NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT I

Karinn diam sejenak, sesuatu lain terlintas dalam benaknya. “Tunggu. Kau ... masih bersekolah di sini?” Karinn mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya pada kaca transparan yang terdapat di pintu. “Ini bukan mimpi atau lamunanku, kan? Kau benar-benar ... ada di sini?”

   Masih di ambang kekosongannya, ingatannya pun lantas berputar kembali pada saat ia naik ke jenjang SMP, di kelas 7, empat tahun lalu. Ketika itu, tiba giliran Erica memperkenalkan diri. Guru mempersilakannya untuk maju ke samping podium, berdiri menghadap seluruh teman sekelasnya. Karena pada waktu itu gadis itu adalah gadis pindahan dari sekolah lain, jadi kedatangannya disambut dengan hangat dan penuh antusias.  

   “Aku suka lingkungan sekolah yang baru. Menurutku itu adalah hal yang menyenangkan karena rasanya seperti mendapatkan kejutan,” katanya memperjelas alasan mengapa ia bersekolah di SMP Putri Endley. 

   Gadis yang lain mengacungkan tangan, meminta izin untuk berbicara. “Apa saat SMA nanti kau akan pindah lagi?”

   “Ya, kurasa begitu.”

   “Dia jelas mengatakannya.” Karinn memijat pangkal hidungnya, mendadak semua yang ada di kepalanya berputar secara abstrak. Termasuk juga tentang kejadian mengerikan yang pernah terjadi di sekolah ini—kematian gadis di atap tiga tahun lalu.

   “Mungkinkah...” Karinn memusatkan seluruh perhatiannya pada seorang gadis berambut pendek yang dilihatnya tengah menyerok sampah menggunakan pengki. “alasanmu tidak pindah dari sekolah ini adalah karena kasus itu? Mungkinkah kau menyadarinya bahwa ... kau juga berada di panggung Drama?” Karinn menarik sudut bibirnya ke atas, tersenyum tipis sembari memutar manik matanya. 

   Semilir angin berembus pelan menerpa helaian rambut panjangnya, menyejukkan. Usai ia mengambil napas dalam sebagai penutup monolognya, ia pun beranjak pergi, melanjutkan kembali tujuannya ke kelas. Soal Erica yang membuatnya banyak berpikir tadi, biarlah berjalan sesuka dunia dan masing-masing individu mengatur. Ia optimis dapat bertahan sampai Drama berakhir.

   “Karinn!” Seseorang berseru memanggil namanya dari belakang, diikuti dengan bunyi langkah kaki berlari kecil. “Ternyata benar kau,” katanya dengan senyum lebar saat ia berhasil membuat langkah si pemilik nama berhenti. 

   Karinn membalikkan badan. “Ada apa?”

   “Kau masih ingat aku?”

   Karinn menyilangkan kedua tangannya ke dada, menelisik sang gadis dari atas kepala sampai ujung sepatu. “Tentu, mana mungkin aku melupakanmu ... Widya.”

   “Kita sudah lama tidak bertemu sejak aku naik ke tingkat 2. Bagaimana kabarmu?”

   “Yah, tidak ada yang spesial. Namun aku cukup menikmatinya sekarang.” 

   Bertemu dengan teman semasa SMP seharusnya menjadi momen paling menyenangkan, mengingat segala momen yang telah mereka lewati. Tetapi anehnya, senyum Widya perlahan-lahan memudar sampai kemudian yang tersisa di wajahnya hanyalah semburat kegelisahan yang tampak membayang. “...Ada yang mau kusampaikan padamu.”

   “Soal apa?”

   Widya menelan ludah, guna melancarkan kerongkongannya yang terasa sesak akibat gugup. Dengan kepala tertunduk, dia mulai bercerita. “....Itu ... Sebenarnya, tempo hari ada enam junior kelas 10 datang ke gudang. Mereka telah mendengar rumor hantu wanita yang merangkak terbalik.”

   Karinn mengangguk-angguk, tak banyak memberikan reaksi karena rumor cerita horor itu memang benar adanya, bahkan cukup populer di kalangan gadis. Oleh karena itu, dibanding menimbulkan perasaan takut, justru malah menimbulkan rasa penasaran. “Itu pasti sulit.” Dia mendekatkan jarak di antara mereka. Digenggamnya kedua bahu Widya, sembari berkata, “Terima kasih.”

   Widya mengangkat kepalanya, mempertemukan sepasang mata mereka lalu tersenyum. “Oh ya, tentang gudang itu, apa kau pernah datang lagi ke sana?”

   “Apa kau berusaha memastikan tidak ada yang datang meskipun bukan aku?”

   Widya mengangguk. “Kau bilang akan menanganinya begitu Drama berakhir. Jadi aku percaya bahwa kau tidak akan ingkar terhadap ucapanmu.”

   Karinn tersenyum, mengalihkan pandangannya menatap langit biru di luar jendela. Gumpalan awan yang selembut kapas itu tampak berarak pelan mengikuti arah gerak angin.

   “...Karinn.” Widya memanggil namanya ragu-ragu. “...Begini, aku hanya penasaran. Tentang Drama ... apakah secara kebetulan kau ... memerankan suatu tokoh?”

...• • • • •...

   Semakin hari gelap, para siswi yang datang ke Fe-Mart semakin ramai. Kebetulan juga dikabarkan bahwa hari ini beberapa camilan ringan yang mendekati tanggal kadaluarsa—kira-kira lima hari—dibanting harganya supaya terjual habis dalam waktu dekat. Tak heran makanya para siswi tidak lagi protes tentang keputusan kepala sekolah yang memerintahkan mereka untuk tinggal di asrama. Toh, lambat laun mereka mulai mengerti situasinya dan telah beradaptasi dengan baik sampai sejauh ini. 

   Piip..! Mesin scan mendeteksi label harga yang tertera. Sementara layar monitor menampilkan total keseluruhan harga yang telah dihitung secara otomatis. “Oh ya, bu, sebelum kau pergi, temuilah gadis yang sedang duduk dan makan mi di sana.” Sembari bibi petugas kasir memasukkan barang ke dalam kantong, ia mengarahkan jari jempolnya, membawa atensi sang pembeli kepada seseorang yang dimaksudnya. 

    “Oi, kau tidak kembali ke kamar?” tanyanya sembari menepuk bahunya. 

   Karinn yang sedang menghabiskan suapan terakhirnya, menggeleng. 

   “Kau masih marah?” 

   Tiba-tiba diberi pertanyaan begitu, tentu Karinn bereaksi mendongakkan kepalanya pada seseorang di sebelahnya. Tahu bahwa yang sedang berbasa-basi tadi adalah Dianna, dia langsung melotot sinis, lalu mengacungkan jari tengah tanpa berkata apa pun.

   “Wah, kau benar-benar pandai menggunakan bahasa isyarat.” Dianna balas melakukan hal serupa juga, impas. “Kembalilah ke kamar sebelum makan malam. Kak Ariana mau menyampaikan beberapa informasi tentang obrolan kita kemarin. Jangan sampai terlambat, Sherlock.” Dia menepuk bahu Karinn sekali lagi, tapi kali ini menandakan perbincangan mereka berakhir walau tanpa timbal balik. Dia tahu makhluk itu masih merajuk perihal uangnya yang terbawa angin, jadi apa boleh buat, kemungkinan besar selama tiga hari ke depan dia akan dipelototi olehnya meski dari kejauhan. 

   Setelah Dianna pergi bersama tiga orang temannya, Karinn baru ingat bahwa anak itu adalah teman sekamarnya selama bulan ini. Sial, kalau begitu dia akan berjumpa dengan si pemilik wajah menyebalkan itu setiap hari. “Sudah berapa kesialan yang kuterima hari ini?” Karinn menjatuhkan kepalanya ke meja, mendesah berat. 

   Kursi di sebelahnya berderit, seseorang menariknya dan duduk sembari bertanya, “Kau sudah lama menunggu?” 

   Mendengar suara yang amat dikenalnya, Karinn pun langsung mengangkat kepalanya, mendapati sosok sang wali kelasnya yang juga sedang menatap dirinya; Bu Kaila. “Ah, tidak.” Dia terkekeh, buru-buru memperbaiki sikap tubuhnya.

   “Ibu dengar kau mau berbincang. Karena pertemuan kita sekarang di luar jam sekolah, jadi santai saja dan katakan.”

   Karinn menggaruk tengkuk kepalanya yang mendadak terasa gatal, bingung dari mana dia harus membuka topik obrolan. “...Itu. Aku hanya ... penasaran kenapa ibu sering berkunjung ke gedung asrama?”

   “Tidak ada alasan khusus. Ibu suka suasana di sini karena tampaknya para gadis lebih terbuka dengan yang lain.”

   “Oh, maksud ibu, ibu sedang belajar mengamati?”

   “Ya, mungkin kau bisa menyimpulkannya begitu.”

   Karinn manggut-manggut menyetujui, namun tubuhnya justru bereaksi lain. Manik matanya melirik-lirik ke sembarang arah, sesekali ia juga menggaruk tengkuk kepalanya tanpa alasan. Dia dilanda kebingungan begitu topik pertamanya—alias basa-basinya—selesai dengan cepat. Canggung. 

   “Karinn, bukan itu, kan pertanyaanmu sebenarnya?”

   

...• • • • •...

   Hari sudah gelap sejak matahari terbenam di ufuk barat, meninggalkan jejak jingga yang perlahan-lahan memudar menjadi kelam. Langit yang sebelumnya cerah kini bertransformasi menjadi kanvas malam yang dipenuhi bintang-bintang berkelip. Suara riak-riuh aktivitas di siang hari mulai mereda, digantikan oleh kenyamanan malam yang menenangkan.

   “Karinn menolak teleponku akhir-akhir ini.”

   Dinding koridor memantulkan gelombang suara yang merambat. Lampu pendar yang menempel di langit-langit pun juga tidak dinyalakan, menambah sensasi ketegangan di tengah gelapnya malam. 

   “Kau juga tidak melaporkan apa-apa tentang perkembangannya sejauh ini. Apa yang kalian lakukan? Kalian merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuanku?” Kean bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri sang adik ipar yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. 

   “Sebaiknya bertanya jika tidak tahu. Kau membuatku kesal,” balas Riyan. Jari-jarinya sibuk mengetik ribuan kata pada papan keyboard, sementara tumpukan berkas yang belum selesai diperiksanya menumpuk berjajar di mejanya. Mengingat dalam tiga sampai empat pekan nanti akan terselenggara seminar kampus, ujian akhir, olimpiade sains, festival sekolah, pelantikan OSIS, dan kegiatan besar lainnya, jadi belakangan ini dia bekerja lembur bersama para guru yang ikut berpartisipasi dari jarak jauh. 

   “Kau yang selalu berada di dekatnya. Itu sebabnya aku bertanya padamu,” sambung Kean lagi. Dia selaku wali Karinn, beranggapan bahwa hal terkecil pun penting baginya. Namun karena hubungan mereka tidak lagi seharmonis ketika Keisha—istrinya—masih hidup, kadang-kadang dia merasa kesulitan memahami situasi sang putri semata wayangnya itu. 

   “Semuanya sudah diatur. Kau tidak perlu memikirkannya. Kalau Karinn butuh solusi atau mau berdiskusi tentang masalahnya, dia pasti akan datang tanpa diminta. Sebaiknya kau jangan cemaskan hal yang tidak-tidak. Aku sepenuhnya percaya padanya, maka kau pun juga harus begitu.” Riyan mendongakkan kepalanya, mempertemukan kedua mata mereka yang saling bersitatap dalam diam.

   “Sudah kuduga, kau tidak menjaganya sebaik kakakmu.” Kean menyilangkan kedua tangannya ke dada, mengalihkan kontak mata lebih dulu sambil berucap dengan nada ketus. 

   “Bicaralah sesukamu. Setelah itu silakan pergi dari ruanganku,” balasnya. 

   Kean tersenyum menyeringai. Lalu tanpa menggubris perkataan Riyan, dia mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. “Kau ingin mengatakan sesuatu?” katanya sembari menyodorkan kertas tersebut. 

   Riyan menoleh sebentar, berniat memeriksa. Dalam sekali kedip, dia langsung tahu bahwa kertas yang ditunjukkan Kean itu bukanlah kertas yang berisi coretan abstrak belaka. Itu adalah bukti petunjuk tentang kematian Keisha yang disamarkan menjadi kecelakaan lalu lintas. Pada saat itu kasusnya ditutup begitu saja tanpa investigasi ulang karena tidak ditemukannya bukti baru. Secarik kertas yang ditemukan Karinn pun tidak diterima oleh pihak kepolisian dengan alasan tidak memiliki informasi valid, sehingga penyebab kematiannya juga kecelakaannya tidak pernah diketahui selama bertahun-tahun. 

   Akhirnya Karinn-lah yang memutuskan sendiri untuk menyimpan kertas itu dan menyelidiki kasusnya secara diam-diam meski tanpa melibatkan bantuan polisi. Namun sejak ia terpilih menjadi pemain Drama di sekolahnya, kertas itu diserahkan kepada Riyan untuk sementara waktu sampai ia lulus SMA. Dan kesalahan mereka berdua adalah membiarkan Kean selaku keluarga yang pantas terlibat tidak mengetahuinya. 

   “Kenapa reaksimu begitu?” tanya Kean, nadanya terdengar lebih seperti seseorang yang sedang mengintimidasi. “Kau tidak penasaran kertas apa itu? Oh ya, mungkin kau juga ingin tahu bagaimana aku mendapatkannya?”

   Riyan mendongakkan kepalanya, menelisik cahaya lampu yang membayang di wajah si lawan bicara. “Inilah alasan mengapa kau sebaiknya tidak tahu.” Dia mengambil kertas itu, lalu memasukkannya ke dalam laci. “Tidak, lebih tepatnya kau sendirilah yang menentukan apakah kau layak mengetahuinya atau tidak. Maka itu, berpikirlah sekeras kau berprasangka. Intinya kami mengesampingkan masalah ini sampai Drama berakhir.” Riyan bangkit dari kursinya, menyamakan tinggi badannya dengan si lawan bicara. “Tapi, kuperingatkan padamu. Jangan coba-coba kau membahas perihal kertas petunjuk itu di depan Karinn. Kaulah yang paling tahu apa yang dibenci putrimu, jadi silakan lakukan jika kau ingin semakin jauh darinya.”

   Tersulut emosi dari serangkaian kata-kata sang adik ipar, Kean pun dengan penuh geram langsung mencengkeram kerah seragamnya. “Bedebah! Kaukah yang menyuruh Karinn untuk berada di pihakmu? Apa yang kau lakukan padanya?! Apa yang kau lakukan?!”

...• • • • •...

   Sejak ia melangkah keluar melewati pintu Fe-Mart, wajahnya murung bak zombie yang berkeliaran tanpa arah. Empat lantai yang panjang pun berlalu begitu saja ia lewati tanpa menggunakan lift. Sepatu yang diseretnya mengeluarkan bunyi monoton, mengisi kekosongan koridor gedung asrama. Setiap kakinya melangkah, rasanya setiap detik berlalu dengan cepat. Dia memijat pangkal hidungnya, mendesah berat. Waktu terus bergerak maju, namun karena ia memikirkannya berlarut-larut, maka ilusi ingatannya tampak nyata seakan momen saat dia berbincang dengan Bu Kaila kembali berputar.

   “Hebat, ibu bisa tahu ada yang kusembunyikan.” Karinn terkekeh. Walau jantungnya merespons dengan berdetak cepat dan perasaan aneh menyelimutinya, ia lega setidaknya memiliki peluang untuk berterus terang. 

   “Tentu.” Bu Kaila tersenyum, menampakkan deretan gusi merah mudanya yang lembut. “Ibu lebih lama mengenalmu dibanding yang lain. Jadi santai saja, dan katakan apa pun.” 

   “Benar. Saat aku SD, kudengar para senior banyak membicarakan guru baru. Itu kau, Bu Kaila.”

   “Ibu mengajar di SD hanya setahun. Setelah itu ibu dipromosikan dan kemudian menjadi guru SMP.”

   “Menurutku itu aneh. Ibu mengajar di SD lebih tepatnya di kelas tahun senior, kelas enam. Lalu ibu bilang padaku bahwa ibu mengenalku lebih lama karena kita bertemu sejak SD?”

   Bu Kaila tidak langsung memberi jawaban. Dia berpikir sejenak baru kemudian mengangguk dengan ragu-ragu. 

   “Jelas itu aneh. Pada tahun ibu menjadi guru baru, aku kelas lima. Jadi bagaimana bisa ibu menyimpulkan kita pernah bertemu?”

   “Bukankah kita bertemu di kelas enam?”

   Karinn menggeleng. 

   “Sungguh? Ah, apa ada yang salah, ya? Ibu yakin ada gadis yang dipanggil dengan nama Karin.” Bu Kaila menyilangkan kedua tangannya ke dada, mulai mengingat-ingat bagaimana sosok salah seorang gadis di kelasnya dulu. “Dia orang yang ceria, banyak bercerita, dan sering membual. Karena tampak mencolok, jadi ibu masih mengingatnya. Um, ya, mungkin tidak dengan wajahnya.” 

   “Bu Kaila, ibu bilang dia dipanggil dengan nama Karin?”

   Bu Kaila mengangguk. “Ibu dengar dia turun kelas karena direhabilitasi selama enam bulan akibat ledakan gas saat karyawisata. Pendengarannya mengalami gangguan dan dia mengalami syok cukup parah. Selain itu, dia yatim piatu dan sempat tinggal di panti asuhan sebelum kemudian di adopsi. Anak itu ... bukan kau?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!