Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Pelampiasan Rindu.
"Aku tidak mengerti apakah harus percaya atau tidak? bukankah seharusnya dipertemuan kita kembali, banyak hal yang harus kita bicarakan dan bukan rasa kekecewaan dengan apa yang aku lihat Dan aku dengar tadi," ucap Alea.
"Perasaan kamu akan tenang ketika kamu benar-benar percaya padaku dan bukan padamu Dharma," ucap Raidan.
"Alea jangan pernah meragukan ku, kita tidak bertemu selama ini bukan berarti aku tidak berusaha untuk itu. Aku sangat merindukanmu Alea...." lirih Raidan dengan tatapannya sesuai dengan ucapannya.
Terbesit kerinduan yang begitu besar dari kedua bola matanya.
Perlahan Raidan memajukan wajahnya dengan mengecup bibir Alea. Alea memejamkan mata perlahan tanpa menolak ciuman itu.
Ketika kecupan itu berakhir keduanya saling melihat satu sama lain. Tangan Raidan menggenggam tangan Alea dan membawanya pergi meninggalkan tempat tersebut. Alea menurut meski tidak tahu dibawa kemana oleh Raidan.
Ternyata Raidan membawanya ke dalam ruangannya. Raidan menutup pintu ruangan itu dengan cepat. Seakan-akan takut jika ada yang masuk.
Dalam kesempatan itu Raidan melumat bibir Alea, melampiaskan semua kerinduan itu sampai Alea kehabisan nafas dengan kedua tangannya ditempelkan pada dinding dan ditekan oleh Raidan.
Di tengah suaminya sedang mabuk. Raidan benar-benar mengambil kesempatan terhadap Alea, bagaimana tidak kerinduannya selama ini tidak pernah terlampiaskan, tidak ada komunikasi diantara kedua.
Lumatan di bibir itu dengan cepat berpindah ke leher jenjang Alea.
"Raidan......" lirih Alea masih berusaha untuk menahan laki-laki yang penuh hasrat yang saat ini menjilati lehernya dan sampai daun telinganya.
"Alea aku menginginkanmu, kau tidak tahu betapa gilanya aku selama ini, aku tidak tahu bagaimana kabarmu dan apa saja yang kau lakukan bersama dengan Dharma," ucap Raidan dengan suara berat tampak begitu posesif.
"Meski aku bersamanya, dia tetap pada pendiriannya tidak pernah menyentuhku," ucap Alea terus barang kepada Raidan.
Raidan menghentikan jilatan itu dengan menyandarkan dahinya tepat di dahi Alea, keduanya saling menata penuh hasrat, suara nafas sama-sama terdengar dari mulut keduanya.
"Katakan Alea? Apa kau juga selama ini tersiksa karena tidak bersamaku?" tanya Raidan.
Alea menganggukkan kepala, bagaimana mungkin dia tidak merindukan hubungan ranjang panas mereka berdua.
"Aku juga dan aku ingin menghabiskan malam bersamamu," ucap Raidan sudah terlihat hasratnya berada di puncak.
"Ini adalah kantor dan bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk?" tanya Alea.
"Semua orang sibuk di di bawah dengan pesta perusahaan dan tidak akan ada yang menyadari bahwa kita tidak akan ada di sana. Dharma saat ini juga mabuk dan dia tidak akan tahu jika kamu sudah tidak berarti di sampingnya lagi," jawab Raidan.
"Tetapi aku hamil besar Raidan, aku baru saja memeriksakan pada Dokter dan sangat rawan jika berhubungan intim, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita," ucap Alea..
"Ini bukan pertama kali aku lakukan denganmu, aku tahu harus melakukan apa denganmu," ucap Raidan kembali melumat bibir Alea.
Alea pasrah, sesungguhnya dia memang menginginkan Raidan, percintaan diantara keduanya sudah lama sekali tidak dilakukan, ada kerinduan dan ingin dilampiaskan.
Sementara di bawah sana acara pesta terus saja berlanjut. Semua memiliki kesibukan masing-masing. Dharma benar-benar tepar karena minum terlalu banyak, meski seperti itu tetapi teman-temannya masih terus menuangkan alkohol ke dalam Dharma.
Dharma tidak menyadari keberadaan istrinya, bagaimana tidak jika istrinya saat ini ditelanjangi oleh Raidan. Ruangan yang menjadi rahasia pribadinya, rahasia tempat percintaan panas bersama dengan Alea.
Area sensitifnya terus tertusuk jari-jari Raidan yang di keluar masukkan di lubang surganya. Raidan harus bermain menggunakan jarinya dengan posisi Alea berdiri bersandar pada dinding dan lidahnya bermain di payudara Alea.
Karena mendapat peringatan dari Alea tentang kondisi kehamilan yang saat ini memang rawan membuat Raidan tidak bisa egois, tetapi bukan berarti dia kehilangan cara untuk tidak mendapatkan kenikmatan dan memberikan kenikmatan kepada Alea.
Meski hanya menggunakan jari tetapi Alea tetap mengeluarkan desahannya dengan nafas naik turun sampai Alea sampai puncaknya.
Raidan merasakan jari-jarinya benar-benar banjir. Raidan tidak membiarkan hal itu, dengan cepat dia langsung berlutut di hadapan Alea dan lidahnya menjilati area sensitif yang basah itu.
"Aahhhhh...."
"Ahhhhh...."
"Raidan....."
Nama pria yang terus saja memberikan kenikmatan menggunakan lidahnya itu yang menyapu di lembah goa itu. Alea bisa gila dan hanya ingin terus melakukan semua itu tanpa henti dan mungkin dia juga tidak akan lelah.
Alea dan Raidan belum tentu mendapatkan kesempatan di lain waktu. Lama bermain di area sensitif itu, Raidan berdiri, memastikan wanitanya masih tahan berdiri dengan terlihat wajah cantik itu penuh keringat dan tanpa pasrah dengan apapun yang dilakukan Raidan.
"Bagaimana Alea?"
"Apa terobati semuanya?" tanya Raidan dengan suara berat.
"Cukup terobati," jawabnya dengan lirih.
"Tapi aku masih menginginkannya," ucap Raidan.
"Aku juga menginginkannya. Menginginkan dia menyapa anak kita," jawab Alea dengan sengaja menyentuh senjata milik Raidan.
Ternyata Alea tidak puas jika hanya menggunakan jari, setelah lama berpuasa dan mana mungkin dibuka hanya dengan jari saja.
Raidan tersenyum miring mau dengar permintaan penuh hasrat Alea. Raidan dengan cepat menggendong Alea membaringkan Alea di atas meja yang dekat jendela kaca.
Raidan menurunkan celananya, sudah cukup melakukan pemanasan dan lembah itu masih basah membuat Raidan langsung menusukkan senjatanya.
"Aaaaaa!" Alea berdesah kenikmatan dengan rasa sedikit kesakitan.
Meski sudah berkali-kali disentuh oleh Raidan. Alea tetap merasa sakit dan Raidan tetap merasa sempit dengan senjatanya terjepit.
Dari jendela luar di ruangan Raidan, terlihat bagaimana posisi pasangan bercinta itu. Raidan maju mundurkan senjatanya pada lembah milik Alea dengan posisi berdiri dan sementara Alea berbaring di atas meja.
Raidan tidak mungkin kehabisan akal untuk bercinta dengan Alea hanya karena perut Alea membesar.
Di dalam ruangan itu terdengar suara desahan, keduanya benar-benar mencari kenikmatan masing-masing, dengan pijitan pada payudara Alea.
Pasangan itu benar-benar melampiaskan hasrat mereka berdua dalam kerinduan dan tetap dalam kehati-hatian Raidan yang tidak sembarangan dan tidak mungkin menyakiti bayinya.
Dalam waktu lebih dari satu jam mereka sibuk dalam percintaan itu, sampai akhirnya keduanya terlihat sudah berada di atas ranjang dengan posisi kepala keduanya saling bersebelahan dengan arah yang berbeda.
Mereka hanya ditutupi dengan selimut putih dan sementara pakaian keduanya berserakan di atas lantai.
"Jadi kamu memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita itu?" tanya Alea Raidan akan penjelasannya yang cukup singkat.
"Tidak! Aku tidak memiliki hubungan apa-apa," jawab Raidan tetap konsisten pada jawabannya.
"Tetapi aku melihat wanita itu sepertinya menyukaimu," ucap Alea.
"Jika dia menyukaiku dan aku tidak menyukainya maka itu sama saja. Di saat kita berdua seperti ini alangkah baiknya jangan membahas orang lain, banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu dan juga yang ingin aku dengar darimu," ucap Raidan.
Alea tersenyum mendengar perkataan itu dengan menata Raidan begitu dalam, membelai pipi Raidan.
"Aku tidak menyangka jika kita berdua akan bertemu kembali. Dharma benar-benar tidak melepaskanku, dia sepertinya mencurigai adanya hubungan di antara kita sampai-sampai tidak mendirikan ke pergi sendiri," ucap Alea.
"Kamu benar! Dia juga melakukan hal yang sama kepadaku," jawab Raidan.
"Orang yang berselingkuh insting kecurigaannya memang jauh lebih tinggi, entah apa yang membuatnya kesal ketika mengetahui bahwa aku memiliki hubungan dengan dan sementara dia juga memiliki hubungan lain dengan wanita lain," ucap Alea merasa lucu dengan sikap dan perilaku suaminya itu.
"Egois, Dharma sejak dulu adalah pria egois," jawab Raidan.
"Kamu benar, dia memang laki-laki yang sangat egois," sahut Alea setuju dengan apa yang dikatakan Raidan.
Bersambung....