NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang direnggut takdir

Rasa curiga yang beberapa hari terakhir menggerogoti dadaku perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain—

Pemahaman.

“Aku bukan tidak ingin menyentuhmu,” lanjutnya lebih pelan. “Aku hanya tidak ingin menjadi pria yang membuatmu takut.”

Aku berdiri perlahan, lalu berjalan mendekatinya.

Untuk pertama kalinya, aku memegang tangannya lebih dulu.

“Kalau begitu… berhenti menebak perasaanku.”

Ia menatap jemari kami yang saling bertaut.

“Ajari aku,” katanya pelan.

Permintaan itu terdengar begitu tulus hingga membuatku nyaris tersenyum di tengah air mata.

“Kita belajar bersama,” jawabku.

Tangannya menghangat.

Tidak ada adegan tergesa.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Hanya dua orang yang akhirnya berhenti bersembunyi di balik ketakutan masing-masing.

Namun sebelum malam itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, Ashar kembali berkata pelan—

“Ada satu hal lagi yang belum kuceritakan.”

Jantungku kembali berdegup tak karuan.

“Apa?”

Ia menatapku, kali ini dengan campuran rasa bersalah dan ketakutan.

“Aku pernah hampir membatalkan pernikahan kita.”

Duniaku seperti berhenti berputar.

“Hampir… membatalkan?”

“Bukan karena aku tidak menginginkanmu.”

“Lalu?”

Ia menarik napas panjang.

“Karena aku takut kamu pantas mendapatkan pria yang lebih yakin daripada aku.”

Aku terpaku.

Ternyata selama ini bukan aku yang tidak cukup.

Tapi ia yang merasa tidak cukup.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat jelas—

Suamiku bukan lelaki yang menyembunyikan orientasi.

Ia hanyalah lelaki polos yang terlalu lama hidup dalam bayang-bayang keraguan dirinya sendiri.

Namun pertanyaan berikutnya mulai muncul pelan di benakku.

Jika ia selama ini hidup dalam ketakutan akan kehilangan…

Akankah suatu hari ketakutan itu justru menjadi alasan ia benar-benar kehilanganku?

Malam itu tidak berakhir dengan jawaban.

Tapi dengan dua orang yang akhirnya menyadari—

Masalah mereka bukan soal hasrat.

Melainkan keberanian.

Dan kami baru saja mengambil langkah pertama

Hujan turun tipis malam itu.

Tidak deras. Tidak pula hanya gerimis. Seperti langit yang sedang menahan tangisnya sendiri.

Aku berdiri di depan jendela kamar, menatap lampu-lampu jalan yang tampak buram karena air hujan. Di belakangku, Ashar masih duduk di tepi tempat tidur.

Sunyi, tapi tidak lagi canggung seperti sebelumnya.

Malam ini berbeda.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, tidak ada jarak yang terasa asing. Tidak ada dinding tak kasat mata yang menghalangi.

Hanya ada dua orang yang sama-sama berusaha lebih berani.

“Aku takut,” ucapku pelan tanpa menoleh.

“Aku juga,” jawabnya jujur.

Aku tersenyum kecil.

Aneh. Mendengar suamiku mengakui ketakutannya justru membuatku merasa lebih aman.

Aku berbalik perlahan.

Tatapannya tidak lagi penuh keraguan seperti sebelumnya.

Masih ada gugup, tentu saja. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat di sana—

Keputusan.

Ia berdiri dan berjalan mendekat.

Tangannya terangkat, lalu berhenti sesaat di udara, seolah memberi kesempatan terakhir bagiku untuk mundur.

Aku tidak mundur.

Tangannya menyentuh pipiku dengan hati-hati. Bukan seperti lelaki yang ragu lagi. Tapi seperti seseorang yang akhirnya berani belajar.

“Mala,” bisiknya pelan.

Jantungku berdegup begitu keras hingga aku takut ia bisa mendengarnya.

“Aku tidak ingin kamu merasa sendirian lagi,” lanjutnya.

Kata-kata itu membuat mataku panas.

Ia tidak sedang membicarakan tubuhku.

Ia sedang membicarakan hatiku.

Tangannya perlahan berpindah ke pundakku, lalu menarikku dalam pelukan. Pelukan kali ini berbeda. Tidak setengah-setengah. Tidak kaku.

Aku merasakan kehangatan dadanya. Detak jantungnya yang juga tak kalah cepat.

“Kalau kamu ingin berhenti, bilang kapan saja…” katanya pelan.

Aku menggeleng kecil di dadanya.

“Aku tidak ingin berhenti.”

Kalimat itu keluar lebih mantap dari yang kuduga.

Ia menarik napas panjang, seolah menguatkan diri.

Tangannya perlahan mengusap punggungku. Tidak tergesa. Tidak kasar. Hanya penuh kehati-hatian.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ditolak.

Aku merasa dipilih.

Ia mencium keningku. Lalu pelipisku. Turun perlahan ke pipi.

Sentuhan itu masih canggung, tapi tulus.

Aku memejamkan mata.

Mungkin malam ini, akhirnya—

Tiba-tiba ponselku berdering.

Suara itu terasa begitu nyaring di tengah keheningan kamar.

Kami sama-sama terkejut.

Aku mundur sedikit. Napasku masih tidak teratur.

Layar ponsel menyala di atas nakas.

Nama yang tertera di layar ponsel membuat jantungku berhenti berdetak sesaat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!