NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Akrom Kafa Bihi

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan di Parkiran

Lampu darurat merah menyinari parkiran bawah tanah yang luas itu.

Bayangan mobil-mobil membentang panjang di lantai beton yang dingin. Suara mesin kendaraan yang baru saja berhenti masih menggema di antara pilar-pilar besar.

Di depan mereka berdiri enam pria berpakaian hitam.

Masing-masing membawa senjata.

Tatapan mereka dingin. Profesional.

Bukan perampok biasa.

Bukan juga keamanan gedung.

Mereka adalah orang-orang yang datang dengan satu tujuan.

Mengambil pewaris Konsorsium.

Aluna berdiri di tengah kelompoknya. Napasnya sedikit lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.

Di depannya, Arkan sudah berdiri seperti tembok.

Tangannya mengepal.

Sementara di sisi lain, Alvino tampak hampir santai—seolah situasi ini hanya permainan baru yang menarik baginya.

Pria yang memimpin kelompok bersenjata itu melangkah maju satu langkah.

Sepatunya bergema di lantai parkiran.

“Target ditemukan,” katanya lagi dengan suara datar.

Matanya tertuju langsung pada Aluna.

“Perintahnya jelas. Bawa pewaris hidup-hidup.”

Arkan langsung menjawab tanpa ragu.

“Coba saja.”

Pria itu tersenyum tipis.

Lalu mengangkat tangannya.

Dua pria di belakangnya langsung mengangkat senjata.

Surya menelan ludah.

“Kita benar-benar dalam masalah.”

Namun sebelum siapa pun bergerak—

Cemalia berbicara dengan tenang.

“Mereka bukan masalah.”

Semua orang menoleh padanya.

Ia melangkah maju sedikit, gaun merahnya bergoyang lembut.

“Turunkan senjatamu,” katanya pada pria bersenjata itu.

Pria tersebut menatapnya.

Ekspresinya berubah sedikit.

“Maaf, Nona.”

Nada suaranya lebih hormat.

“Tapi perintah datang langsung dari atas.”

Aluna mengerutkan kening.

“Atas?”

Alvino menyilangkan tangan.

“Menarik.”

Cemalia mendesah pelan.

“Selalu saja seperti ini.”

Ia mengambil ponsel dari tas kecilnya.

Menekan satu nomor.

Lalu menempelkan ke telinganya.

Beberapa detik kemudian seseorang mengangkat.

Cemalia tersenyum tipis.

“Sepertinya orang-orangmu terlalu bersemangat.”

Semua orang di parkiran itu terdiam.

Hanya suara samar dari ponsel Cemalia yang terdengar.

Lalu ia berkata lagi,

“Ya… aku tahu permainan sudah dimulai.”

Matanya melirik Aluna.

“Tapi kalau kau mengirim pasukan sekarang, itu akan merusak rencana.”

Beberapa detik hening.

Kemudian Cemalia menghela napas kecil.

“Baiklah. Aku mengerti.”

Ia menutup telepon.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Arkan berbicara pertama.

“Siapa yang kau telepon?”

Cemalia tidak langsung menjawab.

Ia menatap pria bersenjata itu.

“Tarik orang-orangmu.”

Pria itu ragu sejenak.

Namun akhirnya ia memberi isyarat kecil.

Senjata diturunkan.

Beberapa pria mundur sedikit.

Surya menghembuskan napas lega.

Namun Aluna masih menatap Cemalia.

“Kau belum menjawab.”

Cemalia menoleh padanya.

Matanya bersinar aneh di bawah lampu merah.

“Aku baru saja berbicara dengan seseorang yang sangat tertarik pada tes ini.”

Alvino tersenyum tipis.

“Dan siapa dia?”

Cemalia menatapnya.

“Orang yang sebenarnya menjalankan Konsorsium sekarang.”

Keheningan langsung jatuh di parkiran.

Arkan langsung menggeleng.

“Tidak mungkin.”

Aluna merasakan dadanya menegang.

“Bukankah ayah yang menjalankan semuanya?”

Cemalia tertawa kecil.

“Ayahmu membangun sistemnya.”

“Tapi sistem itu terlalu besar untuk dikendalikan satu orang.”

Ia menunjuk peta digital kecil di layar ponsel Surya.

“Selama bertahun-tahun, Konsorsium dijalankan oleh dewan bayangan.”

Surya menatapnya dengan mata melebar.

“Dewan?”

Alvino tampak tertarik.

“Sekarang kita sampai pada bagian yang menarik.”

Cemalia menatap mereka satu per satu.

“Ada lima orang yang mengendalikan jaringan Konsorsium dari balik layar.”

Arkan bertanya dingin,

“Dan kau salah satunya?”

Cemalia tersenyum.

“Belum.”

“Belum?”

“Tapi aku hampir sampai.”

Aluna mengerti sekarang.

“Kau ingin menggunakan tes ini.”

“Untuk mengambil kursi mereka.”

Cemalia tidak menyangkal.

Ia hanya berkata,

“Aku hanya ingin memastikan orang yang memimpin Konsorsium… cukup kuat.”

Alvino tertawa kecil.

“Dan kau pikir itu dirimu?”

Cemalia memiringkan kepala.

“Aku pikir itu belum tentu kalian.”

Hitungan waktu di layar lift masih berjalan.

01:32:41

Surya menunjuk angka itu.

“Kita tidak punya waktu untuk debat.”

Arkan langsung setuju.

“Kita harus pergi ke arsip keluarga sekarang.”

Pria bersenjata tadi melangkah maju lagi.

“Kami tidak bisa membiarkan target pergi.”

Cemalia menatapnya datar.

“Kau baru saja mendapat perintah baru.”

Pria itu mengerutkan kening.

“Perintah apa?”

Cemalia menunjuk Aluna dan Alvino.

“Kalian mengawal mereka.”

Parkiran kembali sunyi.

Arkan hampir tertawa.

“Kau serius?”

Cemalia menatapnya.

“Jika mereka mati sekarang… permainan selesai terlalu cepat.”

Alvino tampak terhibur.

“Aku suka cara berpikirmu.”

Pria bersenjata itu terlihat ragu.

Namun akhirnya ia mengangguk.

“Baik.”

Ia memberi isyarat pada timnya.

Senjata disimpan kembali.

“Mobil kami siap.”

Arkan tidak terlihat senang.

“Aku tidak suka bekerja dengan tentara bayaran.”

Cemalia menjawab santai,

“Kau tidak harus menyukai mereka.”

“Cukup gunakan mereka.”

Aluna akhirnya berbicara lagi.

“Berapa jauh arsip keluarga?”

Surya menjawab cepat.

“Dua puluh menit dengan mobil… jika jalan kosong.”

Alvino melirik waktu.

01:31:05

“Kalau tidak kosong?”

“Empat puluh menit.”

Alvino tersenyum kecil.

“Kalau begitu kita harus berharap malam ini cukup ramah.”

Mereka mulai bergerak menuju mobil.

Arkan membuka pintu sedan hitamnya.

“Aluna, masuk.”

Namun sebelum ia masuk—

Aluna berhenti.

Ia menoleh ke Cemalia.

“Aku masih punya satu pertanyaan.”

Cemalia menatapnya.

“Apa itu?”

Aluna menyipitkan mata.

“Jika kau hampir menjadi bagian dari dewan… kenapa mereka masih mengujimu?”

Cemalia tersenyum misterius.

“Karena mereka tidak percaya siapa pun.”

“Bahkan kau?”

“Terutama aku.”

Ia membuka pintu mobil lain.

“Selamat datang di dunia Konsorsium yang sebenarnya.”

Mobil-mobil mulai bergerak keluar dari parkiran.

Konvoi kecil menuju malam kota yang gelap.

Di dalam mobil Arkan, suasana sunyi.

Surya duduk di depan dengan laptop kecilnya terbuka.

Ia terus memantau sistem.

Aluna duduk di kursi belakang.

Di sebelahnya, Alvino terlihat santai.

“Jadi,” katanya pelan.

“Kita benar-benar melakukan ini.”

Aluna menatap jalan di depan.

“Kita tidak punya pilihan.”

Alvino mengangguk kecil.

“Aku penasaran apa sebenarnya tes terakhir ayah.”

Surya berkata dari depan,

“Jika benar di arsip keluarga… berarti sesuatu disembunyikan di sana.”

Arkan fokus menyetir.

Lampu jalan melintas cepat di kaca mobil.

“Tempat itu sudah ditutup bertahun-tahun.”

Alvino bertanya,

“Kenapa?”

Arkan menjawab pelan,

“Karena terjadi kebakaran besar.”

Aluna menoleh.

“Kebakaran?”

Arkan mengangguk.

“Beberapa bulan sebelum ayahmu meninggal.”

Alvino mengerutkan kening.

“Menarik.”

Surya tiba-tiba berkata,

“Ada sesuatu lagi.”

Semua orang menoleh padanya.

Ia menatap layar laptop.

“Sistem baru saja mengirim update.”

“Update apa?” tanya Aluna.

Surya membaca dengan suara pelan.

“Protokol Tes Final — Tahap Dua.”

Mobil langsung terasa lebih sunyi.

“Bacakan semuanya,” kata Arkan.

Surya menelan ludah.

“Ketika pewaris mencapai lokasi arsip…”

Ia berhenti sejenak.

“…akses inti Konsorsium akan dibuka.”

Alvino mengangkat alis.

“Bagus.”

Namun Surya belum selesai.

“Ada satu syarat.”

Aluna merasakan firasat buruk.

“Syarat apa?”

Surya menatap mereka di kaca spion.

“Tes hanya bisa diselesaikan oleh satu pewaris.”

Keheningan jatuh di dalam mobil.

Alvino tertawa kecil.

“Aku sudah menduga.”

Arkan berkata tegas,

“Kita akan menemukan cara lain.”

Surya menggeleng.

“Tidak ada opsi lain di sistem.”

Aluna menatap jalan gelap di depan mobil.

Lampu kota semakin jarang.

Mereka hampir sampai di distrik lama.

Hitungan waktu di layar laptop terus berjalan.

01:18:22

Alvino menatap Aluna.

“Jika akhirnya kita harus memilih…”

Ia berhenti sejenak.

“…kau siap?”

Aluna tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata pelan,

“Kita belum sampai di sana.”

Mobil akhirnya berhenti di depan bangunan tua.

Gedung arsip keluarga.

Strukturnya besar tapi gelap.

Jendela-jendela tinggi terlihat kosong.

Bekas kebakaran masih terlihat di beberapa dinding.

Arkan mematikan mesin mobil.

Semua orang keluar.

Udara malam terasa dingin.

Angin berhembus pelan melewati halaman kosong.

Cemalia turun dari mobil belakang.

Ia menatap bangunan itu.

“Sudah lama sekali.”

Alvino memperhatikan gedung itu dengan penuh minat.

“Jadi ini tempat ayah menyimpan semua rahasia.”

Surya memeriksa waktu lagi.

01:14:55

“Kita harus masuk sekarang.”

Arkan berjalan menuju pintu utama.

Namun sebelum ia menyentuh gagangnya—

Lampu di dalam gedung tiba-tiba menyala sendiri.

Semua orang berhenti.

Pintu besar perlahan terbuka.

Dari dalam, suara sistem tua berbunyi.

Lalu sebuah pesan terdengar dari speaker lama.

Suara yang sangat familiar.

Suara ayah mereka.

“Selamat datang di tahap terakhir.”

Aluna merasakan jantungnya berdegup keras.

Rekaman itu melanjutkan.

“Jika kalian sudah sampai di sini… berarti kalian cukup kuat untuk bertahan.”

Pintu terbuka penuh.

Lorong panjang terlihat di dalam gedung.

Gelap.

Dan penuh bayangan.

Suara ayah mereka terdengar lagi.

“Tapi ingat…”

Nada suaranya berubah lebih dingin.

“Hanya satu dari kalian yang akan keluar dari gedung ini sebagai pewaris.”

Angin malam berhembus masuk ke lorong gelap itu.

Dan permainan pewaris akhirnya memasuki bab paling berbahaya.

END BAB 28 🔥

1
jenny
aku bingung Thor...
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?
𝔅𝔩𝔞𝔠𝔨 𝔐𝔞𝔪𝔟𝔞☬♆: Coba dibaca ulang deh kak🤭
total 1 replies
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!