Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang salah
Nadia terus memeluk Ibas sedari tadi. Hal tersebut tak luput dari perhatian orang-orang yang bekerja di rumah itu.
Ibas pun jadi semakin pusing. Jika orangtuanya tahu kalau Nadia sudah berani mendatanginya ke rumah, entah hukuman apa yang akan mereka berikan terhadap dirinya.
"Nad, jangan kayak gini. Orang-orang pada ngeliatin kita," bisik Ibas yang berusaha melepaskan pelukan Nadia dari tubuhnya.
"Aku kangen kamu, Bas," kata Nadia. Dia enggan melepaskan pria itu. "Gara-gara perempuan itu, kamu jadi jarang jengukin aku di rumah. Aku benar-benar kesepian tanpa kamu, Bas."
Ibas menghela napas panjang. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Dia sudah terlambat lima belas menit untuk ke kantor.
"Nanti, aku akan ke tempat kamu sepulang kerja. Gimana?"
"Jangan janji-janji terus! Aku nggak suka."
"Aku nggak sekadar janji. Kali ini, aku bakal buktiin kalau aku serius."
"Nginep, ya?" bujuk Nadia dengan nada manjanya. Dia bersandar di dada Ibas sambil mendongak menatap pria itu.
"Nggak bisa, Nadia. Apa kata orang kalau aku nginep di tempat kamu? Kita belum jadi pasangan suami-istri. Nggak baik kalau aku nginep di tempat kamu."
"Kamu tetap mau pulang ke sini?" tanya Nadia. Dia menegakkan punggungnya sambil menatap Ibas dengan murka.
"Apa jangan-jangan, kamu sama perempuan itu udah tidur bareng, Bas?" lanjutnya dengan tuduhan yang membuat Ibas jadi tergeragap.
"Mana mungkin, Nadia," sangkal Ibas. "Tidur seranjang sama dia aja, aku nggak pernah, kok."
"Bohong!" hardik Nadia. "Perempuan itu pasti udah ngasih tubuh dia ke kamu makanya kamu ketagihan dan mau terus balik sama dia."
"Nad, jangan keras-keras ngomongnya!" peringat Ibas.
"Kenapa kalau aku ngomongnya keras-keras? Kamu nggak terima? Kamu nggak rela kalau pel@cur sialan itu jadi malu?"
"NADIA!!!" bentak Ibas dengan kesabaran yang sudah hampir habis. "Jaga bicara kamu! Aliya bukan pel@cur!"
Dada Ibas tampak naik turun karena emosi. Menurutnya, perkataan Nadia sudah sangat keterlaluan.
Nadia boleh marah kepada Aliya. Namun, jika harus melontarkan kata-kata kotor seperti itu untuk menghina Aliya, Ibas tak akan pernah terima.
Mungkin, Nadia memang orang yang Ibas cintai. Tapi, Aliya adalah perempuan yang dititipkan kedua orangtuanya untuk dia jaga. Ibas tak bisa melanggar amanah itu sekali pun sudah menceraikan Aliya secara diam-diam.
"Lihat, kan?" timpal Nadia. "Kamu terus belain dia. Padahal, perempuan sialan itu udah nampar aku, loh! Kamu lihat kan, tadi?"
Ibas membuang muka ke arah lain. Ya, tadi dia memang melihatnya. Tapi, melihat reaksi Aliya yang seperti tidak takut sama sekali, membuat Ibas jadi merasa ragu dan mulai mempertanyakan kronologi sebenarnya dalam hati.
Benarkah Aliya yang memulai atau justru Nadia?
"Nad, tolong bersikap dewasa! Jangan meledak-ledak kayak gini!"
"Bagaimana mungkin aku bisa bersikap dewasa, Bas? Pacarku direbut sama perempuan lain," pekik Nadia sambil menangis
Ibas tampak menghela napas panjang. Kepalanya benar-benar terasa penuh.
"Tapi, aku masih tetap di sini. Aku masih setia sama kamu, Nadia."
"Kalau gitu, buruan tinggalin dia!"
"Tunggu sampai Bunda sembuh dulu, Nadia! Please!" mohon Ibas yang merasa posisinya jadi serba salah.
Dia terjebak ditengah-tengah. Antara orangtuanya dan Nadia, dia tak bisa memilih. Sebisa mungkin, Ibas ingin membuat orangtuanya dan Nadia jadi berdamai.
Namun, usaha tersebut akan sia-sia jika sikap Nadia terus seperti ini.
"Oke. Aku kasih kamu satu kesempatan lagi! Kalau sampai Bunda kamu udah sembuh tapi kamu masih tetap bertahan sama dia, maka aku akan kembali ke luar negeri!"
Nadia mengancam. Saat ini, dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Keberadaan Aliya merupakan ancaman yang benar-benar besar.
Apalagi, Nadia sudah melihat wajah asli Aliya. Perempuan itu ternyata sangat cantik. Jika terus dibiarkan, maka tinggal menunggu waktu, Ibas pasti akan jatuh cinta kepadanya.
Brak!
Baik Ibas maupun Nadia jadi tersentak kaget saat Aliya datang dan melemparkan tas kerja milik Ibas.
"Al, apa-apaan, sih?" protes Ibas.
"Bu Inggar terus teflon dari tadi. Beliau tanya, kenapa Mas Ibas belum sampai kantor juga? Katanya, kalau Mas Ibas nggak sampai dalam dua puluh menit, Bu Inggar akan langsung kirim surat pemecatan Mas Ibas ke Ayah."
Ucapan Aliya membuat netra Ibas jadi membulat. Bu Inggar adalah orang kepercayaan Ayahnya sekaligus atasan Ibas di kantor.
"Terus, kamu bilang apa sama Bu Inggar?" tanya Ibas. "Kamu nggak bantuin aku cari alasan, Al?"
"Ya, nggaklah. Buat apa juga, Mas? Lagipula, aku juga nggak mau berbohong. Dosa."
Aliya berkata dengan santainya. Wajahnya terlihat menyebalkan karena dihiasi senyuman yang seolah tidak ada beban sedikit pun.
Padahal, Ibas sudah ketar-ketir dalam hati.
"Bas, aku haus. Minta dia bikinin aku minum, dong!" pinta Nadia dengan nada manja. "Anggap aja, sebagai bentuk permintaan maaf dia ke aku."
Ibas tampak serba salah. Semalam, dia sudah berjanji tidak akan membuat Aliya jadi pembantu untuk Nadia. Tapi, sekarang? Apa yang harus dia lakukan?
"Aku minta tolong sama Bibi aja, ya!" kata Ibas.
"Nggak mau," tolak Nadia cepat. "Aku maunya dia yang bikin," lanjutnya berkata.
"Al..."
"Apa?" sahut Aliya dengan nada galak.
"Al, anggap aja sebagai bentuk permintaan maaf. Gimana?"
"Memangnya, aku salah apa?" tanya Aliya.
"Tadi, kamu udah nampar Nadia," jawab Ibas.
"Memangnya, dia nggak nampar aku? Dia yang mulai duluan. Aku cuma bales aja."
Degh!
Dahi Ibas sedikit terlipat. Dia menatap Nadia dan Aliya secara bergantian.
Aliya tampak begitu tenang sementara Nadia malah terlihat gelisah sekaligus marah.
"Nad, apa kamu yang nampar Aliya duluan?" tanya Ibas.
Nadia reflek menggeleng. "Mana mungkin, Bas! Aku mana pernah nyakitin orang," sangkalnya penuh kepura-puraan.
"Di rumah ada CCTV kan, Mas?" tanya Aliya.
Mata Nadia reflek membulat. CCTV? Dimana?
"Kamu bisa cek CCTV kalau mau lihat buktinya," lanjut Aliya.
"Nggak usah, Bas!" sambar Nadia cepat. Wajahnya terlihat gugup.
"Kenapa, Nad?" tanya Ibas yang saat ini tak bisa untuk tidak curiga.
"Anggap aja kejadian tadi nggak pernah terjadi. Aku udah maafin Aliya, kok. Aku nggak mau, cuma karena masalah ini hubungan kalian jadi semakin buruk."
Nadia berusaha mencari alasan. Dia mendadak berubah baik dan pengertian.
"Kalau gitu, aku pulang dulu, Bas. Bye..." pamit Nadia.
Cup!
Dia mengecup pipi Ibas secara singkat. Hal tersebut membuat hati Aliya yang melihat jadi terasa panas.
"Hati-hati," kata Ibas dengan nada datar.
Nadia mengangguk kemudian berlalu begitu cepat.
Setelah Nadia pergi, Aliya pun hendak beranjak meninggalkan Ibas. Dia ingin ke dapur.
"Al, tunggu!" kata Ibas sambil memegang pergelangan tangan Aliya.
Perempuan itu pun menoleh kemudian melepaskan pegangan Ibas dari pergelangan tangannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Aliya.
"Aku minta maaf soal yang tadi. Aku yang nggak bijaksana dengan menuduh kamu secara sepihak. Aku... benar-benar minta maaf."
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Aliya tiba-tiba tersenyum lebar. Dan, di mata Ibas, senyum itu sangatlah manis.
"Kenapa senyum?" tanya Ibas tak mengerti. Senyum itu membuat dirinya jadi merasa lebih baik.
"Aku bangga sama Mas Ibas. Sekarang, Mas Ibas udah kembali jadi diri Mas Ibas yang dulu."
"Aku... yang dulu?" tanya Ibas tak mengerti.
Aliya menghela napas panjang. "Mungkin, Mas Ibas nggak ingat. Tapi, aku akan selalu ingat."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺