NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh yang Tak Terlihat

Pesan singkat itu tidak memiliki nama pengirim. Tidak ada nomor yang bisa dilacak dengan mudah. Hanya deretan angka asing yang langsung tidak aktif setelah dikirim.

Permainan belum selesai. Kalian baru membuka bab pertama.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Alina, bahkan saat ia mencoba memejamkan mata malam itu.

Di sampingnya, Arsen masih terjaga.

“Aku sudah minta tim IT melacak jalurnya,” katanya pelan. “Tapi sepertinya ini dikirim lewat server luar negeri.”

Alina tidak menjawab.

Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya bekerja cepat.

“Kalau bukan Paman…” gumamnya.

“Berarti ada pihak lain yang merasa dirugikan dengan langkahmu,” sambung Arsen.

Alina menghela napas.

Selama ini ia terlalu fokus pada konflik internal keluarga. Ia lupa bahwa langkah membersihkan Ardhana Capital bisa mengusik kepentingan yang lebih luas.

“Audit membuka banyak dokumen lama,” katanya perlahan. “Bukan hanya yang terkait keluarga.”

Arsen menoleh padanya.

“Maksudmu?”

“Ada beberapa proyek investasi lama yang melibatkan mitra eksternal besar. Jika ada aliran dana yang tidak bersih, bukan hanya keluarga yang terseret.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Arsen bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela.

“Kita harus asumsikan ini bukan sekadar ancaman kosong.”

Alina duduk perlahan.

“Aku tidak akan mundur.”

“Aku tahu,” jawab Arsen tanpa ragu. “Tapi kita harus lebih hati-hati.”

Dua hari kemudian, gejala pertama muncul.

Salah satu anak perusahaan Ardhana di sektor properti mengalami gangguan perizinan mendadak. Proyek besar yang hampir mencapai tahap peluncuran dihentikan sementara oleh otoritas dengan alasan “peninjauan ulang dokumen lingkungan.”

“Dokumennya lengkap,” kata direktur proyek dengan wajah pucat saat rapat darurat digelar.

Alina memijat pelipisnya.

“Peninjauan ulang biasanya tidak terjadi tanpa tekanan,” gumamnya.

Arsen yang ikut hadir dalam rapat itu bersandar di kursinya.

“Siapa pejabat yang menandatangani penundaan?”

Nama yang disebut bukan nama asing di dunia bisnis.

Seorang pejabat yang dikenal dekat dengan salah satu konsorsium besar pesaing mereka.

Alina saling pandang dengan Arsen.

“Ini bukan kebetulan,” katanya pelan.

Sore itu, Arsen menerima telepon dari kolega lamanya di dunia investasi.

“Kau harus hati-hati,” suara di ujung sana terdengar serius. “Ada konsorsium asing yang mulai membeli saham minoritas Ardhana lewat perantara.”

“Siapa?” tanya Arsen.

“Nama resminya Aurora Holdings. Tapi aku curiga itu hanya kendaraan investasi.”

Arsen memutus sambungan dan langsung menemui Alina di kantornya.

“Kita punya pemain baru,” katanya tanpa basa-basi.

Alina mengangkat wajahnya.

“Aurora Holdings,” lanjut Arsen.

Alina membuka laptopnya, mengetik cepat.

Beberapa menit kemudian wajahnya berubah.

“Mereka pernah menjadi mitra investasi dalam proyek energi lima tahun lalu,” katanya. “Proyek yang sama dengan periode laporan keuangan bermasalah.”

Arsen mengangguk pelan.

“Jika auditmu membuka kembali jejak transaksi itu, mereka mungkin merasa terancam.”

Alina menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Jadi ini bukan soal keluarga lagi.”

“Ini soal uang yang jauh lebih besar.”

Malam itu, Alina memutuskan mengadakan pertemuan tertutup dengan tim hukum dan penasihat keuangannya.

Ruangan itu sunyi ketika ia memaparkan dugaan keterkaitan Aurora Holdings dengan proyek lama yang bermasalah.

“Jika mereka membeli saham minoritas dan mengguncang proyek kita, mereka bisa memaksa negosiasi,” jelas salah satu penasihat.

“Negosiasi apa?” tanya Alina.

“Kesepakatan diam. Agar audit tidak berkembang ke arah tertentu.”

Alina mengepalkan tangan.

Jadi ini tujuannya.

Menekan dari luar agar ia membatasi sejauh mana kebenaran dibuka.

Arsen duduk di sampingnya, mendengarkan dengan wajah keras.

“Kita tidak akan bernegosiasi dengan ancaman,” katanya tegas.

Alina menatapnya.

“Kita harus cerdas,” balasnya. “Jika mereka ingin bermain di pasar saham, kita hadapi di sana.”

Keesokan paginya, harga saham Ardhana sempat berfluktuasi tajam akibat rumor pembelian oleh Aurora Holdings.

Media mulai berspekulasi lagi.

Namun kali ini, Alina tidak menunggu.

Ia menggelar konferensi pers kedua.

“Ardhana Capital menyambut investor baru selama mereka mengikuti regulasi yang berlaku,” katanya tenang di depan kamera. “Namun kami tidak akan menghentikan proses audit atau investigasi internal hanya karena tekanan eksternal.”

Pesan itu jelas.

Tidak ada tawar-menawar.

Setelah konferensi selesai, seorang pria asing mendekatinya di lobi hotel tempat acara diadakan.

Setelan abu-abu, senyum tipis yang terlalu terlatih.

“Nona Alina,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih. “Saya perwakilan Aurora Holdings.”

Arsen langsung berdiri di sisi Alina.

“Apa yang Anda inginkan?” tanya Arsen dingin.

Pria itu tersenyum.

“Kami hanya ingin memastikan hubungan bisnis yang sehat. Audit yang terlalu luas bisa merusak kepercayaan pasar.”

Alina menatapnya tanpa gentar.

“Kepercayaan pasar dibangun dari transparansi, bukan dari penutupan fakta.”

Senyum pria itu sedikit memudar.

“Kami berharap Anda mempertimbangkan kembali arah investigasi.”

Alina melangkah lebih dekat.

“Dan kami berharap Anda tidak mencampuri urusan internal kami.”

Pria itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk tipis dan pergi.

Di mobil dalam perjalanan pulang, Arsen menggenggam kemudi lebih erat dari biasanya.

“Mereka tidak akan berhenti hanya dengan percakapan itu,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kau sadar ini bisa berkembang jadi perang finansial terbuka?”

Alina menatap keluar jendela.

Lampu kota tampak kabur oleh hujan tipis.

“Aku tidak memulai perang ini,” katanya pelan. “Tapi aku tidak akan mundur.”

Arsen meliriknya.

“Kalau mereka menyerang lewat proyek dan saham, kita perlu aliansi.”

Alina menoleh.

“Apa yang kau pikirkan?”

Arsen tersenyum tipis.

“Kita tidak harus berdiri sendiri di pasar.”

Untuk pertama kalinya sejak ancaman baru muncul, Alina merasa ada celah harapan.

Mungkin pertarungan ini bukan hanya soal bertahan.

Mungkin ini tentang membangun kekuatan baru.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu

Musuh yang tak terlihat jauh lebih berbahaya daripada yang berdiri terang-terangan.

Dan permainan yang mereka masuki kini bukan lagi soal nama keluarga.

Melainkan tentang kekuasaan, uang, dan reputasi lintas negara.

Bab pertama mungkin sudah dibuka.

Tapi bab berikutnya akan jauh lebih brutal.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!