NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Keana di Tempat Baru

...GAMON...

...Bab 19: Keana di Tempat Baru...

...POV Keana...

---

Dua Bulan di Surabaya

Tiga Minggu Sejak Terakhir Chat dengan Maya

Seminggu Rasanya Mulai Ada yang Berubah

Keana nggak menyangka kalau pindah kota bisa separah ini.

Bukan soal fisik. Fisiknya kuat. Dia bisa adaptasi. Tapi soal hati... itu urusan lain.

Dua bulan di Surabaya, dia masih sering bangun jam 3 pagi dan nggak bisa tidur lagi. Matanya terbuka lebar di kegelapan, dan pikirannya langsung lari ke Jakarta. Ke Maya. Ke kantor lama. Ke Bima.

Bukan buat balik. Tapi buat ngecek: apa dia baik-baik aja?

Dia pernah buka Instagram sekali—minggu pertama. Lihat postingan Bima sama Rina. Foto di kafe. Mereka tersenyum. Rina nyender di pundak Bima. Caption: "Date night with my favorite person."

Dia tutup cepat. Jantung berdetak kencang. Tapi anehnya, nggak sakit. Cuma... nyes. Nyes kayak kehilangan sesuatu yang emang udah bukan miliknya.

Sejak itu, dia nggak pernah buka lagi.

---

Pagi Ini – Kost Baru

Jam 6 pagi. Alarm bunyi. Keana buka mata.

Kostnya kecil. Tapi bersih. Jendela besar—pemandangan langit Surabaya yang cerah. Nggak ada gedung tinggi yang ngalangin. Cuma langit biru dan sesekali burung lewat.

Dia duduk di tepi kasur. Rambut berantakan. Mata masih sayu.

Dua bulan. Rasanya kayak dua tahun.

Dia sudah hafal jalan ke rumah sakit. Hafal tukang sayur langganan. Hafal warung kopi langganan—yang baristanya ramah, selalu ingat pesanannya: "Kopi susu gula aren, mbak?"

Hidup baru. Tapi kadang masih ngerasa asing.

---

Pukul 07.00 – Rumah Sakit

Keana masuk ruang ganti. Seragam perawat—putih, rapi, nametag di dada: Keana W. Dulu, nametag itu selalu bikin dia inget Jakarta. Sekarang? Udah biasa.

"Kean! Sarapan dulu, yuk!"

Laras. Perawat baru, satu shift. Usianya 23, baru lulus, penuh semangat. Wajahnya selalu ceria, suaranya nggak pernah lesu. Kadang Keana iri sama energi itu.

"Kamu aja, Lar. Gue udah sarapan."

"Bohong! Lo tuh nggak pernah sarapan." Laras tarik tangan Keana. "Ayo, gue traktir. Kantin baru buka, katanya ada bubur ayam enak."

Keana ketawa kecil. "Lo kayak adik gue."

"Iya, iya. Ayo!"

---

Di kantin, mereka duduk di meja pojok. Bubur ayam hangat, kerupuk, sate usus. Sederhana.

Laras makan lahap. Keana pelan-pelan.

"Kean, lo kok kayak orang lagi ngelamun terus?"

Keana kaget. "Hah? Enggak."

"Iya." Laras tatap dia. "Dari awal gue kenal lo, lo tuh kayak... ada di sini, tapi nggak sepenuhnya di sini. Ngerti?"

Keana diem. Nggak bisa jawab.

"Maaf kalau gue kepo." Laras senyum. "Tapi gue penasaran. Lo orang baik, kerja lo rajin, tapi kok matanya... sedih?"

Keana tarik napas. Lama.

"Gue... gue lagi proses, Lar."

Laras mengangguk. Nggak nanya lebih.

"Proses itu wajar, kok. Yang penting jalannya."

Keana senyum. Hangat.

"Lo dewasa banget, ya?"

Laras ketawa. "Dewasa? Gue kan anak baru. Lo yang dewasa."

Mereka ketawa bareng. Pertama kalinya dalam waktu lama, Keana ngerasa... ringan.

---

Siang – Di Ruang Perawat

Sesi jaga siang. Pasien sedikit. Keana ngisi catatan di komputer.

Laras duduk di samping, baca buku. Tiba-tiba angkat muka.

"Kean, lo punya pacar?"

Keana berhenti ngetik. "Kok tanya?"

"Penasaran. Lo cantik, baik, kerja rajin. Masa nggak punya?"

Keana diem sebentar. Lalu jawab jujur.

"Udah putus."

"Ooh." Laras angguk-angguk. "Lama?"

"Setahun lebih. Tapi ceritanya panjang."

Laras diem. Nggak ngepush.

"Lo masih sayang?"

Keana mikir. Pertanyaan itu. Dulu susah banget dijawab. Sekarang?

"Nggak. Udah nggak."

"Tapi?"

Keana tatap Laras. Bocah ini ternyata tajam.

"Tapi... kadang masih kepikiran. Bukan sayang. Tapi... takut dia nggak baik-baik aja."

Laras senyum. Manis.

"Itu wajar, Kean. Berarti lo punya hati."

Keana diem. Kata-kata itu hangat.

---

Sore – Pulang Kerja

Keana naik angkot. Murah. Nggak kayak di Jakarta yang pakai ojek online tiap hari.

Di angkot, dia lihat keluar jendela. Surabaya sore—panas, tapi ada angin. Orang-orang lalu lalang, pedagang kaki lima mulai buka, bau sate dan gorengan dari pinggir jalan.

Dia ingat Jakarta. Macet. Polusi. Tapi juga ingat Maya. Angkringan. Bima.

Sekarang?

Dia di sini. Sendiri. Tapi nggak sendiri-sendiri amat. Ada Laras. Ada teman-teman baru. Ada rutinitas yang bikin dia sibuk—dan nggak punya waktu buat terlalu larut dalam kenangan.

Angkot berhenti. Dia turun. Jalan ke kost.

---

Malam – Kost

Jam 8 malam. Keana udah selesai mandi, cuci baju, beberes. Duduk di lantai, sandar ke dinding. Posisi yang sama kayak di Jakarta dulu.

Tapi dindingnya mulus. Nggak ada retakan.

Dia buka ponsel. Chat dengan Maya—terakhir dua hari lalu. Maya kirim foto kucing.

Maya: "Ini kucing baru. Lo ninggalin gue, gue cari temen baru."

Keana: "LUCU BANGET!"

Maya: "Iya. Tapi nggak selucu lo. Kangen."

Keana: "Kangen juga, May."

Dia senyum. Lalu scroll ke atas. Baca obrolan mereka berbulan-bulan lalu. Pas dia masih hancur. Pas Maya marah-marah. Pas Maya nasehatin. Pas Maya nganter ke stasiun.

Matanya basah. Tapi bukan sedih. Haru.

Makasih, May.

---

Ponsel bergetar. Bukan Maya. Nomor nggak dikenal.

Dia angkat. "Halo?"

"Keana? Ini Maya!"

Keana kaget. "May? Lo dari nomor mana?"

"Ini nomor baru. Hape gue ilang kemarin." Maya ngomong cepet. "Udah gue ganti. Pokoknya simpen nomor ini."

"Ya ampun, lo. Hape ilang?"

"Iya, ceritanya panjang. Tapi lo lagi apa?"

Keana ketawa. "Baru aja baca chat lo. Buka kenangan."

Maya diem sebentar. "Lo baik-baik aja?"

"Iya. Baik."

"Beneran?"

"Beneran, May." Keana tatap langit-langit. "Aneh, ya. Dua bulan lalu gue hancur lebur. Sekarang... mulai bisa ketawa."

Maya hela napas. "Syukurlah. Gue takut lo di sana nangis terus."

"Nggak, kok. Ada temen baru. Namanya Laras. Baik."

"Wah, ada saingan gue nih."

Keana ketawa. "Nggak ada yang bisa saingin lo, May."

Maya ikut ketawa. Tawa yang lega.

"Kean, gue kangen."

"Gue juga."

"Liburan ke sini, ya. Lo cuti."

"Iya. Rencana bulan depan. Udah ngomong sama atasan."

"Beneran?"

"Beneran."

Maya teriak kecil. "YES! Gue siapin kamar!"

Keana senyum lebar. Pertama kalinya dalam dua bulan, dia ngerasa punya sesuatu yang dinanti.

---

Pukul 22.00

Telepon selesai. Keana di kamar. Sepi. Tapi sepi yang beda. Nggak nyiksa.

Dia buka jendela. Angin malam masuk. Wangi kota—campuran asap, makanan, dan entah apa lagi.

Dia ingat sesuatu.

Jalan ke lemari. Buka pintu. Di pojok, ada kotak sepatu tua. Yang dia bawa dari Jakarta.

Dia ambil. Buka.

Isinya: tiket bioskop, karcis angkringan, foto-foto polaroid usang, dan surat Bima.

Dia ambil surat itu. Baca lagi.

Sekarang, rasanya beda. Bukan sakit. Tapi hangat. Hangat kayak baca buku lama. Kenangan yang pernah berarti, tapi udah nggak lagi ngikat.

Dia lipat surat itu. Taruh balik. Kotak ditutup. Simpan di pojok lemari.

Bukan dibuang. Tapi disimpan. Sebagai pengingat: dari mana dia datang, dan sejauh mana dia udah jalan.

---

Pukul 23.00

Dia duduk di meja. Buka buku catatan baru. Yang dia beli pas pertama sampai Surabaya.

Halaman udah lumayan terisi. Catatan harian. Pengalaman baru. Rasa-rasa aneh yang dia alami.

Malam ini, dia nulis:

---

Hari ini Laras tanya: "Lo masih sayang?"

Aku jawab: "Nggak."

Dan itu jujur.

Tapi dia juga tanya: "Kenapa masih kepikiran?"

Aku jawab: "Takut dia nggak baik-baik aja."

Itu juga jujur.

Aneh, ya. Kita bisa berhenti sayang, tapi nggak bisa berhenti peduli.

Mungkin itu artinya kita pernah benar-benar mencintai.

Bukan cinta yang sakit. Tapi cinta yang ngajarin.

Makasih, Bim. Buat semuanya.

Makasih, Laras. Buat jadi temen baru yang ngingetin aku kalau dunia masih luas.

Makasih, Surabaya. Buat jadi rumah baru.

Aku mulai bisa lihat ke depan sekarang.

Dan itu... rasanya lega.

---

Dia tutup buku. Matikan lampu.

Di luar, angin malam berhembus. Membawa bau laut—katanya dari utara.

Keana pejam mata.

Besok, dia kerja lagi. Ketemu Laras lagi. Mungkin ada pasien baru, cerita baru, tantangan baru.

Dia nggak tahu apa yang akan datang.

Tapi buat pertama kalinya, dia nggak takut.

---

Bersambung ke Bab 20: Bima Minta Maaf ke Rina

---

...📝 Preview Bab 20:...

Di Jakarta, setelah malam penuh tangis dan kejujuran, Bima sadar satu hal: dia harus minta maaf. Bukan cuma ke Rina. Tapi ke dirinya sendiri.

Tapi minta maaf ke Rina adalah langkah pertama. Dan dia nggak tahu apakah Rina masih bisa percaya.

Bab 20: Bima Minta Maaf ke Rina—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!