NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

✦✦

"Masih ada hal lain dari gue yang buat lo penasaran?" Galvin kembali bertanya, untuk memastikan bahwa seluruh rasa penasaran Khaira sudah terjawab.

Khaira menggeleng pelan.

"Tidak. Sudah cukup," jawabnya lirih dan tenang.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Sama seperti biasanya, mereka bersama hanya di jalan saja, tidak sampai melewati gerbang sekolah, karena Khaira meminta supaya Galvin menurunkannya dari jarak yang tidak cukup jauh dari sekolahan.

Sehingga sisanya, Khaira melanjutkan dengan jalan kaki.

Galvin mengizinkan itu, karena Khaira berjalan dalam jarak yang tidak jauh. Hanya beberapa ratus meter saja dari sekolah.

 

"Rapat tahunan OSIS akan diselenggarakan minggu depan. Dan yang jadi tuan rumahnya kali ini adalah Diamond Hight School," ucap Galvin dengan jelas dan tegas.

Benar! Yang kali ini sedang berbicara adalah Galvin—Ketua Osis Glory High School.

Hari ini mereka mengadakan rapat, tetapi untuk anggota inti saja. Yang di mana di dalamnya dihadiri oleh Ketua, Wakil ketua, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum.

Hanya staff inti saja yang diundang dalam rapat kali ini, karena sesuatu yang mereka bicarakan bersangkutan langsung dengan pengurus inti.

"Gue minta, supaya kita persiapkan hal ini dengan baik," ucap Galvin kembali, dengan tegas tetap dengan pembawaannya yang selalu terlihat tenang.

"Siap, Paketos! Laksanakan!"

Dafa langsung mengangkat salah satu tangannya, kemudian melakukan gerakan hormat, seperti hormat ketika sedang melakukan upacara bendera di hari senin.

"Buat surat perizinan dan besok harus sudah selesai," pinta Galvin, yang kini beralih melirik ke arah Khaira, selaku Sekretaris Umum Glory High School.

"Besok? Yang bener aja, Gal. Kasian Khaira."

Yang protes bukanlah Khaira, melainkan Jenna.

Padahal Khaira yang mendapatkan tugas itu, tetapi Jenna-lah yang merasa keberatan.

Jenna yang selaku Bendahara Umum itu, memang memiliki sikap yang selalu terang-terangan seperti itu jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya.

Kecuali ketika mereka sedang melakukan rapat dengan anggota OSIS lainnya, makan Jenna akan berubah bijak seketika.

Dia akan mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara yang tenang dan berwibawa.

Jadi sudah bisa dipastikan, bahwa sikap bar-barnya itu hanya keluar ketika dia bersama orang-orang yang sudah dia anggap sebagai teman.

Atau ketika dia dihadapkan dengan orang yang tidak dia sukai, maka dia akan langsung menantang orang itu di detik itu juga.

"Ga bisa lo undur deadlinenya? Besok juga kita banyak tugas sekolah, kan? Khaira juga harus ngerjain tugas itu."

Jenna kembali melayangkan kalimat protes, disertai dengan alasannya.

"Ga papa, Jenna. Udah biasa," ucap Khaira, sambil tertawa pelan.

Tanpa ada satu pun yang menyadari, Galvin langsung tersenyum samar begitu mendengar tawa Khaira yang terdengar begitu pelan.

"Oke, deh kalau lo sanggup. Tapi jangan dipaksain, kalau emang lo bener-bener ga sanggup. Biar gue yang tanggung jawab kalau Paketu marah sama lo," ucap Jenna, melirik Galvin sekilas, kemudian dengan cepat mengubah kembali pandangannya kepada Khaira.

"Berani banget lo nantangin Paketu kita," ungkap Dafa, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali ke samping kanan kiri.

"Gue ga bermaksud buat nantangin. Gue cuma kasian aja sama Khaira," jawab Jenna.

Khaira menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia senang Jenna perhatian padanya, tetapi menurutnya, Jenna terlalu berlebihan. Dan tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu terus terjadi.

"Sudah, Jenna. Ini memang tugas aku sebagai sekretaris. Lagi pula, aku sama sekali tidak merasa terbebani dengan ini, karena ini memang tanggung jawab aku." Khaira menjelaskan.

Dia tidak ingin jika Jenna terus berpikir tidak baik tentang Ketua mereka dan berpikir bahwa ketua mereka memberikan tugas seenaknya.

Mendengar perkataan Khaira, Jenna hanya bisa mengangguk. Dia tidak lagi melakukan protesan, karena dia menyadari bahwa yang Khaira katakan ada benarnya juga.

"Ketua kita ga akan ngasih tugas di luar kemampuan kita," sambung Khaira kembali, sambil sekilas melirik ke arah Galvin lewat sudut matanya.

Galvin kembali menarik kedua sudut bibirnya. Tanpa dia sadari, hal itu terjadi secara alami.

Untung saja senyuman itu begitu tipis, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui.

"Lo bener, sih, Paketu kita selalu bijak." Jenna mengakui hal itu.

Dia juga bersyukur karena memiliki Ketua yang bijak, bukan Ketua yang tidak tahu diri dan selalu merintah seenaknya yang cuma mau tahu hasilnya saja.

"Jadi sudah, ya, jangan memperdebatkan lagi hal itu," ucap Khaira, dan langsung mendapat anggukkan dari Jenna.

Khaira berkata seperti itu, karena dia yakin jika Galvin sudah mempertimbangkan setiap tugas yang Galvin berikan kepada setiap anggotanya.

Galvin pasti sudah percaya bahwa mereka mampu melaksanakan tugas itu dengan baik, dalam waktu yang sudah ditentukan.

"Untuk rapat kali ini, kita cukupkan sampai di sini."

Galvin mengakhiri rapat tertutup yang satu jam lalu mereka laksanakan.

"Lo mau langsung balik atau ke rumah sakit dulu?" tanya Dafa kepada Galvin.

"Balik. Nanti malem gue ke sana," jawab Galvin, sambil merapihkan lembaran dokumen yang baru mereka buat untuk beberapa acara yang nanti akan mereka adakan.

"Oke, kalau gitu. Gue duluan ke sana," ucap Dafa, sambil meraih tas sekolah yang sejak tadi dia letakkan di kursi.

Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka didengar oleh Khaira dan Jenna, karena mereka masih berada dalam satu ruangan yang sama.

Namun, Jenna tidak menyadari apa yang dibicarakan Galvin dan Dafa, karena dia memang tidak peduli.

Berbeda dengan Khaira yang tanpa sengaja harus mendengar apa yang mereka bicarakan.

'Rumah sakit? Hm, mungkin temannya sakit,' batin Khaira.

Dia mengingat kembali kata-kata yang Galvin ucapkan pagi tadi di dalam mobil, bahwa Galvin memiliki teman lain yang berbeda sekolah dengan mereka.

"Gue anterin sampe halte bis lagi, ya?" tawar Jenna kepada Khaira.

Hal itu langsung menyadarkan Khaira dari pikirannya.

"Nanggung banget, cuma sampe depan. Anterin sampe rumahnya, lah." Dafa ikut menyahut.

"Diem, lo! Sotoy! Kalau nawarin kaya gitu, udah pasti gue langsung ditolak," pungkas Jenna, jauh dari kata tenang.

Jika sudah dihadapkan dengan Dafa, pasti emosinya mendadak meluap beberapa kali lipat.

Sementara Dafa, dia langsung tertawa kencang, karena berhasil menjahili partner ributnya.

"Mending gue aja yang anterin Khaira. Dari pada Khaira dianterin sama manusia jadi-jadian kaya dia," ucap Dafa, sambil menunjuk Jenna menggunakan sorot matanya.

Sepasang mata tajam langsung tertuju kepada Dafa, begitu Dafa mengatakan hal itu.

Pemilik dari sepasang mata tajam itu tidak lain adalah Galvin.

Ya, kalimat yang Dafa ucapkan kepada Khaira, berhasil menarik perhatian Galvin.

"Khaira harus jauh-jauh dari cowo rabies kaya lo," solot Jenna, tidak terima.

Dia sangat menentang itu, walaupun dia yakin jika Khaira tidak akan mau diantar oleh laki-laki yang bukan mahramnya, apalagi berdua-dua'an di atas motor, sudah pasti Khaira akan menolaknya.

"Lo ngatain gue rabies?" tanya Dafa, yang tidak percaya jika Jenna akan mengatainya sampai seperti itu.

Jenna langsung memincingkan kedua bola matanya. "Lah, selama ini lo ga nyadar?" tanyanya, dengan ekspresi yang sengaja dibuat seolah dia sedang terkejut.

"Anj—" ucap Dafa tertahan selama beberapa detik. "—juran. Anjuran maksud gue."

Ingin sekali dia berkata kasar, tetapi dia terpaksa harus menahannya, karena di sana ada Khaira.

Bukan berarti dia takut kepada Khaira, tetapi dia menghargai keberadaan Khaira, yang menurutnya tidak pantas bagi seorang Khaira mendengarkan kata-kata buruk seperti itu dari sekelilingnya.

"Tuh, kan. Kita harus buru-buru jauh dari dia. Masa dia mau bilang kalau gue anjing. Gue, kan, manusia." Jenna bersikap seolah sedang mengadu kepada Khaira.

Dafa semakin geram melihat musuh yang satunya itu. Dia sengaja menahan ucapannya, dengan membuat pelesetan untuk mengatakan hal lain, tetapi Jenna malah memperjelas kata itu.

"Masa dia mau bilang gue anjing. Padahal dia, kan, yang anji—" ucap Jenna, terhenti.

"Jenna!" tegur Khaira dengan halus.

Teguran halus itu berhasil menghentikan perkataan Jenna.

Khaira tahu apa yang akan Jenna katakan selanjutnya, maka dari itu dia memilih untuk segera menghentikannya, dari pada dia membiarkan Jenna mengatakan hal yang sama sekali tidak baik untuk dikatakan.

Selain itu, dia juga tidak mau mendengar kata-kata yang tidak baik untuk didengar.

"Kita diperintahkan untuk selalu menjaga lisan kita. Jangan berbicara tentang kejelekan, karena ucapan adalah do'a," ucap Khaira dengan pelan dan tenang.

"Masya Allah." Dafa langsung mengelus dadanya, begitu mendengar ucapan Khaira.

"Deket lo itu bawaan nya selalu adem, Khaira. Beda sama yang di sebelah lo yang bawaan nya selalu panas." Dafa kembali menyindir Jenna.

"Daf, kamu ga denger apa yang aku ucapin barusan?" Khaira berbalik menegur Dafa.

Dafa langsung tersenyum canggung sambil mengelus tengkuknya seperti orang yang sedang meriang.

"Sory, Khaira!" ucap Dafa, dan langsung mendapat anggukkan tenang dari Khaira.

Khaira berbicara seperti itu bukan berarti dia merasa dirinya yang paling benar. Akan tetapi dia hanya ingin mengamalkan sedikit ilmu yang dia miliki.

Dia juga tidak memberikan nasihat secara terang-terangan seperti itu kepada orang lain, hanya orang-orang yang dirasa sudah kenal lama dan dirasa sudah dekat dengannya.

"Tuh, dengerin apa yang Khaira bilang barusan." Jenna puas sekali melihat Dafa yang mendapat teguran dari Khaira.

"Lo juga dengerin. Jangan cuma masuk lewat kuping kanan, terus keluar lewat kuping kiri," sahut Dafa dengan cepat.

"Ayo, Khaira. Kita pulang," ajak Jenna.

Khaira langsung mengangguk setuju.

"Paketu, kita pulang duluan."

Jenna berpamitan kepada Galvin dan dia sengaja tidak berpamitan kepada Dafa, padahal Dafa masih ada di sana.

"Gue yang harus keluar duluan. Gal, Khai, gue pulang duluan," ucap Dafa kepada Galvin dan Khaira.

Kemudian dia langsung keluar dari ruang itu dengan cepat. Dia tidak ingin didahului oleh Jenna. Dia harus yang pertama. Begitulah misinya!

"Tunggu gue di halte bis," bisik Galvin, begitu Khaira lewat tepat di sampingnya.

Khaira mengangguk samar, kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan Galvin yang masih tersisa sendirian di ruang rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!