NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTAHANAN YANG MULAI JEBOL

Hari-hari setelah itu menjadi semakin sulit bagi Anela.

Bukan karena Rico melakukan sesuatu yang berlebihan.

Justru sebaliknya.

Pria itu terlalu sabar.

Terlalu tenang.

Terlalu konsisten berada di sekitar hidupnya tanpa pernah memaksa.

Dan itu perlahan-lahan membuat pertahanan Anela retak.

Suatu malam, Anela pulang lebih larut dari biasanya.

Hari di showroom melelahkan, pelanggan banyak, kepalanya penuh angka dan negosiasi.

Begitu mobilnya masuk ke halaman rumah, ia melihat sesuatu yang sudah mulai terasa familiar.

Mobil hitam Rico.

Parkir di depan rumah.

Lampu teras menyala.

Dan Rico duduk di tangga kecil depan pintu bersama Ziyo.

Anak itu tertawa keras.

“Ko Rico curang!”

“Aku tidak curang.”

“Curang! Tadi bolanya masuk!”

Rico mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.

“Ya sudah. Poin buat kamu.”

Ziyo bersorak kecil.

Anela berdiri beberapa detik di dekat mobilnya.

Melihat mereka.

Pemandangan itu membuat dadanya terasa aneh.

Hangat… tapi juga menakutkan.

Karena ini mulai terlihat seperti keluarga kecil.

Dan itu sesuatu yang selama ini ia jaga jaraknya.

Ziyo akhirnya melihatnya.

“Ma!”

Ia langsung berlari menghampiri.

“Ko Rico datang!”

“Iya, Mama lihat.”

Rico berdiri dari tangga.

Tatapan mereka bertemu.

Seperti biasa, ada sesuatu yang langsung bergerak di udara ketika mereka saling melihat.

“Kerja lembur?” tanya Rico.

Anela mengangguk.

“Lumayan.”

Ziyo menarik tangan Rico.

“Ko Rico ngajarin aku shoot!”

“Benar?”

Ziyo langsung memamerkan gerakan tembakannya yang agak kacau.

Rico tertawa kecil.

Anela akhirnya ikut tersenyum.

Tidak lama kemudian Ziyo mulai mengantuk.

Anela membawanya masuk ke kamar.

Setelah beberapa menit, rumah kembali sunyi.

Ketika ia kembali ke ruang tamu, Rico masih duduk di sofa.

Lampu rumah redup.

Suasana terasa lebih tenang dari biasanya.

“Dia cepat sekali lelah,” kata Rico pelan.

“Anak lima tahun,” jawab Anela sambil duduk di kursi seberang.

Sunyi sebentar.

Anela menatap Rico.

“Aku gak pernah bayangin kamu bakal akrab sama anak kecil.”

Rico mengangkat bahu.

“Aku punya banyak keponakan.”

“Serius?”

“Iya. Aku yang biasanya disuruh jagain mereka.”

Anela sedikit tersenyum.

Ada sisi lain lagi dari pria ini yang baru ia lihat.

Rico menatapnya balik.

“Kamu kelihatan capek.”

“Sedikit.”

Sunyi lagi.

Lalu Rico berdiri.

Ia berjalan mendekat.

Tidak terlalu dekat… tapi cukup untuk membuat jantung Anela mulai berdegup lebih cepat.

“Kamu harus istirahat.”

“Aku tahu.”

Tapi mereka tetap berdiri di sana.

Tidak ada yang bergerak.

Udara terasa lebih hangat.

Anela sadar sesuatu yang sudah ia tahan selama berminggu-minggu sekarang berada tepat di depannya.

Rico.

Pria yang terus muncul dalam hidupnya.

Pria yang selalu ia usir… tapi tidak pernah benar-benar ingin ia pergi.

Rico menatapnya dengan cara yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Tapi kali ini Anela tidak mundur.

Ia justru berkata pelan,

“Kamu masih sering menatap aku seperti itu.”

Rico tersenyum tipis.

“Kamu masih menyadarinya.”

Sunyi.

Anela menelan ludah.

“Kenapa kamu belum menyerah?”

Rico menjawab tanpa ragu.

“Karena kamu belum benar-benar menutup pintu.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Anela akhirnya… lelah menahan.

Ia menghela napas panjang.

“Rico.”

“Iya?”

“Aku capek pura-pura gak merasakan apa-apa.”

Udara terasa semakin tegang.

Rico tidak bergerak.

“Kalau kamu mencium aku sekarang…” lanjut Anela pelan.

“…aku mungkin gak akan menghentikanmu.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Rico menatapnya dalam.

Lalu berkata dengan suara rendah,

“Anela… aku menahan diri selama ini bukan karena aku tidak mau.”

“Lalu?”

“Karena aku ingin kamu benar-benar siap.”

Sunyi.

Anela memperhatikan wajahnya.

Cara pria itu masih berusaha memberi ruang.

Masih hati-hati bahkan sekarang.

Dan justru itu yang akhirnya membuat pertahanannya benar-benar runtuh.

Ia melangkah lebih dekat.

Hanya satu langkah kecil.

Cukup untuk menghapus jarak yang tersisa.

“Sekarang aku siap berhenti menahan,” bisiknya.

Rico masih menatapnya.

Jawaban itu membuat Rico terdiam sesaat.

Tangannya perlahan terangkat… lalu berhenti di udara seolah memberi kesempatan Anela untuk menolak.

Namun Anela tidak bergerak.

Ujung jari Rico akhirnya menyentuh lengannya.

Sentuhan ringan itu justru membuat tubuh Anela merinding.

Ia memejamkan mata sebentar.

Rico memutar tubuh Anela perlahan sampai mereka saling berhadapan.

Jarak mereka sekarang nyaris tak ada.

Tatapan Rico turun sejenak ke bibir Anela, lalu kembali ke matanya.

“Aku udah lama pengen melakukan ini,” ucapnya rendah.

Detik berikutnya, bibir mereka bertemu.

Awalnya pelan.

Seperti dua orang yang masih ragu apakah mereka benar-benar ingin melangkah sejauh ini.

Namun keraguan itu cepat menghilang.

Anela mencengkeram kemeja Rico saat pria itu menariknya lebih dekat. Tubuh mereka menempel, dan Anela bisa merasakan betapa kuatnya pelukan Rico menahannya.

Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam.

Lebih hangat.

Lebih lapar.

Seolah semua emosi yang mereka tahan selama ini akhirnya menemukan jalan keluar.

Tangan Rico bergerak ke punggung Anela, menariknya semakin dekat sampai Anela terpaksa sedikit bersandar pada meja dapur.

Napas mereka mulai tidak teratur.

“Rico…” bisik Anela di sela napasnya.

Suara itu justru membuat mata Rico semakin gelap oleh keinginan yang lama ia tahan.

Namun ia tetap berhenti sejenak.

Dahinya menempel pada dahi Anela.

“Aku masih bisa berhenti kalau kamu mau,” katanya pelan.

Anela membuka mata.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.

Lalu Anela menarik kerah kemeja Rico dan menciumnya lagi.

Kali ini lebih berani.

Lebih yakin.

Jawaban tanpa kata.

Rico mengeluarkan napas pelan, seolah semua kesabarannya akhirnya runtuh.

Ia mengangkat Anela sedikit ke atas meja dapur, memeluknya erat sementara ciuman mereka semakin dalam dan penuh gairah yang tak lagi disembunyikan.

Di luar, kota masih bergerak seperti biasa.

Namun di dalam apartemen kecil itu…

dua orang yang sejak lama mencoba menahan diri akhirnya berhenti berpura-pura.

Dan malam itu,

pertahanan Anela benar-benar jebol.

Anela masih duduk di tepi meja dapur ketika Rico memeluknya. Nafas mereka belum sepenuhnya tenang setelah ciuman panjang yang barusan terjadi.

Jarak di antara mereka hampir tidak ada.

Tangan Rico masih berada di pinggang Anela, menahannya agar tidak turun dari meja. Sementara tangan Anela mencengkeram bahu pria itu, seolah tubuhnya belum siap menjauh.

“Ini salah…” bisik Anela pelan, tapi suaranya tidak benar-benar terdengar seperti penolakan.

Rico menatapnya lama.

“Kalau kamu benar-benar mau berhenti… bilang sekarang.”

Anela tidak menjawab.

Sebaliknya, ia menarik Rico kembali mendekat.

Ciuman mereka kembali bertemu, lebih pelan kali ini, tapi terasa lebih dalam. Seolah mereka sedang menikmati sesuatu yang terlalu lama mereka tahan.

Rico menundukkan wajahnya ke leher Anela, membuat perempuan itu menarik napas panjang.

“Ehmmmh.....Rico…” bisiknya lagi.

Namun sebelum momen itu berubah lebih jauh—

Suara gesekan terdengar dari ruang tamu.

Keduanya langsung berhenti.

Rico mengangkat kepala cepat.

Anela menegang.

Dari arah ruang tamu terdengar suara kecil.

Gerakan.

Seperti seseorang bergeser di sofa.

“Ziyo…” bisik Anela panik.

Rico langsung mundur setengah langkah.

Mereka berdua menahan napas.

Suasana apartemen tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Hanya ada suara kipas angin… dan detak jantung Anela yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri.

Langkah kecil terdengar.

Anela langsung turun dari meja dapur.

Rico refleks mematikan lampu dapur, membuat ruangan hanya diterangi cahaya samar dari ruang tamu.

Mereka berdiri sangat dekat di kegelapan.

Ziyo terdengar menggumam pelan di sofa.

Lalu suara tubuh kecil itu bergeser lagi… seperti anak yang hampir bangun tapi masih terlalu mengantuk.

Anela menutup mulutnya sendiri, mencoba menahan napas.

Rico berdiri tepat di belakangnya.

Tangannya tanpa sadar kembali memegang pinggang Anela untuk menenangkannya.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Lalu…

sunyi lagi.

Ziyo tidak bangun.

Anela menghembuskan napas pelan.

Rico mendekat ke telinganya dan berbisik sangat pelan.

“Kayaknya dia masih tidur.”

Namun tubuh mereka masih terlalu dekat.

Terlalu hangat.

Anela perlahan menoleh.

Dalam cahaya redup, mata mereka kembali bertemu.

Ada campuran rasa lega… dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Jantung Anela kembali berdegup lebih cepat.

“Rico…” bisiknya, kali ini hampir seperti peringatan.

Tapi Rico hanya tersenyum tipis.

Sangat tipis.

Tangannya masih di pinggang Anela.

“Sekarang kamu tahu kenapa aku bilang ini berbahaya.”

Anela menelan ludah.

Karena yang lebih berbahaya bukan hampir ketahuan.

Tapi kenyataan bahwa setelah semua itu…

ia masih tidak ingin menjauh.

------

1
Sartini 02
semangat kak....👍
Nina Sani: makasih kakak say 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!