Wira Wisanggeni, seorang yatim piatu yang kehilangan orang tuanya akibat kekejaman prajurit kerajaan, diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh. Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sayembara Hanyalah Kedok
Debu halus mengepul dari lantai panggung saat jangkar raksasa seberat ratusan kilogram itu menghantam kayu jati samudera hingga hancur berkeping-keping.
Namun, Wira sudah tidak ada di sana. Ia berdiri tegak di atas batang jangkar yang tertancap, menyeimbangkan tubuhnya dengan ujung kaki seolah gravitasi hanyalah saran, bukan hukum.
Siwa di tangannya bergetar, memancarkan aura biru tipis yang menyelimuti seluruh tubuh Wira.
"Bocah, kau bergerak sedikit lambat. Apa kakimu masih lemas karena kejadian di kamar tadi?" ejek Siwa, suaranya bergema di pusat kesadaran Wira.
"Diamlah, Tongkat Jelek. Aku sedang mencoba membangun suasana dramatis," balas Wira dalam hati, meskipun telinganya sedikit memanas mengingat senyum Sekar di pinggir arena.
Raksasa bertato ombak itu, yang dikenal sebagai Bala Segara, menggeram rendah.
Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia telah mencapai Ranah Gelombang Karang tahap puncak. Ia menarik rantai jangkarnya dengan sentakan yang mampu merobohkan tembok kota, namun Wira justru melompat ringan, berputar di udara seperti daun yang tertiup badai.
"Jangan hanya melompat seperti kutu, bocah tengik! Hadapi kekuatanku!" teriak Bala Segara.
Ia mengalirkan sukmanya ke lantai panggung. Seketika, kelembapan udara di sekitar arena memadat, membentuk tombak-tombak air yang tajam dan melesat ke arah Wira dari segala penjuru.
Wira mendarat dengan tenang. Ia tidak menghindar. Ia memutar Siwa dengan gerakan melingkar yang lambat namun presisi.
Setiap tombak air yang menyentuh jangkauan putaran Siwa mendadak kehilangan momentumnya, melunak, dan jatuh kembali menjadi tetesan air biasa di kaki Wira.
"Teknik apa itu?" bisik salah satu penasihat di samping Kaisar Baruna.
Kaisar Baruna, yang duduk di singgasana megahnya, tidak menjawab. Matanya yang sedalam palung laut menatap tajam ke arah Siwa.
Ia merasakan getaran kuno dari kayu itu, getaran yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang peserta sayembara rendahan.
"Itu bukan teknik air," gumam Kaisar Baruna dingin.
"Itu adalah teknik peniadaan energi, Hmmm bocah ini menarik." lanjutnya dengan senyuman aneh.
Di panggung, Wira mulai merasa bosan. Ia melihat ke arah Sekar yang menatapnya dengan cemas, lalu kembali menatap raksasa di depannya.
"Paman, pagi ini ada yang memberikan energi kepadaku terlalu banyak. Jika aku tidak segera menyelesaikannya, aku takut energi ini akan segera hilang," ucap Wira dengan wajah polos yang menyebalkan.
"Kurang ajar!"
Bala Segara melompat tinggi, mengangkat jangkarnya dengan kedua tangan di atas kepala. Ia mengerahkan seluruh energinya, menciptakan bayangan gelombang pasang raksasa di belakang tubuhnya.
Ini adalah teknik andalannya,
"Hantaman Samudera Penghancur Karang." teriak Bala Segara mengeluarkan jurusnya.
Wira menarik napas panjang. Ia sedikit merendahkan kudanya, memegang Siwa dengan kedua tangan.
Ia tidak menggunakan energi biru langitnya secara mencolok. Ia hanya meminjam sedikit frekuensi dari Ranah Arus Pasang yang ada di atmosfer sekitar, lalu membalikkannya.
"Satu ketukan untuk menenangkan laut," bisik Wira.
TUK.
Ujung Siwa hanya menyentuh permukaan jangkar yang sedang melesat turun.
Tidak ada ledakan besar dan tidak ada dentuman keras, tapi yang terjadi justru lebih mengerikan bagi yang memahami kultivasi tingkat tinggi yaitu, seluruh energi raksasa dari Bala Segara terserap masuk ke dalam Siwa, lalu dilepaskan kembali dalam bentuk gelombang kejut murni yang menghantam dada raksasa itu.
Bala Segara terpental keluar arena, melintasi pagar pembatas, dan jatuh ke dalam air laut dengan deburan yang dahsyat. Ia pingsan seketika, jangkarnya patah menjadi dua bagian.
Seluruh alun-alun terdiam. Para pendekar yang mengantre di barisan pendaftaran menelan ludah serentak.
Seorang pendekar dari barisan rendahan baru saja menumbangkan seorang elit kerajaan hanya dengan satu ketukan tongkat kayu.
Wira membungkuk ke arah Kaisar, lalu berjalan turun dari panggung dengan gaya santai seolah baru saja menyelesaikan tugas belanja ubi di pasar.
Di bawah tribun, Sekar segera menyongsongnya. Wajahnya masih memerah, namun matanya memancarkan rasa lega yang luar biasa. Ia memberikan botol minum kepada Wira tanpa banyak bicara.
"Kau terlalu mencolok, Wira," bisik Sekar pelan saat mereka berjalan menuju tenda istirahat.
"Kaisar dan para jenderalnya sekarang tidak akan melepaskan pandangan darimu." lanjut Sekar memperingatinya.
"Biarkan saja, Sekar. Jika aku bertarung terlalu lama dengan si raksasa tadi, bajuku akan basah kuyup. Aku tidak mau kedinginan lagi," jawab Wira sambil mengerlingkan mata, merujuk pada kehangatan yang mereka bagi di pagi hari.
Sekar mencubit pinggang Wira dengan keras. "Masih sempat-sempatnya kau bicara begitu!"
"Ahem!" Siwa berdehem keras di batin Wira.
"Bocah, jika kau terus bermesraan, kau tidak akan sadar bahwa tiga orang jenderal Ranah Badai Samudera baru saja meninggalkan tribun. Umm, kurasa sepertinya mereka pergi untuk menyiapkan penyambutan khusus untukmu di babak selanjutnya." ucap Siwa menerka.
Wira menghentikan langkahnya sejenak. Ia meraba jimat melati di kantongnya, lalu menatap kerumunan pendekar di sekelilingnya.
Ia melihat banyak dari mereka yang tampak ketakutan dan tertindas. Sistem peradilan di Samudera Biru ini benar-benar busuk.
"Sekar, kau rasakan itu?" tanya Wira.
Sekar langsung mengangguk. "Tekanan energinya menguat. Formasi penghisap sukma di kota ini seolah sedang dipaksa bekerja dua kali lipat."
"Kaisar Baruna tidak hanya mencari pendekar baru," gumam Wira.
"Dia sedang mengumpulkan bahan bakar. Sayembara ini adalah kedok untuk ritual besar. Mungkin dia ingin menembus ranah di atas Kedalaman Abadi dengan mengorbankan sukma para peserta." lanjut Wira dengan pemikirannya.
Malam itu, Wira dan Sekar tidak kembali ke penginapan mereka yang lama. Mereka memilih untuk bersembunyi di atap salah satu gudang tua di dekat pelabuhan.
Wira duduk bersila, mencoba memulihkan energinya yang terkuras, bukan karena pertarungan, melainkan karena proses pembersihan sukma yang ia bagikan secara rahasia kepada peserta lain melalui getaran Siwa saat di panggung tadi.
"Kenapa kau melakukannya, Wira? Kau bisa membahayakan intimu sendiri dengan memurnikan sukma orang lain di wilayah musuh," tanya Sekar sambil duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu Wira.
"Guru bilang bumi adalah target selanjutnya, Sekar. Jika aku membiarkan pendekar-pendekar di sini menjadi lemah dan dihisap oleh Baruna, maka saat entitas kuno itu turun, bumi tidak akan punya perlawanan. Aku harus menjaga agar api di dalam diri mereka tetap menyala, meski hanya sedikit," jawab Wira lembut.
Tiba-tiba, Siwa bergetar hebat.
"Waspada! Tamu tak diundang datang dari tiga arah!" teriak Siwa dalam kepala Wira dan Sekar bersamaan.
Dari balik kegelapan malam, tiga sosok muncul di atap gudang tersebut. Mereka mengenakan jubah biru tua dengan emblem gurita perak di dadanya.
Masing-masing memancarkan aura yang membuat udara terasa berat dan basah. Mereka adalah jenderal-jenderal kepercayaan Kaisar Baruna.
"Wira... atau siapa pun namamu yang sebenarnya," ucap salah satu jenderal yang membawa tombak trisula.
"Kaisar mengundangmu untuk makan malam pribadi di istana. Namun, beliau bilang jika kau menolak, kami diizinkan membawa kepalamu saja sebagai gantinya." lanjut jenderal itu dengan sinis dan kejam.
Wira hanya berdiri perlahan, memegang Siwa dengan santai lalu ia melirik Sekar yang sudah mencabut kedua pedang peraknya.
"Makan malam? Apakah ada ubi madu?" tanya Wira dengan nada bercanda yang dipaksakan.
"Hanya ada kematian untuk pendekar yang berani mengacaukan frekuensi energi kerajaan kami," jawab jenderal kedua, seorang wanita dengan cambuk air yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Pertempuran rahasia di atas atap gudang pun pecah. Ketiga jenderal itu menyerang secara bersamaan, menciptakan pusaran air raksasa di atas gudang yang mengisolasi suara dan pandangan dari luar.
Wira bergerak seperti bayangan. Ia tidak lagi menahan diri seperti saat di panggung. Siwa memancarkan cahaya biru langit yang terang, menangkis setiap serangan trisula dan cambuk air.
"Bocah, gunakan teknik Pusaran Langit! Kita tidak punya banyak waktu sebelum pasukan tambahan datang!" perintah Siwa.
Wira mengangguk. Ia menghentakkan ujung Siwa ke atap gudang.
Seketika, gravitasi di sekitar mereka berubah. Air yang dikendalikan oleh para jenderal itu mendadak menjadi sangat berat hingga mereka tidak mampu mengangkat senjata mereka sendiri.
"Bagaimana mungkin... kau berada di ranah apa?!" teriak jenderal trisula dengan wajah pucat.
"Aku? Aku hanya seorang penjual ubi yang sedang liburan di sini saja dan kebetulan ada sayembara," jawab Wira dingin.
Dengan satu sapuan Siwa, ketiga jenderal itu terpental jauh ke arah laut. Wira tidak membunuh mereka, namun ia telah mengunci aliran sukma mereka untuk sementara waktu.
Wira menatap ke arah istana Kaisar yang menjulang tinggi di kejauhan. Ia menyadari bahwa permainannya sebagai pendekar rendahan sudah berakhir karena Kaisar Baruna sudah tahu siapa dia, atau setidaknya tahu bahwa dia adalah ancaman untuknya.
"Sekar, besok adalah babak final. Dan aku rasa, kita tidak akan bertarung di arena," ucap Wira.
"Lalu bagaimana?" tanya Sekar.
"Di jantung istana itu. Kita akan menghentikan ritual Baruna sebelum matahari terbit. Aku punya perasaan bahwa jika kita menunggu besok, benua ini akan menjadi lautan mayat." lanjut Wira menjelaskan kekhatirannya.
Wira menatap ke langit, ke arah awan yang mulai berputar persis seperti saat di Majapatih.
Entitas kuno itu sedang mengintip dari balik tirai langit, menunggu saat yang tepat untuk menerkam.
"Siwa, bersiaplah. Kita akan melakukan penyelaman di hidup kita lagi."
"Tentu saja, Bocah. Tapi setelah ini, kau benar-benar harus mentraktirku pemandangan yang lebih bagus dari sekadar punggungmu yang berkeringat! Hahahaha..." jawab Siwa menggoda yang di akhiri dengan tawanya.
Wira tertawa kecil, menggandeng tangan Sekar, dan mereka berdua melesat menembus kegelapan menuju istana, memulai misi bunuh diri untuk menyelamatkan sebuah kerajaan yang bahkan sangat asing di telinga mereka.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁