Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sepeninggal Danesha, kesunyian apartemen terasa menghimpit. Aku meraih ponsel lama yang tadi sempat menyala di depan Baskara. Jemariku yang bergetar karena sisa demam menelusuri folder pesan yang terabaikan selama setahun ini. Di sudut paling bawah, ada satu ikon mikrofon merah yang belum pernah terjamah: Pesan Suara (10 Juni 2023).
Itu adalah tanggal sehari setelah aku menghilang tanpa kabar.
Dengan napas tertahan, aku menekan tombol play. Suara statis pelan terdengar, disusul helaan napas berat yang sangat kukenal.
"Na... ini aku." Suara Baskara terdengar pecah, jauh dari nada dingin yang ia gunakan di kantor. "Aku di depan apartemen lamamu sekarang. Satpam bilang kamu sudah pindah sejak pagi. Na, tolong... kalau aku ada salah, katakan. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini."
Ada jeda panjang. Aku bisa mendengar suara klakson mobil di latar belakang rekaman itu.
"Tadi aku ke mall tempat kita janji ketemu. Aku lihat kamu jalan sama dia, teman sekelasmu itu. Tapi aku nggak marah, Na. Aku cuma mau tanya... apa dia yang bikin kamu bahagia? Apa aku sebegitu membosankannya sampai kamu nggak sanggup buat bilang putus langsung di depanku?"
Isak pelan terdengar dari ujung sana. Baskara, pria yang selalu berusaha tegar itu, sedang menangis.
"Aku nggak akan cari kamu lagi kalau itu mau kamu. Tapi tolong, kirim satu pesan saja. Bilang kalau kamu sehat. Bilang kalau kamu aman. Aku nggak bisa tidur mikirin kamu kecelakaan atau kenapa-kenapa. Aku... aku masih sayang kamu, Aruna. Sangat sayang. Tolong jangan pergi dengan cara begini..."
Klik. Rekaman berakhir.
Ponsel itu jatuh dari genggamanku, mendarat di atas selimut. Dadaku terasa sesak, lebih menyesakkan daripada demam yang membakar tubuhku. Setahun lalu, saat aku sibuk merasa sebagai "korban" karena melihatnya dengan wanita lain—yang ternyata hanya salah paham—Baskara justru sedang hancur lebur menungguku di depan pintu yang sudah kosong.
Ternyata, selama setahun ini, akulah yang memegang kunci nerakanya. Dan aku memilih untuk membuang kunci itu jauh-jauh.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi baru muncul di layar ponselku yang sekarang. Bukan pesan suara, tapi sebuah pesan teks singkat yang baru saja masuk.
Baskara: "Aku baru ingat, kamu benci bubur yang terlalu kental. Aku sudah pesankan sup ayam bening lewat ojek online, sebentar lagi sampai. Makanlah sedikit, Na. Jangan biarkan dirimu semakin hancur."
Tangisku pecah di tengah kamar yang sunyi. Bagaimana bisa aku menyakiti pria semulia ini? Bagaimana bisa aku menyebutnya monster, sementara akulah yang telah membunuh sisi lembutnya selama setahun penuh?
Aku menatap layar ponsel yang masih menyala, menampilkan pesan dari Baskara yang begitu kontras dengan rekaman suara penuh luka yang baru saja kudengar. Jariku tertahan di atas papan ketik, gemetar bukan lagi karena demam, melainkan karena rasa bersalah yang kini merambat seperti duri, mencekik setiap kata yang ingin kuucapkan.
Ingin sekali aku membalas, "Maafkan aku, Bas. Ternyata selama ini akulah monster yang sebenarnya," atau setidaknya mengucapkan terima kasih atas sup yang ia kirimkan. Namun, setiap kali aku mencoba merangkai kata, suara isakannya dalam pesan suara setahun lalu kembali terngiang.
Suara tangis pria yang kutinggalkan dalam ketidakpastian. Pria yang tetap mencariku meski aku sedang bersama orang lain. Pria yang sekarang, meski telah kucaci dan kubuang kopinya, masih ingat jenis sup yang kusukai.
Aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya jauh di ujung tempat tidur. Aku memilih diam.
Bagiku, membalas pesannya sekarang terasa seperti sebuah penghinaan baru. Aku merasa tidak pantas untuk sekadar mengetik namanya. Jika aku bersikap manis sekarang, bukankah aku hanya akan menjadi benalu yang kembali mengusik hidupnya yang sudah mulai tertata bersama Rasya?
"Aku tidak berhak mendapatkan perhatianmu, Bas," bisikku parau pada bantal yang kini basah oleh air mata.
Setengah jam kemudian, bel apartemen berbunyi. Itu pasti ojek online yang mengantar sup kiriman Baskara. Aku memaksa tubuhku yang lunglai untuk bangkit, menyeret langkah menuju pintu. Di sana, sebuah plastik hangat tergantung di gagang pintu. Aroma gurih kaldu ayam menyeruak, persis seperti yang biasa ia pesankan dulu saat aku sakit di masa kuliah
Aku membawa plastik itu ke meja makan, namun aku hanya duduk menatapnya. Setiap uap hangat yang muncul seolah mengejek betapa dinginnya hatiku selama ini. Aku tidak memakannya. Aku hanya duduk membisu, membiarkan sup itu mendingin, sama seperti aku membiarkan hati Baskara mendingin selama setahun ini.
Aku membiarkan pesannya tetap berstatus read tanpa balasan. Biarlah dia berpikir aku masih membencinya, atau aku masih sombong. Itu jauh lebih baik daripada dia tahu bahwa aku sedang hancur karena menyadari betapa brengseknya aku. Biarlah kebisuan ini menjadi hukuman terakhir yang kujalani, karena aku tahu, kehadiranku kembali hanya akan menjadi racun bagi kebahagiaannya yang sekarang.