Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Labirin Gunung Parang
Suara deru mesin Scoopy itu kini berubah menjadi lengkingan statis yang menyakitkan telinga.
Di bawah sorot lampu depan yang putih pucat, nisan marmer hitam itu seolah mencair. Sosok wanita yang diyakini sebagai Bibi Mei perlahan melangkah keluar dari permukaan batu. Kakinya tidak menapak tanah, melainkan mengambang di atas genangan cairan perak yang merembes dari mesin motor.
"Del, kita lari sekarang!" Geri menarik lengan Della, tapi Della bergeming.
Pandangan Della terkunci pada sosok wanita itu. Wajahnya kini tidak lagi pucat pasi, melainkan mulai mendapatkan rona warna rona yang diambil langsung dari warna kulit Della. Garis merah marun di tangan Della memucat, sementara di tangan sosok wanita itu, muncul garis serupa yang mulai bercahaya.
"Dia nggak cuma mau masuk ke motor, Ger," bisik Della, suaranya parau. "Dia mau tukar tempat."
Sasha yang berdiri di belakang Geri mulai menangis ketakutan. "Del, liat wajahnya... dia makin mirip sama loe!"
Benar saja.
Setiap inci wajah sosok itu mulai menyesuaikan diri dengan fitur wajah Della. Ini adalah alasan mengapa Kakek Tan memberikan motor itu pada Della; bukan sebagai warisan, melainkan sebagai wadah pengembalian. Scoopy itu adalah jembatan, dan setiap retakan di spion adalah langkah menuju sinkronisasi sempurna.
"Maafkan aku, Sayang..." suara Bibi Mei kini terdengar identik dengan suara Della sendiri. "Tapi dingin di dalam sana tidak tertahankan. Biarkan aku merasakan hangatnya nafas lagi."
Sosok itu mengulurkan tangan ke arah sisir perak yang masih digenggam Della. Begitu ujung jari pucat itu menyentuh punggung tangan Della, retakan kesepuluh muncul di spion motor.
KRAK!
Spion kiri itu kini pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, namun kepingan itu tidak jatuh ke tanah. Mereka melayang di udara, mengorbit di sekeliling kepala Della seperti mahkota kaca yang tajam.
Tiba-tiba, pemandangan Gunung Parang menghilang. Della, Geri, dan Sasha tidak lagi berada di pemakaman, melainkan di dalam sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh ribuan cermin. Di setiap cermin, terpampang potongan sejarah motor tua itu.
Della melihat tahun 1998, saat kerusuhan pecah. Kakek Tan sedang menyembunyikan Bibi Mei di dalam sebuah gudang rahasia di bawah bengkel.
Ia melihat Bibi Mei yang sedang memegang spion motor itu, menggunakan kekuatannya untuk "melihat" arah datangnya bahaya agar keluarganya selamat.
Namun, harga dari penglihatan itu adalah jiwanya tersedot masuk ke dalam kaca saat spion itu pecah untuk pertama kalinya.
"Dia berkorban buat keluarga kita, Ger," Della berteriak di tengah labirin cermin itu. "Kakek nggak numbalin dia... Kakek cuma nggak bisa ngeluarin dia!"
Di dunia nyata, Geri melihat tubuh Della mulai transparan. Bagian kakinya perlahan berubah menjadi asap hitam yang mirip dengan bayangan yang tadi berlari di trotoar.
"Della! Lawan, Del! Jangan kasih dia masuk!" Geri nekat menerjang ke arah motor, Ia tidak lagi peduli pada sengatan listriknya. Ia mengambil baut kuningan yang tadi terpasang di blok mesin dan mencoba mencabutnya paksa dengan tangan kosong.
"GERI, JANGAN! TANGAN LOE!" teriak Sasha.
Kulit tangan Geri mulai melepuh, bau daging terbakar tercium tajam, tapi Geri tetap mencengkram baut itu. "Gue nggak peduli... motor ini nggak boleh ngambil temen gue!"
Dengan satu tarikan bertenaga, Geri berhasil mencabut baut kuningan itu.
BOOM!
Ledakan energi dingin melontarkan mereka semua ke arah yang berbeda, Labirin cermin hancur berkeping-keping.
Della tersedak, menghirup udara malam Gunung Parang yang nyata lagi. Ia jatuh tersungkur di aspal, sementara sosok Bibi Mei terdorong kembali ke arah nisan marmer hitam.
Wajah sosok itu kembali memucat dan kabur. Ia menjerit tanpa suara, cakarnya mencoba menggapai udara, namun tanpa baut kuningan itu sebagai jembatan, ia tidak bisa menyeberang sepenuhnya.
Nisan marmer itu retak secara fisik retakan besar yang membelah batu itu menjadi dua.
"Della... lo oke?" Geri merangkak mendekat, tangannya gemetar dan menghitam, namun ia masih memegang baut kuningan yang kini sudah dingin.
Della melihat ke arah tangannya. Garis merah marun itu sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan bekas luka putih permanen yang membentuk simbol mata. Ia menoleh ke arah Scoopy-nya.
Spion kiri itu sekarang kosong. Tidak ada kaca sama sekali, hanya bingkai logam yang hancur.
Namun, di dalam blok mesin, suara detak jantung itu tetap ada. Sangat pelan. Sangat samar.
"Kita belum selesai, Ger," bisik Della sambil menatap nisan yang terbelah. "Bukan dia yang jahat. Tapi sesuatu yang ngejar dia di dalam sana."
Geri masih terduduk di aspal, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton menanjak. Baut kuningan di tangannya kini tidak lagi bercahaya, namun terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan ton sejarah keluarga Tan.
"Ger, tangan loe..." Della merangkak mendekat, wajahnya penuh kecemasan.
Geri melihat telapak tangannya. Kulitnya yang melepuh tadi tidak lagi berdarah, melainkan tertutup lapisan tipis berwarna perak sama dengan warna oli motor Della. "Gue nggak ngerasa sakit, Del. Gue cuma ngerasa... kosong."
Sasha berdiri di belakang mereka, menatap nisan marmer hitam yang terbelah dua. "Del, liat itu. Cairannya... cairannya nggak berhenti."
Cairan perak yang merembes dari nisan itu kini mulai membentuk genangan luas yang tidak mengalir ke tempat rendah, melainkan berputar mengelilingi motor Scoopy Della. Cairan itu seolah-olah memiliki kesadaran sendiri, mencoba menyambungkan kembali "jembatan" yang baru saja diputus paksa oleh Geri.
Tiba-tiba, suasana di Gunung Parang berubah. Bukan lagi sekadar dingin, tapi hampa suara. Della menoleh ke arah gerbang pemakaman.
Di sana, di bawah remang lampu jalan yang berkedip, puluhan sosok muncul dari balik kegelapan.
Mereka bukan hantu berbaju putih atau anak-anak pembawa cermin. Mereka adalah sosok pria-pria berpakaian hitam dengan wajah yang tertutup masker kain, masing-masing membawa tongkat kayu pendek yang di ujungnya terikat potongan cermin kecil.
"Mereka siapa lagi, Del?" Sasha mulai panik, tangannya mencengkeram bahu Della kuat-kuat.
"Penjaga Koleksi..." suara si kakek penjaga makam terdengar dari kegelapan di atas bukit nisan. Sosoknya muncul perlahan, masih dengan arit dan mata yang tertutup kain putih. "Mereka adalah sisa-sisa anak buah Pak Hendra. Para 'Pencuri Bayangan' yang sudah menunggu selama tiga puluh tahun untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik mereka."
Si kakek berdiri di samping Della, ujung aritnya terhunus ke arah gerombolan pria berbaju hitam itu. "Mereka tidak menginginkan jiwamu, Nona. Mereka menginginkan 'kunci' yang ada di dalam mesin motor itu untuk membuka pintu ke dunia yang lebih luas."
"Maksud Bapak, Bibi Mei?" tanya Della.
"Bibi Mei hanyalah penjaganya. Di dalam mesin itu, ada penglihatan tentang masa depan Sukabumi... penglihatan yang bisa membuat pemiliknya menguasai segalanya."
Para pria berbaju hitam itu mulai bergerak maju, melangkah serentak dengan irama yang membuat bulu kuduk berdiri. Suara gesekan kaki mereka di atas tanah kering terdengar seperti suara ribuan ular yang merayap.
"Geri, kasih baut itu ke gue," ucap Della tegas.
"Lo mau ngapain? Kalau kita pasang lagi, Bibi Mei bakal ngambil tubuh loe!" Geri mencoba melindungi baut itu.
"Nggak akan. Gue tahu caranya sekarang. Kakek Tan nggak pernah bermaksud numbalin Bibi Mei. Dia cuma nunggu orang yang bisa 'berbagi' beban itu tanpa harus hancur."
Della mengambil baut itu dari tangan Geri. Kali ini, ia tidak membiarkan garis merah di tangannya yang bekerja. Ia menutup matanya, membayangkan sosok Bibi Mei yang cantik dan penuh pengorbanan di tahun 1998. Ia memanggil memori-memori hangat tentang keluarga besarnya sebelum semuanya menjadi dingin dan kelabu.
Sreeet!
Della menggoreskan ujung baut kuningan itu ke telapak tangannya sendiri yang sudah memiliki bekas luka berbentuk mata. Sedikit darahnya menetes ke baut tersebut.
"Bukan sebagai tumbal," bisik Della. "Tapi sebagai saudara."
Begitu baut itu menyentuh blok mesin Scoopy, tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan cahaya biru. Yang ada hanyalah suara mesin yang perlahan-lahan hidup kembali dengan suara yang paling merdu yang pernah mereka dengar. Suara itu bukan lagi dengungan mistis, melainkan harmoni yang menenangkan.
Sosok Bibi Mei yang tadi terdesak masuk ke dalam nisan, kini muncul kembali di samping motor. Namun kali ini, wajahnya tidak lagi berubah menjadi wajah Della. Ia tetap menjadi dirinya sendiri seorang wanita cantik dengan kebaya putih khas peranakan.
Ia tersenyum pada Della, lalu perlahan-lahan sosoknya mengecil dan masuk ke dalam lampu depan motor.
Lampu depan Scoopy yang tadinya putih pucat, kini memancarkan cahaya kuning hangat yang menembus kabut dan mengusir para 'Pencuri Bayangan' yang tadi mengepung mereka. Para pria berbaju hitam itu mundur seketika, menutupi mata mereka saat cahaya itu mengenai cermin-cermin kecil di tongkat mereka hingga pecah berkeping-keping.
"Mereka pergi," gumam Sasha, terduduk lemas di tanah.
Della memegang stang motornya. Spion kiri yang tadinya hancur, kini secara ajaib terisi kembali dengan kaca yang baru. Tidak ada retakan. Jernih. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, di sudut bawah kaca spion itu, ada ukiran kecil berbentuk bunga mawar dan mawar itu berwarna merah darah.
"Masalah ini selesai, Ger," ucap Della sambil menatap langit malam yang mulai cerah. "Tapi mereka bakal balik lagi. Pak Hendra nggak bakal diem aja hartanya jadi 'hidup' kayak begini."
Geri berdiri, menatap telapak tangannya yang kini meninggalkan bekas perak permanen. "Gue rasa gue butuh belajar lebih banyak soal mesin 'bernyawa' ini kalau mau terus nemenin lo, Del."
Della naik ke atas Scoopy-nya.
Mesinnya bergetar lembut, seolah-olah Bibi Mei sedang memeluknya dari dalam mesin.