NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanginya Enak

Setelah hampir satu jam, troli mereka pun penuh sesak. Bukan cuma urusan perut, Abi juga memasukkan beberapa botol sabun mandi aroma terapi, pengharum ruangan otomatis, sampai beberapa pasang sandal rumah yang lebih empuk untuk Shanum.

​Saat di kasir, Shanum sempat menutup mata melihat total belanjaan mereka yang mencapai angka jutaan rupiah. Namun, Abi dengan santai menempelkan kartu kreditnya tanpa ekspresi beban sedikit pun.

​Dalam perjalanan pulang, bagasi mobil Mercedes Benz itu penuh dengan kantong belanjaan. Suasana di dalam mobil terasa lebih cair, Shanum sudah mulai berani bercerita tentang pengalamannya masak di desa menggunakan kayu bakar, sementara Abi mendengarkan dengan serius dan sesekali menimpalinya.

​"Jadi, kalau apinya kegedean, rasa masakannya beda?" tanya Abi penasaran.

​"Iya, Mas! Kalau pakai kayu bakar itu aromanya lebih sedap, tapi ya itu, matanya perih kena asap. Di apartemen Mas Abi kan nggak ada asap, jadi harusnya lebih enak nanti masaknya," ucap Shanum semangat.

​Sesampainya di apartemen, hari sudah mulai gelap. ​"Mas Abi istirahat aja, biar aku yang beresin belanjaannya," ucap Shanum sambil mulai mengeluarkan sayur-sayuran.

​"Nggak, saya bantu. Kalau kamu sendirian, nanti selesainya jam 9," balas Abi sambil menggulung lengan kemejanya sampai ke siku dan menampakkan urat-urat tangannya.

​Mereka pun sibuk di dapur berdua, Abi bagian memasukkan barang-barang berat ke kabinet atas, sementara Shanum menata sayuran ke dalam kulkas.

Aroma gurih bawang putih dan bawang merah yang ditumis memenuhi sudut dapur apartemen yang mewah itu. Shanum bergerak cekatan, tangannya yang mungil kini mulai terbiasa menggenggam sodet kayu di atas wajan keramik baru pilihan Abi.

Shanum memasukkan potongan ayam yang sudah digoreng setengah matang lalu menuangkan kecap manis kental, sedikit saus tiram dan irisan cabai merah untuk memberikan sensasi pedas hangat.

​"Sedikit lagi matang," gumam Shanum lembut.

Shanum menambahkan sedikit air dan membiarkan bumbu meresap hingga kuahnya mengental dan mengeluarkan aroma karamel yang menggoda selera.

​Di tengah kesibukannya mengaduk masakan, pendengarannya menangkap suara pintu kamar yang terbuka. Tak lama kemudian, langkah kaki pelan terdengar mendekat ke arah dapur.

Shanum mengira Abi hanya akan mengambil air minum, namun tiba-tiba sebuah kehangatan yang familiar merapat ke punggungnya.

​Deg!

​Sepasang lengan kokoh melingkar sempurna di pinggang Shanum, tubuh Abi yang masih menyisakan aroma sabun dan hawa dingin air mandi menempel erat pada punggung Shanum.

Abi membenamkan wajahnya di ceruk leher Shanum dan membiarkan rambutnya yang masih agak basah menyentuh kulit leher Shanum yang tertutup hijab tipis.

​"Mas... Mas Abi," panggil Shanum pelan.

Jantung Shanum berpacu liar, tangannya yang memegang sodet mendadak kaku. "Ini... ini aku lagi masak, Mas. Nanti Mas Abi kena percikan minyak," lanjut Shanum.

​Bukannya menjauh, Abi justru semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam-dalam aroma masakan yang bercampur dengan wangi tubuh Shanum.

"Wanginya enak," bisik Abi dengan suara berat yang menggetarkan dada Shanum.

"Saya tidak tahu mana yang lebih menggoda, aroma ayam kecap ini atau kehadiran kamu di dapur saya," lanjut Abi.

​Wajah Shanum seketika berubah merah padam mendengar perkataan Abi, ia mencoba tetap fokus pada wajan di depannya meski seluruh syaraf di tubuhnya seolah berteriak karena kedekatan ini.

Wajah Shanum benar-benar terasa panas, lebih panas daripada uap yang mengepul dari wajan di depannya. Ia mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar Abi melepaskannya, namun bicaranya justru terbata-bata.

​"Mas... a-aku belum mandi loh, Mas. Bau asap, bau bumbu... Mas Abi kan sudah rapi, nanti bajunya kotor kena aku," cicit Shanum sambil tangannya tetap bergerak kaku mengaduk ayam kecap yang bumbunya mulai meletup-letup kecil.

Abi tidak segera menyahut. Alih-alih menjauh, ia justru menggeser posisinya sedikit dan membiarkan dagunya bertumpu dengan nyaman di bahu Shanum. Sepasang lengannya yang kokoh masih mengunci pinggang ramping istrinya, seolah enggan memberikan ruang bagi udara untuk lewat di antara mereka.

​"Saya tidak mencium bau asap, Shanum," gumam Abi rendah, suaranya bergetar tepat di samping telinga Shanum.

"Yang saya cium hanya aroma rumah, sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ada di apartemen ini," lanjut Abi.

​Shanum tertegun, kalimat itu terdengar begitu jujur dan dalam, meruntuhkan benteng pertahanan rasa canggungnya. Ia perlahan mematikan kompornya lalu meletakkan sodet di pinggiran wajan, keheningan dapur yang mewah itu kini hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan deru napas mereka yang mulai seirama.

​"Mas Abi... kesepian ya selama ini?" tanya Shanum lembut dan memberanikan diri untuk menyentuh lengan Abi yang melingkar di perutnya.

​Abi terdiam sejenak dan memejamkan mata, menikmati sentuhan Shanum. "Mungkin. Dulu saya pikir, kesunyian adalah kemewahan bagi seorang Dosen yang setiap hari harus menghadapi ratusan mahasiswa. Tapi melihat kamu di sini, menyalakan lampu, memasak dan menunggu saya pulang... saya baru sadar kalau kesunyian itu sebenarnya hanya ruang kosong yang menunggu untuk diisi," jawab Abi.

Mendengar jawaban Abi, hati Shanum berdesir hebat. Ia membalikkan tubuhnya perlahan di dalam kungkungan lengan Abi, sehingga kini mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. Shanum menengadah dan menatap netra gelap suaminya yang biasanya menatapnya dingin, namun kini tampak begitu sayu dan penuh damba.

​"Sekarang Mas nggak sendirian lagi, ada aku," ucap Shanum tulus.

​Abi menatap bibir Shanum yang bergerak lembut lalu beralih ke mata istrinya yang jernih. Tanpa aba-aba, ia meraih tengkuk Shanum dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap pinggang erat sang istri.

Abi menunduk dan mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh perasaan di dahi Shanum, membuat Shanum refleks meremas ujung kaus putih yang dikenakan Abi.

​"Terima kasih, Shanum," bisik Abi tepat di depan bibir Shanum.

​Suasana menjadi semakin intens, Abi tidak segera menjauhkan wajahnya, ia justru memiringkan kepalanya sedikit, hidungnya bersentuhan dengan hidung Shanum. Shanum bisa merasakan embusan napas hangat Abi, hingga membuatnya merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis.

​Namun, tepat saat suasana sedang berada di puncaknya, perut Shanum justru mengeluarkan bunyi keroncongan yang cukup nyaring, efek dari kegiatannya seharian yang cukup menguras tenaga.

​Kruyuuuk...

​Shanum seketika mematung, wajahnya yang tadi sudah merah, kini berubah menjadi merah padam sampai ke telinga. Ia segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang Abi, merasa sangat malu karena momen romantis itu rusak oleh perutnya sendiri.

​Abi sempat terdiam sesaat lalu tawa rendah yang renyah meledak dari bibirnya.m, ia memeluk kepala Shanum dan mengelusnya gemas.

"Sepertinya istri saya sudah sangat lapar," goda Abi sambil terkekeh.

"Ayo, kita makan sekarang. Jangan sampai ayam kecap buatan kamu ini dingin, saya sudah tidak sabar mencicipinya," ajak Abi.

​Abi melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Shanum menuju meja makan, Shanum dengan cekatan menata nasi hangat ke dalam dua piring keramik. Sesuai permintaan Abi, mereka kembali makan dalam satu piring yang sama, berbagi suapan demi suapan di bawah temaram lampu gantung yang elegan.

​"Masakan kamu... jauh lebih enak daripada restoran manapun yang pernah saya datangi, Shanum," puji Abi tulus setelah suapan pertama masuk ke mulutnya.

​Shanum tersenyum malu-malu, "Mas Abi terlalu berlebihan, ini kan cuma masakan sederhana," ucap Shanum.

​"Sederhana bagi kamu, tapi istimewa bagi saya," balas Abi tegas.

.

.

.

Bersambung.....

1
Asni Kenedy
d gantung dahh🤭🤭🤭
Eva Tigan
Hukumannya enak kok..Shanum malah jadi pengen lebih itu..dan sebaiknya dilakukan di rumah saja😄
Asni Kenedy
ahhh ikut baperr
mamayasna
shanum ooo shanumm
Eva Tigan
Kasi ponsel baru buat istrinya Mas Abi..😄
Eva Tigan
Pak Dosen dan shanum sama sama baru buka segel.
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊
mamayasna
😍
Eva Tigan
mesra nya sepiring berdua..isi energi dulu nanti selesai makan dilanjutkan kegiatan romantis nya tadi 😊
mamayasna
😍😍
gemar baca
luar biasa alur ceritanya bagus, penokohan nya keren gak berlebihan, bahasa yang digunakan juga Bagus,keren pokok'e
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
mamayasna
😍😍😍
Valen Angelina
baper gak tuh🤭🤭😄😄
Valen Angelina
belajar terbuka sama suamimu ....jgn apa2 terpendam sndiri ya....
Eva Tigan
segera kasi makan itu istrinya Abi..kasihan seharian gak makan..padahal udah lebaran ini..istrinya malah puasa😊
diaul_5
love you thorrr😍
diaul_5
suka banget sama cerita author satu ini dan lebih suka lagi ttp up meskipun lebaran jan josss polll, soalnya novel yang lain g up lebaran😭😭😭
elaretaa: Terima kasih Kak🥰 Pas lebaran .asih ada draf buat up, nah habis lebaran ini belum ada draf buat up soalnya sibuk lebaran, jadi belum sempat nulis🙏🙏🙏🙏🤭
total 1 replies
dika edsel
hai assalamualaikum bestieeeee... selamat lebaran .minal'aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya...😊
elaretaa: Waalaikumsalam bestieeeee!!! selamat lebaran yaaaaaaaaa. Minal aidin wal faizin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan selanjutnya🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
mamayasna
semangat berkarya/Kiss/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
dika edsel
/Heart/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Valen Angelina
pasti tidak seindah itu pernikahan shanum kan thor...jgn kejam2 kasian dia...Uda ortua gtu masa dpat suami gtu lagi wkwkkwke🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!