NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 13

“Assalamualaikum,” suara lembut seorang gadis berhijab warna putih tulang menyapa di depan pintu.

“Waalaikum sa … Ayuk Hasna,” teriak Yessy dengan raut terkejut.

Hasna tersenyum manis, lalu masuk ke dalam rumah. “Ibu ada, Yes?” tanyanya sambil meletakkan bungkusan plastik putih ke atas meja makan.

“Ibu sama Bang Rizal lagi kondangan, Yuk di desa sebelah. Ayuk kapan pulangnya?” berondong Yessy masih dengan wajah terkejutnya.

“Kemarin sore,” jawab Hasna. “Ehm…,” Hasna baru akan melanjutkan ucapannya saat Nadya keluar dari kamar, netra keduanya pun bertemu, namun tidak saling menyapa. “Itu siapa, Yes?” tanyanya kemudian.

“Pembantu yang ngasuh anaknya Rizal sama Sukma,” sahut Bu Sar.

“Astaga … ini orang belum pergi ternyata!” keluh Yessy, ekor matanya melirik sinis Bu Sar yang langsung membuka bungkusan yang dibawa oleh Hasna.

“Bawa oleh-oleh apa kamu, Has dari Palembang? Ado bawa cuko sam pempek bikinan Mak Tuo mu ndak?” tanya Bu Sar sambil terus mengeluarkan isi plastik yang dibawa Hasna.

“Idak, Wak. Mak Tuo sudah mulai sakit-sakitan, idak kuat lagi ngadon pempek,” sahut Hasna, bibirnya masih mengulas senyum, namun tatapannya tertuju pada Nadya yang masuk ke kamar sambil membawa bak berisi air hangat.

Bu Sar yang menyadari arah tatapan Hasna, turut melirik sinis, mulut tipisnya mencibir kecil sambil mendengus pelan. “Pembantu tapi gayanya kaya Nyonya rumah.” Ia kemudian menatap ke arah Nadya sambil berseru dengan suara tinggi. “Heh Nadya, kamu itu nggak sopan sekali, ada tamu nyelonong aja bukannya nyapa dulu!”

Nadya tak menghentikan langkahnya, hanya bibirnya yang menjawab singkat. “Apa Bu Sar nggak lihat saya lagi bawa air?”

Mendengar jawaban Nadya, mata Bu Sar mendelik seketika, satu tangannya mengusap dada. “Kamu denger sendiri ‘kan, Has. Heran aku, gitu masih dipekerjakan sama Rizal, apa nggak mikir orang kaya gitu bisa berpengaruh buruk buat anaknya.”

Hasna tersenyum singkat, lalu berjalan menuju dapur berniat mengambil piring untuk menyisihkan oleh-oleh yang dia bawa. Pernah dekat dengan Sukma dan Rizal tentu membuat gadis itu sedikit hafal dengan tabiat kedua keluarga itu, terlebih Bu Sar yang, sedikit tak tahu malu.

Yessy yang juga sedang berada di dapur, menghampiri Hasna, lalu berbisik pelan. “Jangan di dengerin, Yuk, Ayuk Nadya itu baik kok, cuma mungkin dia masih sibuk mau mandiin Adam, jadi belum sempet nyapa.”

Hasna manggut-manggut paham, wajah ayunya masih mengulas senyum teduh. “Ibu udah dari tadi perginya, Yes?”

“Bentar lagi paling pulang, Nah, itu suara mobilnya,” seru Yessy sambil mengintip dari jendela dapur.

Hasna buru-buru membawa piring yang sudah diambilnya kembali ke ruang tengah—tempat meja makan berada, ia merapikan sejenak penampilannya lalu memasang senyum manis seolah sedang menyambut kedatangan pujaan hati yang telah lama di rindukannya.

Di pintu masuk, Bu Harmi dan Rizal berjalan beriringan. Sejenak keduanya terpaku, saat melihat Hasna berdiri dengan anggun di samping meja makan.

“Hasna,” seru Bu Harmi, wanita paruh baya itu mempercepat langkahnya dan langsung mendekap tubuh mungil gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu.

“Gimana kabar kamu, Has?” lanjut Bu Harmi.

“Baik, Bu. Ibu sendiri gimana kabarnya?” sambut Hasna seraya mencium punggung tangan Bu Harmi.

“Ibu sehat, sudah dari tadi kamu?” tanya Bu Harmi, sembari meletakkan barang bawaannya di meja makan.

“Barusan, Bu,” jawab Hasna lembut.

Ia kemudian menggeser tatapannya ke arah Rizal yang masih berdiri tak jauh dari mereka, tangannya terulur pelan. “Abang gimana kabarnya? Maaf, baru bisa pulang sekarang, waktu dapet kabar Sukma nggak ada, kerjaan aku lagi numpuk-numpuknya.”

Rizal menyambut uluran tangan Hasna, menggenggamnya sejenak seraya menjawab dengan suara berat. “Nggak apa-apa, Has. Abang ngerti kok.”

Hasna menunduk sesaat, lalu kembali menatap netra amber Rizal. “Abang yang kuat, ya, ikhlaskan Sukma buat jadi bidadari surga Abang dan anak kalian.”

Senyum getir tergaris di wajah tampan Rizal, ia mengangguk kecil, tatapannya menyapu sekitar seolah mencari sesuatu.

“Oh ya, aku ada bawa lemang kesukaan Abang, sengaja aku bikin sebelum pulang kemarin,” imbuh Hasna sambil membuka bungkusan lemang yang sudah dipisahkannya.

“Repot-repot sekali kamu, Has,” seru Rizal seraya menyomot satu potong lemang ketan yang baru disusun Hasna. “Kamu udah ketemu anak Abang sama Sukma belum?” tanyanya, kemudian.

Bu Sar yang duduk di meja makan sambil menikmati lemang ketan, menyahut dengan nada ketus. “Gimana mau ketemu Adam, orang sama pengasuhnya di kurung di kamar. Boro-boro di bawa keluar, nyapa Mamah sama Hasna aja nggak.”

“Dih, orang pas Ayuk Hasna dateng Adam lagi mau di mandiin, ya wajarlah kalo pintu kamarnya di tutup,” celetuk Yessy yang baru keluar dari kamar Nadya sambil membawa air bekas mandi Adam.

Bu Sar mendengus kesal, alis lancipnya berkerut dalam. “Kamu itu sama si Nadya, sama aja, Yes. Nggak punya sopan santun.”

Rizal yang mulai merasakan ketidaknyamanan di meja itu menghela napas pelan, ia lalu beranjak ke kamar sang putra. Tangannya baru akan mengetuk pintu saat Nadya sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Adam yang sudah rapi dan wangi.

Bibir gadis berwajah manis itu menggumam pelan, nyaris seperti bisikan. “Nih, kasih ke neneknya sebelum mulutnya saya sumpel pake diapers Adam.”

Mendengar celetukan Nadya, tawa kecil terbit dari bibir Rizal, laki-laki itu kemudian mengambil sang putra seraya membalas bisikan Nadya. “Abang belikan martabak itu di dapur, buruan dimakan mumpung masih anget.”

“Ogah, kasih aja ke tamu spesial, Abang, saya mau mandi terus video call an,” balas Nadya sambil menatap sang anak susu—memastikan tampilannya sudah tampan paripurna.

Rizal kembali terkekeh pelan, satu tangannya mengusap puncak kepala Nadya. “Abang copot kabel wi-fi nya, baru tau rasa kamu.”

Nadya mencebik kecil, lalu berbalik masuk ke kamarnya, meninggalkan Rizal yang masih menatap punggungnya dengan senyum yang sulit diartikan.

Ia lalu menunduk sejenak, menyembunyikan tawa yang masih menggantung di bibirnya, sebelum membawa Adam ke meja makan, tempat Hasna berdiri sambil memperhatikan caranya berinteraksi dengan Nadya.

Bibir gadis cantik dengan hijab berwarna putih tulang itu bergumam pelan, ada sorot kecemburuan di netranya yang sendu seiring batinnya yang terus meracau.

‘Seberapa spesial gadis itu di mata Bang Rizal,’

Bersambung.

Minyak sawit ... Minyak klentik ... Pencet ingatkan update wahai pembaca yang cantik.

Bandar Lampung ... Bandar Jaya ...

Jangan lupa like, komen, dan bintang limanya.

Skkrrtttttt🌴

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!