Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab#16
"wahhhh, cantik sekali," ucap Viola setelah mengeluarkan kontak pertama dari paper bag pertama.
Isinya adalah sebuah kotak beludru biru tua persegi panjang, di dalam kota tersebut terdapat kalung mutiara Eropa yang begitu indah, harga nya jangan di tanya, itu ratusan juta.
"Itu yang papa dapatkan dari lelang, harga nya tidak terlalu mahal, hanya tiga ratus juta," kata Arman dengan wajah tenang.
"Terima kasih banyak pa, aku sangat suka barang-barang yang terlihat mewah," ucap Viola seperti biasanya.
Ya, sebagai putri kesayangan keluarga kaya terkemuka Viola sejak kecil sudah pasti hidup dengan hal-hal mewah, namun tiga tahun terakhir dia menjadi dirinya sendiri karena cinta nya kepada Liam.
"Ayo buka yang lain," lanjut sang papa lagi.
Viola pun membuka kotak kedua dari paper bag kedua, yang isinya adalah sebuah kotak beludru kecil berwarna merah.
Alangkah kagetnya Viola setelah melihat isi kotak kecil itu yang ternyata adalah sebuah gelang yang di rangkai dari ratusan butir berlian.
Ini lebih mahal dari yang sebelumnya.
"Paa, ini juga dari lelang?" ucap Viola dengan mata membulat.
"Tidak sayang, itu papa meminta teman papa yang memiliki bisnis dalam hal itu untuk membuat nya sendiri," kata Arman lagi.
"Ini pasti sangat mahal kan?" kata Viola sambil menatap gelang tersebut.
"Cocok untuk mu, menambah koleksi di meja rias mu," lanjut sang papa.
"Aaa, terima kasih banyak pa," ucap Viola langsung memeluk papa nya.
"Hanya dia yang dapat dan mana untuk ku?" ucap Pandu kepada sang papa.
"Aku tidak tau apa yang kau sukai, jadi aku membeli barang-barang antik saja, karena setahu papa kau senang mengoleksi barang-barang antik," ucap sang papa lagi.
"Di mana?" Tanya Pandu dengan semangat.
"Ada di koper, nanti kau melihatnya sendiri," sambung papa Arman.
"Oke," jawab Pandu terlihat senang.
Meskipun hanya bertiga dan tanpa memiliki sosok mama, mereka sudah cukup bahagia asalkan ada Viola di sisi mereka.
Satu jam kemudian ...
Mereka pun telah tiba di mansion, sang papa yang lelah segera kembali ke kamar untuk istirahat, begitu juga dengan Viola, sementara Pandu sibuk dengan barang-barang antik yang dibelikan sang papa untuk nya.
"Papa benar-benar tau apa yang aku suka," batin Pandu sambil menata ruangan khusus koleksi nya dengan barang-barang baru itu.
Sementara itu di sisi lain ...
"Sudah begitu lamarm sejak saat itu, Viola menghilang dari sisi ku, kenapa rasanya setiap hari selalu ada yang kurang?" batin Liam sambil mengemudi mobil nya.
Semakin hari Liam kini semakin merasakan rasa kehilangan yang luar biasa, wanita yang biasanya selalu ada di sisinya itu kini lenyap seolah-olah di telan bumi.
Liam yang merasa kehilangan pun akhirnya memutuskan untuk datang ke kontrakan Viola malam itu juga, ini mungkin sudah yang ketiga kalinya dia datang ke tempat itu.
Tak butuh waktu lama, dia pun tiba di sana.
Namun malam ini sepertinya Liam akan mendapatkan jawaban, karena kemarin-kemarin dia datang tidak pernah ada orang, kali ini lampu yang ada di dalamrumah itu terlihat menyala.
"Viola, doa sudah kembali, akhirnya dia kembali ke rumah itu, lihat bagaimana aku akan memarahinya, berani-beraninya dia menghilang begitu lama dari hadapan ku, dia bahkan tidak masuk bekerja.
Liam dengan penuh semangat menuju pintu rumah tersebut dan mulai mengetuk nya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Viola! Buka pintunya! Aku tau kau ada di dalam!" teriak Liam.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Viola buka pintunya!" ucap Liam untuk yang kedua kalinya.
Namun tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki seseorang yang terburu-buru menghampiri pintu.
Orang tersebut segera memegang gagang pintu dan kemudian membuka nya.
"Akhirnya kau muncu ..."
Liam menghentikan kalimat nya setelah melihat siapa yang ada di hadapannya.
Bukan Viola, melainkan seorang wanita paruh baya yang saat itu terlihat sedang memasak, dia memegang sendok besi besar dan celemek terpasang di tubuh nya.
"Kau siapa?" ucap Liam kebingungan.
"Aku pemilik rumah ini, kau yang siapa? Malam-malam membuat kegaduhan di depan rumah orang," omel orang tua itu.
"Maaf, ini adalah rumah pacarku, Viola, bukan rumah mu," ungkap Liam tak mau kalah.
"Viola? Oh, mungkin kau salah paham, wanita sebelumnya sudah tidak tinggal di sini lagi, dan aku adalah penghuni baru, aku baru pindah seminggu yang lalu," jelas orang tua itu.
Liam seketika terdiam menatap orang tersebut, dia hampir tidak percaya dengan ucapan wanita itu, namun setelah melihat ke dalam, benar, tidak ada tanda-tanda kalau Viola ada di sana, bahkan barang-barang nya juga sudah tidak ada.
Hati Liam seketika semakin kacau balau dan sakit setelah menerima kenyataan ini.
"Viola, kau benar-benar berniat menghilang dari ku?" ucap Liam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Dia pun berlalu pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada pemilik rumah baru itu.
"Orang gila," kata orang tersebut yang kemudian kembali menutup pintu rumah nya.
Sementara orang yang mengambil semua barang-barang Viola di kontrakan tersebut adalah Pandu, dia membakar semua barang-barang tak berguna itu karena tak ingin Viola ingat lagi dengan Liam, tak hanya Pandu, Hans dan Sekar pun berpatisipasi.
Tak terasa tiga hari pun kembali berlalu.
"Nak, ada yang ingin papa bicarakan kepada mu," ucap papa Arman kepada Viola yang saat itu sedang sibuk membaca buku di perpustakaan mansion nya.
Mendengar suara sang papa, Viola langsung menutup buku nya dan kemudian menaruhnya kembali di rak buku.
"Ada apa pa?" ucap nya sambil tersenyum.
"Violae, maafkan papa, jika sudah tau, apakah kau akan membenciku? Apakah senyum ini tidak akan ada lagi untuk ku?" batin papa Arman.
Viola yang melihat sang papa melamun pun merasa bingung dan segera menyadarkan nya.
"Papa," ucap nya sambil menarik lengan baju papa nya.
"Oh, iya maaf-maaf, ayo kita ngobrol di sana," sang papa pun membawa Viola ke sisi ruangan yang lebih nyaman di perpustakaan tersebut untuk mereka berbincang.
"Pa, sebenarnya ada apa? Kenapa akhir-akhir ini papa dan kakak terlihat sama saja? Sama-sama aneh?" ungkap Viola merasa kesal.
"Benarkah? Papa hanya ingin menyampaikan sesuatu, malam ini kita akan mengadakan makan malam bersama keluarga Wijaya, mereka akan datang ke mansion kita," ucap papa Arman kepada Viola.
"Keluarga Wijaya? Kenapa papa tiba-tiba mengundang mereka untuk makan malam di mansion kita?" tanya Viola kebingungan.
"Nak, ini bukan undangan, namun kesepakatan kedua belah pihak, ada hal penting yang harus didiskusikan dua keluarga," jelas Arman lagi.
"Kenapa rasanya agak tidak enak? Ini sedikit mencurigakan," batin Viola.
"Baiklah pa, bukan kah ini hal wajar terjadi dalam keluarga yang memiliki ikatan bisnis yang sangat besar? Aku tidak keberatan," sambung Viola.
"Tapi ini bukan soal bisnis," ungkap Arman lagi.
"Hal misterius apa yang Kakak dan papa sembunyikan? Kenapa setiap kali bicara kalian terlihat sangat tegang?" omel Viola merasa tidak nyaman.
"Ah bukan begitu, ya sudah intinya kau hanya perlu siap-siap ya, nanti malam semuanya akan jelas," ungkap papa Arman sambil berusaha tetap tenang dan tersenyum.
Namun beda halnya dengan Viola yang pertanyaan di otaknya semakin lama semakin menumpuk.
Sementara itu di sisi lain ...
"Mau kemana Zehan?" ucap papa nya Zehan yang saat itu sedang duduk santai di ruang tengah di temani secangkir kopi.
"Keluar," jawab Zehan singkat.
"Tunggu dulu, aku mendapatkan laporan dari Erik, dia bilang akhir-akhir ini kau tidak datang ke perusahaan, apa yang kau lakukan di luar sana Zehan? Jangan macam-macam, kau sudah akan menjadi kepala keluarga Wijaya mengantikan ku, tolong fokus dengan pekerjaan dan tugas mu," ucap sang papa sambil menatap putra nya.
"Papa datang ke perusahaan ku?" ucap Zehan singkat.
"Apa? Apa papa salah memastikan sesekali kalau kau bekerja dengan baik?" sang papa seketika sedikit gugup.
"Aku CEO nya sekarang, aku tau apa yang harus aku lakukan, tidak butuh waktu dua puluh empat jam di perusahaan aku sudah bisa mengendalikan semuanya, jangan samakan aku dengan papa yang payah," kata Zehan sambil tersenyum tipis.
"Zehan kau! Kau menyindir papa?" ucap sang papa lagi dengan tatapan kesal.
"Tergantung bagaimana cara papa menangapi nya," kata Zehan lagi.
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat dengan mu lagi, semuanya tidak akan usai, oh ya Zehan, jangan pulang terlalu larut, malam ini kita akan mengunjungi keluarga Danuarta untuk beberapa hal penting yang harus di bahas, kau mengerti?" ucap papa Kusuma dengan wajah serius.
"Apa? Secepat ini?" Kata Zehan kaget.
"Ya, kau mau selama apa?" ungkap Kusuma semakin kesal.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Zehan yang kemudian berbalik dan pergi dari hadapan papa nya.
"Hey! Acara nya malam nak! Tidakkah kau jadi keluar?" ucap sang papa kebingungan karena bukan nya pergi Zehan malah masuk ke dalam lift dan kembali ke kamar nya.
Sang papa yang kebingungan hanya bisa geleng-geleng kepala, anak nya sama sekali tidak bisa di tebak, namun dia sangat menyayangi Zehan lebih dari apapun.
Tak terasa malam pun telah tiba, malam yang begitu indah, rembulan bahkan bersinar dengan begitu terang nya.
"Kenapa aku harus di dandani seperti ini bi? Bukan kah hanya makan malam keluarga? Ini sangat memalukan," kata Viola melihat dirinya di depan cermin yang saat itu terlihat sangat amat cantik tetapi Viola malah merasa malu.
"Nona muda, apa yang membuat nona malu? Ini adalah acara penting, keluarga Wijaya bukan lah keluarga biasa, tuan muda Pandu saja memiliki stelan nya, kenapa nona tidak?" ucap bi Sirah sambil tersenyum.
"Berlebihan bi," jawab Viola lagi.
Namun tak lama kemudian pintu ruangan tersebut di buka oleh orang yang tak lain adalah Pandu.
"Tuan muda, silahkan masuk, nona muda sudah siap," kata bi Sirah kepada Pandu.
Pandu menghambat mereka seperti biasa dengan wajah dingin nya.
****
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin