NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEO teryata adalah

Pagi itu, kantor PT Adiguna bergerak lebih sibuk dari biasanya. Maya berlari kecil menghampiri meja Raia dengan wajah yang memerah karena terlalu bersemangat.

"Raia! Kamu sudah dengar belum? Hari ini si 'Tuan Misterius' datang!" bisik Maya heboh sambil mengguncang bahu sahabatnya itu.

Raia yang sedang menyesap kopi paginya mengernyit bingung. "Tuan Misterius siapa, May?"

"CEO kita! Kita sudah kerja di sini hampir dua tahun, dan nggak pernah ada yang tahu wajah aslinya, kan? Katanya dia selalu di luar negeri atau mengontrol dari balik layar lewat asisten pribadinya saja. Tapi hari ini, dia resmi berkantor di sini!" Maya mengoceh tanpa henti. "Gosipnya, dia itu dingin banget, perfeksionis, dan nggak suka ada kesalahan sekecil apa pun."

Raia hanya tertawa kecil. "Ya bagus, dong. Berarti perusahaan kita bakal makin disiplin. Lagipula, kita kan staf divisi kreatif, jarang-jarang berurusan langsung sama CEO di lantai paling atas."

Namun, ucapan Raia seolah langsung terpatahkan satu jam kemudian.

Seluruh karyawan diminta berbaris di lobi utama. Suasana yang biasanya penuh tawa mendadak hening mencekam. Pintu kaca besar terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya melangkah masuk. Langkah sepatunya yang tegas bergema di lantai marmer.

Maya menyenggol lengan Raia, mulutnya menganga tanpa suara. "Ganteng banget, Raia... tapi auranya serem."

Raia mendongak, dan saat itulah dunianya seolah berhenti berputar. Pria itu—Arlan—memiliki tatapan mata yang tajam seperti elang. Wajahnya datar tanpa senyum, namun sangat dominan.

Saat Arlan berjalan melewati barisan karyawan, langkahnya tiba-tiba melambat tepat di depan Raia. Ia berhenti total. Keheningan di lobi itu terasa semakin berat.

Arlan tidak menyapa manajer atau direktur yang menyambutnya. Matanya yang sedingin es terkunci pada papan nama yang tersemat di dada Raia.

"Raia..." suara Arlan rendah, berat, dan penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Raia berdiri.

Raia menahan napas. Ia merasa tidak pernah mengenal pria ini, namun cara Arlan menyebut namanya seolah-olah pria itu sudah mengenal setiap inci hidupnya.

"Ikut ke ruangan saya sekarang," perintah Arlan dingin tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia kembali berjalan menuju lift pribadi, meninggalkan Raia yang mematung dan Maya yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Raia, kamu ada masalah apa sama bos?" bisik Maya panik.

Raia menggeleng lemah. Ia tidak tahu apa-apa. Namun, ia merasa sejak detik ini, kebebasannya di kantor ini telah berakhir. Arlan bukan datang untuk memimpin perusahaan, ia datang untuk menjemput sesuatu yang ia anggap miliknya.

Raia berjalan dengan langkah berat menuju lantai paling atas. Di sampingnya, Maya memberikan tatapan "semangat tapi ngeri" sebelum pintu lift tertutup. Begitu sampai di lantai eksekutif, suasana berubah drastis—hening, elegan, dan sangat dingin.

Raia mengetuk pintu kayu jati besar itu dengan ragu.

"Masuk," suara berat Arlan terdengar dari dalam.

Saat Raia melangkah masuk, ia menemukan Arlan tidak sedang duduk di kursi kebesarannya.

Pria itu berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota, membelakangi pintu.

"Tutup pintunya, Raia. Dan kunci," perintah Arlan tanpa menoleh.

Tangan Raia gemetar saat memutar tuas kunci. "Maaf, Pak Arlan. Saya tidak mengerti kenapa saya dipanggil ke sini. Apa ada kesalahan dalam laporan saya?"

Arlan berbalik perlahan. Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mengintimidasi, hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum expensive wood dan maskulin yang dingin langsung mengepung indra penciuman Raia.

"Kesalahan?" Arlan mengulang kata itu dengan nada rendah, hampir berbisik di depan wajah Raia. "Kesalahanmu adalah membiarkan dirimu tidak terlihat olehku selama dua tahun ini, Raia."

Raia mendongak, bingung. "Maksud Bapak? Kita bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya."

Arlan tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah foto kecil yang sudah agak kusam. Itu adalah foto Raia saat wisuda, diambil dari jarak jauh.

"Aku tahu setiap langkahmu. Aku tahu siapa temanmu, apa kopi kesukaanmu, dan jam berapa kamu tidur setiap malam," ucap Arlan datar, seolah hal itu adalah informasi bisnis yang wajar.

"Selama ini aku membiarkanmu 'bebas' bekerja di bawah naunganku tanpa menampakkan diri. Tapi melihatmu tertawa dengan staf pria di lobi tadi... itu membuatku tidak nyaman."

Raia melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu yang terkunci. "Anda... memata-matai saya?"

"Aku menjagamu," ralat Arlan dingin. Ia meletakkan kedua tangannya di pintu, mengurung posisi Raia. "Mulai hari ini, meja kerjamu dipindahkan ke ruangan ini. Tepat di depanku. Kamu tidak akan makan siang dengan Maya lagi, dan kamu tidak akan pulang selain bersamaku."

"Ini gila, Pak Arlan! Ini pelecehan!" seru Raia berani.

Mata Arlan berkilat gelap. Ia mencengkeram dagu Raia dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap kedalaman matanya yang obsesif. "Panggil aku Arlan. Dan biasakan dirimu, Raia. Karena di gedung ini, dan di hidupmu setelah ini, aku adalah satu-satunya hukum yang berlaku."

Raia menyentak tangan Arlan dari dagunya. Napasnya memburu, matanya yang biasa teduh kini berkilat penuh amarah. Ketakutannya kalah oleh rasa harga diri yang diinjak-injak.

"Cukup, Pak Arlan! Saya tidak tahu permainan apa yang sedang Anda mainkan, tapi saya bukan barang dagangan yang bisa Anda beli atau pindahkan sesuka hati!" suara Raia meninggi, bergema di ruangan yang kedap suara itu.

Arlan tidak bergeming. Wajahnya tetap datar, seolah kemarahan Raia hanyalah gangguan kecil dalam jadwal harian yang sempurna. "Suaramu terlalu tinggi, Raia. Itu tidak sopan untuk seorang atasan."

"Atasan? Anda bukan atasan, Anda stalker!" Raia menunjuk pintu dengan tangan gemetar. "Saya mengundurkan diri! Saya akan keluar dari gedung ini, pulang, dan saya tidak mau melihat wajah Anda lagi!"

Raia berbalik, jemarinya dengan panik mencoba memutar kunci pintu. Namun, sebelum kunci itu terbuka, sebuah tangan besar bertumpu di atas tangannya, menahan gerakan itu dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Arlan berdiri tepat di belakangnya, hawa dingin dari tubuh pria itu merayap ke tengkuk Raia.

"Mengundurkan diri?" Arlan berbisik, suaranya sangat rendah hingga membuat bulu kuduk Raia berdiri. "Coba saja. Kamu pikir kenapa ayahmu tiba-tiba mendapatkan donor jantung bulan lalu? Atau kenapa adikmu bisa masuk universitas ternama dengan beasiswa penuh?"

Raia membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "A-apa maksudmu?"

Arlan memutar tubuh Raia agar kembali menghadapnya. Ia merapikan sehelai rambut Raia yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan kata-katanya yang mematikan.

"Semua kenyamanan yang keluargamu rasakan adalah fasilitas dariku, Raia. Aku sudah berinvestasi terlalu banyak untukmu. Jika kamu melangkah keluar dari pintu ini tanpa izinku, semua itu akan hilang dalam hitungan detik.

Ayahmu, adikmu... mereka akan menanggung akibat dari 'kebebasan' yang kamu inginkan."

Raia menatap Arlan dengan ngeri. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu iblis, Arlan..."

"Aku hanya seorang pria yang menjaga miliknya," jawab Arlan dingin. Ia mengambil tisu dari sakunya, mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi Raia. "Sekarang, duduk di kursi barumu.

Maya akan segera membawakan barang-barangmu ke sini. Jangan buat dia curiga dengan wajah menangismu itu."

Raia jatuh terduduk di kursi sofa, merasa dunianya baru saja runtuh. Di luar, Maya mungkin sedang menunggunya dengan tawa, tidak tahu bahwa sahabatnya baru saja terjebak dalam penjara tanpa jeruji milik sang CEO.

Raia menggelengkan kepala, air mata yang tertahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Rasa marah dan bingung bercampur menjadi satu, menyesakkan dadanya.

"Kenapa Ibu tidak pernah cerita semua itu?" bisik Raia dengan suara bergetar. "Kenapa dia merahasiakan bantuanmu, Arlan?"

Arlan terdiam sejenak, matanya yang dingin sedikit meredup saat menatap Raia yang rapuh.

Ia berjalan perlahan menuju meja kerjanya, mengambil sebuah amplop cokelat tua dan melemparkannya ke atas meja di depan Raia.

"Karena aku yang memintanya," jawab Arlan datar. "Aku tahu kamu terlalu tinggi hati untuk menerima bantuan dari pria yang pernah kamu tinggalkan tanpa pamit sepuluh tahun lalu."

Raia terpaku. Bayangan masa kecil di pinggiran kota kembali berputar di kepalanya. Arlan yang ia kenal dulu adalah anak laki-laki pendiam yang selalu melindunginya dari rundungan teman-teman sekolah. Arlan yang dulu selalu membagi bekal rotinya dan tersenyum tulus setiap kali Raia tertawa.

"Arlan yang aku kenal... dia tidak seperti ini," ucap Raia lirih, menatap pria asing di depannya.

"Arlan-ku tidak akan pernah mengancam keluargaku. Dia tidak akan pernah menyekapku dalam ketakutan."

Mendengar kata "Arlan-ku", rahang Arlan mengeras. Ia melangkah cepat, mencengkeram kedua sisi kursi tempat Raia duduk, mengurung gadis itu dalam intimidasi yang menyesakkan.

"Arlan yang itu sudah mati saat kamu pergi bersama pria itu, Raia!" desis Arlan, suaranya kini terdengar penuh luka yang terpendam lama.

"Sepuluh tahun aku mencari caramu. Sepuluh tahun aku membangun kerajaan ini hanya agar aku punya cukup kekuatan untuk memastikan kamu tidak akan pernah bisa lari lagi."

Ia mendekatkan wajahnya, napasnya yang hangat terasa di kulit Raia yang dingin. "Ibumu menerima bantuanku karena dia tahu aku satu-satunya yang bisa menyelamatkan ayahmu.

Dia percaya padaku. Tapi dia tidak tahu... bahwa harga dari nyawa ayahmu adalah kebebasanmu."

Tepat saat itu, ketukan keras terdengar di pintu.

Suara cempreng Maya memecah ketegangan.

"Raia? Pak Bos? Ini saya, Maya! Saya bawain kardus barang-barangnya Raia. Boleh masuk, kan?"

Arlan menjauhkan tubuhnya, kembali ke mode CEO yang tak tersentuh. Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Hapus air matamu, Raia. Jangan biarkan sahabatmu tahu bahwa 'sahabat kecilmu' ini adalah monster yang selama ini membiayai hidup keluargamu."

Raia dengan cepat mengusap wajahnya, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Pintu terbuka, dan Maya masuk dengan wajah polos yang ceria, tak menyadari bahwa di dalam ruangan itu, sebuah masa lalu yang manis baru saja berubah menjadi obsesi yang mengerikan.

Arlan berdiri membelakangi Raia, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan kesibukan kota di bawahnya. Wajahnya tetap sedingin es, rahangnya terkatup rapat, memperlihatkan otoritas yang tak tergoyahkan. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, batinnya sedang berperang hebat.

Suara Hati Arlan:

Maafkan aku, Raia...

Andai kamu tahu betapa hancurnya aku saat melihatmu tertawa lepas dengan pria itu di lobi tadi. Pria yang dengan beraninya menyentuh bahumu, pria yang mendapatkan senyum tulusmu—senyum yang seharusnya hanya milikku.

Aku benci diriku yang sekarang. Aku benci karena harus menggunakan bantuan kesehatan ayahmu dan pendidikan adikmu sebagai rantai untuk mengikatmu. Tapi aku lebih takut kehilanganmu lagi. Sepuluh tahun aku hidup dalam kegelapan, mencari jejakmu di setiap sudut kota, hanya untuk menemukanmu kembali sebagai orang asing yang bahkan tidak mengenali wajahku.

Rasa cemburu ini... dia membakar logikaku, Raia. Dia merubah Arlan yang dulu melindungimu menjadi Arlan yang mengurungmu. Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku monster di matamu sekarang. Tapi jika menjadi monster adalah satu-satunya cara agar kamu tetap berada dalam jangkauan pandanganku, maka aku akan menjalaninya.

Jangan tersenyum pada mereka, Raia. Tolong, jangan buat aku semakin gila. Karena setiap detik kamu tidak bersamaku, aku merasa duniaku runtuh kembali.

Arlan memutar tubuhnya perlahan. Ia melihat Raia yang masih tertunduk, bahunya sedikit bergetar. Ingin rasanya ia melangkah maju, memeluk gadis itu, dan membisikkan kata maaf yang tulus. Namun, egonya yang terluka dan rasa posesif yang mendarah daging menahan langkahnya.

"Maya," suara Arlan memecah keheningan saat melihat Maya masih berdiri canggung di ambang pintu dengan kardus di tangannya. "Letakkan barang-barang itu di meja samping. Dan mulai sekarang, Raia adalah tanggung jawab langsung di bawah pengawasanku. Kamu bisa kembali ke divisimu."

Maya mengangguk kaku, meletakkan kardus itu dengan cepat, lalu memberikan pandangan penuh simpati pada Raia sebelum menghilang di balik pintu.

Kini tinggal mereka berdua lagi. Arlan berjalan mendekat, suaranya kembali datar namun ada getaran samar yang hanya bisa dirasakan jika Raia benar-benar mendengarkannya.

"Mulai sekarang, ponselmu harus selalu aktif. Dan jangan pernah berani makan siang dengan pria mana pun tanpa seizinku. Mengerti?"

Raia mendongak, matanya yang sembab menatap Arlan dengan pedih.

"Sampai kapan kamu mau melakukan ini, Arlan? Sampai aku benar-benar membencimu?"

Arlan terdiam. Pertanyaan itu menghujam jantungnya lebih dalam dari apa pun. Namun, ia hanya membalas dengan tatapan kosong. "Benci pun tidak apa-apa, Raia. Selama kamu tetap di sini. Di sisiku."

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!