NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Yang Tak Terucap

"Jika ponsel ini penting. Datang ke dermaga saat tengah malam."

Arka berlalu meninggalkan Aluna dengan membawa ponsel miliknya.

Aluna terdiam mematung.

Angin malam berhembus kasar manerpa tubuhnya yang mencoba untuk tetap tenang.

Ponsel itu... Bagaimana jika dia macam-macam dengan ponsel itu?

Bagaimana jika dia menghubungi suamiku dan berkata aneh-aneh?

Batinnya terus berisik memikirkan hal-hal yang mungkin bisa terjadi.

Tidak terasa tengah malam datang dengan cepat.

Memecah keraguan dalam diri Aluna yang sedari tadi mondar-mandir memikirkan ponselnya dan permintaan bosnya.

Dengan hati yang begitu ragu, Aluna melangkah keluar menuju dermaga.

Setiap lorong villa terasa begitu sunyi, langkahnya terasa begitu berat.

Kakinya mulai menyusuri pasir pantai, udara malam menusuk sampai ke tulang.

Tangannya menyilang mengusap-usap kedua lengannya.

Sesekali ia menarik nafas, seolah akan menghadapi sesuatu yang menakutkan.

Dermaga sudah terlihat dekat, jantungnya semakin berdegup.

Langkahnya begitu hati-hati, dari kejauhan ia melihat sosok pria berdiri didepan sebuah yacht putih.

Langkah Aluna berhenti dibelakang pria itu.

"Pak Arka?" tanyanya memastikan.

Arka berbalik, "saya kira kamu tidak akan datang."

Tersenyum tipis.

"Ponsel saya." Aluna mengulurkan tangannya.

Arka meraih tangan Aluna, membuat perempuan itu kaget. Arka kemudian menarik tangan itu mengikuti langkahnya menaiki yacht putih yang berlabuh di dermaga kayu resort.

"Pak, sedang apa?" Wajahnya mulai terlihat panik.

Sementara Aluna tengah berdiri diatas yacht mewah itu, Arka melepaskan tali tambat yang terikat pada tiang pengait.

Kemudian ia masuk ke dalam kemudi, sesaat kemudian yacht itu berlayar perlahan menjauhi dermaga resort.

Aluna hanya melongo melihat semua yang sedang terjadi.

Dermaga mulai tampak mengecil di balik laut yang tenang.

Hingga resort pun perlahan menghilang dari pandangannya.

Yang tersisa hanya hamparan laut gelap yang luas.

Angin laut berhembus lebih kencang di atas dek, menggerakkan rambut panjangnya yang terurai di bahu. Suara mesin yacht terdengar stabil, memecah kesunyian malam bersama riak air yang terbelah di belakang kapal.

Aluna menelan ludah pelan.

Baru sekarang ia benar-benar menyadari satu hal, mereka sudah jauh dari pulau itu.

Tidak ada lagi lampu resort.

Tidak ada lagi keramaian para peserta retreat.

Hanya laut… dan yacht yang terus melaju ke arah yang tidak ia ketahui.

Perlahan ia berbalik.

Tatapannya jatuh pada sosok yang sejak tadi berdiri beberapa langkah darinya.

Arka.

Pria itu berdiri tenang di dekat pagar dek, memandang ke arah laut seolah perjalanan ini hanyalah hal biasa baginya.

Sementara bagi Aluna, jantungnya justru berdetak semakin tidak tenang.

“Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan, Arka?” bisiknya lirih.

Beberapa saat kemudian, yacht berhenti ditengah-tengah hamparan laut.

Arka mendekati Aluna yang diam mematung, namun ekpresi wajahnya benar-benar bisa terlihat bahwa ia sedang memendam amarah yang bisa meledak kapanpun.

"Kamu suka suasana ini, Aluna?"

Aluna tiba-tiba tertawa untuk beberapa saat, dan berhenti dengan tatapan mata yang menusuk.

"Saya suka, sangat suka. Terima kasih atas kejutan yang tidak terduga ini, Pak Arka."

Ekspresi dan nadanya terdengar datar, "tapi saya ingin kembali ke resort, dan tolong kembalikan ponsel saya." Lanjutnya.

Arka mengangkat tangannya menyentuh pipi Aluna yang terasa dingin karena angin malam.

"Kenapa kamu selalu mengusik pikiranku?" Matanya menatap kedua mata Aluna.

Aluna menepis tangan Arka, "bukannya Bapak yang selalu mengusik hidup saya?" balasnya.

Arka terdiam sesaat. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dari wajah Aluna.

"Saya tidak pernah meminta anda datang ke hidu saya," lanjut Aluna, suaranya bergetar pelan. "Tapi setiap kali saya mencoba menjauh… Bapak selalu muncul lagi."

Angin laut berhembus lebih kencang, membuat rambut Aluna berantakan di sekitar wajahnya.

Arka menghela napas pelan.

"Kamu pikir aku sengaja?" suaranya rendah.

Aluna tertawa kecil, namun terdengar pahit.

"Kalau bukan sengaja… lalu apa?"

Arka melangkah sedikit lebih dekat.

"Karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu."

Kalimat itu membuat Aluna terdiam. Dadanya terasa sesak, seolah kata-kata itu justru menjadi beban yang lebih berat.

"Jangan mengatakan hal seperti itu," bisiknya.

"Kenapa?" tanya Arka.

Karena jika ia terus mendengarnya, Aluna tahu…

ia mungkin tidak akan cukup kuat untuk terus membenci pria itu.

"Karena itu terdengar tidak pantas," jelasnya.

"Lalu bagaimana agar terdengar pantas?"

Arka menyentuh helai rambut Aluna.

Aluna merasa sudah tidak tahan lagi dengan tingkah bosnya itu. Ia berlari menjauh darinya.

Langkah kecilnya berhenti di pagar yacht, matanya menyapu seluruh area itu namun sejauh matanya memandang, hanya ada hamparan laut yang gelap.

Tiba-tiba tubuhnya terangkat.

Arka membopong Aluna menuju lounge yacht, merebahkan tubuh Aluna di sofa putih empuk. Dan disana terdapat lemari kecil berisi berbagai minuman tersusun rapi.

Teriakan Aluna sepanjang langkah Arka, hanya menjadi angin yang tidak terdengar.

Arka mengambil satu botol anggur, menuangkannya kedalam gelas. Ia menenggaknya dengan cepat, kemudian menuangkan lagi dan kali ini ia berikan pada Aluna yang sedang terduduk di sofa.

Aluna tidak mengambil minuman itu, ia hanya sedang berusaha untuk menahan tangisnya.

Arka duduk tepat dihadapannya, memperhatikan Aluna.

"Kenapa kita tidak saling menikmati momen malam ini, Aluna."

Aluna menatap sinis, "kenapa Bapak selalu mengganggu saya?" Suaranya kini terdengar bergetar.

"Setiap kali saya mencoba hidup dengan tenang," lanjutnya lirih, "Bapak selalu datang dan membuat semuanya berantakan."

"Bapak tahu rasanya?" suara Aluna semakin pelan, tapi justru terasa lebih tajam.

"Harus datang ke kantor setiap hari… melihat orang yang menghancurkan harga diri saya."

Angin laut meniup rambutnya hingga menutupi sebagian wajahnya. Namun Arka masih bisa melihat jelas kilau air mata yang mulai menggenang di sudut mata perempuan itu.

Arka tersenyum.

Seperti sedang menonton drama musikal langsung dihadapannya.

Aluna semakin membenci Arka.

Beberapa detik kemudian.

Tanpa peringatan, Arka menarik Aluna mendekat. Tangannya mengangkat tubuh perempuan itu dengan mudah, hingga Aluna terpaksa duduk di pangkuannya. Nafas Aluna tertahan. Kedua tangannya mencengkeram bahu Arka, sementara jarak di antara wajah mereka kini hanya sejengkal.

Aluna berteriak.

Mencoba untuk menjauh darinya.

Namun kedua tangan Arka menahan tangan Aluna lebih kuat.

Posisi itu membuat Aluna sangat ketakutan, dia teringat kembali kejadian menakutkan di hotel lalu. Apakah malam ini akan terulang kembali? Gumamnya.

"Tolong jangan ganggu saya." Aluna memohon.

Arka tidak menghiraukan Aluna.

Justru ia kini menyentuh tengkuk Aluna, mendorong wajah Aluna mendekat pada wajahnya, hingga kedua bibir mereka saling menyentuh.

Aluna mencengkram erat bahu Arka, memukulinya berharap Arka menghentikan aktivitasnya.

Namun justru Arka memaksa lebih dalam, tidak ada kelembutan, tidak membiarkan jeda diantara keduanya.

Arka menghentikan ciumannya, Aluna menjauh dengan cepat saat tangan Arka tidak lagi menahan tubuhnya.

Ia berlari ke belakang yacht, dengan isakannya, kakinya tiba-tiba tersandung, tubuhnya pun tersungkur.

Arka berjalan mendekatinya, mendengar langkah kaki yang semakin dekat, reflek Aluna memaksakan tubuhnya bangun dan kembali berlari hingga langkahnya berhenti di pagar besi yacht.

"Jangan mendekat," teriaknya. "Kalau tidak saya akan berteriak." Ancamnya.

Arka terkekeh. "Teriak saja. Kamu pikir siapa yang akan mendengar? Ikan-ikan dilaut?"

Aluna terdiam, ia bahkan lupa jika sedang berada ditengah-tengah hamparan laut.

Arka kembali mendekat, meraih tubuh Aluna.

Aluna memberontak namun tubuhnya yang kecil tidak mampu melawan Arka.

Arka membuka pintu kabin yacht itu. Di dalamnya terdapat tempat tidur besar dengan seprai putih, lampu temaram di sisi dinding, dan jendela kecil yang memperlihatkan laut malam di luar.

Ia merebahkan Aluna diatas tempat tidur.

Aluna berusaha lari namun tubuh Arka lebih dulu menahannya.

Ia menarik seutas tali kulit yang tergantung di sisi lemari.

Pergelangan tangan Aluna terikat ke belakang, membuatnya tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.

Tangis Aluna semakin histeris, namun tubuhnya mulai terasa lemas. Aluna terduduk diatas ranjang sambil menangis.

"Tolong jangan lakukan ini."

Arka duduk dihadapannya, tangannya membelai wajah Aluna, menyeka air mata di pipinya.

Menyingkap rambut panjang Aluna ke belakang, hingga membuat garis lehernya terlihat lebih jelas.

"Aku hanya ingin memastikan, Aluna," ucap Arka.

Wajah Arka bergerak perlahan mendekati leher Aluna. Hidungnya menyentuh kulit hangat itu sejenak, menghirup aroma yang membuatnya memejamkan mata sesaat.

Aluna memalingkan wajahnya ke samping, memejamkan matanya.

"Memastikan bahwa degup yang selalu datang ketika melihatmu, hanyalah sebatas degup nafsu seorang pria."

"Bapak tidak berhak mempermainkan saya. Saya bukan bahan uji coba perasaan, Bapak."

Arka menjatuhkan tubuh Aluna hingga membuatnya terbaring.

Pergelangan tangan Aluna terikat di belakang tubuhnya, membuat setiap gerakannya terasa sia-sia.

Napasnya bergetar. Air mata perlahan mengalir di pipinya ketika ia memejamkan mata rapat, berusaha menahan sesuatu yang terasa lebih menyakitkan dari sekadar rasa takut.

Arka tidak berhenti.

Malam itu berjalan terlalu jauh untuk dihentikan.

Di luar jendela kabin, laut malam tetap tenang, seolah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.

Dan pada malam itu, bukan hanya tubuhnya yang terasa lemah—

tetapi juga harga dirinya yang seakan direnggut tanpa ia mampu mempertahankannya.

Sebuah batas yang selama ini ia pegang… akhirnya runtuh begitu saja.

***

Aluna terduduk menatap lautan dengan wajah yang pucat dan rambut yang terlihat berantakan.

Jari jemarinya saling meremas.

Arka mendekatinya dan memberikan sebotol air mineral.

Aluna meraihnya dan meminumnya sampai habis seolah air itu bisa memudarkan luka di dadanya.

“Setelah ini apa yang akan kamu lakukan, Aluna?”

Arka menatap perempuan yang telah ia lukai malam itu.

Aluna tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah yang masih basah oleh air mata.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu berat.

“Apa yang bisa saya lakukan, Pak?” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

“Semua sudah terjadi.”

“Kamu bisa melaporkan saya.”

Arka bersandar santai, seolah kata-kata itu tidak berarti apa-apa.

Aluna menghela napas pendek.

“Daripada saya melaporkan Bapak…”

Ia berhenti sejenak, menatap pria itu dengan mata yang kini jauh lebih dingin.

“…Bapak seharusnya takut pada satu hal.”

“Apa?”

“Saat saya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi takut pada Bapak.”

Ia mengangkat wajahnya menatap Arka lurus.

"Dan lebih baik Bapak berharap saya masih cukup bodoh untuk tetap diam.”

Sekilas Aluna teringat kalimat yang pernah diucapkan Arka beberapa waktu lalu.

“Teruslah berbuat bodoh. Jika ingin hidupmu terus menyedihkan.”

Saat itu kata-kata itu terasa seperti hinaan yang menampar harga dirinya.

Namun sekarang…

Aluna justru memahami sesuatu yang berbeda.

Kadang-kadang, terlihat bodoh adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan.

Dunia tidak selalu berpihak pada mereka yang berani melawan.

Terkadang dunia hanya memberi pilihan pada orang seperti dirinya: melawan dan kehilangan segalanya… atau diam dan menelan semuanya sendirian.

Dan malam ini, Aluna memilih yang kedua.

Bukan karena ia benar-benar bodoh.

Tetapi karena ia masih memiliki terlalu banyak hal yang tidak mampu ia pertaruhkan.

Arka berdiri dari duduknya, "hidupmu memang menyedihkan."

Arka meninggalkan Aluna menuju dek kemudi.

Yacht kembali melaju memutar balik.

Beberapa saat setelah yacht kembali ke dermaga.

Aluna berjalan pelan diatas jembatan kayu dermaga, langkahnya terhuyung, tangannya memegangi bagian perutnya. Rasa nyeri itu masih menjalar panas.

Arka berjalan mengikuti dari belakang, "Aluna. Saya minta maaf."

Seketika langkah Aluna terhenti, Arka yang melihatnya pun ikut menghentikannya langkahnya.

Aluna berbalik, ia berjalan mendekati Arka.

Menyodorkan tangannya, "ponsel saya," ucapnya datar.

Arka merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponsel milik Aluna.

Ia mengulurkannya seolah hendak mengembalikannya.

Aluna langsung bergerak hendak mengambilnya.

Tetapi Arka tiba-tiba menarik ponsel itu kembali, menjauhkannya dari jangkauan Aluna seakan hanya ingin mempermainkan harapan yang sempat muncul.

Amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluap.

Dengan gerakan tiba-tiba, Aluna menendang keras area sensitif Arka.

“Ah—!”

Arka langsung merintih, tubuhnya membungkuk refleks. Kedua tangannya mencengkeram bagian tubuhnya yang terasa nyeri.

Kesempatan itu tidak disia-siakan.

Aluna segera meraih ponselnya yang masih berada di tangan Arka. Jemarinya gemetar, tetapi ia berhasil menarik benda itu kembali ke dalam genggamannya.

Tanpa menoleh lagi, ia berlari.

Saat memasuki Villa, ia menahan langkahnya lebih pelan.

Suasana Villa yang sepi karena orang-orang sudah beristirahat, membuatnya merasa lebih aman. Aluna berjalan di lorong villa menuju kamarnya.

Sampai kemudian dia dikejutkan oleh suara.

"Aluna."

Revan berdiri di balik pintu kamarnya.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!