𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16 - TIGA LAYAR, SATU MASA DEPAN**
Malam turun perlahan di sisi barat kota.
Lampu-lampu apartemen telah lama menyala , membentuk garis-garis cahaya di antara gelapnya gedung. Di salah satu unit apartemen lantai atas, Rizuki berdiri di depan jendela, memandang kota yang seolah tak pernah benar-benar tidur.
Hari ini panjang.
Sekolah.
Tatapan siswa.
Petuah kepala sekolah.
Hujan.
Vhiena.
Ia menghela napas pelan, lalu berbalik menuju kursi kerja.
KAMAR APARTEMEN — RITUAL MALAM RIZUKI
Kamar itu rapi, nyaris steril. Tidak banyak hiasan. Hanya meja kerja sederhana, rak buku tipis, dan ranjang dengan sprei gelap.
Rizuki duduk di kursi kerja.
Di atas meja, ia mengeluarkan tiga buah ponsel dan meletakkannya sejajar.
Masing-masing berbeda.
Dan masing-masing adalah dirinya.
PONSEL PERTAMA — DUNIA KECIL
Ponsel paling sederhana.
Layar sedikit tergores di sudut. Casing hitam polos. Tidak ada fitur mencolok.
Inilah ponsel yang ia bawa ke sekolah.
Yang ia gunakan untuk berbicara dengan satu nama.
Vhiena.
Rizuki menyalakan layar. Notifikasi terakhir masih ada.
“Selamat malam.”
Ia tidak membalas lagi.
Bukan karena ingin menjaga jarak—melainkan karena malam ini, pikirannya harus jernih.
“Besok,” gumamnya pelan.
Ponsel itu ia letakkan sedikit menjauh.
PONSEL KEDUA — BLUESKY CORPORATION
Ponsel kedua jauh lebih canggih.
Layar anti-intip. Sistem keamanan biometrik berlapis. Tidak ada aplikasi sosial. Tidak ada hal personal.
Begitu ia menyalakan layar, logo BLUESKY CORPORATION muncul perlahan.
Notifikasi rapat.
Laporan keuangan.
Update proyek pendidikan dan konstruksi.
Nama Keira muncul beberapa kali.
Nama Mira muncul di bagian jadwal.
Rizuki tidak membuka satu pun.
Ia hanya melihat ringkasan.
“Stabil,” katanya singkat.
Bluesky berjalan seperti mesin sempurna—dan memang seharusnya begitu.
Namun ponsel ini pun ia geser ke samping.
Karena ada satu benda terakhir.
PONSEL KETIGA — R TECHNOLOGY
Ponsel ketiga berbeda dari segalanya.
Bentuk nya seperti ponsel ( maka dari itu Rizuki menyebut nya ponsel. ) Rizuki merancang sendiri benda itu, terintegrasi dengan R technology. Sebagai pusat keputusan.
Tidak ada logo.
Tidak ada tombol fisik.
Permukaannya hitam pekat, nyaris menyerap cahaya.
Begitu disentuh, layar menyala seketika, mengenali detak jantung dan pola sidik jarinya.
R TECHNOLOGY – CORE INTERFACE
Status: Aktif
Mode: Pengawasan Mandiri
Rizuki menatap layar itu lama.
Inilah ponsel yang ia rancang sendiri.
Bukan sekadar alat komunikasi—melainkan kunci kendali.
Ia menggeser layar.
Peta dunia fiksi muncul. Titik-titik cahaya kecil menandai server, node, dan pusat pemrosesan R Technology.
Semuanya menyala hijau.
“Berjalan sempurna,” gumamnya.
KEBANGGAAN YANG TIDAK DIUCAPKAN
Rizuki membuka log sistem.
Grafik efisiensi meningkat stabil. Tidak ada gangguan. Tidak ada anomali.
System Log:
– Operasi stabil 100%
– Tidak ada akses ilegal
– Sistem adaptif berkembang sesuai parameter.
Rizuki menyandarkan punggung ke kursi.
Ini bukan kebanggaan yang bisa ia ceritakan ke siapa pun.
Bukan ke direksi.
Bukan ke Mira.
Apalagi ke Vhiena.
Ini adalah kebanggaan sunyi.
Ia menutup mata sejenak.
“R Technology… kamu hidup,” katanya pelan.
PROGRAM MASA DEPAN — R + BLUESKY
Layar berubah.
Rizuki membuka folder tersembunyi.
PROJECT: CONVERGENCE
Status: PRIVATE
Akses: Rizuki (Only).
Ia menarik napas dalam.
Inilah rencana yang belum ada seorang pun tahu.
Bahkan Keira.
Bahkan Mira.
“Waktunya mulai,” gumamnya.
Rizuki mulai mengetik.
Baris kode muncul cepat. Algoritma baru dibangun di atas fondasi R Technology.
Tujuannya jelas:
Mengintegrasikan kecerdasan adaptif R Technology ke dalam sistem Bluesky Corporation.
Pendidikan yang bisa menyesuaikan setiap murid.
Konstruksi yang memprediksi kegagalan sebelum terjadi.
Perbankan yang adil tanpa manipulasi.
Manufaktur tanpa pemborosan.
Namun sistem ini tidak akan menggantikan manusia.
Rizuki berhenti mengetik.
“Tidak,” katanya pelan.
“Kamu hanya akan membimbing.”
Ia memasukkan parameter etika.
Batasan kekuasaan.
Larangan pengambilan keputusan absolut.
Prioritas kemanusiaan.
Ia ingat wajah sopir taksi pagi tadi.
Ia ingat cerita ayah Vhiena.
“Ini bukan soal kekuasaan,” katanya pada dirinya sendiri.
“Ini soal tanggung jawab.”
DUNIA YANG BELUM SIAP
Jam menunjukkan hampir tengah malam.
Program dasar selesai.
Belum aktif.
Belum terhubung.
Hanya disiapkan.
Rizuki menyimpan semuanya dalam mode tidur.
System:
“Project Convergence disimpan.
Menunggu aktivasi.”
Ia mematikan layar ponsel ketiga.
Tangannya sedikit bergetar—bukan karena takut, tapi karena ia tahu:
Jika program ini aktif…
dunia tidak akan sama lagi.
TIGA PONSEL, TIGA BEBAN
Rizuki menatap ketiga ponselnya di meja.
Satu berisi perasaan.
Satu berisi tanggung jawab.
Satu berisi masa depan.
Ia meraih ponsel pertama lagi.
Chat Vhiena masih terbuka.
Ia mengetik.
Rizuki:
“Sudah tidur?”
Pesan terkirim. waktu menunjukkan pukul 23.30
Beberapa menit kemudian.
Vhiena:
“Belum.
Kamu?”
Rizuki tersenyum kecil.
Rizuki:
“Baru selesai berpikir.”
Vhiena:
“Tentang apa?”
Rizuki berhenti mengetik.
Tentang dunia?
Tentang masa depan?
Tentang rahasia?
* Tidak aku tidak harus mengatakan *
Rizuki:
“Tentang hari esok.”
Vhiena membaca itu sambil tersenyum di kamarnya.
Vhiena:
“Semoga besok baik.”
Rizuki menatap layar lama.
Rizuki:
“Aku akan membuatnya begitu.”
TERLELAP DALAM KEBANGGAAN SUNYI
Rizuki meletakkan ketiga ponsel di laci, menguncinya.
Ia berbaring di ranjang, memandang langit-langit.
Untuk pertama kalinya sejak lama, pikirannya tidak penuh tekanan.
Hanya kelelahan…
dan rasa puas yang tenang.
Ia memejamkan mata.
Dalam tidurnya, ia tidak bermimpi tentang gedung tinggi.
Tidak tentang rapat.
Tidak tentang sistem.
Ia hanya bermimpi berjalan di bawah hujan—
bersama seorang gadis yang tersenyum sederhana.
Dan untuk malam ini…
itu sudah cukup.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/