NovelToon NovelToon
MANTAN ISTRI SATU MILIAR

MANTAN ISTRI SATU MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
​Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
​Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
​Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang salah

Nadia terus memeluk Ibas sedari tadi. Hal tersebut tak luput dari perhatian orang-orang yang bekerja di rumah itu.

Ibas pun jadi semakin pusing. Jika orangtuanya tahu kalau Nadia sudah berani mendatanginya ke rumah, entah hukuman apa yang akan mereka berikan terhadap dirinya.

"Nad, jangan kayak gini. Orang-orang pada ngeliatin kita," bisik Ibas yang berusaha melepaskan pelukan Nadia dari tubuhnya.

"Aku kangen kamu, Bas," kata Nadia. Dia enggan melepaskan pria itu. "Gara-gara perempuan itu, kamu jadi jarang jengukin aku di rumah. Aku benar-benar kesepian tanpa kamu, Bas."

Ibas menghela napas panjang. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Dia sudah terlambat lima belas menit untuk ke kantor.

"Nanti, aku akan ke tempat kamu sepulang kerja. Gimana?"

"Jangan janji-janji terus! Aku nggak suka."

"Aku nggak sekadar janji. Kali ini, aku bakal buktiin kalau aku serius."

"Nginep, ya?" bujuk Nadia dengan nada manjanya. Dia bersandar di dada Ibas sambil mendongak menatap pria itu.

"Nggak bisa, Nadia. Apa kata orang kalau aku nginep di tempat kamu? Kita belum jadi pasangan suami-istri. Nggak baik kalau aku nginep di tempat kamu."

"Kamu tetap mau pulang ke sini?" tanya Nadia. Dia menegakkan punggungnya sambil menatap Ibas dengan murka.

"Apa jangan-jangan, kamu sama perempuan itu udah tidur bareng, Bas?" lanjutnya dengan tuduhan yang membuat Ibas jadi tergeragap.

"Mana mungkin, Nadia," sangkal Ibas. "Tidur seranjang sama dia aja, aku nggak pernah, kok."

"Bohong!" hardik Nadia. "Perempuan itu pasti udah ngasih tubuh dia ke kamu makanya kamu ketagihan dan mau terus balik sama dia."

"Nad, jangan keras-keras ngomongnya!" peringat Ibas.

"Kenapa kalau aku ngomongnya keras-keras? Kamu nggak terima? Kamu nggak rela kalau pel@cur sialan itu jadi malu?"

"NADIA!!!" bentak Ibas dengan kesabaran yang sudah hampir habis. "Jaga bicara kamu! Aliya bukan pel@cur!"

Dada Ibas tampak naik turun karena emosi. Menurutnya, perkataan Nadia sudah sangat keterlaluan.

Nadia boleh marah kepada Aliya. Namun, jika harus melontarkan kata-kata kotor seperti itu untuk menghina Aliya, Ibas tak akan pernah terima.

Mungkin, Nadia memang orang yang Ibas cintai. Tapi, Aliya adalah perempuan yang dititipkan kedua orangtuanya untuk dia jaga. Ibas tak bisa melanggar amanah itu sekali pun sudah menceraikan Aliya secara diam-diam.

"Lihat, kan?" timpal Nadia. "Kamu terus belain dia. Padahal, perempuan sialan itu udah nampar aku, loh! Kamu lihat kan, tadi?"

Ibas membuang muka ke arah lain. Ya, tadi dia memang melihatnya. Tapi, melihat reaksi Aliya yang seperti tidak takut sama sekali, membuat Ibas jadi merasa ragu dan mulai mempertanyakan kronologi sebenarnya dalam hati.

Benarkah Aliya yang memulai atau justru Nadia?

"Nad, tolong bersikap dewasa! Jangan meledak-ledak kayak gini!"

"Bagaimana mungkin aku bisa bersikap dewasa, Bas? Pacarku direbut sama perempuan lain," pekik Nadia sambil menangis

Ibas tampak menghela napas panjang. Kepalanya benar-benar terasa penuh.

"Tapi, aku masih tetap di sini. Aku masih setia sama kamu, Nadia."

"Kalau gitu, buruan tinggalin dia!"

"Tunggu sampai Bunda sembuh dulu, Nadia! Please!" mohon Ibas yang merasa posisinya jadi serba salah.

Dia terjebak ditengah-tengah. Antara orangtuanya dan Nadia, dia tak bisa memilih. Sebisa mungkin, Ibas ingin membuat orangtuanya dan Nadia jadi berdamai.

Namun, usaha tersebut akan sia-sia jika sikap Nadia terus seperti ini.

"Oke. Aku kasih kamu satu kesempatan lagi! Kalau sampai Bunda kamu udah sembuh tapi kamu masih tetap bertahan sama dia, maka aku akan kembali ke luar negeri!"

Nadia mengancam. Saat ini, dia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Keberadaan Aliya merupakan ancaman yang benar-benar besar.

Apalagi, Nadia sudah melihat wajah asli Aliya. Perempuan itu ternyata sangat cantik. Jika terus dibiarkan, maka tinggal menunggu waktu, Ibas pasti akan jatuh cinta kepadanya.

Brak!

Baik Ibas maupun Nadia jadi tersentak kaget saat Aliya datang dan melemparkan tas kerja milik Ibas.

"Al, apa-apaan, sih?" protes Ibas.

"Bu Inggar terus teflon dari tadi. Beliau tanya, kenapa Mas Ibas belum sampai kantor juga? Katanya, kalau Mas Ibas nggak sampai dalam dua puluh menit, Bu Inggar akan langsung kirim surat pemecatan Mas Ibas ke Ayah."

Ucapan Aliya membuat netra Ibas jadi membulat. Bu Inggar adalah orang kepercayaan Ayahnya sekaligus atasan Ibas di kantor.

"Terus, kamu bilang apa sama Bu Inggar?" tanya Ibas. "Kamu nggak bantuin aku cari alasan, Al?"

"Ya, nggaklah. Buat apa juga, Mas? Lagipula, aku juga nggak mau berbohong. Dosa."

Aliya berkata dengan santainya. Wajahnya terlihat menyebalkan karena dihiasi senyuman yang seolah tidak ada beban sedikit pun.

Padahal, Ibas sudah ketar-ketir dalam hati.

"Bas, aku haus. Minta dia bikinin aku minum, dong!" pinta Nadia dengan nada manja. "Anggap aja, sebagai bentuk permintaan maaf dia ke aku."

Ibas tampak serba salah. Semalam, dia sudah berjanji tidak akan membuat Aliya jadi pembantu untuk Nadia. Tapi, sekarang? Apa yang harus dia lakukan?

"Aku minta tolong sama Bibi aja, ya!" kata Ibas.

"Nggak mau," tolak Nadia cepat. "Aku maunya dia yang bikin," lanjutnya berkata.

"Al..."

"Apa?" sahut Aliya dengan nada galak.

"Al, anggap aja sebagai bentuk permintaan maaf. Gimana?"

"Memangnya, aku salah apa?" tanya Aliya.

"Tadi, kamu udah nampar Nadia," jawab Ibas.

"Memangnya, dia nggak nampar aku? Dia yang mulai duluan. Aku cuma bales aja."

Degh!

Dahi Ibas sedikit terlipat. Dia menatap Nadia dan Aliya secara bergantian.

Aliya tampak begitu tenang sementara Nadia malah terlihat gelisah sekaligus marah.

"Nad, apa kamu yang nampar Aliya duluan?" tanya Ibas.

Nadia reflek menggeleng. "Mana mungkin, Bas! Aku mana pernah nyakitin orang," sangkalnya penuh kepura-puraan.

"Di rumah ada CCTV kan, Mas?" tanya Aliya.

Mata Nadia reflek membulat. CCTV? Dimana?

"Kamu bisa cek CCTV kalau mau lihat buktinya," lanjut Aliya.

"Nggak usah, Bas!" sambar Nadia cepat. Wajahnya terlihat gugup.

"Kenapa, Nad?" tanya Ibas yang saat ini tak bisa untuk tidak curiga.

"Anggap aja kejadian tadi nggak pernah terjadi. Aku udah maafin Aliya, kok. Aku nggak mau, cuma karena masalah ini hubungan kalian jadi semakin buruk."

Nadia berusaha mencari alasan. Dia mendadak berubah baik dan pengertian.

"Kalau gitu, aku pulang dulu, Bas. Bye..." pamit Nadia.

Cup!

Dia mengecup pipi Ibas secara singkat. Hal tersebut membuat hati Aliya yang melihat jadi terasa panas.

"Hati-hati," kata Ibas dengan nada datar.

Nadia mengangguk kemudian berlalu begitu cepat.

Setelah Nadia pergi, Aliya pun hendak beranjak meninggalkan Ibas. Dia ingin ke dapur.

"Al, tunggu!" kata Ibas sambil memegang pergelangan tangan Aliya.

Perempuan itu pun menoleh kemudian melepaskan pegangan Ibas dari pergelangan tangannya.

"Ada apa, Mas?" tanya Aliya.

"Aku minta maaf soal yang tadi. Aku yang nggak bijaksana dengan menuduh kamu secara sepihak. Aku... benar-benar minta maaf."

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

Aliya tiba-tiba tersenyum lebar. Dan, di mata Ibas, senyum itu sangatlah manis.

"Kenapa senyum?" tanya Ibas tak mengerti. Senyum itu membuat dirinya jadi merasa lebih baik.

"Aku bangga sama Mas Ibas. Sekarang, Mas Ibas udah kembali jadi diri Mas Ibas yang dulu."

"Aku... yang dulu?" tanya Ibas tak mengerti.

Aliya menghela napas panjang. "Mungkin, Mas Ibas nggak ingat. Tapi, aku akan selalu ingat."

1
Kar Genjreng
cinta di tolak bogem. bogem bertindak ya Bas,,,,jangan minta saja baik baik gitu ngomong secara baik jangan TREMOSI. juga ya sama Aufar. karena Aufar juga baik,,,bershujud Bas siapa tau dapat di mengerti oleh Aliya dan Aufar niatmu baik ya semoga ya ,,, tetapi luka Aliya memang dalam si Bas,,,,Yo berusahalah sekuat jiwa ragamu


👍😮👍👍👍💪
Ilfa Yarni
siapa yg bakal alya pilih augara atau balik ke iBas ya
sunaryati jarum
Tidak tahu malu dan menjilat ludahnya sendiri Ibas
Jangan sampai Aliya balikan sama Ibas.Seperti memperlakukan barang untuk uji coba, setelah dengan mantannya tidak enak mau coba istri yang telah dibuang dan dihina seperti barang dagangan dengan satu milyar, Alhamdulillah Aliya hanya mengambil 200 juta.
Kar Genjreng: kodrat kebanyakan laki laki kan seperti punya daya sendiri ,,,,setelah kehilangan baru lah menyesali,,,,
total 1 replies
partini
enak bener jadi Ibas,udah nyakitin menyesal minta rujuk
untung mantan istri cintanya tulus dan mulus jadi gampang rujuknya
Kar Genjreng
entah perasaan apa yang Aufar rasakan tetapi keliatan sangat menyayat hati,,,sedih campur lemes seketika. apakah nasibnya akan menjadi jomblo kembali dan cinta terpendam nya tidak pernah terealisasi 😭😭 tapi jodoh kadang kita tidak tahu,,,mungkin Ibas memang pernah gagal menjadi pasangan Aliya ,,, ya karena pengaruh dan belum tau rasanya kehilangan dan dalam keadaan terpuruk,,,nah sekarang baru menyadari ternyata wanita yang ada di samping nya dan telah di buang kini menjadi tempat untuk di rindukan,,,,maaf Aufar pasti akan ada gadis yang baik di tempat lain ,,,dan tentunya bisa menjadi rumah buat pulng untuk mu,,, biarlah asal. sepupu mu bisa bersatu ,,,kasih ultimatum bila menyakiti Aliya kembali tidak ada ampun,,, Ok lanjut
Ilfa Yarni
siapa yg akan dipilih alya aufar atau iBas penasaran
Aidil Kenzie Zie
nggak usah sok-sokan drama wong masalah ini kamu yang buat
Kar Genjreng
bas jangan TREMOSI dulu lo kan memang Aufar yang jaga Alya tetapi rupanya Aufar jaga adak
Kar Genjreng
😮 bagaimana ya kasih kesempatan tidak ya kalau ibas ngajak balikan,,,tapi kan tidak harus balikan to terserah juga si Aliya yg menguntungkan
Ilfa Yarni
.mknya bas jd laki2 itu jgn macam2 setelah sadar baru nyesel tp semua udah terlambat gmn sakit kan
Ilfa Yarni
bingung ya hrs milih siapa klo aku sih mending aufar tp ga tau jg kasian jg sebenarnya ibas
sunaryati jarum
Aufar nggak merebut tapi Aliya sudah kau lepaskan, lagian PD amat kamu jika.Aliya masih mau sama kamu
Kar Genjreng
cinta Aufar terkenzel kembali ya Allah melas men😄 deketin mantan sepupu nya di abaikan sekarang justru mantannya sedah berusaha sangat keras 💪 semangat Basss jangan kendor insyaf sudahan makanya lain kali punya wanita setia jangan di tipu dan ganjen abis haduuh rempes feh😮😮
Ilfa Yarni
m menyesalkan kmknya jd cowok itu yg benar iBas udah rasakan dulu apa yg dirasakan alya dulu
RaisyaMOM
Hai author mau nanya aja aku juga penulis dari 2020 waktu puncak jaya nya author ni mangatoon… sekarang masih kayak dulu gak si pambacanya 🥲 kangen nulis lagi
Kar Genjreng
ya karena Ibas sudah berubah dan ingin serius memperbaiki kembali bersama Aliya,,,,ya semoga saja Allah masih memberikan kesempatan buat orang yang sudah menyakiti tetapi sekarang sudah insyaf dan bertaubat. ,,,
Aidil Kenzie Zie
mana ada rebut Aliya dari kamu Bas kalian kan udah cerai
Arbaati
menarik, selalu ditunggu updatenya
Ilfa Yarni
imas knp dia sakit apa sebenarnya kasian jg iBas tp mau gmn lg itu udah konsekwensi dr perbuatannya pd alya dan skr baru menyesal
sunaryati jarum
Benar ikhlaskan Aliya itu konsekuensi dari perbuatamu padanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!