NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: KAMAR PENGANTIN

Malam pernikahan.

Istana Veynheart bermandikan cahaya. Ribuan lilin dinyalakan di setiap sudut, lampu-lampu minyak tergantung di sepanjang jalan menuju gerbang utama, dan umbul-umbul emas-merah berkibar lembut ditiup angin malam. Dari kejauhan, samar terdengar musik—orkestra kerajaan sedang berlatih lagu pernikahan di halaman dalam.

Namun di balik kemegahan itu, Aldric melihat yang lain.

Ia melihat penjaga bersenjata lengkap di setiap tikungan.

Ia melihat bayangan-bayangan hitam yang bergerak di atap—pemanah, siap membidik.

Ia melihat jebakan demi jebakan yang Mira sudah gambarkan di peta.

Istana ini bukan lagi rumahnya. Ini adalah benteng musuh.

Aldric merayap di sepanjang dinding luar, menyatu dengan bayangan semak-semak hias. Jubah hitamnya membantu, tapi ia harus bergerak ekstra hati-hati—penjaga di sini bukan prajurit biasa. Mereka adalah tentara bayaran elit, dengan mata terlatih menembus kegelapan.

Pohon ek tua itu ada di depan. Tepat seperti yang diingatnya—raksasa berusia ratusan tahun dengan dahan-dahan besar yang menjulur hingga ke jendela loteng kapel.

Aldric menunggu. Menghitung detak jantung. Menanti saat yang tepat.

Di kejauhan, suara ramai dari arah dapur. Api kecil—pengalihan dari Mira dan pelayan-pelayan setia. Para penjaga di sekitar pohon menoleh, beberapa bergerak untuk memeriksa.

Sekarang.

Aldric melesat. Dalam tiga langkah, ia sudah mencapai batang pohon. Tubuhnya memanjat dengan kecepatan luar biasa—kekuatan setengah iblis membuatnya bisa melompat dari dahan ke dahan tanpa suara.

Dua puluh detik kemudian, ia sudah di dahan teratas, sejajar dengan jendela loteng.

Jendela itu tertutup, tapi tidak terkunci. Aldric mengintip ke dalam—gelap, tidak ada siapa pun. Ia mendorong jendela pelan-pelan, menyelinap masuk, lalu menutupnya kembali.

Loteng kapel berdebu, penuh dengan barang-barang tua: kursi rusak, lukisan usang, peti-peti kayu berisi perlengkapan upacara yang sudah tidak dipakai. Aldric merayap di antara tumpukan barang, menuju pintu kecil di sudut—pintu menuju ruang arsip.

Ia membuka pintu itu sedikit. Celah sempit cukup untuk mengintip.

Ruang arsip berukuran kecil—hanya sekitar tiga kali tiga meter. Dindingnya dipenuhi rak-rak kayu berisi gulungan dokumen. Di tengah ruangan, sebuah meja dengan tumpukan kertas. Dan di samping meja, duduk seorang juru tulis—pria tua dengan kacamata tebal—sedang tertidur.

Semoga mudah.

Aldric membuka pintu lebih lebar, melangkah masuk tanpa suara. Juru tulis itu tidak bergerak—mendengkur pelan, nyenyak dalam tidurnya.

Aldric memeriksa meja. Di atasnya, dokumen pernikahan sudah disiapkan—beberapa lembar perkamen dengan tulisan indah, cap lilin merah, dan pita emas. Ia membaca cepat:

"Dengan ini menyatakan penyatuan sah antara Pangeran Darius Veynheart, Pewaris Takhta Kerajaan Veynheart, dengan Nyonya Elara Ashford, Janda Pangeran Aldric Veynheart, dalam ikatan pernikahan suci yang diakui oleh kerajaan dan dewa-dewa..."

Janda Pangeran Aldric.

Ia hampir tertawa getir. Janda. Padahal ia di sini, hidup, membaca dokumen kematiannya sendiri.

Tanpa berpikir dua kali, Aldric mengambil dokumen itu. Ia mengeluarkan belati dari pinggang—bukan untuk membunuh, tapi untuk merobek.

Srek!

Perkamen itu robek menjadi dua.

Juru tulis itu bergerak, menggeliat. Aldric membeku.

Pria tua itu membuka mata. Menatap Aldric. Matanya melebar.

"Ka—"

Belum sempat ia berteriak, Aldric sudah menutup mulutnya dengan tangan. Belati di tangan satunya berada tepat di leher pria itu.

"Diam," bisik Aldric. "Aku tidak ingin membunuhmu."

Pria itu mengangguk panik, matanya basah oleh air mata ketakutan.

"Aku akan lepas tanganku. Kau tidak akan berteriak. Mengerti?"

Anggukan lagi.

Aldric melepaskan tangannya perlahan. Pria itu terengah-engah, tapi tidak berteriak.

"Siapa kau?" bisiknya.

"Seseorang yang tidak ingin pernikahan ini terjadi." Aldric merobek dokumen itu berkali-kali hingga menjadi serpihan kecil. "Kau tahu konsekuensi jika dokumen ini hancur?"

Pria itu mengangguk. "Pernikahan... tidak sah secara hukum."

"Bagus. Kau bisa diam dan pura-pura tidak tahu, atau kau bisa mati di sini. Pilih."

Pria tua itu memilih diam. Ia hanya duduk terpaku, gemetar, saat Aldric menyelesaikan penghancuran dokumen.

Setelah semua perkamen menjadi sobekan kecil, Aldric berdiri. Ia menatap pria itu sekali lagi.

"Maaf mengganggu tidurmu."

Lalu ia keluar, kembali ke loteng, meninggalkan pria tua yang masih gemetar di kursinya.

Dari loteng, Aldric turun melalui tangga belakang kapel. Lorong ini sepi—hanya digunakan oleh pelayan. Mira bilang, jam segini, biasanya tidak ada orang.

Ia bergerak cepat. Setiap sepuluh langkah, ia berhenti, mendengarkan, lalu melanjutkan.

Tiba di persimpangan. Kiri menuju dapur. Kanan menuju sayap barat—tempat kamar pengantin.

Ia mengambil kanan.

Lorong ini lebih terang, lebih ramai. Beberapa pelayan berlalu lalang dengan nampan berisi makanan dan minuman. Aldric menunduk, mempercepat langkah, berusaha tampil seperti pelayan biasa yang sedang buru-buru.

"Kau!"

Jantung Aldric berhenti.

Seorang kepala pelayan—wanita gemuk dengan wajah masam—berdiri di depannya, tangan bertumpu di pinggul.

"Kau pelayan baru? Aku tidak kenal wajahmu."

Aldric membungkuk hormat, suaranya dibuat serak. "Ya, Nyonya. Baru seminggu. Bekerja di dapur."

"Dapur?" Wanita itu mengerutkan dahi. "Lalu kau ke mana? Dapur di sebelah kiri."

"A-aah, aku tersesat, Nyonya. Besar sekali istana ini."

Wanita itu mendengus. "Dasar bodoh. Ikut aku, akan kuantar ke dapur. Kau jangan berkeliaran di sini—ini area tamu penting."

Aldric menurut. Ia mengikuti wanita itu, berpikir cepat. Jika ia sampai ke dapur, rencananya hancur. Elara tidak akan bisa diselamatkan.

Tiba-tiba, dari kejauhan, suara teriakan.

"KEBAKARAN! KEBAKARAN DI DAPUR!"

Api kecil buatan Mira membesar—atau mungkin sengaja diperbesar. Wanita kepala pelayan itu berteriak panik, langsung berlari ke arah dapur, melupakan Aldric sama sekali.

Aldric tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia berbalik, berlari ke arah sebaliknya, menuju sayap barat.

Terima kasih, Mira.

Kamar pengantin berada di ujung lorong sayap barat—kamar terbesar setelah kamar raja. Dulu kamar ini milik ibunya. Sekarang, untuk Elara.

Dua penjaga berdiri di depan pintu. Prajurit elit—postur tegap, mata tajam, tangan di gagang pedang.

Aldric bersembunyi di balik pilar, mengamati. Dua lawan satu? Ia bisa mengatasinya, tapi akan menimbulkan keributan. Belum lagi kemungkinan penjaga lain di sekitar.

Ia menunggu.

Dari arah tangga, seorang pelayan muncul—wanita muda dengan nampan berisi makanan. Mira. Jantung Aldric berdegup lega.

Mira berjalan mendekati pintu, tersenyum ramah pada penjaga.

"Makan malam untuk Nyonya Elara," katanya. "Atasan bilang harus diantar sekarang."

Penjaga pertama mengangguk, membuka pintu sedikit, mengintip ke dalam. "Taruh di meja. Jangan lama-lama."

Mira masuk. Pintu tertutup.

Aldric menunggu. Satu menit. Dua menit.

Pintu terbuka lagi. Mira keluar, tersenyum pada penjaga. Tapi sebelum pintu tertutup sempurna, ia meletakkan kaki mungilnya di ambang—menahan pintu agar tidak mengunci.

Penjaga tidak melihat. Mereka terlalu sibuk mengawasi lorong.

Mira berjalan pergi, melirik sekilas ke arah pilar tempat Aldric bersembunyi. Ia mengangguk hampir tak terlihat—kode bahwa jalan aman.

Aldric menunggu sampai Mira menghilang di ujung lorong. Lalu, dengan kecepatan iblis, ia melesat keluar dari balik pilar, menerjang dua penjaga itu sebelum mereka sempat bereaksi.

Buk! Buk!

Dua tebasan tepat di leher—tidak mematikan, hanya membuat pingsan. Penjaga itu roboh bersamaan, tubuh mereka jatuh dengan suara berat.

Aldric menyeret mereka ke balik pilar, menyembunyikan dari pandangan. Lalu ia melesat masuk melalui pintu yang sudah terbuka.

Kamar itu harum.

Wangi bunga ashford—bunga kesukaan Elara—memenuhi ruangan. Lilin-lilin menyala di setiap sudut, menciptakan suasana hangat. Di tengah kamar, sebuah ranjang besar dengan kelambu sutra merah. Di depan cermin rias, sesosok wanita duduk membelakangi pintu.

Gaun putih. Rambut merah api tergerai indah.

Elara.

Dunia Aldric berhenti.

Ia sudah membayangkan momen ini ribuan kali selama di dunia bawah. Bertemu lagi, menjelaskan semuanya, memeluknya. Tapi sekarang, saat Elara benar-benar di depan matanya, ia tidak bisa bergerak.

Elara menoleh.

Mata hijau zamrud itu membelalak. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar. Tangannya gemetar, meraih tepi meja rias untuk menopang tubuh.

"Ald... Aldric?"

Suaranya berbisik, hampir tidak terdengar. Seperti takut kalau ia bersuara keras, ilusi ini akan hancur.

Aldric melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Ia berhenti beberapa meter dari Elara, tidak berani mendekat.

"Aku hidup," katanya. Suaranya serak, aneh di telinganya sendiri.

Elara bangkit. Gaun putihnya mengalir indah, tapi ia tidak peduli. Ia berlari—tersandung gaunnya sendiri—hampir jatuh, tapi Aldric menangkapnya.

Untuk sesaat, mereka hanya diam berpelukan. Tubuh Elara gemetar hebat, tangisannya pecah di dada Aldric.

"Kau hidup... kau hidup... aku pikir kau mati... mereka bilang kau mati..." isaknya tidak karuan.

Aldric memeluknya erat. Wangi rambutnya—wangi yang sama, yang selalu ia rindukan di dasar jurang—memenuhi indranya. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa... utuh.

"Aku tidak mati," bisiknya. "Aku selamat. Aku kembali."

Elara mendongak. Wajahnya basah air mata, tapi matanya bersinar—campuran bahagia, tak percaya, dan takut.

"Tapi... bagaimana? Malam itu... kau jatuh ke jurang... tidak mungkin ada yang selamat dari—"

"Aku dapat bantuan." Aldric mengusap air matanya dengan ibu jari. "Dari iblis di bawah. Panjang ceritanya. Yang penting, aku di sini sekarang."

Elara menatapnya lama. Tangannya meraba wajah Aldric—kening, pipi, bibir—seolah ingin memastikan ini nyata.

"Kau berbeda," gumamnya. "Matamu... ada merahnya."

"Aku sudah berubah."

"Menjadi apa?"

Aldric tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Elara tidak memaksa. Ia hanya memeluknya lagi, lebih erat.

"Aku mencintaimu," bisiknya. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Malam itu, Darius mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menurut. Ia—"

"Aku tahu." Aldric memotong. "Aku sudah baca suratmu. Yang kau kirim ke Suster Mayra."

Elara terkesiap. "Kau... kau tahu?"

"Aku tahu semuanya. Kau korban. Bukan pengkhianat."

Untuk ketiga kalinya malam itu, Elara menangis—tangis lega, tangis bahagia, tangis penuh syukur. Selama berminggu-minggu ia memikul beban sendiri, takut semua orang menganggapnya pengkhianat, takut Aldric mati dengan kebencian di hati.

Dan sekarang, Aldric ada di sini. Hidup. Dan ia tahu kebenaran.

"Aku harus membawamu keluar," kata Aldric setelah tangis Elara mereda. "Pernikahan ini—"

"Aku tahu. Tapi bagaimana? Penjaga di luar—"

"Sudah kuatasi. Tapi kita harus cepat. Pengalihan tidak akan bertahan lama."

Elara mengangguk. Ia berbalik, mengambil sesuatu dari laci meja rias—sebuah belati kecil dengan ukiran bunga di gagangnya.

"Untuk berjaga-jaga," katanya. "Kalau sampai terpaksa... aku lebih baik mati daripada menikah dengannya."

Aldric menatap belati itu, lalu menatap Elara. Wanita ini—wanita yang dulu lembut, penakut—telah berubah. Mungkin sama seperti dirinya.

"Kau tidak perlu itu," katanya, mengambil belati dan menyimpannya di pinggangnya. "Aku akan membawamu keluar. Hidup."

Mereka berpegangan tangan, bersiap keluar.

Tapi sebelum mereka mencapai pintu, suara itu datang.

Tepuk tangan.

Pelan, berirama, mengejek.

Dari balik tirai beludru di sudut kamar, sesosok bayangan melangkah keluar. Jubah hitam, topeng perak menutupi separuh wajah. Dua sosok serupa muncul dari balkon, dari balik lemari, dari balik pintu kamar mandi.

Empat orang. Empat anggota The Shadow Council.

Dan di tengah mereka, dengan senyum puas di wajah tampannya, berdiri Darius Veynheart.

"Selamat malam, Adikku," sapanya. "Aku sudah menunggumu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!