NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

​Laura bangkit dari ranjang, gerakan pertama terasa kaku dan menyakitkan, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena beratnya pengkhianatan yang baru saja ia lakukan.

Dinginnya kamar tanpa kehadiran Lexi terasa seperti penghinaan. Ia berjalan ke cermin, menatap pantulan dirinya: seorang istri yang rapuh, ibu yang hamil, dan seorang wanita yang baru saja menyerah pada musuhnya.

​Matanya sembab, bibirnya sedikit bengkak, dan lehernya... ia melihat samar-samar tanda kepemilikan. Ia menarik napas tajam. Ia harus menyembunyikannya. Alex akan segera kembali, dan Laura harus kembali ke perannya yang sempurna.

​Ia menyeret langkahnya ke kamar mandi, menghidupkan shower air panas, berharap air itu bisa membersihkan bukan hanya jejak sentuhan Lexi, tetapi juga rasa jijik yang ia rasakan pada dirinya sendiri.

Di bawah guyuran air, ia memeluk perutnya yang membesar.

​"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya, suaranya tercekat. Ia telah menggunakan bayinya, sang pewaris, sebagai perisai dan senjata untuk memuaskan kerinduan yang ia sebut sebagai tuntutan biologis.

Kebohongan ini adalah yang paling buruk; kebohongan terhadap Alex, terhadap dirinya sendiri, dan terhadap makhluk tak berdosa yang ia kandung.

​Setelah berpakaian rapi, mengenakan pakaian hamil yang longgar, dan menutupi lehernya dengan foundation, Laura turun ke lantai bawah. Ia mencoba melakukan rutinitas paginya: menyiapkan sarapan di meja makan besar yang terasa dingin dan kosong. Ia ingin melupakan malam itu.

​Namun, mustahil. Segala sesuatu di rumah itu berteriak tentang Lexi: keheningan yang ia paksakan, kekosongan yang ia ciptakan setelah mengirim Alex pergi, dan bahkan janin yang menendang perlahan di perutnya.

"Nyonya mau sarapan?" Bik Minah berucap dengan lembut.

"Iya bik,perutku sudah keroncongan." Laura tertawa tipis,menutupi kegundahan nya.

​Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu pesan teks. Bukan dari Alex. Itu dari nomor tak dikenal, yang Laura tahu pasti milik Lexi.

​Lexi: Nikmatilah sarapanmu, Laura. Jangan membuat anakku kelaparan,aku akan menghukum mu jika itu terjadi.

​Napas Laura tersengal. Alex akan kembali sore ini. Kepanikan menghantamnya. Ia hanya punya beberapa jam untuk menghapus semua jejak. Ia menghapus air mata yang menggenang dan memaksa dirinya untuk kembali tenang. Ia harus menjadi Laura yang lama.

Laura mengaduk aduk sarapannya,tadinya dia benar benar lapar,sekarang rasa lapar itu menguap entah kemana.

​Laura kembali keatas meninggalkan sarapannya yang belum tersentuh.

"Loh,nyonya,sarapannya belum dimakan!" Bik Minah yang ditugaskan Lexi memantau makan Laura langsung protes.

"Aku tidak lapar lagi bik,aku mau tidur." Laura tidak tahu kalau Lexi menyuruh pelayan itu menjadi mata mata untuknya.

Bik Minah langsung mengetik sesuatu di ponselnya,lalu mengirimkan pada majikannya,Lexi.

Laura memilih duduk di balkon menikmati sinar matahari yang mulai menyengat.

Laura memberikan punggungnya di sengat matahari yang mulai terik,menghilangkan rasa pegal di punggungnya.

Laura merasa hidupnya seperti burung yang terkurung dalam sangkar.

Di penuhi kemewahan,tapi hampa dan sepi.

Laura hanya sebatas tawanan yang tidak boleh kemana mana,selain berada di sangkar emas.

***

​Sore itu, suara mesin mobil Alex di halaman rumah adalah suara paling menakutkan yang pernah didengar Laura.

Ia berdiri di ambang pintu, tersenyum lemah, memaksakan kebahagiaan seorang istri yang merindukan suaminya.

Dia mengenakan dress selutut bermotif bunga bunga,membuat tampilannya semakin memukau.

Wajahnya yang berparas cantik,kulitnya yang putih bersih,dan berpostur tinggi,membuat siapa saja pasti terpesona.

Itu juga salah satu alasan Lexi menyandera nya dalam kenikmatan.

​Alex keluar dari mobil, tampak lelah dan sedikit bingung, tetapi lega melihat Laura. Ia segera memeluk istrinya, pelukan yang terasa hangat dan murni.

​"Sayang, aku sangat merindukanmu," bisik Alex, mencium rambut Laura. "Lexi memanggilku kembali pagi ini, katanya semuanya sudah beres. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi aku senang kembali."

​Pelukan Alex terasa seperti api yang membakar rasa bersalah Laura. Ia membalas pelukan itu, mencengkeram kemeja Alex, menenggelamkan wajahnya untuk menyembunyikan ekspresinya. Bau parfum Alex bercampur dengan bau samar Lexi yang masih menempel di kulitnya.

​"Aku juga, sayang,sangat merindukan mu," kata Laura, suaranya bergetar sedikit. "Jangan tinggalkan aku lagi."

​Alex menangkup wajah Laura. "Tidak akan, Sayang. Aku janji. Tapi... kamu terlihat pucat. Apakah kamu tidak tidur nyenyak?"

​Laura langsung ingat pesan Lexi: kembali menjadi Nyonya Alex yang rapuh.

​"Aku... aku tidak bisa tidur tanpamu," akunya, memainkan peran itu. "Aku terus memikirkan pekerjaanmu, dan aku... aku takut sendirian." Rengeknya rapuh.

​Sebuah kebohongan sempurna. Ia menggabungkan ancaman Lexi dengan kerinduannya.

Alex mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih,

​"maafkan aku sayang,," Bisik Alex, menarik Laura erat-erat ke dalam pelukannya. "Aku akan membicarakan ini dengan kakak besok. Agar aku tidak di tugaskan lagi ke luar kota, Jangan khawatir, Sayang. Aku di sini. Anak kita aman."

​Laura menutup mata. Anak kita aman, Alex. Tapi bukan dariku.

Mereka masuk ke kamar,Alex ingin bermesraan dengan istrinya.

​Malam itu, Alex ingin menebus ketidakhadirannya. Ia mengajak Laura ke ranjang, berusaha keras untuk menciptakan kembali keintiman mereka.

​"Aku mencintaimu, Laura," bisik Alex, menatap mata Laura dengan tulus.

​Laura memejamkan mata dan mencoba fokus. Ia harus menerima sentuhan Alex, sentuhan suaminya, untuk menutupi jejak malam sebelumnya. Namun, saat Alex menyentuhnya, yang ia rasakan hanyalah ingatan tentang dominasi Lexi yang liar. Gairah Lexi yang brutal telah merampas gairah Alex yang lembut.

​Laura memaksakan dirinya untuk membalas, tetapi tubuhnya terasa beku, dan gairah yang ia tunjukkan pada Lexi kini benar-benar mati untuk suaminya yang sah.

​"Aku... aku lelah, Alex," bisik Laura, menepis tangan Alex dengan lembut. "Maafkan aku. Mungkin... karena kehamilanku. Bisakah kita pelukan saja?"

​Alex, yang selalu menghargai kenyamanan Laura, tersenyum lembut dan mencium keningnya. "Tentu saja, Sayang. Tidurlah. Aku di sini."

​Alex memeluk Laura, menempatkan tangan di perutnya, gerakan yang sangat mirip dengan Lexi, namun tanpa cengkeraman posesif. Laura menangis dalam diam, air matanya menyerap ke bantal. Ia telah menolak suaminya karena tubuhnya kini kecanduan pada kekejaman sang tiran.

​Aku adalah milik Lexi, sebuah suara dalam hati Laura berbisik. Aku telah menjadi tawanan dalam pernikahan ini.

​Keesokan harinya, Lexi kembali beraksi, tiba dimeja makan tepat waktu, menjelaskan pada semua penghuni rumah kalau dia adalah pemilik rumah itu,yang membuat peraturan rumah itu.

​"Pagi, Alex. Laura," sapanya dengan senyum tenang, menatap Laura sejenak dengan tatapan yang hanya bisa dipahami oleh Laura: tatapan kepemilikan yang dingin.

​Alex, yang tidak tahu apa-apa, segera mengajak istrinya duduk.

"Pagi kak,tumben segar amat,mau keluar?" Tanya Alex penasaran.

"Aku banyak urusan Alex,bisa saja dalam waktu singkat aku pergi keluar,atau kesuatu tempat,kamu tahu sendiri urusan ku sangat banyak." Tegas Lexi.

Alex manggut manggut.

"Buatkan kopi untuk kami Laura,sarapan tanpa kopi rasanya hambar,bukankah begitu Alex?"

"Benar kak,sayang,buatkan kopi untuk kami ya?" Alex menimpali.

Laura mengangguk lemah.

​Saat Laura meletakkan cangkir di hadapan Lexi, Lexi meraih pergelangan tangan Laura, sentuhan singkat yang cepat, tersembunyi di balik cangkir porselen.

Laura langsung menjauhkan tangannya,jangan sampai suaminya itu tahu apa yang dilakukan oleh kakak nya.

Setelahnya Laura kembali ke tempat nya.

"Laura,kamu harus banyak makan,ingat! Bukan hanya untukmu seorang yang akan kamu penuhi,tapi ada satu nyawa lain yang kamu butuhi juga nutrisinya," Ucap Lexi tenang.

"Benar itu sayang,,kamu harus makan dua kali lipat,supaya anak kita sehat." Timpal Alex sependapat dengan ucapan kakaknya.

Laura mengangguk lemah.

Malas rasanya berdebat dengan kedua pria yang dominan itu.

"Aku sarapan ditaman,,berada disini rasanya aku mual," Laura sedikit ketus,lalu bangkit dari sana membawa piring sarapannya.

kedua pria itu melongo menatap punggung Laura yang menjauh.

"Maafkan Laura kak,mungkin dia sedang badmood,maklum lah kak,wanita hamil," Alex mewakili istrinya meminta maaf.

"Tidak masalah,," Lexi berucap santai.

Mana mungkin dia tersinggung karena sikap Laura tadi? Perubahan hormon Laura karena disebabkan olehnya juga,dia yang membuat Laura menjadi begitu,karena Laura sedang mengandung darah dagingnya sendiri.

***

bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!