NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEORANG BINTANG MENYEBALKAN YANG TERLALU SEXY

Dua hari setelah kejadian di mall, Anela berpikir semuanya akan kembali normal.

Ternyata tidak.

Justru dunia luar yang mulai membuat semuanya terasa semakin menjengkelkan.

Pagi itu showroom mobil tempat Anela bekerja cukup ramai. Lampu putih memantul di bodi mobil baru yang mengilap, sementara beberapa sales sibuk melayani calon pembeli.

Anela sedang menjelaskan fitur mobil kepada pasangan suami istri ketika ponsel salah satu rekan kerjanya berbunyi keras.

“Eh, lihat ini deh,” kata Rika, salah satu sales, sambil tertawa kecil.

“Apaan?” tanya sales lain.

“Gosip atlet lagi.”

Anela tidak terlalu peduli awalnya.

Sampai Rika menyebut satu nama.

“Ini sih terkenal banget. Rico Pradana.”

Jantung Anela langsung seperti berhenti setengah detik.

Rika menunjukkan layar ponselnya ke beberapa orang.

“Katanya mantannya banyak. Model, selebgram, artis sinetron juga ada.”

Sales lain bersiul kecil.

“Ya wajar sih. Badannya aja begitu.”

“Katanya dia juga sering kelihatan sama cewek beda-beda.”

Anela pura-pura tetap fokus menjelaskan mobil.

Tapi telinganya panas.

Ia melirik sekilas ke layar ponsel Rika.

Foto Rico muncul di sana. Wajahnya serius di lapangan basket, tubuhnya tinggi dengan jersey timnya.

Judul artikelnya cukup menyebalkan.

“Bintang Basket Rico Pradana Kembali Dekat dengan Mantan Modelnya?”

Anela menelan ludah.

Tentu saja.

Pas banget.

Persis setelah ia melihat ciuman itu di café.

“Anela?” kata pasangan calon pembeli.

Anela tersadar.

“Ah—iya, maaf. Jadi untuk fitur keamanan mobil ini…”

Ia memaksa dirinya fokus kembali.

Tapi di kepalanya cuma satu kalimat:

Playboy.

Cocok sekali dengan yang ia lihat.

Siang menjelang sore, showroom sedikit lebih sepi.

Anela sedang duduk di meja kerjanya, mengecek data pelanggan, ketika pintu kaca showroom terbuka.

Beberapa sales langsung menoleh.

Dan suasana berubah.

Karena pria yang masuk terlalu mencolok untuk tidak diperhatikan.

Tinggi.

Bahu lebar.

Kemeja hitam kasual dengan lengan digulung.

Topi dan masker tidak cukup menyembunyikan siapa dia.

Rico.

Beberapa sales langsung berbisik.

“Eh itu…”

“Serius?”

“Ya ampun, Rico Pradana.”

Anela bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di belakangnya.

Ia sudah mengenali energi itu.

Aroma parfum yang sama.

Dan kehadiran yang selalu terasa terlalu dekat.

“Anela.”

Suara rendah itu membuat bahunya menegang.

Ia menutup laptopnya pelan.

Menarik napas.

Lalu menoleh.

Rico berdiri di sana.

Dan seperti biasa… terlihat terlalu menarik untuk ukuran pria yang sedang membuatnya kesal.

Tatapan mereka bertemu.

Rico terlihat sedikit lega melihatnya.

Anela justru mengangkat alis dingin.

“Kalau mau beli mobil, silakan antre,” katanya datar.

Beberapa sales di belakang hampir tersedak menahan tawa.

Rico menghela napas pendek.

“Aku gak datang buat beli mobil.”

“Sayang sekali. Karena itu satu-satunya alasan kamu boleh ganggu aku di sini.”

Tatapan Rico sedikit menyipit.

“Masih marah?”

Anela tertawa kecil.

“Marah? Enggak kok.”

Ia bersandar di kursinya.

“Aku cuma lagi belajar dari berita.”

Rico mengerutkan dahi.

“Berita?”

Anela mengambil ponselnya, membuka artikel tadi, lalu memutar layar ke arahnya.

Judul tentang mantan model itu terlihat jelas.

Rico membaca sekilas.

Lalu menghela napas panjang seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi hal seperti itu.

“Media suka bikin cerita.”

“Ya, tapi café mall itu bukan cerita media.”

Sunyi sejenak.

Rico menatapnya serius.

“Dia mantan yang belum bisa move on.”

Anela mengangkat bahu.

“Dan kamu spesialis mantan?”

Rico hampir tersenyum.

“Lucu.”

“Bukan. Realistis.”

Anela berdiri dari kursinya.

“Dengar ya, Rico. Kamu mungkin terbiasa dikelilingi perempuan yang senang dikejar atlet terkenal.”

Ia menatapnya lurus.

“Tapi aku bukan tipe itu.”

Rico tidak mundur sedikit pun.

Justru mendekat satu langkah.

Cukup dekat sampai Anela bisa melihat garis rahangnya yang tegas.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, harusnya kamu gak muncul di tempat kerjaku.”

Rico menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Masalahnya… aku gak bisa berhenti mikirin kamu.”

Beberapa sales di belakang langsung pura-pura sibuk.

Anela memutar mata.

“Kalimat itu pasti sering kamu pakai.”

“Enggak.”

Rico sedikit menunduk agar sejajar dengan wajahnya.

“Biasanya mereka yang gak bisa berhenti mikirin aku.”

Anela terdiam setengah detik.

Lalu menggeleng.

“Wow. Narsis juga.”

Rico hampir tertawa.

Ketegangan di antara mereka terasa aneh.

Kesal.

Tegang.

Tapi ada percikan sesuatu yang masih sama seperti malam itu.

Dan Anela membencinya.

Karena tubuhnya masih ingat bagaimana rasanya disentuh pria ini.

Ia menjauh satu langkah.

“Udah ya. Aku kerja.”

Rico masih berdiri di sana.

Tidak bergerak.

“Kalau aku nunggu di luar?”

Anela menatapnya seperti melihat orang gila.

“Kamu serius?”

“Serius.”

Ia memasukkan tangan ke saku celananya.

“Aku sabar.”

Anela mendengus.

“Playboy sabar? Ini berita baru.”

Rico menatapnya lama.

Tidak tersinggung.

Justru lebih tenang.

“Benci aku gak apa-apa.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi jangan pura-pura kamu gak ngerasain yang sama malam itu.”

Jantung Anela berdetak keras.

Sial.

Ia benci saat Rico menyentuh bagian itu.

Bagian yang masih penasaran.

Yang masih mengingat betapa intensnya koneksi mereka.

Anela menatapnya tajam.

“Aku ngerasain.”

Rico diam.

Lalu Anela menambahkan dingin:

“Makanya aku tahu kamu berbahaya.”

Sunyi sejenak.

Lalu ia menunjuk pintu showroom.

“Sekarang keluar. Sebelum bosku pikir kamu ganggu pelanggan.”

Rico mundur satu langkah.

Tapi sebelum pergi, ia berkata pelan:

“Aku tetap akan ngejar kamu.”

Anela tertawa kecil.

“Silakan. Aku juga tetap akan ilfil.”

Rico membuka pintu kaca.

Lalu berhenti sebentar.

Menoleh kembali.

Senyumnya tipis. Berbahaya.

“Ilfil tapi tetap mikirin aku.”

Dan sebelum Anela sempat membalas—

Ia sudah keluar.

Anela berdiri di sana beberapa detik.

Kesal.

Jengkel.

Tapi juga… terlalu sadar bahwa pria itu belum selesai dengan dirinya.

Dan yang lebih menyebalkan—

Sebagian kecil dirinya juga belum selesai dengan Rico.

.................

1
Sartini 02
semangat kak....👍
Nina Sani: makasih kakak say 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!