NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Setelah kegaduhan di perpustakaan mereda, Hallen yang masih bingung dan merasa canggung setelah insiden pelukan serta ucapan aneh Lyana, segera berpamitan dengan terburu-buru. Lyana sendiri menghilang ke arah parkiran dengan langkah kaki yang menghentak, meninggalkan aura kebencian yang masih tertinggal di udara.

Julian memberikan kode mata kepada Kenzie. Tanpa kata, Kenzie mengikuti langkah lebar Julian menuju area taman belakang sekolah yang jarang dikunjungi siswa, sebuah sudut dengan pepohonan pinus tua yang tinggi, di mana suara bising kendaraan di luar pagar tersamarkan oleh desis angin.

Julian berhenti di bawah bayangan pohon paling besar. Ia berbalik, napasnya sedikit memburu. Matanya yang biru berkilat tajam, namun kali ini bukan karena amarah kepada Hallen, melainkan karena gejolak batin yang menyiksa.

"Aku minta maaf." ucap Julian ketus, namun nada suaranya pecah di ujung kalimat. "Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu di depan mereka. Aku hampir menghancurkan segalanya."

Kenzie bersedekap, menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang kasar. "Kau bukan hanya hampir menghancurkan penyamaranmu, Julian. Kau hampir meremukkan harga diri Hallen dan memancing amarah Lyana. Kenapa? Apa kau begitu tidak percaya padaku sampai harus mengawasiku seperti sipir penjara?"

Julian melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma mawar dan pinus bercampur. "Ini bukan soal kepercayaan pada kemampuanmu, Kenzie! Ini tentang... melihatnya menyentuhmu." nada suaranya mengecil di akhir kalimat.

Kenzie menatap Julian tanpa berkedip. Ada keheningan panjang yang hanya diisi oleh gesekan dahan pinus di atas mereka. "Kau cemburu?"

"Cemburu?" Julian mengulang kata itu dengan nada yang dipaksakan seolah-olah itu adalah kosakata asing yang menggelikan. Ia tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya yang biru tajam. "Jangan konyol, Kenzie. Aku sudah hidup selama seribu tahun. Aku sudah melihat dunia bangkit dan runtuh, aku sudah melewati ribuan musim dingin. Mana mungkin aku membiarkan emosi remeh manusia seperti itu menguasai diriku?"

Julian memalingkan wajah, berpura-pura sibuk memeriksa dahan pohon di sampingnya. Namun, gerakan tangannya yang sedikit kaku mengkhianati ketenangannya. Ia berdehem, mencoba membersihkan tenggorokannya yang mendadak terasa kering.

"Aku hanya mengkhawatirkan keamananmu." lanjutnya cepat, nada suaranya kini kembali datar dan profesional, meski sedikit terlalu cepat. "Hallen itu ceroboh. Bagaimana jika saat dia menangkapmu, dia tidak sengaja menyentuh kulitmu dan merasakan suhu tubuhmu yang tidak normal? Atau bagaimana jika Lyana melihat celah itu untuk memprovokasi kemurnianmu? Aku hanya menjalankan peranku sebagai pelindung di kota ini."

Kenzie tidak bergeming. Ia tetap bersandar pada batang pohon, menatap Julian dengan tatapan jernih yang seolah bisa menembus lapisan demi lapisan kebohongan pria itu. Kenzie melihat betapa kerasnya Julian berusaha menekan rahangnya agar tidak tampak goyah.

"Pelindung?" Kenzie mengangkat satu alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Jadi, mengepalkan tangan hingga buku jarimu memutih tadi adalah bagian dari protokol keamanan? Dan menatap Hallen seolah-olah kau ingin mengirimnya ke abad pertengahan adalah strategi pertahanan?"

Julian terdiam, wajahnya yang pucat kini tampak sedikit lebih berwarna, mungkin dari sisa amarah atau sesuatu yang lebih sulit ia akui. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang biasanya statis namun kini berpacu karena keberadaan Kenzie yang terlalu dekat.

"Kau terlalu banyak berasumsi, Kenzie." ucap Julian akhirnya, suaranya sudah lebih terkendali. Ia kembali menatap Kenzie, mencoba mengembalikan otoritasnya sebagai seorang Aethern. "Kita memiliki masalah yang lebih besar daripada sekadar insiden di perpustakaan tadi. Lyana sudah mulai berani terang-terangan. Stefanny pasti sedang tertawa melihat kita bertengkar karena hal sepele seperti ini."

Julian melangkah mundur satu langkah, menciptakan jarak yang lebih aman, seolah-olah jarak fisik itu bisa membantunya membangun kembali dinding pertahanan emosionalnya yang sempat retak.

"Lupakan soal Hallen. Lupakan soal tadi." Julian berkata tegas, meski matanya sempat melirik ke arah pinggang Kenzie, tempat tangan Hallen sempat hinggap tadi, sebelum ia membuang muka kembali. "Kita harus fokus pada rencana Stefanny. Dia tidak akan berhenti menggunakan Lyana untuk memancingmu keluar."

Kenzie melihat pertahanan Julian yang mulai dibangun kembali dengan susah payah. Namun, entah karena dorongan iseng yang sudah berabad-abad tidak ia rasakan atau sekadar ingin menguji sejauh mana laki-laki di depannya ini mampu menekan sisi manusianya, Kenzie memutuskan untuk tidak membiarkannya lolos begitu saja.

Kenzie melangkah maju, satu langkah yang sangat pelan namun penuh intimidasi, hingga ia masuk kembali ke dalam ruang personal Julian.

"Lupakan soal Hallen?" Kenzie mengulangi kata-kata Julian dengan nada yang hampir menyerupai bisikan. "Padahal menurutku, Hallen cukup tangkas untuk ukuran manusia biasa. Pelukannya cukup hangat dan aku sejujurnya tidak keberatan jika dia menangkapku seperti itu lagi. Setidaknya, dia tidak bersikap seolah-olah menyentuhku adalah sebuah dosa besar."

Rahang Julian mengeras seketika. Matanya yang biru jernih mendadak menggelap, seperti samudera yang sedang dihantam badai. Ia mencoba membuang muka, namun Kenzie justru mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke dalam iris mata Julian yang bergetar.

"Kenapa, Julian? Kau terlihat seperti ingin meledak." goda Kenzie lagi, sebuah senyum tipis yang nakal tersungging di bibirnya. "Bukankah kau bilang kau adalah pelindung? Harusnya kau senang jika ada manusia yang menjaga The Constant-mu agar tidak lecet saat jatuh."

Julian menggeram rendah, sebuah suara maskulin yang datang dari dalam dadanya. "Cukup, Kenzie. Jangan bermain-main."

"Oh, aku tidak bermain-main. Aku hanya sedang mengagumi bagaimana seorang Aethern yang sudah hidup sepuluh abad bisa terlihat begitu kacau hanya karena satu pelukan kecil di perpustakaan." Kenzie tertawa kecil, namun kemudian ekspresinya berubah menjadi dingin dan tajam dalam sekejap.

Kenzie mendekatkan bibirnya ke telinga Julian, memberikan bisikan yang terasa seperti es sekaligus api. "Tapi ingat satu hal, Julian. Di rumah mu, ada Elena. Wanita yang memberimu cinta tulus saat kau merasa seperti monster. Jangan sampai kecemburuan konyolmu ini berubah menjadi pengkhianatan padanya. Kau tidak ingin menjadi pria yang menyakiti hati seorang wanita yang sedang dijemput ajalnya, bukan?"

Kenzie menjauhkan wajahnya, menatap Julian dengan nada mengejek yang provokatif. "Jangan biarkan dirimu jatuh hati pada The Constant ini, Julian. Kau punya istri yang sedang menunggumu di rumah. Atau, apakah kau sudah mulai melupakan wajahnya saat kau menatapku tadi?"

Kalimat itu menghantam Julian tepat di pusat harga dirinya. Julian terpaku, lidahnya kelu oleh kombinasi antara amarah, rasa malu dan rasa bersalah yang amat sangat terhadap Elena. Namun, di balik tatapan mengejeknya, Kenzie merasakan sesuatu yang tidak ia duga. Di dalam dadanya, ada desiran aneh, sebuah getaran hangat yang asing bagi entitas yang sudah membeku selama empat ratus tahun.

Kenzie mengejek Julian seolah ia tidak peduli, namun kenyataannya, degup jantung Julian yang berpacu kencang justru membuat pertahanan Kenzie sendiri ikut goyah.

"Pulanglah, Julian." ucap Kenzie, suaranya kini kembali datar, mencoba menyembunyikan desiran aneh di hatinya. "Elena membutuhkanmu. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri dari Hallen atau siapa pun yang ingin menangkapku."

Kenzie berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Julian sendirian di bawah bayangan pinus yang gelap. Ia tidak menoleh lagi, takut jika Julian melihat bahwa tangannya sendiri sebenarnya sedikit bergetar.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!