NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 33

Satu bulan setelah Liburan indah di Labuan Bajo...

Malam itu... Ken duduk berhadapan dengan Kakek Jo di ruang kerja.

Suasana tenang.

“Kakek.”

Kakek Jo mengangkat wajahnya. “Hm?”

Ken menarik napas panjang.

“Aku ingin menikahi Zara.”

Sunyi satu detik.

Lalu…

Wajah Kakek Jo berubah.

Bukan sekadar senyum.

Tapi kebahagiaan yang tulus. Dalam.

“Akhirnya kamu bicara juga.”

Ken tertawa kecil.

“Kakek sudah tahu?”

“Kakek ini hanya tua, bukan bodoh.”

Ken tersenyum.

“Aku serius kek... Aku nggak mau tunggu lebih lama lagi.”

Kakek berdiri, menepuk bahu Ken.

“Besok kita datang ke rumah bibinya.”

Ken terkejut. “Besok?”

“Kakek nggak sabar.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Rumah itu dipenuhi rasa bahagia yang murni.

Dan dari balik pintu.

Eve mendengar semuanya.

Tangannya mengepal erat.

Menikah?

Secepat itu?

Tidak…tidak boleh.

Esoknya, Ken dan Kakek Jo datang ke rumah bibi Zara.

Dengan pakaian rapi.

Dengan niat yang jelas.

Bibi Zara hampir menangis saat Ken menyampaikan maksudnya.

“Bibi…Saya ingin meminta izin untuk menikahi Zara.”

Suasana haru.

Bibi Zara memegang tangan Ken.

“Bibi mengizinkan….Jaga dia...Jangan pernah sakiti hatinya.”

Ken mengangguk tegas.

“Dengan hidup saya.”

Bibi dan zara saling berpelukan dan menangis Bahagia.

Tangannya gemetar saat Ken menggenggamnya.

Ia merasa… dipilih.

Resmi.

Dihormati.

Dicintai.

Kekhawatirannya akan masa lalu Kenzy hari ini lenyap karena Kenzy benar-benar memilihnya.

Sementara di rumah tamu…

Eve duduk sendirian.

Menatap kosong ke arah dinding.

Lamaran itu nyata.

Pernikahan itu akan terjadi.

Dan setelah itu, Zara akan resmi menyandang nama Maheswara.

Nama yang menurut Eve… seharusnya miliknya.

“Kalau dia menikah…”

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

“Aku nggak akan punya tempat lagi.”

Ken akan sepenuhnya milik Zara.

Rumah itu bukan lagi rumahnya.

Ia tidak bisa membiarkan itu.

Tidak bisa.

Pikirannya mulai berlari.

Kalau pernikahan itu gagal…

Kalau Zara tidak bisa menikah…

Maka semuanya berhenti.

Ia tidak ingin membunuh.

Ia hanya ingin… menunda.

Menakuti.

Membuat Zara tidak siap.

Satu insiden kecil.

Satu kecelakaan kecil.

Cukup untuk membatalkan semuanya.

Ia tersenyum di depan cermin, senyum yang penuh rencana jahat.

 Esoknya sore hari saat di kantor…

Zara pulang sendirian dari kantor lebih dulu, ia ingin belanja dengan bibinya.

Hari itu lift utama sedang ada jadwal pemeliharaan belum bisa di pakai, lift Cadangan hanya sampai di lantai 2.

Tangga darurat lantai dua sering dipakai untuk turun cepat.

Eve tahu itu.

Ia tahu jadwalnya.

Ia tahu Zara akan lewat tangga itu.

Ia mengendap lebih dulu.

Melonggarkan baut pegangan tangga bagian atas.

Tidak terlihat jelas namun cukup goyah.

Ia berdiri di ujung lorong, menunggu.

Langkah kaki terdengar.

Tapi bukan sepatu Zara.

Suara tongkat kayu.

Eve membeku.

“Kakek?”

Kakek Jo berjalan pelan menyusuri lorong.

“Mau cek sesuatu sebentar,” gumamnya pelan.

Eve tak sempat bereaksi.

Kakek Jo memegang pegangan tangga itu.

Dan…

Brakkk

Suara jatuh keras.

Tangga bergetar.

Tubuh Kakek Jo terjatuh hingga beberapa anak tangga.

Eve berdiri terpaku.

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar.

“Kakek…”

Jeritan terdengar...Security berlari cepat.

Ken berlari secepatnya saat mendengar dari karyawan kakek terjatuh.

“Kakek!!”

Darah segar terlihat di pelipis.

Kakek Jo sadar.

Tapi tubuhnya tidak bergerak normal.

Ambulans datang , secepatnya kakek di bawa ke rumah sakit

Sunyi panjang.

Diagnosis datang beberapa jam kemudian.

Cedera saraf tulang belakang.

Lumpuh.

Ken duduk di lorong rumah sakit.

Dunia terasa runtuh lagi.

Zara memegang tangannya.

Eve berdiri sedikit jauh.

Wajahnya penuh air mata.

Tangisnya terdengar paling keras.

“Ini salahku…”

Semua menoleh.

“Kenapa bukan aku dulu yang lewat tangga itu, kenapa kakek.”

Ia menangis tersedu.

Ken memegang tangannya refleks.

“Bukan salahmu eve.”

Dan di situlah.

Kesempatan muncul.

 Beberapa hari kemudian.

Kakek Jo kembali ke rumah.

Dengan kursi roda.

Ken terlihat lebih pendiam, Lebih berat. Saat Ken mencari ART untuk membantu khusus merawat kakek, Eve menawarkan diri.

“Biar aku yang urus kebutuhan Kakek sehari-hari.”

“Biar aku saja yang merawatnya ya ken, bukankah lebih baik kakek di rawat oleh orang yang lebih mengenalnya.”

Zara ingin membantu.

Tapi Eve selalu lebih dulu.

“Aku lebih punya waktu, lagi pula di kantor sudah ada Zara.”

“Aku bisa tidur di dekat kamar Kakek.”

Ken berpikir sejenak dan akhirnya menyetujui usul eve.

Perlahan…

Eve kembali masuk ke pusat rumah itu.

Ke pusat hidup Ken.

Ia membantu memandikan Kakek.

Menyuapi.

Mengganti perban.

Ken melihat itu.

Rasa iba.

Rasa terima kasih.

Rasa dekat.

Semua bercampur.

Zara tetap di sana.

Tetap setia.

Tapi kini,

Ada jarak yang mulai tak terlihat.

Malam hari setelah kakek tidur ia Kembali ke kamarnya yang berada persis di samping kamar kakek.

Memang rencananya melukai zara gagal namun tidak gagal sepenuhnya.

Ia tidak ingin Kakek yang terluka.

Tapi sekarang…

Keadaan itu memberinya jalan.

Jika pernikahan tertunda…

Jika Ken sibuk mengurus Kakek…

Maka ia punya waktu.

Dan waktu adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan

Untuk merebut kembali cinta yang ia anggap miliknya.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!