Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Jarak Yang Mulai Di Perketat
Pagi datang dengan cahaya yang perlahan masuk melalui celah tirai kamar Lisa, menyinari wajahnya yang tampak tenang namun sebenarnya menyimpan begitu banyak pikiran yang terus bekerja sejak malam sebelumnya, dan meskipun tubuhnya sempat beristirahat, pikirannya sama sekali tidak benar-benar berhenti karena setiap detail kecil yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya kini menjadi potongan penting dalam rencana besar yang sedang ia susun dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Lisa membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang jauh lebih stabil dibandingkan hari-hari sebelumnya, lalu ia menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk dan meraih ponselnya, melihat daftar catatan yang tadi malam ia buat, membaca ulang setiap poin dengan teliti seolah memastikan tidak ada satu pun kesalahan yang bisa membuat langkahnya meleset, karena kali ini ia tidak memiliki ruang untuk gagal, tidak setelah semua yang telah terjadi padanya di kehidupan sebelumnya.
Setelah beberapa saat, Lisa berdiri dan berjalan menuju jendela, membuka tirai sepenuhnya hingga cahaya pagi masuk dengan terang, dan di sana ia berdiri dalam diam sambil menatap halaman rumah yang terlihat damai, namun ketenangan itu justru membuat tekadnya semakin kuat karena ia tahu betul bahwa semua ini hampir direnggut darinya dulu, dan kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluarganya, tidak Arvin, tidak Clara, dan tidak siapa pun yang mencoba memanfaatkan dirinya lagi. Ia kemudian bersiap dengan rapi, memilih pakaian yang terlihat profesional namun tetap elegan karena hari ini bukan hari biasa, hari ini adalah langkah awalnya untuk benar-benar masuk ke dalam perusahaan keluarga dan mengambil kendali yang dulu ia serahkan begitu saja tanpa berpikir panjang, dan keputusan itu saja sudah menjadi perubahan besar yang akan mulai menggeser arah masa depan secara perlahan.
Saat Lisa turun ke ruang makan, kedua orang tuanya sudah duduk di sana, dan seperti biasa ibunya menyambutnya dengan senyum hangat sementara ayahnya menatapnya dengan sedikit heran karena jarang sekali Lisa terlihat siap sepagi ini dengan penampilan yang begitu serius, lalu tanpa menunggu lama Lisa duduk dengan tenang dan langsung mengatakan bahwa ia ingin mulai terlibat dalam perusahaan, sebuah kalimat yang membuat suasana sejenak hening karena di kehidupan sebelumnya Lisa selalu menghindari hal tersebut dan lebih memilih hidup santai tanpa tekanan, namun sekarang nada suaranya jelas, tegas, dan tidak memberi ruang untuk dianggap main-main, hingga akhirnya ayahnya tersenyum kecil dengan rasa bangga yang tidak ia sembunyikan dan langsung menyetujui keinginan Lisa, bahkan mengatakan bahwa sudah saatnya ia belajar menghadapi dunia nyata yang keras, sementara ibunya hanya mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena melihat perubahan besar pada putrinya yang tiba-tiba menjadi jauh lebih dewasa.
Setelah sarapan, Lisa langsung berangkat ke perusahaan, duduk di dalam mobil dengan sikap tenang sambil memikirkan langkah berikutnya yang harus ia lakukan, karena masuk ke perusahaan bukan hanya soal belajar, melainkan juga tentang mengamankan apa yang dulu berhasil direbut oleh Arvin secara perlahan, dan kali ini Lisa tidak akan memberinya kesempatan sekecil apa pun untuk mendekat ke pusat kekuasaan yang sebenarnya menjadi target utamanya sejak awal. Begitu sampai di gedung perusahaan yang tinggi dan megah, Lisa turun dengan aura yang berbeda dari sebelumnya, membuat beberapa karyawan yang melihatnya langsung menyapa dengan lebih hormat karena meskipun mereka mengenalnya sebagai putri pemilik perusahaan, kali ini ada sesuatu dalam sikapnya yang menunjukkan bahwa ia bukan lagi sekadar pewaris pasif.
Hari itu Lisa menghabiskan waktunya dengan mengamati, belajar, dan berbicara dengan beberapa orang penting di dalam perusahaan, mencatat pola kerja, memahami struktur, dan yang paling penting—mengidentifikasi siapa saja yang bisa dipercaya dan siapa yang berpotensi menjadi ancaman di masa depan, karena ia tahu bahwa musuh tidak selalu datang dari luar, dan pengalaman pahit yang ia alami sebelumnya sudah cukup menjadi pelajaran bahwa pengkhianatan sering kali datang dari orang terdekat. Namun di tengah kesibukannya, ponselnya bergetar, dan nama yang muncul di layar membuat bibirnya sedikit melengkung.
Arvin.
Lisa menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan dengan nada suara yang tetap lembut dan terkontrol, sementara di sisi lain Arvin terdengar lebih santai seperti biasa, menanyakan kegiatannya dan mencoba membuka percakapan ringan, namun Lisa menjawab dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, tidak lagi terlalu antusias tetapi juga tidak dingin, cukup untuk membuat Arvin tetap tertarik namun tidak benar-benar memahami posisi Lisa, dan di situlah letak permainannya, karena semakin Arvin tidak yakin, semakin ia akan berusaha mendekat.
Percakapan itu tidak berlangsung lama, namun cukup untuk membuat Arvin mengatakan bahwa ia ingin bertemu lagi dalam waktu dekat, dan Lisa tentu saja tidak menolak, justru ia menyetujui dengan nada yang terdengar natural seolah ia masih berada di posisi yang sama seperti dulu, padahal sebenarnya ia sedang menarik tali yang akan menjerat Arvin lebih dalam sedikit demi sedikit. Setelah panggilan berakhir, Lisa menatap layar ponselnya dengan tenang sebelum akhirnya mengunci layar dan kembali fokus pada pekerjaannya, namun di dalam hatinya ia sudah menyusun langkah berikutnya dengan sangat jelas.
“Semakin kamu mendekat…” gumamnya pelan hampir tidak terdengar, “semakin sulit kamu keluar.”
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari hiruk pikuk kantor Lisa, seorang pria berdiri di dalam ruang kerjanya yang luas dengan pemandangan kota yang sama, memegang beberapa berkas yang baru saja ia terima, dan di salah satu halaman terdapat foto Lisa lengkap dengan informasi singkat tentang dirinya, membuat pria itu membaca dengan teliti tanpa ekspresi berlebihan, namun sorot matanya menunjukkan ketertarikan yang semakin jelas karena wanita yang ia temui semalam ternyata bukan hanya menarik secara sikap, tetapi juga memiliki latar belakang yang cukup kuat.
Devan menutup berkas itu perlahan, lalu berjalan mendekati jendela dengan langkah tenang, pikirannya kembali pada pertemuan singkat yang terasa terlalu kebetulan untuk diabaikan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya bukan karena keuntungan atau bisnis, melainkan karena rasa ingin tahu yang murni terhadap seseorang yang tampaknya menyembunyikan lebih banyak dari yang terlihat di permukaan.
Di sisi lain, Lisa yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan justru semakin tenggelam dalam rencananya sendiri, dan tanpa ia sadari, langkah yang ia ambil untuk menjebak dua orang yang mengkhianatinya perlahan juga mulai menarik seseorang yang jauh lebih berbahaya untuk masuk ke dalam hidupnya, seseorang yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya, dan mungkin akan menjadi satu-satunya variabel yang tidak pernah ia perhitungkan sejak awal. 🔥