Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat
"Sejak kapan kau jadi setampan ini?" Tanya igris keheranan.
"Kenapa? Apa sebelumnya aku jelek?"
"aah ... bukan jelek, tapi .. tidak setampan sekarang."
"sekarang dewi semakin mencintaiku karena aku lebih tampan kan?"
Igris hanya mendehem kecil mengalihkan pandangan matanya mendengar jawaban Zean konyol Zean.
Ana masih merasa takjub sementara Igris hanya terdiam bisu. Penampilan Zean benar-benar berubah drastis. Tubuhnya semakin berotot. Perut kotak-kotak nya menjadi tujuh kotak lebih kekar dari sebelumnya. Rambut hitam miliknya kini memiliki tiga corak harimau putih yang sebelumnya hanya ada satu garis. Tepat di lehernya sebelah kiri terdapat ukiran totem lebih menyerupai tato corak hitam belang garis-garis harimau putih.
Corak itu tak hanya di leher, merambah ke dada kiri hingga ke perut bagian pinggang sebelah kiri. Tubuh Zean sebelah kiri saat ini di penuhi tanda corak harimau dan bergaris emas setiap gambarnya. Wajahnya semakin tampan dan bercahaya hangat, tubuhnya juga bertambah kekar. Mata coklat miliknya semakin menawan dan menggoda.
Igris mendekat dan menyentuh tanda hitam di pinggang Zean. Sentuhan lembut jari jemari itu membuat Zean berdebar merasa geli, matanya liar dan timbul semburat merah di hidungnya.
"a... ada apa tuan putri?" Tanya Zean gugup saat Igris membelai perutnya.
"Ini garis-garis harimau putih spiritual, Kemarin ini belum ada, apa jangan-jangan karena penyatuan itu tubuhmu mengalami perubahan?"
"nah, aku benarkan? Kultivasi ganda tingkat tinggi itu benar-benar membuahkan hasil yang luar biasa." potong Ana bersemangat dengan isi pikirannya.
"ssstt, diamlah!" tegur Igris pelan.
Sontak Ana menutup mulutnya rapat-rapat tanpa sepatah katapun.
Zean yang merasa tak percaya berjalan ke arah cermin dan menatap dirinya yang mengalami perubahan. Di pandangnya satu persatu tanda hitam di tubuh sebelah kirinya. Samar-samar dia juga merasakan aura spiritualnya mengalami peningkatan besar. Zean menyeringai licik menatap tubuhnya yang menawan. Isi pikirannya mulai kotor. Terbesit pikiran gamblang seorang pemuda dewasa yang menginginkan hal-hal erotis.
"Dengan begini tuan putri akan semakin menyukaiku, kan?" batin Zean merasa bangga.
Mulai terbanyangkan hal-hal konyol di benaknya. Ia membayangkan saat Igris membelai otot perutnya dan memeluknya tak ingin lepas. Wajah konyolnya terpantul di cermin, pemuda itu terus menggelitik otot perutnya sendiri. Ilusi sesaat itu membuatnya tertawa sendiri.
"haaaahh... pasti dia memikirkan hal-hal aneh lagi," gumam Igris menghela panjang sembari menggelengkan kepalanya.
Lamunan pangeran harimau itupun buyar setelah seruan dari beberapa prajurit yang siap melanjutkan perjalanan.
Mereka pun berangkat melanjutkan perjalanan ke kerajaan Ornebic setelah kereta kuda selesai di perbaiki. Sementara prajurit yang terluka kembali ke kerajaan Neuzella, sedangkan kereta kuda Igrisia terus berangkat menyusuri jalan perbatasan yang di penuhi penuhi pepohonan indah. sepanjang perjalanan. Dia hanya di temani Ana, Zean dan dua orang pengawal saja.
Igris sengaja meminta para prajurit kembali ke kerajaan Neuzella agar mereka bisa istirahat dan memulihkan tubuh secara maksimal. Karena mereka sudah dekat dengan kerajaan Ornebic, prajurit pun menuruti perintah. Tanpa pengawal pun Igris bisa saja melanjutkan perjalanan, tapi demi kehormatan kerajaan Neuzella, igris menuruti kemauan raja Hermes untuk mengantarnya ke Ornebic dan memberikan pengawalan.
Sesampainya di area kerajaan Ornebic, mereka di sambut oleh pintu gerbang besar tinggi yang membentang sepanjang batas tanah perbatasan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bentangan dinding tembok lusuh yang di penuhi lumut, dan menjadi penghalang antar kerjaan. Igris dan rombongan di sambut beberapa orang perwakilan kerajaan yang berpakaian sederhana dari bulu-bulu hewan dan di bawa masuk melewati gerbang.
Mereka berjalan kaki menuju istana kerajaan. Setiap langkah kaki mereka menampakkan debu-debu tanah yang berterbangan. Kelihatan sekali betapa tandus dan gersangnya tanah Ornebic. Tidak ada sambutan mewah, atau iringan musik. Hanya beberapa rakyat yang tampak berpakaian lusuh dan kelaparan tergeletak di jalan. Tampak seorang kakek tua bersama cucu perempuannya datang menghampiri rombongan Igris dan menghentikan langkah kaki mereka.
"Tuan, apa ada makanan? kami lapar," Sapa kakek itu sambil mengadahkan tangan dan memegang perutnya.
Sontak pengawal kerajaan menghadang kakek tua itu agar tak mendekati sang dewi. Igris memperhatikan dari balik kerumunan. Mencoba melihat kedepan namun terhalang oleh pandangan batang tubuh beberapa pengawal kerajaan di depannya.
Seketika Zean menunjukan wajah sedihnya melihat nasib rakyat mereka yang benar-benar lemah. Igris menerobos pengawal lalu mendekat dan memegang tangan kakek tua itu. Rombongan itu kaget, karena belum pernah ada bangsawan kerajaan yang sangat ramah kepada rakyat Ornebic.
Igris tersenyum tanpa merasa jijik atau risih terhadap kakek tua itu. Walau penampilan kakek itu lebih mirip pengemis yang telah lama menderita penyakit kulit.
"Kakek, apa kau sangat lapar?"
Suara halus pertanyaan itu membuat pesona kebaikan hati sang dewi terpancar. Aura kehangatan sang dewi keluar menyentuh raga kering dan lusuh itu. Igris mencabut sehelai rambut peraknya dan mengikatnya ke pergelangan tangan kakek tua itu.
"Selama rambut ini tidak terlepas dari tangan, selama itu pula kau tidak akan merasakan lapar, dan haus." ujar Igris.
Sang dewi alam itu lalu menyentuh kepala anak kecil di samping si kakek, anak itu tiba-tiba menjadi bersih dan sehat. Si kecil itu bersorak gembira.
"pulanglah, simpan ini!" Ujar igris seraya memberikan sebutir gandum yang dia ambil dari dalam kantong ajaib nya. "taruh biji ini di dalam tempat penyimpanan makanan, besok kau akan lihat rumahmu akan di penuhi makanan yang cukup untuk beberapa bulan,"
"terimakasih tuan putri," ucap kakek itu lalu menarik pergi cucunya.
"Tuan putri ... jika sudah besar nanti aku akan balas kebaikan mu ... " teriak anak kecil itu sambil melambaikan tangan yang perlahan menjauh.
Ana langsung memepet tubuh Igris dan bertanya, "Nona, apa sebutir gandum itu benar-benar akan memenuhi gudang makanan mereka?"
"Ya .. kekuatan sejatiku adalah dewi alam, apapun yang menyangkut alam semesta itu bisa ku lakukan walau belum sepenuhnya sempurna."
"wah ... hebat sekali,"
"kalau begitu, rakyat Ornebic tidak perlu bertani lagi,"
"Jika niat mereka begitu, aku tidak perlu menyuburkan tanah mereka."
"Benar juga, itu akan membuat mereka malas,"
"nona ... mari kita lanjutkan perjalanan ke istana,"
Ucapan itu memotong kekaguman Ana kepada majikannya. Para pengawal kerajaan berbisik-bisik mengenai hal barusan. Mereka masih tak percaya karena tidak melihat secara langsung keajaiban yang di timbulkan kekuatan dewi.
Sesampainya di dalam ruang istana, Igris di sambut hangat oleh raja Ornebic dan para istrinya. Seorang laki-laki yang mengenakan pakaian rapi lambang pohon emas dan mahkota besar di kepalanya mulai mendekati Igris. Tatapan bangga nya di sambut senyum oleh dewi alam itu.
"dewi, selamat datang di kerajaan Ornebic. Mari silahkan duduk,"
Igris lalu duduk di bangku yang sudah di persiapkan di aula istana. Dia duduk bersebelahan dengan Zean dan Ana berdiri di samping mereka. Raja Ornebic menduduki kursi rajanya dan memulai perjamuan seadanya. Walau tidak mewah, tapi Igris senang karena kebijaksanaan raja Ornebic untuk tidak menghamburkan khas kerajaan di saat rakyat mereka kritis.
Namun igris kembali teringat cerita Zean. Dewi itu melirik tajam ke arah para istri raja yang membuat Zean merasa cemas. Igris mengenggam tangan Zean di atas meja, ia menunjukkan kemesraan di hadapan dewan istana supaya Zean lebih di hargai karena di anggap telah berhasil memenangkan hati sang dewi.
"Dewi, sesuai kesepakatan anda datang kemari untuk menunaikan janji. Kami sangat berharap darah emas milikmu benar-benar bisa menyelamatkan kerajaan kami dari masa kritis ini,"
"tentu saja yang mulia raja, aku pasti akan menepati janji ku. Tapi sebelum itu, aku punya beberapa permintaan sebagai syarat!"
**** untuk pembaca setia sang dewi mengembala cinta delapan dewa, di sini autor mau menjelaskan sedikit ya latar cerita ini. Kisah ini terinspirasi oleh cerita dewa dewi Yunani kuno. Maka dari itu, nama tokoh dan senjata di adaptasi dari cerita dewa Yunani. Kisah percintaan dan ilusi hayalan autor semuanya ke arah zaman dewa dewa yunani. Tapi autor masukin latar kultivasi dari kerajaan kuno zaman perang daratan Cina dan juga hewan-hewan spiritual para cerita fiktis fantasi tiongkok supaya lebih kerasa kesan mendalam tentang dunia bela diri dan ilmu-ilmu gaib yg seru dari cerita2 tiongkok. Mohon ikuti alurnya ya biar semakin faham ***** terimakasih 🙏🙏