Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Evelyn Lavina dikenal sebagai salah satu dokter muda paling berbakat di Rumah Sakit Sentra Medika, sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Di usianya yang belum genap tiga puluh tahun, namanya sudah sering disebut dalam berbagai konferensi medis dan menjadi kebanggaan para seniornya. Wajahnya cantik dengan sorot mata yang tegas, rambut hitam panjang yang sering ia ikat rapi, serta sikapnya yang tenang membuat banyak orang merasa kagum padanya.
Namun di balik kecantikannya, Evelyn adalah sosok yang sangat disiplin dan perfeksionis. Baginya, ruang operasi adalah tempat yang tidak boleh ditoleransi kesalahan sekecil apa pun. Setiap sayatan yang ia buat selalu penuh perhitungan, setiap keputusan yang ia ambil selalu berdasarkan logika dan pengalaman.
“Skalpel,” ucapnya tenang.
Seorang perawat segera memberikan alat bedah yang diminta. Di bawah cahaya lampu operasi yang terang, Evelyn fokus pada pasien di hadapannya. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya, tetapi tangannya tetap stabil.
“Tekanan darah pasien stabil, dok,” lapor perawat anestesi.
Evelyn mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. Operasi yang ia lakukan bukanlah operasi mudah, tetapi bagi dirinya, menyelamatkan nyawa orang lain adalah tanggung jawab yang tidak boleh ia abaikan.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Evelyn keluar lebih dulu sambil melepas masker dan sarung tangan medisnya. Seorang keluarga pasien langsung menghampirinya dengan wajah penuh harap.
“Dok… bagaimana keadaan suami saya?” tanya wanita itu dengan suara gemetar.
Evelyn tersenyum tipis.
“Operasinya berjalan lancar. Kondisinya stabil sekarang.”
Tangis haru langsung pecah dari keluarga pasien. Sementara itu Evelyn hanya mengangguk pelan sebelum berjalan meninggalkan lorong rumah sakit yang panjang. Bagi orang lain mungkin itu adalah momen yang sangat emosional, tetapi bagi Evelyn, itu adalah bagian dari pekerjaannya sehari-hari.
Lorong rumah sakit mulai terasa lebih lengang ketika Evelyn Rositta keluar dari ruang operasi terakhirnya malam itu. Langkahnya tetap tegap seperti biasa, tetapi rasa lelah jelas terasa dari caranya menarik napas panjang beberapa kali. Hari ini benar-benar melelahkan.
Tiga operasi besar dalam satu hari bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk dokter sepertinya yang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan.
Evelyn berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Lampu-lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan langkahnya yang terdengar pelan. Beberapa perawat masih terlihat sibuk di meja perawat, sementara suara monitor pasien dari beberapa ruangan terdengar samar.
Sesampainya di depan pintu ruangannya, Evelyn membuka pintu itu perlahan.
Ceklek.
Ruangan itu cukup luas namun tertata sederhana. Sebuah meja kerja dengan beberapa berkas pasien, rak buku berisi jurnal medis, serta sofa kecil di sudut ruangan yang sering ia gunakan untuk beristirahat sejenak di sela-sela jadwalnya yang padat.
Evelyn menutup pintu di belakangnya.
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya melepas jas putih yang sejak pagi melekat di tubuhnya. Jas itu ia lipat dengan rapi lalu menggantungnya di sandaran kursi.
Rambut hitam panjangnya yang tadi diikat rapi kini ia longgarkan sedikit. Rasa pegal langsung terasa di tengkuknya.
“Benar-benar hari yang panjang…” gumamnya pelan.
Tangannya kemudian meraih tas kerja yang berada di atas meja. Ia memastikan beberapa berkas penting sudah tersimpan di dalamnya sebelum akhirnya mematikan lampu ruangan.
Beberapa detik kemudian, Evelyn keluar dari ruangannya.
Saat ia hendak berjalan menjauh, seorang perawat yang sedang melintas di depan ruangan itu langsung menyapanya.
“Dokter sudah mau pulang?” tanya perawat itu dengan ramah.
Evelyn menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh.
“Iya,” jawabnya singkat namun tetap dengan senyum tipis. “Kabarkan segera jika ada sesuatu yang mendesak.”
Perawat itu mengangguk cepat.
“Baik, Dokter.”
Evelyn tidak mengatakan apa pun lagi. Ia kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit yang kini mulai sepi. Hanya beberapa dokter jaga dan perawat yang masih terlihat hilir mudik.
Ting
Lift terbuka dengan bunyi pelan saat ia tiba di depannya.
Ting
Beberapa saat kemudian, pintu lift kembali terbuka di lantai dasar.
Udara malam langsung menyambutnya ketika ia keluar menuju area parkir rumah sakit.
Langit Jakarta tampak gelap, hanya diterangi lampu-lampu kota yang berpendar dari kejauhan. Suasana parkiran tidak terlalu ramai, hanya beberapa mobil yang masih terparkir milik dokter atau perawat yang sedang bertugas malam.
Evelyn berjalan menuju mobil sedan hitam miliknya yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar.
Jujur saja, tubuhnya terasa sangat lelah hari ini.
Tiga operasi besar berturut-turut membuat hampir seluruh tenaganya terkuras. Biasanya ia masih sanggup bertahan, tetapi hari ini benar-benar menguji batasnya.
Setibanya di depan mobilnya, Evelyn membuka pintu mobil dan masuk ke dalam bagian kemudi. Ia meletakkan tasnya di kursi belakang bersama jas putihnya.
Mesin mobil itu langsung menyala halus.
Evelyn bersandar sejenak di kursinya sambil memejamkan mata beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa penat yang memenuhi tubuhnya.
Setelah merasa sedikit lebih baik, ia membuka matanya kembali.
Tangannya memutar setir perlahan saat mobil itu keluar dari area parkir rumah sakit.
Malam Jakarta tidak pernah benar-benar sepi. Lampu-lampu jalan menerangi jalanan yang masih dipenuhi kendaraan meski tidak seramai siang hari.
Perlahan mobil Evelyn melaju membelah kegelapan malam.
Radio mobil menyala pelan, mengalunkan musik yang lembut. Namun pikiran Evelyn masih melayang pada pekerjaannya hari ini.
Pasien pertama adalah seorang pria tua dengan komplikasi usus yang cukup serius. Operasi kedua jauh lebih rumit karena melibatkan luka internal akibat kecelakaan. Dan operasi terakhir hampir memakan waktu empat jam.
Ia menghela napas pelan.
Kadang ia bertanya-tanya sampai kapan ia akan menjalani ritme hidup seperti ini. Pekerjaan sebagai dokter bedah memang selalu menuntut kesempurnaan dan ketahanan fisik.
Namun Evelyn tidak pernah menyesal memilih jalan hidup ini. Baginya, menyelamatkan satu nyawa saja sudah cukup untuk membuat semua kelelahan terasa layak.
Lampu lalu lintas di persimpangan jalan utama itu masih menyala merah. Deretan kendaraan berhenti rapi membentuk barisan panjang. Suara mesin mobil yang menyala pelan bercampur dengan dengung kota di sore hari.
Di salah satu mobil yang berhenti paling depan, Evelyn duduk di balik kemudi sambil mengetukkan jarinya perlahan di setir. Ketukan kecil itu terdengar ritmis, mencerminkan kelelahan setelah seharian bekerja di rumah sakit. Rambutnya yang sedikit berantakan membuat wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya.
Matanya menatap lampu lalu lintas di depan, menunggu detik-detik angka berubah menjadi hijau.
Namun tiba-tiba—
Ceklek.
Pintu mobil di sisi penumpang terbuka begitu saja.
Evelyn tersentak kaget. Ia bahkan belum sempat bereaksi ketika seorang pria asing dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu kembali.
Untuk beberapa detik, Evelyn hanya membeku di tempat. Jantungnya berdegup keras.
Perlahan ia menoleh ke samping. Tatapannya langsung menajam saat melihat sosok pria yang sama sekali tidak ia kenal itu duduk di sampingnya.
"Kamu siapa? Kenapa masuk ke dalam mobilku?" tanya Evelyn dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menahan rasa takut yang tiba-tiba menyerangnya.
Pria itu tidak langsung menjawab. Tubuhnya bersandar lemah pada sandaran kursi, seolah kehabisan tenaga. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat.
Dengan mata terpejam, ia hanya berkata singkat dengan suara rendah dan serak, "Ke rumah sakit sekarang." Seolah itu adalah perintah yang tidak boleh ditolak.
Evelyn mengerutkan kening. Ada sesuatu yang aneh pada pria itu. Lalu pandangannya turun ke arah tangan pria tersebut. Tangan itu menekan bagian perutnya dengan kuat.
Dan di situlah Evelyn melihat sesuatu. Banyak sekali darah yang merembes melalui sela-sela jari pria itu, membasahi pakaiannya hingga kursi mobil.
Mata Evelyn membelalak.
"Astaga… kamu terluka!" pekiknya spontan.
Naluri seorang dokter langsung mengambil alih ketakutannya. Kepanikan tadi berubah menjadi fokus. Tanpa membuang waktu, Evelyn segera meraih tasnya yang berada di kursi belakang.
Ia membukanya dengan cepat, mengaduk-aduk isi tas itu mencari kotak P3K kecil yang biasanya selalu ia bawa. Namun semakin lama ia mencari, semakin panik ia jadinya.
Kotak itu tidak ada di dalam tasnya. Entah ia lupa membawanya pagi tadi atau tertinggal di rumah sakit.
"Sial…" gumamnya pelan.
Sementara itu, darah pria itu terus mengalir.
Evelyn menggigit bibirnya, berpikir cepat. Ia tidak punya banyak waktu. Tanpa ragu lagi, ia meraih bagian bawah rok yang ia kenakan.
Sret!
Dengan satu tarikan kuat, ia merobek kain rok itu menjadi selembar kain panjang.
Pria di sampingnya langsung membuka mata ketika melihat apa yang dilakukan Evelyn.
"Kau mau apa?" tanyanya terkejut.
Namun Evelyn tidak memedulikannya. Ia segera memajukan tubuhnya mendekat ke arah pria itu, hampir setengah berdiri di kursinya.
"Aku harus menghentikan pendarahannya," ucap Evelyn cepat dengan nada tegas.
Tangannya bergerak cekatan, berusaha menyingkap pakaian pria itu untuk melihat luka yang sebenarnya. Bau darah yang tajam langsung menyeruak, tapi Evelyn sudah terlalu terbiasa dengan hal seperti itu.
Ia menekan luka di perut pria itu menggunakan kain robekan rok tadi.
Tekanannya kuat dan stabil.
Pria itu meringis pelan, rahangnya mengeras menahan rasa sakit.
Di belakang mobil Evelyn, suara klakson mulai bersahutan.
Lampu lalu lintas ternyata sudah berubah hijau sejak beberapa detik lalu. Mobil-mobil di belakang mereka mulai tidak sabar karena mobil Evelyn masih diam di tempat.
Klakson berbunyi semakin keras, dan berkali-kali.
Namun Evelyn sama sekali tidak peduli. Seluruh fokusnya hanya tertuju pada luka di perut pria asing itu.
Tangannya terus menekan luka tersebut dengan kuat agar pendarahannya berhenti, sementara napasnya mulai memburu.
"Kalau kamu ingin tetap hidup," gumam Evelyn dengan nada serius, "jangan pingsan sekarang."
Mobil di belakang kembali membunyikan klakson panjang.
Baru saat itulah Evelyn mengangkat kepalanya sedikit, satu tangannya tetap menekan luka pria itu sementara tangan satunya lagi dengan cepat memutar setir dan menginjak pedal gas.
Mobil itu melaju kencang menerobos jalanan kota. Menuju rumah sakit.
Menuju satu-satunya tempat yang mungkin bisa menyelamatkan nyawa pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya malam ini.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐