NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemilik baru

Pintu besar ballroom hotel berbintang itu terbuka lebar, menyingkap kemewahan yang ada di dalamnya. Denting gelas kristal dan alunan musik klasik yang lembut seketika teredam oleh kesunyian yang mendadak saat Zayn Malik melangkah masuk.

​Zayn tidak sekadar berjalan; ia mendominasi ruangan. Namun, yang membuat ratusan pasang mata tertuju padanya bukanlah setelan jas custom-made yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, melainkan jemarinya yang melingkar posesif di pinggang seorang wanita.

​"Siapa itu?" bisik seorang sosialita di sudut ruangan, hampir menjatuhkan gelas sampanyenya. "Zayn Malik membawa teman kencan? Bukannya dia dikenal tidak punya hati?"

​"Lihat gaunnya... itu koleksi terbatas yang bahkan belum rilis di Asia. Dan berlian hitam itu? Ya Tuhan, itu harganya bisa membeli satu gedung di pusat kota!" timpal yang lain dengan nada iri yang kental.

​Laila merasakan tatapan-tatapan itu menusuk kulitnya. Dulu, ia akan menunduk dan merasa ingin menghilang. Tapi sekarang, dengan tangan Zayn yang hangat di pinggangnya, ia merasa memiliki perisai baja.

​"Dagu tetap tegak, Laila," bisik Zayn sangat pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. "Jangan beri mereka kepuasan melihatmu ragu. Kamu adalah pusat semesta malam ini."

​Laila mengangguk samar. Ia menatap lurus ke depan, wajahnya datar, dingin, namun luar biasa cantik. Riasan Latina look itu benar-benar mengubah auranya menjadi misterius.

​Di sisi lain ruangan, Gion sedang tertawa bersama beberapa rekan bisnisnya. Di sampingnya, Sarah bergelayut manja sambil memamerkan tas barunya.

​"Sayang, lihat itu. Semua orang menoleh ke arah pintu. Apa ada menteri yang datang?" tanya Sarah penasaran.

​Gion menoleh, dan seketika itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat seorang pria yang ia kenal sebagai 'Dewa Bisnis' di kota ini—Zayn Malik. Namun, matanya terkunci pada wanita di sebelah Zayn.

​"Cantik sekali..." gumam Gion tanpa sadar.

​"Apa maksudmu, Gion?" Sarah menyikut lengannya dengan kesal. "Memang cantik, tapi pasti dia cuma simpanan atau model bayaran.

Sarah mendengus kesal. Baru saja menjadi lasangan Gion, dan kini di depan matanya Gion berani memuji wanita lain. Tepat di hadapannya.

Tunggu... wajah itu..."

Wajah Gion terkejut, dengan mimik wajah yang sulit diartikan.

​Zayn dan Laila berjalan perlahan, membelah kerumunan yang secara otomatis memberi jalan. Langkah mereka mantap, menuju ke arah di mana Gion dan Sarah berdiri.

​Gion membulatkan matanya. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Semakin dekat wanita itu, semakin ia mengenali garis wajah, bentuk mata, dan tahi lalat kecil di dekat telinga yang sangat familiar baginya.

​"Laila?" desis Gion, suaranya bergetar hebat. "Tidak mungkin... itu tidak mungkin Laila!"

Bagaimana mungkin dalam hitungan jam saja, Laila berubah cantik bak bidadari.

​Laila berhenti tepat tiga langkah di depan Gion. Ia tidak tersenyum. Matanya yang tajam menatap Gion seolah pria itu hanyalah debu yang mengganggu pemandangan.

​"Selamat malam, Tuan Gion," suara Zayn memecah keheningan, terdengar begitu santai namun penuh ancaman. "Sepertinya Anda sedang menikmati pesta?"

​Gion menelan ludah dengan susah payah. Ia mengabaikan Zayn dan menunjuk Laila dengan tangan gemetar. "Kau... Laila? Bagaimana bisa? Tadi siang kau masih—"

​"Tadi siang saya masih apa, Tuan Gion?" potong Laila dengan suara yang tenang namun sedingin es. "Masih mengemis di depan gerbang rumah Anda? Atau masih menjadi wanita yang Anda usir tanpa sepeser pun uang?"

​Ruangan itu seketika menjadi riuh oleh bisikan-bisikan kaget.

​"Apa? Itu mantan istrinya?"

"Jadi itu wanita yang kabarnya diceraikan demi selingkuhan?"

"Astaga, Gion pasti sudah gila mencampakkan permata seperti itu demi kerikil seperti Sarah!"

​Sarah, yang wajahnya kini memerah padam karena malu dan marah, mencoba membela diri. "Laila! Jangan mimpi kau bisa menipu kami dengan dandan seperti ini! Paling-paling kau hanya menyewa baju ini atau menjual dirimu pada Tuan Zayn agar bisa masuk ke sini!"

​Zayn terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat berbahaya. "Menjual diri? Nona Sarah, jaga ucapan Anda. Laila adalah tamu kehormatanku. Faktanya, dialah yang menentukan apakah investasi Matahari Group di perusahaan pacar Anda ini akan lanjut atau dicabut malam ini juga."

​Gion lemas. Kakinya terasa seperti jelly. "Tuan Zayn... apa maksud Anda? Matahari Group... Anda pemiliknya?"

​Zayn hanya menaikkan sebelah alisnya. "Aku bosan bermain dengan angka kecil, jadi aku membeli beberapa 'mainan' di sektor properti. Dan sayangnya, salah satunya adalah perusahaan yang sedang Anda rintis."

​Zayn seperti sedang mempermainkan mereka.

​Zayn menoleh ke arah pelayan yang lewat dan mengambil dua gelas minuman. Ia memberikan satu pada Laila.

​"Minumlah, Laila. Kamu butuh energi untuk melihat kehancuran mereka," ucap Zayn lembut, kontras dengan tatapan tajamnya pada Gion.

​Laila menerima gelas itu, menyesapnya sedikit, lalu menatap Sarah yang tampak seperti ingin meledak. "Sarah, antingmu bagus. Tapi sepertinya itu imitasi dari koleksi tahun lalu, ya?"

​Sarah refleks memegang telinganya. "Apa? Ini asli!"

​"Tentu saja," Laila tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis. "Sama aslinya dengan cinta yang kamu banggakan dari pria yang sekarang ketakutan setengah mati ini."

​Gion mencoba mendekat, suaranya memelas. "Laila, dengar dulu... mungkin kita bisa bicara. Ada salah paham, ingat kita sama-sama belum menanda tangani surat perceraian kita."

​"Jangan panggil namanya dengan mulut kotormu," sela Zayn, suaranya merendah. "Mulai detik ini, Laila berada di bawah perlindunganku. Jika kalian berani mendekatinya dalam jarak sepuluh meter, aku pastikan besok kalian tidak akan punya tempat tinggal, apalagi status sosial."

"Dan satu lagi, besok kau sudah menerima surat perceraian dari Laila. Dan pastikan kamu tanda tangani dengan benar."

​Zayn kemudian merangkul Laila kembali, mengajak wanita itu menjauh dari pasangan yang kini mematung di tengah kerumunan yang menertawakan mereka.

​"Bagaimana rasanya?" tanya Zayn saat mereka sudah berada di area balkon yang lebih sepi.

​Laila menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. "Luar biasa. Aku tidak pernah membayangkan Gion bisa terlihat sekerdil itu."

​Zayn menyesap minumannya. "Itu baru permulaan, Laila. Menghancurkan reputasi mereka di depan umum hanyalah hidangan pembuka. Aku sudah menyiapkan 'menu utama' yang akan membuat mereka memohon-mohon padamu di jalanan."

​Laila menatap langit malam dari balkon hotel. "Dulu aku takut pada kegelapan malam. Tapi bersamamu, Zayn... aku merasa malam ini adalah awal dari cahayaku."

​Zayn menatap Laila, ada binar yang berbeda di matanya. "Bagus. Karena aku tidak suka memiliki ratu yang penakut. Sekarang, ayo kembali ke dalam. Masih banyak orang penting yang harus mengenal siapa 'Pemilik' baru di kota ini."

​Laila tersenyum—kali ini senyum yang tulus. Ia menyelipkan lengannya ke lengan Zayn, bersiap untuk menghadapi dunia yang kini berlutut di bawah kakinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!