Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Bandara Internasional O'Hare pagi itu dipenuhi oleh langkah kaki terburu-buru dan deru mesin pesawat yang lepas landas. Di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan internasional, Lyodra Taylor duduk membeku. Ia mengenakan mantel cokelat muda dengan syal yang melilit lehernya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih sembab.
Di sampingnya, Edric menggenggam tangan kakaknya erat, merasa bersalah karena telah membawa Lyodra ke pameran semalam yang justru menghancurkan ketenangan kakaknya.
"Kita akan pergi sejauh mungkin, Kak. Zurich, Paris, ke mana pun kau mau," bisik Edric menenangkan.
Lyodra hanya mengangguk lemah. Namun, saat ia mendongak ke arah pintu masuk terminal, napasnya seolah terhenti. Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya berdenging.
Di sana, di antara kerumunan penumpang, dua sosok yang paling tidak ingin ia lihat muncul.
Archello Dominic dan Oliver Bernardo.
Mereka tampak serasi, berjalan bergandengan tangan. Oliver sesekali membisikkan sesuatu yang membuat Archello memberikan senyum tipis—senyum yang semalam baru saja ia berikan pada ciuman itu. Lyodra segera menunduk, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin menghilang, ingin bumi menelannya saat itu juga.
Namun, takdir Chicago belum selesai mempermainkan mereka. Archello melangkah menuju deretan kursi tunggu yang tepat searah dengan posisi Lyodra.
Tiba-tiba, langkah Archello terhenti. Tubuhnya menegang hebat, tangannya yang menggenggam Oliver mendadak dingin dan gemetar. Oksigen seolah lenyap dari paru-parunya.
Matanya terpaku pada seorang gadis yang duduk membelakangi cahaya, namun profil samping wajah itu... struktur tulang itu...
"Archello? Ada apa? Kau sakit?" Oliver bertanya dengan nada cemas, menyadari tunangannya mendadak kehilangan warna di wajahnya. Oliver mengikuti arah pandangan Archello, dan saat matanya menangkap sosok gadis itu, Oliver merasa dunianya runtuh. Deg.
"Ly... Lyodra?" bisik Oliver tak percaya. Wajah yang pernah ia lihat di layar laptop kini nyata berada beberapa meter di depannya.
Archello tidak lagi mendengar suara Oliver. Seluruh jiwanya seolah ditarik keluar dari raganya. Setelah empat tahun meratapi kematian, setelah ribuan malam menangis di atas makam yang tak pernah ia temukan, sosok itu ada di sana.
"Ay..." suara Archello pecah, serak oleh isak tangis yang meledak seketika.
Ia melepaskan pegangan tangan Oliver dengan kasar, mengabaikan tunangannya yang mematung di tengah jalan. Archello berlari, menabrak beberapa orang yang melintas, dan langsung menjatuhkan dirinya di depan Lyodra. Ia memeluk gadis itu dengan kekuatan yang seolah takut jika ia melepaskannya, Lyodra akan berubah menjadi debu.
"Kau masih hidup... Kau masih hidup, Ay... Ini mimpi, kan? Katakan padaku ini bukan mimpi!" Archello menangis tersedu-sedu di bahu Lyodra, menyebut panggilan sayang rahasia mereka yang dulu hanya diucapkan di bawah selimut apartemen mereka.
Suasana ruang tunggu itu mendadak penuh sesak oleh emosi yang menyesakkan. Orang-orang mulai menoleh, namun empat orang di sana terjebak dalam dunianya masing-masing.
Oliver berdiri beberapa langkah di belakang mereka, mematung dengan hati yang hancur berkeping-keping. Rasa sakit itu tak terlukiskan; melihat pria yang semalam menjanjikan masa depan padanya kini bersimpuh di kaki wanita lain dengan cinta yang begitu purba. Rupanya, janji Archello semalam hanyalah halusinasi yang ingin Oliver percayai.
Lyodra tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku seperti batu. Ia menatap Archello dengan pandangan yang kosong, namun di dalamnya tersimpan luka yang sangat dalam.
"Kau siapa?"
Pertanyaan itu menghujam jantung Archello lebih tajam dari berita kematian mana pun. Archello melepaskan pelukannya sedikit, menangkup wajah Lyodra dengan tangan yang bergetar hebat. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Sayang... ini aku... ini aku, Archello. Ello-mu..." bisik Archello putus asa.
Archello, yang didorong oleh kerinduan luar biasa selama empat tahun, mendekatkan wajahnya. Ia ingin merasakan kembali bibir yang ia kira telah membusuk di tanah. Ia ingin mengklaim kembali miliknya. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, Lyodra memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Kau siapa?" ulang Lyodra dengan suara yang lebih dingin. Matanya melirik ke arah Oliver yang masih berdiri mematung dengan air mata yang mulai jatuh. "Kekasihmu melihat kita. Jangan lakukan hal yang tidak sopan."
Deg.
Archello menoleh sejenak ke arah Oliver, namun matanya dengan cepat kembali pada Lyodra. Baginya, dunia saat ini hanya berisi Lyodra. Oliver seolah menjadi bayangan yang tidak berarti dibandingkan keajaiban di depannya.
"Tidak, Ly... dia bukan... kau adalah hidupku! Kenapa kau bicara seperti itu? Kenapa kau menatapku seperti orang asing?" Archello meraung pelan, memegang bahu Lyodra dengan erat.
Tiba-tiba, suara Edric membelah situasi yang mencekam itu. Edric berdiri, menghalangi Archello dari kakaknya. Wajah Edric penuh dengan amarah sekaligus kesedihan.
"Lepaskan dia, Archello!" bentak Edric.
Archello menatap Edric dengan pandangan menuntut penjelasan. "Edric! Apa yang terjadi? Kenapa dia hidup? Kenapa kalian menyembunyikannya dariku selama empat tahun?!"
Edric menatap Archello dengan getir, lalu melirik kakaknya yang kini tampak mulai gemetar. "Dia tidak akan mengingatmu, Archello. Jangan paksa dia."
"Apa maksudmu?!"
"Dia hilang ingatan sejak kecelakaan itu. Baginya, kau bukan siapa-siapa. Namamu, wajahmu, cintamu... semuanya sudah terhapus bersama bayi yang juga kau biarkan mati hari itu," ucap Edric dengan nada yang sangat menyakitkan.
Deg.
Archello terdiam seolah baru saja dihantam palu godam. Hilang ingatan? Bayi? Lyodra-nya hidup, tapi ia tidak lagi berada di dalam kepala gadis itu? Dunia Archello kembali ambruk, kali ini dengan cara yang lebih kejam. Ia menemukan raganya, tapi ia kehilangan jiwanya di dalam ingatan Lyodra yang telah kosong.
Di belakang mereka, Oliver menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis yang meledak. Ia melihat Archello hancur di depan matanya sendiri, dan ia tahu, di saat Lyodra muncul kembali, posisinya di hati Archello telah musnah seolah-olah ia tidak pernah ada di sana sejak awal.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰