MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 1, Part 3 [KAELA NARADIS & RED CALDER]
Marva terdiam sejenak… lalu menatap tangannya yang masih dipenuhi kobaran api, tapi api itu tidak menyakitkan apalagi melukai.
“Apa sebenarnya yang terjadi?!” Api itu bergerak sesuai niatnya.
Bukan karena skill.
Bukan karena diperintah.
Cuma… keluar begitu saja.
Setelah monster semua dikalahkan, Pedang Api itu lalu menghilang dan kembali menjadi cincin di jarinya.
Red lalu keluar sambil tersenyum kecil. "Hehehehe! Tadi aku sebenarnya ingin menolong tapi seperti nya kamu telah mengalahkan semua monster itu....."
"Kamu melihat semuanya?" tanya Marva.
"Sejak kalian dikepung para monster lalu membantai semuanya dengan satu tebasan dari Pedang Api itu" Jawabnya. Red lalu mendekat, seketika matanya berbinar-binar melihat Cincin Sakti yang ada di jari Marva. "Apakah ini Cincin yang jadi Pedang tadi? Bisa di-summon otomatis? Tier berapa? B? A? Jangan-jangan S?!"
"Tidak tahu," Marva hanya menggeleng.
Sistem hanya menampilkan nama dari item Cincin itu 'Ring Of Leo'."
"LEO! Simbol Singa, Api, Kekuatan!" Red langsung bertingkah seperti anak kecil, seperti melihat mainan super bagus. "Ini jelas item langka. Dapat darimana! Berapa Harganya! Kamu beruntung sekali Marva!!!!"
"Beruntung?" Marva tertawa getir. "Aku kehilangan 1.000.000 Xilo untuk ini" Ucapnya dalam hati.
"Dengan Item ini, kamu bisa farming lebih cepat! EXP lebih banyak! Level naik dengan mudah, dapat skill baru, bisa lawan monster lebih kuat, dapat Xilo lebih banyak! Bukankah itu LUAR BISA!" Red berbicara sangat cepat, penuh semangat.
"Ayo, kita buat party! Kamu jadi damage dealer, aku akan jadi support, Kaela bisa... uh... bisa.... bisa pungutin item drop dan bawah barang!"
Kaela mengangkat alis. "Apa, angkat barang?"
"Iya! Kan kamu atlet, pasti lincah. Setidaknya, itu sebagai tanda terimakasih buat Marva yang telah menyelamatkan mu. Bagaimana Marva?"
Marva hanya diam. Perlu waktu untuk mengolah semua yang terjadi. Tanpa banyak bicara, Marva langsung pergi meninggal mereka.
“Marva??? Marva??? Setidaknya jadikan aku bawahan mu” Red langsung memohon. Otaknya encer, Red berfikir, bisa berada 1 party dengan Marva akan menjamin keslamatan nya, setidaknya sampai beberapa lantai.
Marva terus berjalan tanpa memperdulikan mereka sambil melihat dan terus mengusap Cincin : Ring Of LEO miliknya.
Beberapa Player pergi ke Safe Zone yang berada dekat tangga, ada yang sekedar beristirahat, ada juga yang telah kembali karena sudah menyelesaikan misinya dan ada juga yang hanya dari tadi tetap berdiam karena cari aman.
Marva melihat masih banyak Player yang berkumpul, ia menguatkan diri bahwa mereka masih hidup, masih bersama, masih manusia yang sama. Padahal masing-masing dari mereka membawa ketakutannya sendiri—tak ada yang benar-benar punya keleluasan untuk saling berbicara lama.
Marva Ravara duduk dibawah batu besar, agak terpisah dari kerumunan.
Api unggun menyala di sekitar Zona Aman, cahayanya tidak menyilaukan. Tidak cukup terang untuk menghangatkan semuanya. Beberapa pemain tidur bersandar pada tas mereka. Yang lain menatap kosong ke langit. Ada juga yang masih memeriksa layar sistem mereka, seolah berharap angka-angka itu berubah jika dilihat cukup lama.
Marva menyandarkan punggungnya.
Tubuhnya lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi.
Tangannya terulur di depan, jemarinya sedikit terbuka. Cincin di jari tengahnya terlihat biasa saja—bahkan membosankan—jika tidak tahu apa yang pernah ia lakukan beberapa jam yang lalu. Tidak ada api. Tidak ada panas. Tidak ada apa-apa.
“Kalau bukan karena kejadian tadi…” gumamnya pelan, “…sudah kubuang Cincin ini.”
Ia terus menutup Cincin itu.
Ingatan kembali ke momen itu—api yang muncul tanpa perintah, Cincin yang tiba-tiba berubah menjadi pedang dan membantunya disaat terdesak. Marva menggeleng kecil, seakan masih tidak percaya apa yang sudah terjadi.
“Jangan dipikirin dulu.”
Tanpa disadari, Pintu menuju Lantai 2 sudah terbuka dan terlihat dari kejauhan. Pintunya tenang seperti menunggu. Tidak ada penjaga. Tidak ada peringatan. Tidak ada monster. Seolah menara berkata: kapan pun kamu siap, naiklah.
Marva mengelah nafas, “Belum saatnya”.
Saat Marva masih memikirkan banyak hal. Sebuah suara muncul dari sisi kanannya.
“Marva.”
Marva lalu menoleh.
Kaela Naradis berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya diikat seadanya, dibeberapa bagian bajunya terlihat sobek, tapi lukanya sudah tertutup rapi.
Marva berdiri setengah refleks. “Eh—”
Kaela mengangkat tangan, menghentikannya. “Ngak papa. Aku cuma mau ngomong.”
Ia mendekat, lalu menatap Marva dengan penuh kehangatan.
Kaela menghela napas. “Aku dari tadi nyariin kamu loh.”
Marva menggaruk kepala. “Hah Kenapa?”
Kaela menatapnya dengan serius. “Ya, buat ngucapin terima kasih lah.” Kaela melanjutkan, “Kalau bukan karena kamu … aku pasti.....”
Marva lalu memotong. “Aku… cuma kebetulan lewat disitu. Santai aja Ke.” Marva memanggil singkat namanya.
Kaela langsung tertawa kecil.
“Eh, ada yang salah?” tanya Marva.
“Enggak kok, hanya saja, yang biasa memanggil ku seperti itu pasti Ibu” jawab Kaela.
Merekapun langsung canggung. Marva hanya melirik ke tanah, sementara Kaela curi-curi pandang dari Marva.
Hening lagi.
Marva menghela napas panjang. “Tapi hampir juga aku mati,” katanya jujur.
Kaela lalu tertawa. Marva mulai berbicara lepas dan membuat suasana cair. Kaela memperhatikannya dengan saksama, ternyata Marva adalah orang yang terbuka. Mungkin selama ini dia diam karena sering dibully dan belum mendapatkan teman ngobrol.
Kaela segera memahami situasi itu, lalu berkata, “Boleh ngak kita berteman?” katanya.
Marva lalu terdiam.
“Ya…gimana ya... eh.....” jawabnya kikuk.
Marva lalu mengangguk, tanda ia menerima pertemanan itu.
Saat Marva ingin berbicara, tiba-tiba sistem memberikan notifikasi untuk hari pertama.
[SYSTEM UPDATE – DAY 1 ENDS]
• Total Player Summoned: 1,100
• Currently Live: 988
• Permanently Dead: 112
Sunyi.
Tidak ada ekspresi berlebih. Tidak ada teriakan yang muncul. Perlahan para Pemain mulai paham dengan situasi ini dan mulai membiasakan diri. Beberapa nama muncul di layar mereka. Nama siswa. Nama guru. Nama yang… belum dikenali.
Lalu satu per satu, nama itu berubah statusnya.
[ERASED]
Seorang pemain menutup mulutnya, lalu berlari menjauh, muntah di balik batu. Seorang yang lain—duduk terkulai, tatapannya kosong.
“Seratus Dua Belas…???” seseorang bergumam. “Padahal ini masih Hari pertama…”
Marva merasakan tengkuknya dingin.
Ia menoleh ke arah Kaela.
Kaela menatap layar itu lama. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Lalu ia menutup layar, menghela napas panjang.
Ia bersyukur masih hidup.
Marva lalu menutup layar sistemnya. Seratus Dua Belas temannya telah meninggal.
“Dan ini baru lantai satu,” ucap Marva.
“Banyak sekali teman kita yang meninggal hari ini.”
Suara itu datang dari atas mereka.
Red ternyata sedang duduk di atas batu yang dari tadi disandarin Marva.
“Maaf kalau beberapa waktu lalu, aku kebanyakan ngomong,” katanya pelan. “Mungkin ada baiknya kita membuat party untuk menghindari hal-hal seperti ini guys”.
Kembali Red menawarkan untuk mereka membuat kelompok. Walaupun kali ini dengan cara dan nada yang lebih sopan, tapi motivasi Red tidak berubah. Tentu untuk mendapat perlindungan gratis dari Marva.
Baru saja Marva ingin menyetujui ide dari Red. Tiba-tiba Kaela nyeletuk.
“Bukan nya kamu yang cerita ke orang-orang kalau Marva punya Item Super Kuat,” sindir Kaela.
Red segera menelan ludah. “Heheheh..... Kapan lagi kan Marva jadi terkenal.” Masih saja Red ngeles.
Marva tampak biasa saja, tidak kaget atapun marah. “Ceritanya udah nyebar?”.
“Belum semua juga si yang tahu,” elak Red dengan cepat. “Hehehehe.”
“Kira-kira apa yang akan kita lakukan besok, Marva?” tanya Kaela sambil mencairkan situasi yang canggung itu.
Marva lalu memandang cincinnya, lalu berkata kepada mereka:
“Kita akan terus berjuang dan naik ke lantai selanjutnya” jawab nya tegas.
“Berarti Party kita sudah resmi donk, yeah......” ucap Red kegirangan.
“Siapa yang ajak elo,” balas Marva.
Seketika membuat Red panik dan langsung turun dari atas batu, membungkuk sambil merengek-rengek kepada Marva untuk dimasukkan kedalam party nya.
Kaela lalu tertawa.
Marva pun ikut tertawa.
“Iya-iya, aku cuman bercanda kok,” ucap Marva yang masih tertawa terbahak-bahak.
Ternyata mereka sedang mengerjai Red Calder.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama dan Party Mereka pun terbentuk secara tidak formal.
"GUILD DIKONFIRMASI." "SILAHKAN MASUKKAN NAMA GUILD: ........"
"NAMA GUILD DIKONFIRMASI."
[BERSAMBUNG]