Iya, usaha desain grafis. Dengan nama kamu sendiri, merek kamu sendiri. Saya lihat karya-karyamu di komputer. Jauh lebih bagus dari desainer saya yang sudah lama kerja. Kamu itu punya selera seni yang tinggi, insting juga kuat. Kalau di tempat lain, kamu bisa cepat naik."

"Tapi... saya tidak punya modal, Pak," Siman akhirnya berkata jujur, suaranya pelan. Modal adalah kendala utamanya. Selain kepercayaan diri.

"Modal itu bisa dicari, Siman. Yang penting itu punya ide dan kemauan," kata Pak Hartoko dengan bijak. Ia berjalan menuju ke sebuah sudut ruangan, menunjuk ke sebuah kamar kecil di balik rak-rak tumpukan kertas. "Dulu itu tempat karyawan saya nyimpen barang. Sekarang kosong. Saya sudah pindahkan semua."

Siman mengikuti pandangannya. Kamar itu kecil, sempit, namun terpisah, dengan sebuah meja dan kursi di dalamnya. Sederhana, tetapi privasinya terjaga. Itu bisa jadi... kantor. Sebuah gagasan yang dulunya hanya mimpi belaka, kini mulai terasa sangat nyata, terhampar di depannya.

"Saya ingin kamu pakai ruangan itu. Gratis, untuk satu bulan pertama. Anggap saja ini 'kantor' kamu," lanjut Pak Hartoko, menatap Siman lekat-lekat. "Mulai Akik Creative Studio kamu di situ. Ini sebagai bentuk dukungan saya pada anak muda yang mau berjuang, yang tidak mengandalkan ijazah. Kamu tahu kan, saya orangnya suka melihat bakat. Jangan menyia-nyiakan kepercayaan itu, Siman."

Lidah Siman kelu. Jantungnya berdetak seiring dengan denyutan di akik biru lautnya yang kini memanas luar biasa. Ini… sebuah kantor? Gratis? Modal sudah ada sebagian dari proyek Bang Bimo, lalu dengan potensi proyek-proyek lain, dan tawaran kantor gratis… Ini terlalu muluk untuk Siman.

Bayangan wajah Dina tiba-tiba melintas. Hinaan lama, kata-kata yang menudingnya 'sampah masyarakat' yang 'tak punya masa depan', bergaung. Dan kini, Siman dihadapkan pada pilihan: terus hidup nyaman sebagai kuli dan part-timer, atau melompat jauh ke depan, mengambil risiko besar, demi membuktikan diri? Tidak hanya pada Dina, melainkan kepada semua orang yang telah menolaknya.

Kecemasan internalnya meronta. Apakah ia akan mampu? Jika akik ini sewaktu-waktu tak berfungsi? Jika semua ‘keberuntungan’ itu hanyalah rentetan kebetulan yang akan segera berakhir? Apa ia punya bakat yang nyata?

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!