Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Makam Hantu
Waktu merayap pelan di dalam Balai Lelang Bintang Jatuh. Setelah terjualnya Akar Darah Naga Matahari, suasana di dalam Aula Perunggu tidak menjadi dingin, melainkan semakin mendidih. Berbagai pusaka kuno, mulai dari pedang patah yang menyimpan sisa-sisa niat pedang seorang ahli Lautan Qi, hingga gulungan teknik bela diri tingkat menengah, dikeluarkan satu per satu ke atas panggung batu giok.
Sebagian besar harta karun tersebut jatuh ke tangan para tamu di Ruang Perak dan Ruang Emas. Keriuhan ribuan pendekar fana di Aula Perunggu tak lebih dari sekadar sorak-sorai penonton bagi panggung kekayaan para raksasa.
Shen Yuan duduk bersandar di kursinya dengan mata setengah terpejam di balik topeng perunggunya. Sisa tiga puluh Batu Roh di dalam Kantong Qiankun-nya menahannya untuk ikut serta dalam kegilaan tersebut. Namun, pikirannya tidak tertuju pada pusaka-pusaka itu, melainkan pada detak jantungnya sendiri yang berdegup menahan debar penantian.
Hingga akhirnya, suasana di dalam aula mendadak berubah.
Penatua Su Ruoxue, yang sebelumnya selalu tersenyum menggoda saat menawarkan setiap barang, kini memasang raut wajah yang sangat sungguh-sungguh. Hawa murni dari Ranah Pembentukan Inti Emas miliknya menguar tipis, menciptakan dinding angin tak kasat mata di sekeliling panggung batu giok putih.
"Para pahlawan yang terhormat," suara Su Ruoxue bergema, membawa nada agung yang membungkam seluruh aula dalam sekejap. "Kita telah tiba di penghujung Pelelangan Agung malam ini. Pusaka pamungkas yang akan kami tawarkan bukanlah sebuah senjata, bukan pula tanaman roh, melainkan sebuah kunci menuju takdir."
Seorang pelayan wanita tua, yang memancarkan aura mengerikan setingkat Puncak Ranah Pengumpulan Lautan Qi, berjalan ke atas panggung membawa sebuah nampan emas. Di atas nampan tersebut, tergeletak selembar perkamen kulit domba yang telah robek dan usang, memancarkan aura kuno yang lapuk.
Mata Shen Yuan menyipit tajam dari balik tirai hitamnya. Jantungnya bergemuruh hebat. Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya bereaksi dengan sendirinya terhadap hawa kebencian yang samar-samar terikat pada perkamen tersebut.
"Ini adalah selembar potongan peta purbakala," Su Ruoxue memulai penjelasannya. "Tiga bulan yang lalu, para tetua penilai kami berhasil memecahkan segel aksara pada perkamen ini. Peta ini menunjukkan jalan masuk menuju sebuah reruntuhan yang hilang ditelan zaman... Makam Tuan Tanah Hantu!"
Wussshhh!
Sebuah badai keributan meledak seketika di seluruh pelataran Ruang Perak dan Ruang Emas! Para bangsawan yang sedari tadi duduk dengan tenang kini berdiri dari kursi mereka. Beberapa riak hawa murni yang luar biasa dahsyat bahkan secara tidak sengaja menembus tirai sutra pembatas ruangan.
"Tuan Tanah Hantu?!" seru seorang sesepuh dari Ruang Perak Nomor Satu dengan suara bergetar. "Sosok yang konon telah mencapai Puncak Ranah Peleburan Jiwa dan nyaris membelah kehampaan menuju Alam Spiritual ribuan tahun yang lalu?!"
"Benar sekali," Su Ruoxue mengangguk, senyum puas kembali menghiasi bibirnya melihat raut wajah para naga yang kelaparan. "Makamnya tidak hanya menyimpan kekayaan satu benua, tetapi juga memuat warisan teknik bela dirinya, dan mungkin... pil pusaka tingkat jiwa. Sayangnya, ini hanyalah potongan pertama dari peta tersebut. Namun, memiliki satu potongan berarti Anda memiliki kunci pertama untuk membuka gerbangnya."
Di kursi nomor 884, napas Shen Yuan tertahan. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Inilah dia. Lembaran perkamen usang inilah yang telah merenggut nyawa ayahnya. Sepuluh tahun yang lalu, ayahnya dikeroyok dan dihancurkan jiwanya oleh utusan dari Balai Lelang ini dan kubu-kubu serakah lainnya demi potongan peta yang sama. Darah ayahnya mengering di atas perkamen tersebut, menjadi pijakan bagi para tiran ini untuk meraup kekayaan.
"Harga pembukaan untuk potongan peta Makam Tuan Tanah Hantu adalah... Seribu Batu Roh Tingkat Rendah! Kelipatan penawaran minimal seratus Batu Roh!"
Angka yang diucapkan oleh Su Ruoxue seperti godam raksasa yang menghantam dada ribuan pendekar pengelana. Seribu Batu Roh! Kekayaan sebesar itu cukup untuk membangun sebuah sekte menengah dari nol. Shen Yuan menatap sisa tiga puluh Batu Roh di dalam Kantong Qiankun-nya, lalu tersenyum getir.
"Pada akhirnya, dunia ini hanya mengakui kekuatan mutlak," gumam Shen Yuan dalam batinnya.
"Kenapa kau bersedih, Bocah?" suara tawa serak Leluhur Darah bergema di kepalanya. "Hanya orang suci bodoh yang membeli barang dengan emas. Iblis sejati... mengambilnya dengan darah! Biarkan babi-babi gemuk itu saling menggigit demi selembar kertas tua. Tugasmu hanyalah mengawasi siapa yang membawa kertas itu keluar, lalu memenggal kepalanya di tengah jalan!"
Mata Shen Yuan kembali memancarkan kilatan merah darah. Leluhur Darah benar. Ia tidak perlu memenangkannya di atas panggung; ia hanya perlu memenangkannya di atas pedang.
"Seribu lima ratus Batu Roh!" teriak seorang Tetua dari Ruang Perak.
"Dua ribu Batu Roh! Sekte Gunung Besi menginginkan peta ini!"
"Tiga ribu Batu Roh! Keluarga Lin bersedia menukarnya dengan kekayaan satu kota kami!" Suara Lin Chen yang dipenuhi ambisi gila terdengar dari Ruang Perak Nomor Empat.
Persaingan harga berubah menjadi ajang pembantaian kekayaan. Namun, kegilaan itu terhenti seketika saat sebuah suara yang sangat tenang dan membawa tekanan dari hukum pedang yang tajam terdengar dari Ruang Emas Nomor Satu—ruangan tertinggi dan paling dihormati di kubah tersebut.
"Sepuluh ribu Batu Roh."
Keheningan mutlak menyapu Aula Perunggu dan seluruh Ruang Perak. Suara itu berasal dari seorang pemuda berpakaian putih bersih, yang di punggungnya memanggul sebuah pedang kuno tanpa sarung. Auranya menyatu dengan alam, setajam ujung pedang yang siap membelah langit.
"S-Sekte Pedang Langit..." gumam seseorang di Aula Perunggu dengan wajah pucat. "Itu pasti pewaris utama dari Sekte Pedang Langit, sekte penguasa di wilayah tengah Benua Awan Gelap..."
Menghadapi sekte raksasa seperti Sekte Pedang Langit, bahkan keluarga tiran sekelas Keluarga Lin pun tidak berani mengeluarkan suara decakan sekecil apa pun. Sepuluh ribu Batu Roh adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
"Sepuluh ribu Batu Roh dari Tuan Muda Sekte Pedang Langit. Tidak ada lagi yang menawar? Terjual!" Su Ruoxue mengetukkan palunya untuk terakhir kalinya, menandai berakhirnya Pelelangan Agung yang mengguncang sejarah Kota Bintang Jatuh.
Saat para tamu mulai berdiri untuk membubarkan diri, Shen Yuan ikut bangkit dari kursinya. Ia merapatkan caping bambunya dan berjalan menyusuri lorong menuju Gerbang Perunggu. Kesadaran spiritualnya yang tajam segera menangkap sesuatu yang tidak beres.
Di antara kerumunan manusia yang berdesakan keluar, ada tiga pasang mata yang terus mengunci punggungnya sejak ia bangkit dari kursi nomor 884.
"Tiga anjing pelacak di Ranah Penempaan Raga Lapisan Keenam," lapor Leluhur Darah santai. "Tuan Muda bodoh dari Keluarga Lin itu rupanya menepati janjinya untuk memburumu."
"Bagus. Darahku kebetulan sedang mendidih," jawab Shen Yuan dalam batinnya.
Ia melangkah keluar dari Balai Lelang Bintang Jatuh. Malam di luar sangat pekat, awan hitam menutupi cahaya bulan dan bintang. Suhu udara menurun drastis, menjanjikan turunnya badai salju pertama di benua tersebut.
Alih-alih berjalan menuju jalan utama yang terang benderang dan dijaga ketat oleh Pasukan Penjaga Kota, Shen Yuan dengan sengaja memutar langkahnya. Ia berjalan santai namun pasti menuju kawasan pinggiran kota yang kumuh—tempat di mana rumah-rumah hiburan usang dan gudang-gudang terbengkalai berdiri di antara gang-gang sempit yang gelap gulita.
Tiga sosok berpakaian gelap terus mengikutinya dari jarak tiga puluh tombak, melompat dari satu atap ke atap lainnya tanpa suara.
Shen Yuan menyeringai di balik tirai capingnya. Ia memasuki sebuah pelataran kuil kuno yang telah hancur separuhnya. Rumput liar setinggi pinggang tumbuh subur menutupi lantai batu yang retak. Tidak ada cahaya lampion di sini, hanya kegelapan mutlak yang menjadi kawan akrab sang Iblis Penelan Surga.
Di tengah pelataran, Shen Yuan menghentikan langkahnya. Ia berdiri membelakangi gerbang kuil yang roboh, menunggu dengan tenang.
Hanya selang beberapa tarikan napas, suara kepakan jubah menembus angin malam. Tap! Tap! Tap!
Tiga pengawal Keluarga Lin di Lapisan Keenam mendarat di atas tembok kuil yang hancur. Dari balik gerbang kuil, terdengar suara langkah kaki arogan. Lin Chen berjalan masuk dengan senyum licik yang mengubah wajah tampannya menjadi sangat kejam. Di sampingnya, berdiri seorang pengawal tua berwajah keriput yang memancarkan aura Puncak Ranah Penempaan Raga Lapisan Kedelapan.
"Kau benar-benar bodoh atau terlalu percaya diri, Pengemis?" Lin Chen tertawa dingin, melipat kipasnya. "Berjalan ke tempat sunyi seperti ini sama saja dengan menggali kuburanmu sendiri. Aku sempat khawatir Pasukan Penjaga Kota akan ikut campur jika kau berjalan di jalan utama."
Shen Yuan perlahan berbalik. Tangannya terangkat, membuka ikatan caping bambunya, lalu melemparkan caping beserta topeng perunggunya ke tanah. Wajah mudanya yang tegas, dengan sepasang mata menyala bak lautan darah, akhirnya menatap Lin Chen secara langsung.
"Kupikir kau akan membawa ahli Lautan Qi. Ternyata hanya sekumpulan sampah," suara Shen Yuan sedatar batu nisan, menggema di pelataran kuil yang sunyi.
Pengawal tua di Lapisan Kedelapan mendengus marah. "Sombong! Tuan Muda, biarkan budak tua ini mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu."
Lin Chen mengangkat tangannya, menghentikan pengawalnya sejenak. Matanya menatap tajam ke arah Shen Yuan. "Aku bukan orang yang tidak masuk akal. Serahkan Akar Darah Naga Matahari itu kepadaku, berlutut dan potong lidahmu sendiri sebagai permintaan maaf, maka aku akan mengampuni nyawa anjingmu malam ini."
"Minta maaf padamu?" Shen Yuan tertawa pelan. Tawa yang awalnya tenang perlahan berubah menjadi raungan tawa yang menggetarkan pilar-pilar kuil yang lapuk. "Di Kota Debu Merah, kubu yang jauh lebih kuat darimu hancur menjadi abu di bawah kakiku. Tahukah kau apa yang terjadi pada orang terakhir yang menyuruhku berlutut?"
Hawa murni merah kehitaman meledak dari dalam tubuh Shen Yuan. Aura pembantaian yang sangat kental—aura yang dibentuk dari mencabut nyawa ratusan pendekar pilihan di Hutan Kabut Beracun dan membantai para Tetua Dalam Keluarga Shen—menyapu pelataran kuil bagaikan badai kematian. Udara di sekitar Shen Yuan beriak hebat, memancarkan kilau Emas Gelap yang menakutkan.
Mata Lin Chen membelalak. Kaki pengawal tua di sampingnya tanpa sadar melangkah mundur selangkah. Aura ini... ini bukanlah aura seorang pengemis fana! Ini adalah aura dewa iblis yang merangkak keluar dari tumpukan mayat!
"Dia... menghancurkan pusaran Dantiannya sendiri di hadapanku," bisik Shen Yuan sedingin es.
"B-Bunuh dia! Paman Li, bunuh dia sekarang juga!" teriak Lin Chen, rasa takut yang luar biasa tiba-tiba mencekik tenggorokannya. Kesombongannya hancur berkeping-keping di bawah tatapan mata merah darah tersebut.
Langkah Bayangan Hantu!
Shen Yuan tidak menunggu musuhnya menyerang. Kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya seketika terpecah menjadi empat bayangan hitam yang melesat membelah udara secara bersamaan, menerjang lurus ke arah para algojo Keluarga Lin yang kini telah berubah menjadi mangsa yang gemetar.
Malam pembantaian di Kota Bintang Jatuh telah dimulai.