(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~16.
...🔥🔥🔥🔥...
...(Di luar kamar)...
"Dokter," panggil Tristan dari anak tangga dengan wajah cemas.
Dokter pun menoleh."Iya, ada yang bisa saya bantu Tuan?" sahut sang Dokter.
"Cepat kemari, wanitaku sakit," desak Tristan.
"Iya."
...Sang segera bergegas berjalan menuju anak tangga. Diluar, mereka yang baru tiba, langsung turun dan melihat sang dokter berjalan masuk ke dalam kamar bersama Tristan dengan tergesa-gesa langsung curiga....
"Sepertinya... ada yang tidak beres," gumam Emily.
"Iya Pa. Pasti Tristan anak liar itu ingin menyabotase hasil tes DNA," timpal Nyonya Eta.
"Pa, Papa harus bertindak," desak Stevan.
"Ayo, kita cek."
...Mereka semua serempak berjalan menuju anak tangga menuju kamar milik Tristan dan Alexa. Di dalam kamar, terlihat dokter tengah memeriksa Alexa dengan teliti, lalu menulis resep obat....
"Tubuh Nyonya muda sangat lemah. Tolong belikan obat ini, dan pastikan Nyonya minum dengan teratur," ucap Dokter menyerahkan secarik kertas ke arah Tristan.
"Baik, Dokter."
...Tristan mengangguk paham, meraih kertas itu, dan......
Brak!
...Pintu kamar terbuka lebar dengan kasar, membuat Dokter dan Tristan melirik ke arah pintu, dan munculah mereka semua dari balik pintu kamar seolah sedang menangkap basa orang bersalah....
"Aku sudah curiga dari kemarin, kamu pasti akan mencari cara membujuk dokter itu," tuduh Nyonya Eta melipat kedua lengan di dada, menatap Tristan dengan sinis.
"Iya, karena kamu memang bukan anak dari keluarga Raven," timpal Stevan.
"Wow... aku tau Stevan memang tampan, tapi Tristan? Dia sangat hot. Lihatlah tatto di lengan kekarnya itu... sangat mengiurkan," batin Emily terdiam menatap Tristan dengan tatapan sulit diartikan.
...Dokter dan Tristan menatap satu sama lain dengan tatapan bingung, kemudian menatap mereka semua....
"Apa maksud kalian?" tanya Tristan mengerutkan kening.
"Pa cepat telfon polisi, dan usir mereka dari sini. Dan lihat, mereka sedang melakukan transaksi," tunjuk Nyonya Eta ke secarik kertas berisi resep obat yang ada di tangan sang dokter.
"Ini?" Dokter menunjuk kertas itu kepada mereka semua."Ini hanyalah resep obat, kalian jangan salah paham. Tadi saat aku sedang menunggu kedatangan kalian, Tuan Tristan memanggilku, katanya Nyonya Alexa sedang sakit, makanya saya menulis resep obat ini," jelas sang Dokter.
"Tidak mungkin!" bentak Stevan maju, meraih resep obat itu dengan kasar dan membacanya. Dan benar kata dokter, itu hanya resep obat, bukan apa-apa, seketika ia terdiam tak bisa berkata apa-apa.
"Tuan Josep, kenapa bisa seperti ini? Aku ini dokter jujur. Soal hasil tes DNA saya menyimpan dan menjaga dengan baik." Dokter pun mengeluarkan hasil tes DNA dari tas kerjanya, lalu menyerahkan kepada Tuan Josep."Ini hasil tes DNA nya Tuan, coba lihat sendiri. Kalau Anda masih ragu, Anda bisa meminta dokter lain untuk melakukannya tes ulang, dan saya jamin, hasilnya akan tetap saja sama."
"Dokter, saya meminta maaf atas perkataan mereka barusan. Mereka hanya-"
Swos.
...Satu tarikan dari Nyonya Eta, amplop coklat berisi hasil tes DNA itu, langsung berpindah tangan tanpa permisi. Nyonya Eta pun mulai membuka amplop itu tanpa ragu dan mengeluarkan hasil tes DNA nya....
"Tidak... tidak mungkin..." lirih Nyonya Eta menatap kertas itu dengan tangan gemetar dan tatapan tak percaya.
...Penasaran, Tuan Josep pun menarik kertas itu dari tangan Nyonya Eta, dan membacanya. Keduanya matanya langsung berkaca-kaca setelah melihat hasil tes DNA yang menyatakan kalau Tristan adalah putra kandungnya yang dulu pernah hilang dan dinyatakan meninggal dalam kebakaran....
"Ternyata benar kau Nak. Syukurlah...."
...Tuan Josep menatap Tristan dengan tatapan lega, berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya yang mulai keriput, tetap......
Tes.
...Tanpa sadar air mata itu pun jatuh dan membasahi pipi Tuan Josep. Secepat kilat ia merogoh sapu tangannya mencoba mengusapnya. Tetapi tiba-tiba tubuhnya diraih oleh Tristan dan di peluk dengan hangat. Tak sanggup lagi menahan rasa sedih, Tuan Josep membuang harga dirinya di depan semua orang dan mulai menangis pilu dalam pelukan Tristan....
"Maafkan Papa Nak... Papa terlambat datang untuk menyelamatkanmu..." lirih Tuan Josep membalas pelukan Tristan.
"Tidak apa-apa Pa... jangan sedih. Yang paling terpenting itu, sekarang Tristan sudah kembali dengan sehat," bujuk Tristan berusaha mengendalikan diri agar tidak menangis.
"Kamu tau betapa sedih Papa selama beberapa tahun ini...? Sampai-sampai Papa takut untuk pergi ke makam ibumu karena tidak bisa menjagamu dengan baik," ujar Tuan Josep.
Tristan tersenyum pahit mengusap rambut tipis Tuan Josep yang mulai beruban."Papa tidak bersalah, Papa sudah melakukan tugas Papa sebagai suami dan ayah dengan baik, jadi." Tristan memutar kepalanya melirik tajam ke arah Nyonya Eta."Ada orang jahat yang tidak menyukainya, lalu mulai bermain curang," lanjut Tristan.
"Siapa?" Tuan Josep melepaskan pelukannya mendongak menatap wajah Tristan dengan bingung.
...Tristan menggeleng pelang, menolak untuk memberitahu sambil mengusap lembut sisa air mata Tuan Josep....
"Tristan pun masih mencari tau soal itu Pa. Sekaligus mencari orang yang sudah mencelakai Mama," kata Tristan tegas."Saat ia tertangkap nanti, Tristan akan membuat dia hidup pun tak mau, mati pun tak bisa, Tristan janji Pa."
...Tuan Josep tersenyum gembira memeluk Tristan sekali lagi, kemudian berterima kasih kepada Dokter. Tapi tidak dengan Nyonya Eta yang mulai cemas menatap Tristan dengan tatapan tak bisa dijelaskan....
...(Bersambung)...