Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Urusan honeymoon pun kelar dengan satu keputusan. Kalau Arka dan Aruna memutuskan untuk menundanya.
Pada awalnya Melisa protes dan memaksa keduanya untuk honeymoon, bahkan Melisa sudah menawarkan tiket honeymoon untuk keduanya__akan tetapi Arka beralasan kalau Arka dan Aruna sama-sama sedang sibuk sekarang, Arka juga membujuk mamanya supaya mamanya mengerti dan kalau nanti mereka sudah lenggang, honeymoon itu akan terlaksana.
Beres dengan honeymoon. Namun keduanya tak lamgsung merasa lega, sebab ada masalah lain yang menunggu keduanya.
Tidur sekamar, ya. Mereka di haruskan ubtuk berbagi ranjang__sebetulnya hal ini adalah hal biasa untuk pasangan pengantin, harusnya begitu sih, ya! Tapi tentu saja tidak untuk Arka dan Aruna yang notabennya menikah bukan karena saling cinta__kalau di beri pilihan lain, mungkin mereka akan mengambil pilihan lain itu, sayang tidak ada. Selain mengambil resiko Afdal dan Melisa mengetahui kalau pernikahan mereka tak ubahnya hanya sebuah nama saja.
Baiklah, sejak beberapa menit Aruna menghela nafasnya dalam-dalam, mondar-mandir dari kanan ke kiri sambil satu tangan mengetuk-ngetuk dagubya, jangan lupa suara berisik di dalam sana yang terdengar beberapa kali menghentak bahkan membuat Aruna semakin ingin kabur saja__sebagai jomblo dari lahir, agaknya tidur bersama pria seakan membuat Aruna mau meninggoy saja, ok. Terlalu berlebihan memang!! Tapi beneran, Aruna tidak terbiasa dan Aruna gugup, sangat!
Bagaimana kalau Arka melakukan hal yang iya-iya padanya? Walaupun harusnya tak masalah sih, mengingat Aruna yang sudah menjadi istrinya, tapi Aruna tidak mau. Terlebih pernikahan mereka hanya akan bertahan dua tahun saja.
CKLEK
Pintu kamar di buka dari luar dan membuat Aruna pun di hantam kenyataan. Pria yang menjadi keresahannya pun kini mulai menampilkan batang hidungnya__ok, slow, kalem, tarik nafas, hembuskan, tarik nafas, hembuskan.
Arka lelah, sungguh. Lebih tepatnya bukan lelah fisik, melainkan hati. Bagaimana tidak! Dia di ceramahi oleh kedua orang tuanya dan di suruh untuk segera memberikan mereka cucu__astaga, memang di pikir buat cucu gampang, apa? Iya sih, gampamg kalau bersama Elia. Tapi masalahnya yang menjadi istrinya adalah Aruna dan Adka tidak menyukai Aruna sama sekali__walau dalam beberapa kesempatan, patut di akui Aruna juga cantik dan bodinya lumayan, tapi belum cukup mampu membuat Arka 'mau' atau mungkin lebih tepatnya Arka mencoba menahan diri dan mengulang nama Elia di kepalanya.
OMG, ingin sekali Arka berlari ke bengkel dan tidur di sana, meskipun keesokan paginya tubuhnya akan pegal-pegal, lebih baik. Setidaknya dengan dia di sana, Arka bisa lolos dari orang tuanya dan Aruna.
“Mas Arka, tidur di sofa?.“Tanya Atuna yang mampu mengembalikan kewarasan Arka dari lamunan. Pria itu menoleh pada Aruna dengan sorot mata tajam dan wajah menyebalkannya. Ok, karena Aruna sudah terbiasa, jadi Aruna tidak terlalu takut.
“Kalau mau di sofa, silahkan. Saya tidak akan menyiksa tubuh saya hanya untuk membuat kamu tidur sendiri di ranjang!.“
Sialan, batin Aruna mencibir, dia kira Arka seoramg yang gentle man, ternyata bukan!! Huhhhh...
Walau sofa yang ada di kamar Arka ini terlihat begitu empuk dan tidak buruk-buruk amat, tapi agaknya Aruna juga tak mau mengalah. Buat apa? Agar membuat pria itu menyeringai kesenangan, karena Aruna berbaik hati memberikan ranjang drngan ukuran king size itu untuknya sendiri? Oh tidak, Aruna tidak sebaik itu.
Baiklaj, lagi pula ukuran ranjangnya pun besar dan luas, Aruna tak perlu takut dan khawatir, setidaknya dengan Aruna tidur di atas dan memasang batas, maka Arka tidak akan mendekat ke arahnya, oh iya. Aruna juga punya raket nyamuk, kan? Nah senjata itu bisa ia gunakan untuk membuat Arka ketakutan tak mau menyentuhnya.
“Ternyata kamu tidak mau mengalah, ya..“Tukas Arka sambil menyeringai dan menatap Aruna penuh ejekan, Aruna mendengus kasar.
“Saya di sini, ukuran ranjangnya juga cukup luas. Saya akan memberi batasan dan Mas Arka di larang untuk menggeser tubuh Mas Arka.“
Arka terkekeuh pelan”Tanpa kamu suruh pun, saya tidak mau. Lagi pula, kamu bukan tipe saya, Run.“Tegas Arka sambil melirik Aruna lekat dari atas sampai bawah dan spa yang Arka lakukan membuat Aruna benar-benar gugup hingga kedua tangannya di taruh menyilang di atas dada.
“Kamu bukan tipe saya, tipe saya seperti angelina jolie.“Bisik Arka sambil tersenyum penuh arti dan sukses membuat Aruna mengercutkan bibir dan juga mengeratkan tangannya pada pakaian yang di pakainya.
Sialan, secara tidak langsung Arka mengatakan kalau Aruna sama sekali tidak menggairahkan__oh shit, apa katanga tadi. Angelina jolie. Bahkan kakaknya, Elia pun tidak seperti angelina jolie kok.
Huhh, dasar pria menyebalkan.
*****
Sepasang suami istri itu sudah terbating di atas ranjang dengan saling memunggungi. Tidak ada yang bersuara sama sekali__hanya kehemingan yang terasa di atntara mereka dan serta hanya suara harum jam saja yang hadir di antara mereka.
Sebetulnya mereka berdua tidam atau belum bisa tidur, pikiran mereka melayang dan mereka berdua sama-sama terlihat lelah serta menarik nafas panjang.
Air mata Aruna jatuh begitu saja, saat sekelebat bayangan dia dan ibunya kembali hadir. Bagaimana ibunya dengan terang-terangan seakan tidak suka dengan kedatangan Arun, yang padahal mereka sudah cukup lama tak bertemu__bagaimana dengan jelas, ibunya sangat mencintai dan menyayangi Elia ketimbang Aruna.
Aruna mungkin sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi jangan lupakan kalau Aruna pun hanya seorang manusia biasa, terkadang ia juga tak tahan dan ingin menangis karena rasa sakit yang selama bertahun-tahun ia tumpuk dan pendam sendiri.
Aruna tak membenci Elia. Tapi dengan kehadiran Elia justru membuat Aruna bahkan di anggap mahluk tak kasat mata oleh ibunya__bukan Aruna senang dengan Elia yang tidak ada. Tidak, Aruna bahkan sangat merindukan kakaknya. Tetapi Aruna pikir, ini kesempatan bagi dirinya untjk mengakrabkan diri pada sang ibu dan bisa membuat penghibur bagi ibunya yang tengah sedih karena kakaknya yang pergi entah kemana__tapi Aruna malah di tolak, Aruna seolah di ingatkan kalau dirinya hanyalah seorang anak kedua yang selamanya tidak akan bisa menggantikan posisi kakaknya.
Tanpa sadar, suara isak tangis itu semakin terdengar kencang dan membuat pria di sisi lainnya menegakan tubuh dan mencari sumber suara. Sampai Arka pun tahu kalau yang menangis adalah istrinya yang sedang memunggunginya. Arka dengan cepat mendrkati Aruna dan sedikit melongok ke arah sana untuk melihat Aruna, entah kenapa. Tapi Arka tidak tega, terlebih ketika terdengar suara parau dan penuh keputus asaan dari wanita itu.
“Runa..“Arka memanggilnya, Aruna tak menyahut dan masih menangis pilu. Arka menghela nafas panjang, astaga.. apa sih, ini tidak benar, sungguh! Mau Aruna sedih, bahagia sampai pingsan, bukan urusannya, demi apapun!!
Tapi di satu sisi lain, Arka tak bisa membiarkannya, entah kenapa hatinya terusik untuk membuat Aruna tenang.
“Runa..“Arka memanggilnya lagi dan sekarang dengan berani tangan pria itu menyentuh tubuhnya dan berhasil menghentikan tangisan Aruna. Tubuh Aruna menegang tatkala merasakan sesuatu menyentuhnya, tatkala Aruna sedikit mengangkat wajahnya, dia syok begitu menemukan wajah Arka yang terlihat teduh dan menatapnya runit.
Aruna ketahuan menangis dan Aruna tidak suka itu! Tapi sudah terlanjur juga.
“Runa__.“
“Tolong lupakan ini dan anggap tidak ada yang terjadi.“Potong Aruna dengan suaranya yang serak karena habis menangis, Arka mencibir. Bagaimana Arka bisa lupa, toh suara tangisan Aruna juga cukup kencang..ckck
“Bangun dulu.“Ucap Arka, Aruna terlihat kebingungan. Walau begitu, ia tak membantah dan benar-benar bangun dari baringannya.
Wajahnya bengkak, matanya membesar, hidungnya sama. Dan yang paling Aruna benci dari semua itu adalah, orang lain melihat Aruna yang lemah__shit, Aruna harusnya bisa menahan diri untuk tidak menangis dan tidur dengan tenang, tapi Aruna juga tak bisa menahan hormonnya yang akan sebentar lagi haid dan di saat keadaan inilah, Aruna menjadi lebih sensitif.
Arka berdehm sebentar, lalu pria itu menggeser tubuhnya dan membuat Aruna kebungungan, satu tangan menepuk pundaknya dan membuat Aruna kebingungan..
Dengan mata yang bergulir ke atas, Arka berucap seraya sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aruna.
“Karena saya sedang baik hati, maka saya izinkan kamu untuk bersandar di bahu saya, Aruna!!.“
Dan Aruna benar-benar di buat tidak percaya dengan apa yang barusan Arka katakan.