Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Dua Pengikut yang Tak Diundang
Matahari belum sepenuhnya merangkak ke atas garis atap ketika Huang Shen melangkah keluar dari penginapan.
Lagi-lagi Yue Xin sudah berdiri di sana.
Bukan di dekat pintu, bukan bersandar pada tiang, melainkan berdiri tepat tiga langkah dari ambang pintu keluar dengan punggung lurus dan tangan di sisi tubuh, layaknya seseorang yang telah menunggu lama dan tidak merasa perlu menunjukkannya.
Adapun Huang Shen berjalan melewatinya tanpa ekspresi, selalu begitu.
“Aku ikut sampai kau mau menerima kontrak dari guruku,” kata Yue Xin, datar seperti permukaan danau yang belum terganggu angin.
Masalahnya Huang Shen tidak berhenti. Dan Yue Xin justru mengikutinya, tiga langkah di belakang, sama seperti kemarin. Jalanan Kota Yunan di pagi hari masih lengang. Pedagang baru membuka lapak. Asap dapur mengepul dari celah-celah bangunan. Huang Shen berjalan lurus menuju gerbang keluar kota, tidak menoleh, tidak mempercepat langkah. Adapun Yue Xin mengikutinya seperti seseorang yang telah memutuskan sendiri ke mana akan pergi.
Lalu di dekat gerbang, seseorang berdiri menghalangi jalan.
Pemuda seusia Huang Shen, mungkin lebih muda setahun. Berambut pirang seperti padi kering, wajah terbuka dengan senyum lebar yang terlihat tumbuh alami di sana, bukan dibuat-buat.
“Kau Kaisar Darah, kan?” celetuk pemuda itu, matanya berbinar. “Aku Xiao Feng! Kemarin aku melihat duelmu dari atas pohon. Luar biasa! Aku baru keluar dari Sekte Pedang Terbang karena mereka terlalu kaku, banyak aturan dan upacara. Aku dengar kau pembunuh bayaran terbaik di wilayah ini. Karena itulah, aku ingin sekali magang di tempatmu!”
Huang Shen pun berjalan melewatinya.
“Hei, t-tunggu!” Xiao Feng berbalik cepat, langkahnya ringan. “Aku serius. Aku bisa masak. Aku bisa jahit. Dan aku punya bakat membaca Qi, guruku bilang begitu sebelum aku keluar. K-kau tidak akan rugi!”
Huang Shen tidak menjawab. Maka Xiao Feng mengikuti, selangkah di sisi kiri, celotehannya mengalir seperti air yang tidak tahu ada bendungan.
Sepanjang pagi, mereka bertiga menyusuri jalan tanah di luar kota. Xiao Feng bercerita tentang Sekte Pedang Terbang, tentang betapa seniornya memaksa semua murid tidur menghadap timur, tentang pantangan makan ikan air tawar di hari ganjil, sampai tentang teknik pedang yang bagus tapi disampaikan dengan cara yang membosankan. Suaranya tidak pernah berhenti lebih dari sepuluh detik.
Adapun Yue Xin berjalan tiga langkah di belakang Huang Shen. Sesekali matanya bergerak ke arah Xiao Feng, sekilas saja, dengan ekspresi seseorang yang mendengar suara kucing birahi di tengah malam.
Menjelang tengah hari, Huang Shen berhenti di depan sebuah warung pinggir jalan. Meja kayu, bangku panjang, asap mengepul dari periuk yang mendidih.
“Kalian menggangguku,” kata Huang Shen.
“Aku tidak mengganggu,” balas Yue Xin dengan santainya. “Aku hanya lewat ke arah yang kebetulan sama denganmu, Tuan.”
“Kalau aku jelas mengganggumu!” cetus Xiao Feng dengan semangat, kemudian sadar itu bukan hal yang perlu dibanggakan. “M-maksudku, aku tidak mengganggu juga. Aku hanya memberi warna pada perjalanan. Kau harus akui perjalanannya jadi lebih hidup, bukan? He he.”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Huang Shen masuk ke warung dan mereka berdua mengikuti seperti anak bebek.
Huang Shen duduk di ujung meja, memesan nasi dan sup tulang. Yue Xin duduk di sisi lain, memesan minuman. Xiao Feng duduk di tengah, langsung memesan tiga lauk sekaligus sambil bertanya apakah periuk di dapur memakai arang atau kayu.
“Teknik pukulan kemarin,” kata Xiao Feng kepada Huang Shen, “itu dari aliran mana? Aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Seperti Qi ditekan ke titik tertentu, tapi tidak menyebar. Itu susah, kan? Guruku pernah bilang… .”
Tidak ada jawaban.
Xiao Feng mencoba lagi. Tentang jalur perjalanan. Tentang apakah Huang Shen punya kontrak aktif sekarang. Tentang apakah dia tidur cukup semalam. Tidak ada jawaban untuk semuanya. Kendati demikian, Xiao Feng tidak menyerah. Dia makan dengan lahap, melanjutkan ceritanya, sesekali menawarkan lauk ke arah Huang Shen yang sudah punya makanannya sendiri.
Hingga Yue Xin akhirnya meletakkan cangkir tehnya. “Dia tidak suka banyak bicara,” katanya, ditujukan kepada Xiao Feng dengan nada yang lebih mirip pernyataan daripada teguran.
Xiao Feng lantas berhenti. “Aku tahu,” kelakarnya. “Itu sebabnya aku yang bicara untuk kami berdua.”
Yue Xin pun menghela napas, lambat dan panjang.
Sementara Huang Shen tidak bereaksi. Dia menghabiskan supnya hingga tetes terakhir, lalu meletakkan mangkuk dengan bunyi yang nyaris tidak terdengar.
Sore berlalu tanpa peristiwa. Mereka kembali ke kota manakala langit mulai memerah. Xiao Feng masih berbicara. Yue Xin masih diam dengan kesibukannya. Adapun Huang Shen berjalan di depan, langkahnya tetap dan tidak berubah, seperti seseorang yang telah terbiasa membawa beban yang tidak terlihat.
Penginapan yang sama. Yue Xin mengambil kamar di sebelah kiri. Xiao Feng mengambil kamar di sebelah kanan, dengan alasan dia suka mendengar suara jalan dari jendela. Lantaran tidak ada yang melarang, maka begitulah adanya.
Huang Shen menutup pintu kamarnya dan segera berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit. Di luar, suara kota malam mereda perlahan. Di balik dinding kanan, terdengar Xiao Feng masih bergerak, bergumul dengan bantal mungkin, atau menulis sesuatu yang hanya dia yang tahu.
Sampai tidak sengaja matanya terpejam.
Mimpi itu datang seperti biasa. Tanpa peringatan.
Pagar bambu. Sore yang kekuningan. Seorang bocah berdiri di baliknya, rambut acak-acakan, mata yang terlalu besar untuk wajahnya. Dia tersenyum dan tangannya melambai-lambai tanpa rasa takut.
“Kak Huang Shen!”
Suaranya riang seperti anak yang menunggu seseorang pulang, bukan seseorang yang sudah pergi untuk selamanya.
Lantas Huang Shen terbangun.
Keringat membasahi punggungnya. Napasnya ngos-ngosan. Dia duduk di tepi ranjang, membiarkan kakinya menyentuh lantai yang dingin. Di dalam dadanya, Gerbang menyala redup, denyutnya lambat seperti bara yang hampir padam tapi tidak pernah benar-benar mati.
Dia menatap tangannya.
Tangan yang sama. Tangan yang sudah dipakai untuk terlalu banyak hal dan dia tidak bisa tidur lagi malam itu.