Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Getaran di Saku Celana
Ponsel di dalam saku celana Bayu yang sudah mulai menipis kainnya itu bergetar terus-menerus tanpa henti. Getaran itu terasa begitu intens, seolah-olah benda elektronik tersebut sedang berteriak menuntut perhatian di tengah kesunyian malam panti yang mencekam.
Bayu merogoh sakunya dengan gerakan lambat dan melihat nama kontak "Rian Jakarta" menyala terang di balik layar yang retak seribu. Cahaya dari ponsel itu menerangi wajah Bayu yang kuyu, mempertegas gurat lelah dan kebimbangan yang sedang berperang hebat di dalam kepalanya.
"Rian nggak akan berhenti sampai dia dapat jawaban, dia tahu persis gue lagi butuh duit," batin Bayu dengan perasaan muak yang mulai naik ke kerongkongan.
Ia melirik ke arah Nayla yang masih berdiri kaku seperti patung di depan nampan air yang isinya tumpah membasahi meja kayu tua. Wanita itu nampak begitu rapuh, seolah-olah satu tiupan angin kencang saja sudah cukup untuk membuatnya ambruk ke lantai keramik yang dingin.
Bayu perlahan meletakkan kembali surat peringatan penyitaan lahan panti tersebut ke atas permukaan meja yang lembap karena tumpahan air. Lembaran kertas itu nampak begitu berat di matanya, jauh lebih berat daripada seluruh beban pekerjaan yang pernah ia pikul saat masih berjaya dulu.
"Gue bisa angkat telepon ini sekarang, gue bisa bilang iya, dan semua penderitaan Nayla akan berakhir dalam hitungan jam," pikir Bayu dengan godaan yang menggiurkan.
Namun, ia teringat wajah ibunya yang sedang memeras cucian dengan tangan gemetar, sebuah bayangan yang menjadi jangkar bagi nuraninya yang hampir hanyut. Ia menarik napas panjang, lalu dengan gerakan tegas menekan tombol tolak pada layar ponselnya hingga cahaya menyilaukan itu padam seketika.
Bayu memasukkan kembali ponsel bisu itu ke dalam saku celananya, memutuskan untuk menutup pintu rapat-rapat bagi iblis yang menawarkan jalan pintas haram. Ia menyadari bahwa menyelamatkan panti dengan cara yang kotor hanya akan mengotori kesucian niat Fahmi dan ketulusan doa-doa anak yatim di sini.
"Gue nggak boleh jadi bajingan lagi, cukup sekali gue hancur karena keserakahan," bisik batin Bayu sembari berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih tidak beraturan.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah nampan kayu yang basah dan lantai yang kini dipenuhi genangan air jernih dari gelas yang terguling. Bayu melihat sebuah kain serbet kusam yang tergantung di paku dekat pintu teras samping, ia segera melangkah pendek untuk mengambil kain tersebut.
Nayla tetap tidak bergerak dari posisinya, ia hanya menatap kosong ke arah meja, seolah-olah jiwanya sedang terbang jauh meninggalkan raga yang gemetar. Bayu bergerak perlahan, lalu ia berjongkok di depan meja kayu untuk mulai mengelap tumpahan air yang kini merembes ke celah lantai keramik yang retak.
Nayla tersentak dan bergerak mundur satu langkah saat tangan Bayu yang memegang serbet bergerak mendekat ke arah ujung kakinya yang beralaskan sandal jepit. Gerakan mundur Nayla itu terasa begitu menyakitkan bagi Bayu, seolah-olah wanita itu sedang berusaha menjauh dari sesuatu yang menakutkan atau menjijikkan.
"Apa dia pikir gue bakal marah atau ngehina panti ini karena surat itu? Apa dia sebegitu takutnya rahasia ini terbongkar?" tanya Bayu dalam diam.
Bayu terus menyeka lantai keramik yang kusam itu sampai benar-benar kering tanpa mengangkat sedikit pun kepalanya untuk melihat ke arah wajah Nayla. Ia sengaja tetap menunduk, membiarkan rambutnya yang agak panjang menutupi matanya yang kini mulai terasa panas karena menahan gejolak emosi yang luar biasa.
Ia ingin Nayla tahu bahwa ia tidak sedang menghakimi penderitaan panti ini, melainkan ia sedang mencoba membantu dengan cara yang paling kecil yang bisa ia lakukan saat ini. Gerakan tangannya yang mengelap lantai terasa begitu mekanis, namun di dalam benaknya, Bayu sedang menyusun serpihan rencana yang entah bagaimana caranya harus ia wujudkan.
"Pajak dan administrasi lahan ini ratusan juta, saldo gue nol, dan gue baru aja nolak satu-satunya jalan keluar instan," Bayu merutuki kondisinya sendiri dalam hati.
Air yang tumpah itu kini sudah berpindah sepenuhnya ke dalam kain serbet yang ia genggam erat, meninggalkan jejak lembap di atas keramik yang mulai bersih. Bayu tetap pada posisi berjongkoknya selama beberapa detik tambahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk membuka suara di hadapan wanita yang kini nampak sangat hancur itu.
Keheningan kembali menyergap, hanya suara napas Nayla yang terdengar berat dan tersengal-sengal di tengah suara tadarus yang masih terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Bayu merasa setiap detik yang berlalu tanpa kata-kata ini justru memperdalam jurang ketidaknyamanan di antara mereka berdua yang pernah tumbuh bersama di panti ini.
"Gue harus bilang sesuatu, gue nggak bisa terus-terusan diam seolah-olah gue nggak lihat surat penyitaan itu," batin Bayu mendesak dirinya sendiri.
Namun, lidahnya terasa kelu, ia merasa tidak memiliki kapasitas apa pun untuk memberikan janji-janji manis di tengah kemiskinannya yang sudah mencapai titik nadir. Ia hanyalah seorang anak yang pulang dengan ransel berisi kegagalan, sementara Nayla adalah pejuang yang sedang mempertahankan benteng terakhir bagi puluhan anak yatim piatu.
Bayu memeras serbet itu sedikit, lalu ia berdiri dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak mengejutkan Nayla yang masih nampak sangat waspada di depannya. Ia menaruh serbet basah itu di pinggiran nampan, tetap menjaga pandangannya tetap tertuju pada permukaan meja yang kini sudah nampak jauh lebih rapi dari sebelumnya.
"Nayla, soal surat itu..." Bayu akhirnya mencoba membuka suara, namun kalimatnya terputus saat ia menyadari suaranya terdengar sangat parau dan bergetar tidak stabil.
Nayla masih tertunduk, kedua tangannya saling bertaut erat di depan perutnya, meremas jari-jarinya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang sangat kuat. Bayu bisa melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Nayla, membasahi lantai keramik yang baru saja ia bersihkan dengan susah payah tadi.
"Kenapa kamu harus lihat itu, Bay? Kenapa harus sekarang di saat semuanya sudah terasa begitu sulit?" suara Nayla akhirnya terdengar, sangat lirih menyerupai bisikan angin.
Bayu merasakan dadanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum tajam saat mendengar nada keputusasaan yang begitu kental dalam suara wanita yang dulu selalu nampak ceria itu. Ia ingin menjawab bahwa ia tidak sengaja, bahwa ia peduli, namun semua kata itu terasa sangat hambar dibandingkan dengan beban ratusan juta yang tertulis di surat itu.
“Apa Fahmi tahu masalah ini?” tanya Bayu hati-hati.
Nayla hanya menunduk, diamnya seolah jawaban bahwa masalah ini masih menjadi rahasianya sendiri.
"Aku nggak akan kasih tahu siapa-siapa, termasuk Fahmi kalau kamu emang mau kayak gitu," ucap Bayu mencoba memberikan sedikit rasa aman bagi Nayla yang sedang panik.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan, ia akhirnya memberanikan diri untuk sedikit mengangkat wajahnya yang kini sudah nampak sangat sembab dan basah oleh air mata. "Fahmi jangan sampai tahu, Bay. Dia sudah cukup menderita karena Haikal dan bisnisnya sendiri, aku nggak mau dia makin hancur kalau tahu tempat ini mau disita."
Bayu terdiam, menyadari betapa besarnya pengorbanan Nayla untuk melindungi perasaan orang lain, bahkan di saat dunianya sendiri sedang runtuh berkeping-keping. Ada rasa kagum sekaligus miris yang bergejolak di hati Bayu, melihat dua sahabatnya saling melindungi di tengah badai penderitaan yang nampak begitu tak berkesudahan ini.
"Tapi waktu kalian cuma dua minggu, Nay. Uang segitu banyaknya nggak mungkin jatuh dari langit tanpa usaha yang nyata," ujar Bayu mencoba bersikap realistis meski itu menyakitkan.
Nayla kembali terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menyembunyikan kehancurannya dari tatapan mata Bayu yang kini nampak penuh simpati. Bayu melangkah mendekat satu langkah, namun ia segera mengurungkan niatnya untuk menyentuh bahu Nayla karena ia merasa dirinya masih terlalu kotor untuk menenangkan wanita itu.
"Aku udah coba segala cara, Bay. Pinjam bank nggak bisa karena status lahan masih sengketa, cari donatur juga susah di saat ekonomi lagi kayak gini," tangis Nayla pecah.
Bayu memejamkan mata erat-alih, merasakan setiap kata yang keluar dari mulut Nayla sebagai tamparan keras bagi masa lalunya yang dulu sering menghamburkan uang demi kesenangan fana. Ia merasa menjadi manusia paling hina di dunia ini, memiliki keahlian besar namun kini tak bisa berbuat apa-apa di saat tempat kelahirannya sedang terancam punah.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰