NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Bagi sebagian besar umat manusia, fajar adalah sebuah harapan baru. Ia adalah sapuan warna emas dan jingga yang mengusir pekatnya teror malam, membawa serta kicau burung dan janji akan kehidupan yang terus berjalan. Namun pagi ini, di balik tirai air terjun perak Hutan Wanamarta, fajar adalah musuh yang paling kejam bagi seorang Gatotkaca.

Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk menembus celah-celah bebatuan dan bias air terjun, menciptakan pelangi-pelangi kecil yang menari di dinding pualam gua. Cahaya itu perlahan menggeser bayang-bayang gelap, dan pada saat yang bersamaan, merampas satu-satunya kebebasan fana yang baru saja direngkuh oleh sang ksatria separuh raksasa.

Sepanjang malam, Gatotkaca sama sekali tidak memejamkan mata.

Bagaimana ia bisa tidur? Tangan kanannya, yang terbiasa menggenggam gagang senjata atau leher musuh, semalaman penuh menjadi sandaran bagi jemari lentik Dewi Pregiwa yang akhirnya jatuh terlelap karena kelelahan menangis. Gatotkaca duduk mematung bagai arca candi yang menjaga pusaka dewata. Ia mengatur napasnya sepelan mungkin, menahan setiap getaran di ototnya agar tidak mengusik tidur sang putri. Ia membiarkan api unggun perlahan mati menjadi bara kemerahan, sementara ia sendiri terbakar oleh nyala asmara dan keputusasaan yang saling bertarung di dalam dadanya.

Namun kini, pagi telah tiba. Realitas mulai mengetuk pintu gua dengan palu godam yang tak terlihat.

Gatotkaca menunduk, menatap wajah Pregiwa yang tertidur damai. Dalam cahaya pagi yang kebiruan, wajah sang putri terlihat semakin tidak nyata. Kulit pualamnya memantulkan bias cahaya, bulu matanya yang lentik bergetar pelan seiring helaan napasnya yang teratur. Gatotkaca tahu, saat kelopak mata itu terbuka nanti, malam magis mereka akan resmi berakhir. Pregiwa akan kembali menjadi Tuan Putri dari Keraton Amarta, putri kesayangan pamannya, Arjuna—sang penengah Pandawa yang agung. Dan ia? Ia akan kembali menjadi Gatotkaca, sang anjing penjaga keraton, perisai bernyawa yang tidak memiliki hak atas apa pun selain kematian di medan perang.

Kenyataan itu menghantam ulu hati Gatotkaca lebih keras dari gada baja. Hukum kasta keraton adalah sesuatu yang mutlak. Cinta di antara seorang putri raja yang sempurna dengan seorang senopati separuh raksasa yang mengerikan bukanlah sebuah roman epik di mata dunia; itu adalah sebuah aib. Sebuah pengkhianatan terhadap garis keturunan dewa. Jika pamannya, Arjuna, mengetahui apa yang bergejolak di dada Gatotkaca saat ini, mungkin sang paman sendirilah yang akan melepaskan panah Pasopati untuk menembus leher keponakannya itu demi menjaga kehormatan keluarga.

Dengan hati yang terasa seperti disayat sembilu, Gatotkaca perlahan menarik tangannya.

Ia melakukannya dengan sangat berhati-hati, memisahkan sentuhan kulit kasarnya dari jemari lembut Pregiwa seolah ia sedang melepaskan benang sutra dari semak berduri. Kehilangan kehangatan sentuhan itu seketika membuat dada Gatotkaca terasa kosong melompong. Kekosongan yang jauh lebih dingin dari bongkahan es di puncak Gunung Mahameru.

Sang ksatria bangkit berdiri. Ia mundur dua langkah, menarik jubah besarnya, dan mengeraskan kembali rahangnya. Ia mematikan sisa kelembutan di matanya, memaksa dirinya kembali masuk ke dalam cangkang "Senopati Pringgandani" yang dingin, kaku, dan tak tersentuh. Itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi Pregiwa dari fitnah keraton, dan melindungi dirinya sendiri dari kehancuran yang lebih dalam.

Pergerakan dan derit pelat zirah Gatotkaca rupanya mengusik keheningan gua.

Pregiwa mengerang pelan. Kelopak matanya perlahan terbuka, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menyilaukan. Kesadarannya merayap kembali, membawa serta ingatan tentang malam yang penuh air mata dan pengakuan di dekat api unggun. Hal pertama yang dicari oleh sepasang mata teduh itu adalah sosok sang ksatria raksasa.

Dan ia menemukannya. Berdiri menjulang di dekat tirai air terjun, membelakangi cahaya fajar, menatapnya dengan raut wajah yang kembali mengeras seperti batu karang. Tidak ada lagi pria rapuh yang menangis bersamanya semalam. Yang berdiri di sana adalah sang mesin perang.

"Kanda... Gatotkaca?" panggil Pregiwa dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia mencoba duduk, membenahi kain kembennya yang kusut. Matanya mencari-cari sisa kehangatan di mata pria itu, namun hanya menemukan benteng pertahanan yang kembali tertutup rapat.

Gatotkaca menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan kaku ala militer keraton. "Matahari telah terbit, Tuan Putri," suaranya kembali datar, dalam, dan bergema tanpa emosi. Bariton itu terdengar seolah percakapan semalam tidak pernah terjadi. "Angin malam telah pergi, dan kabut Wanamarta sudah menipis. Sudah saatnya hamba mengawal Tuan Putri dan Yayi Pregiwati kembali ke Keraton Amarta. Ayahanda Tuan Putri pasti telah mengerahkan seluruh pasukan telik sandi untuk mencari keberadaan Tuan Putri berdua sejak semalam."

Pregiwa tertegun. Perubahan sikap yang begitu drastis ini menggores hatinya. Jarak yang semalam telah berhasil ia pangkas hingga tak bersisa, kini terbentang kembali, lebih lebar dan lebih curam dari sebelumnya.

Namun, Pregiwa bukanlah gadis bodoh. Tumbuh besar di tengah pusaran intrik keraton membuatnya memiliki kepekaan batin yang tajam. Ia menatap wajah kaku Gatotkaca, melihat rahang pria itu yang menegang hingga urat lehernya menonjol, dan ia mengerti. Pria ini tidak sedang mengusirnya. Pria ini sedang melindunginya. Melindunginya dari tatapan menghakimi dunia luar. Sang ksatria raksasa ini sedang mengorbankan perasaannya sendiri demi memastikan mahkota kehormatan tetap bertengger tegak di atas kepala Pregiwa saat mereka tiba di gerbang Amarta nanti.

Sebuah senyum pedih, sangat pedih, terukir di bibir Pregiwa. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang semalam menggenggam tangan raksasa itu. "Begitukah, Kanda Senopati?" ucap Pregiwa lirih, sengaja menggunakan gelar militer Gatotkaca untuk membalas formalitas pria itu. "Jika itu yang menjadi tugas Kanda, maka hamba akan bersiap."

Pregiwati, yang terbangun tak lama kemudian oleh percakapan mereka, menggeliat dan mengusap matanya. Putri kecil itu merasa jauh lebih segar, tubuhnya tidak lagi menggigil berkat hangatnya gua dan jubah yang diselimutkan padanya semalaman.

Setelah mereka merapikan pakaian sebisa mungkin dan mencuci muka dengan air murni dari tetesan stalaktit gua, tibalah saatnya untuk perjalanan pulang.

Gatotkaca kembali membungkukkan tubuh besarnya. Tanpa banyak kata, Pregiwati memanjat ke punggung sang ksatria, melingkarkan lengannya di leher tebal itu dengan rasa aman yang sudah terbentuk sejak malam sebelumnya.

Kini, giliran Pregiwa.

Ia melangkah pincang mendekati dada bidang Gatotkaca. Sang ksatria kembali menyelipkan tangan kanannya di punggung Pregiwa dan tangan kirinya di bawah lutut sang putri. Namun kali ini, tidak ada lagi kecanggungan yang diwarnai oleh kepanikan. Gerakan Gatotkaca begitu terukur, efisien, dan kaku layaknya mengangkat sebuah relik pusaka yang berharga namun tak boleh ia miliki.

Saat tubuh Pregiwa terangkat dan dada mereka kembali bersentuhan, sang putri dengan sengaja mempererat pelukannya di leher Gatotkaca. Ia menyandarkan kepalanya di tempat yang sama persis seperti semalam—di atas lambang bintang Pringgandani.

"Kanda boleh memakai kembali zirah besimu untuk menghadapi dunia," bisik Pregiwa sangat pelan, langsung di dekat telinga Gatotkaca, memastikan hanya pria itu yang bisa mendengarnya di balik deru air terjun. "Namun Kanda tidak bisa menipu detak jantung Kanda sendiri. Hamba mendengarnya berdegup kencang, Kanda. Sama kencangnya dengan detak jantung hamba."

Tubuh raksasa Gatotkaca tersentak kaku mendengar bisikan mematikan itu. Napasnya tercekat hebat. Jika ia tidak memiliki kendali diri tingkat tinggi, ia pasti sudah menjatuhkan mereka semua saat itu juga. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki takdir, merutuki para dewa, merutuki dirinya sendiri mengapa ia harus memiliki perasaan yang sanggup melumpuhkan seluruh sistem saraf di tubuh bajanya ini.

Tanpa menjawab bisikan itu, Gatotkaca memfokuskan auranya. Kubah penahan angin kembali terbentuk. Ia melesat menembus tirai air terjun perak, membawa mereka keluar dari rahim kesunyian menuju langit pagi Hutan Wanamarta yang terang benderang.

Penerbangan pulang itu terasa seperti sebuah prosesi pemakaman yang agung.

Di bawah sana, hamparan pepohonan hijau yang bermandikan cahaya matahari pagi tampak begitu indah, berbanding terbalik dengan badai keputusasaan yang melanda dua anak manusia di atas awan. Gatotkaca terbang dalam diam yang membeku. Kecepatannya jauh lebih tinggi daripada saat mereka berangkat semalam. Ia seolah ingin mempercepat siksaan ini, ingin segera melepaskan pelukan Pregiwa sebelum kewarasannya benar-benar direnggut oleh aroma melati yang terus menyiksanya itu.

Sementara itu, Pregiwa memandang lurus ke depan, menembus lapisan awan putih. Semakin lama mereka mengudara, semakin jelas siluet ibu kota Keraton Amarta mulai terlihat di garis cakrawala.

Dari kejauhan, Amarta tampak begitu megah. Atap-atap pendopo keraton yang terbuat dari emas murni berkilauan memantulkan cahaya matahari pagi. Panji-panji kebesaran Pandawa dengan lambang umbul-umbul merah putih berkibar gagah di setiap sudut tembok benteng yang kokoh. Jalan-jalan utama mulai dipenuhi oleh para pedagang, prajurit yang berbaris, dan rakyat yang memulai hari. Itu adalah kota yang sangat makmur, pusat peradaban, kebanggaan seluruh Jawadwipa.

Namun pagi ini, di mata Dewi Pregiwa, kemegahan Amarta tak ubahnya seperti sebuah sangkar emas raksasa.

Di balik tembok-tembok tinggi berlapis permata itu, ia tidak akan pernah bisa menjadi seorang wanita biasa yang bebas menentukan pilihan hatinya. Di sana, ia adalah pion politik yang berharga. Ia adalah alat diplomasi bagi ayahandanya. Jika besok lusa keraton memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang pangeran dari negeri seberang demi memperkuat aliansi militer menjelang Baratayuda, ia tidak memiliki hak untuk menolak. Ia harus tersenyum, mengenakan mahkotanya, dan mengubur perasaannya dalam-dalam.

Dan pria yang sedang menggendongnya ini? Di dalam sangkar emas itu, Gatotkaca akan kembali berdiri di sudut ruangan, memegang tongkat komando, menunduk hormat saat para raja dan pangeran berlalu lalang. Mereka akan tinggal di bawah satu langit yang sama, di dalam satu keraton yang sama, namun dipisahkan oleh jurang tak kasat mata yang tak mungkin diseberangi tanpa menumpahkan lautan darah.

"Kita hampir sampai di perbatasan kota, Tuan Putri," suara Gatotkaca menginterupsi lamunan pilu Pregiwa.

Gatotkaca mulai menurunkan ketinggian. Ia tidak mengarahkan lajunya langsung ke alun-alun utama keraton untuk menghindari kepanikan rakyat, melainkan mendarat di pelataran paviliun keputrian yang sepi, di bagian belakang kompleks istana yang dijaga ketat oleh prajurit khusus.

Begitu kaki Gatotkaca menyentuh tanah paviliun yang berlapis batu granit halus, beberapa emban (pelayan wanita) yang sedang menyapu pelataran seketika menjerit tertahan. Mereka menjatuhkan sapu lidi mereka, ketakutan melihat sesosok raksasa berzirah turun dari langit, namun jeritan itu berubah menjadi seruan kelegaan yang luar biasa saat melihat siapa yang dibawa oleh raksasa tersebut.

"Gusti Putri! Gusti Putri Pregiwa dan Gusti Pregiwati!" teriak salah satu emban histeris, segera berlari masuk ke dalam pendopo untuk melapor kepada perwira jaga.

Keributan kecil mulai tercipta. Namun di tengah kekacauan para pelayan yang berlarian, waktu seolah kembali melambat bagi Gatotkaca dan Pregiwa.

Gatotkaca berjongkok, melepaskan Pregiwati dari punggungnya. Pelayan-pelayan langsung berhamburan memeluk putri bungsu itu dengan isak tangis lega. Lalu, dengan gerakan yang lebih lambat dari sebelumnya, seolah sendi-sendi lengannya berkarat menolak perintah, Gatotkaca meletakkan tubuh Dewi Pregiwa di atas salah satu dipan ukir di teras paviliun.

Pelepasan itu terjadi. Kehangatan itu terputus.

Gatotkaca menarik kedua lengannya mundur. Ia berdiri tegak, memundurkan langkahnya sebanyak tiga tindak yang terasa sejauh tiga benua. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya di balik bayang-bayang helm zirahnya. Tembok baja itu kini telah tertutup dengan sempurna, terkunci rapat dari luar maupun dari dalam.

"Tugas hamba telah selesai, Tuan Putri," ucap Gatotkaca dengan suara bariton yang menggema keras, sengaja diperdengarkan kepada para emban dan prajurit jaga yang mulai berdatangan mendekat. "Hamba telah membawa Tuan Putri berdua kembali ke pangkuan Amarta dengan selamat. Hamba mohon undur diri untuk melaporkan insiden pencegatan malam tadi kepada Gusti Prabu Puntadewa dan ayahanda Tuan Putri."

Pregiwa duduk tegak di atas dipan ukir tersebut. Ia melihat para prajurit keraton Amarta yang datang berlarian, bersiaga dengan tombak di tangan, menatap Gatotkaca dengan campuran rasa segan dan waspada yang tidak bisa disembunyikan. Realitas menampar Pregiwa dengan sangat keras. Ia kembali menjadi sang pualam, dan Gatotkaca kembali menjadi anjing penjaga keraton yang harus segera kembali ke baraknya setelah tugas selesai.

"Terima kasih atas perlindunganmu, Senopati Gatotkaca," balas Pregiwa. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar anggun, formal, dan berjarak, persis seperti yang diharapkan oleh tatanan keraton. Ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di hadapan para pelayan. "Amarta berhutang besar padamu hari ini."

Gatotkaca tidak membalas lagi. Ia memberikan satu penghormatan militer dengan menyilangkan tangan kanannya di depan dada, lalu tanpa menoleh lagi, tanpa satu pun pandangan perpisahan, sang ksatria membalikkan badan besarnya.

Ia memusatkan energinya. Tanah pelataran paviliun bergetar pelan sebelum akhirnya tubuh Gatotkaca melesat ke udara bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Ia terbang menembus awan pagi, meninggalkan paviliun keputrian yang kembali riuh rendah oleh kebahagiaan para pelayan keraton.

Pregiwa menengadahkan wajahnya, menatap ke arah langit biru di mana siluet hitam sang penjaga awan perlahan menghilang di balik gumpalan awan. Di dadanya, sebuah luka yang tak terlihat menganga lebar. Luka yang jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pedang Astina manapun. Luka karena harus melepaskan kepingan jiwanya yang paling berharga demi mematuhi takdir yang tak berpihak.

Dan di atas sana, melesat menuju balairung utama keraton untuk menyongsong kemurkaan atau pujian pamannya, Gatotkaca merasakan hal yang sama. Langit pagi Amarta yang cerah ini, tidak pernah terasa sedingin dan sesunyi ini sebelumnya. Sayap kebebasannya telah benar-benar gugur tertinggal di dasar gua Wanamarta, di pangkuan seorang wanita yang namanya kini akan ia simpan di relung hati yang paling gelap hingga akhir hayatnya.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!